
"Maafkan kami Duchess karena sudah mengganggu waktu Duchess. Kami datang kesini hanya ingin meminta ijin pada Duke dan Duchess." Ujar Hilda. Kini panggilan Putri tidak lagi di sandang oleh Putri Maya. Dan kini gelarnya telah berganti menjadi seorang Duchess.
Putri Maya mengangguk karena dia paham Hilda ingin berpamitan pada suaminya. Tidak ada salahnya suaminya menemui Hilda dan Bibi Diane untuk yang terakhir kalinya.
"Baiklah, sebaiknya kita sarapan dulu." Ujar Putri Maya.
"Sayang," seru Duke Rachid memanggil seraya turun dari anak tangga itu. "Oh kalian, untuk apa kalian datang kesini?" tanya Duke Rachid datar.
"Sayang," Sanggah Duchess Maya yang tak ingin ada keributan di pagi hari.
"Hais, baiklah. Terserah kalian mau apa asalkan jangan mencoba menyakiti Istri ku." Ujar Duke Rachid merangkul pinggang Duchess Maya.
Kedua wanita itu hanya memasang senyuman terpaksa. Hati yang dulu menghangat kini berubah menjadi perih. Tidak akan mudah bagi dirinya melupakan kenangan demi kenangan bersama orang yang ia cintai. Sekarang memang sudah waktunya ia melepaskan laki-laki yang pernah menjadi cinta pertamanya. Kebahagiaan lebih apa pun darinya.
Kedua wanita itu terus mengekori sepasang kaki dua insan itu. Bibi Diane menggenggam tangan Hilda agar dia lebih kuat melihatnya dan menerimanya dengan lapang dada.
Kedua wanita itu pun duduk berdampingan. Duchess Maya mengambil alih roti di piring Duke Rachid, lalu memolesinya dengan selai keju. Perhatian itu tak luput dari sepasang mata yang mulai menggenang. Seandainya dia yang di sana, bukankah ia akan menjadi wanita beruntung.
Aaaaa
Duke Rachid membuka mulutnya, Duchess Maya tersenyum ia tau Duke Rachid ingin di suapi. Dan begitulah tangannya, akan dengan sendirinya melayani sang suami.
"Enak."
"Ini, makanlah. Tidak enak di lihat mereka." Ujar Putri Maya sambil menggeleng.
"Ti-tidak apa Duchess. Kami tidak melihat apa pun." Ujat Hilda dengan hati yang mulai mengepul.
Duchess Maya pun menghela nafas, ia memperlakukan Duke Rachid layaknya seorang anak. Menyuapinya dengan kelembutan. Setelah Selesai sarapan, kedua wanita itu mengutarakan maksudnya. Duke Rachid tak menampakkan ekspresi sedih atau apa pun justru dia hanya menganggap perkataan dua wanita di depannya hanya angin lalu yang hilang tanpa jejak.
Kedua wanita itu pun memberikan salam penghormatan yang terkahir kalinya. Rasanya sangat berat melangkah untuk keluar dari kediaman itu. Dan ini yang terakhir kalinya mereka bertemu satu sama lainnya. Entah kapan lagi takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan menjalani kehidupan masing-masing.
Satu Tahun Kemudian ...
Duke Rachid mondar mandir di depan kamarnya. Pelayan Mery dan pelayan lainnya sering keluar masuk mengganti air bening itu yang kemudian menjadi merah. Keringat dingin itu bercucuran di dahi Duke Rachid. Dia merasa sakit mendengarkan jeritan istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hatinya. Dan sekarang dia tidak ingin memiliki anak lagi sudah cukup satu. Ia tidak tega mendengarkan dan melihat sang istri yang berteriak kesakitan. Duke Rachid menyeka air matanya, "Tuhan, Limpahkan sakitnya pada ku jangan istri ku." Duke Rachid kembali menyeka air mata yang telah menetes keluar dari kelopak indahnya. Tiba-tiba terdengar derap kaki yang berlari ke arahnya.
"Bagaimana?" tanya Permaisuri Anastasya. Dia bisa melihat betapa takutnya Duke Rachid.
"Tenang, putri ku perempuan kuat. Dia akan selamat." Timpal Kaisar Alex merasa risih melihat Duke Rachid. Dia juga pernah merasakan dilema saat Anastasya melahirkan. Bahkan dia tak bisa menahan malunya, sejadi-jadinya ia menangis saat mendengarkan teriakannya.
"Ayah." Sapa Putri Viola.
"Kenapa kalian datang kesini? siapa yang menjaga Pangeran?" tanya Permaisuri Anastasya. Bisa-bisanya putri dan menantunya meninggalkan Pangeran di istana yang hanya ada Kesatria Arnod yang menjaganya.
"Tidak bisakah kalian menunggu di istana saja." Pekik Kaisar Alex, ia merasa khawatir pada cucu semata wayangnya itu.
"Aku hanya khawatir pada adik Ayah." Ujar Putri Viola menunduk.
"Kalian ini." Lirih Permaisuri Anastasya. Padahal tadi dia tidak bilang akan keluar karena tidak ingin Putri Viola khawatir dan mengikutinya ke rumah Duke.
Selang beberapa saat terdengar suara bayi. Duke Rachid langsung memasuki kamarnya. Dia melihat ke arah bayi mungil yang di gendong oleh pelayan Mery. Ia beralih melihat ke arah ranjang, menghampiri wanita yang menangis menatap ke arahnya.