
Duke Rachid menuju ke ruang kerjanya, ia duduk di kursi kebesarannya sambil memijat pelipisnya, mengusap wajahnya dengan kasar. Dirinya memikirkan pertengkaran tadi. Ia akui saat Putri Maya mengatakan seharusnya memberi taunya lebih dulu. Ia merasa bersalah.
Ditarik napas kasarnya, ia merogoh saku di dalam celananya. Membuka kotak kecil itu berwarna merah, cincin yang ia siapkan untuk Putri Maya. Padahal tadi dirinya berniat memberikan cincin itu sebagai tanda permintaan maaf, sebelum bisa berbicara Putri Maya mengeluarkan aura dinginnya.
"Maya, maaf aku membuat mu kecewa lagi. Seharusnya dulu aku menyadarinya. Benar dua kali aku membuat mu kecewa. Aku harus melakukan apa lagi Maya." ucapnya seraya mengelus cincin bermutiara putih itu.
"Paman." sapa seorang wanita berjalan ke arahnya dengan membawa nampan. Wanita itu menaruh nampan di atas meja, ia mengambil teko teh itu lalu menuangkannya ke cangkir keramik berwarna putih dihiasi dengan ukiran bunga mawar merah.
"Bagaimana pertemuan Paman dengan Putri Maya?" tanya wanita lembut, padahal hatinya seakan di iris-iris oleh pisau.
"Apa Putri kecewa?" sambungnya lagi.
Duke Rachid menoleh, ia menyeruput teh di depannya. "Mungkin Kakak Ipar mu butuh waktu." balasnya.
*Deg
Kakak ipar*
Hatinya sakit, tapi ia berusaha tersenyum. "Apa Paman sangat mencintainya?"
Duke Rachid menaruh cangkirnya, ia melihat ke arah wanita di depannya, sekilas ia melihat Hilda, ia kembali melihat ke arah luar jendela.
"Hilda, Paman sangat mencintainya. Paman tau apa yang menjadi kesukaannya, apa yang tidak di sukainya. Semenjak kecil Paman selalu berusaha membuatnya tersenyum, tapi Paman salah. Ternyata Paman pernah membuatnya kecewa." Duke Rachid tersenyum kecut, "Bahkan dia sudah menghitungnya, katanya dua kali paman membuatnya kecewa. Dia berarti untuk paman, tapi paman." Duke Rachid menjeda, tanpa sadar air matanya turun.
Bolehkah aku egois paman, bolehkah aku memiliki paman.
"Apa Putri Maya sangat berarti buat paman?"
"Separuh nafas ku ada padanya Hilda. Hanya saja aku membuatnya kecewa. Aku sangat mencintainya. Jujur saja, setelah pertengkaran ini aku semakin takut Hilda, bagaimana jika dia meninggalkan ku?" Duke Rachid menatap Hilda.
Bagaimana aku bisa menolak mu untuk tinggal disini Hilda, aku tidak tega menyuruh mu pergi, sementara aku memiliki hutang budi atas keluarga mu yang menolong Bibi ku sambungnya di dalam hati.
"Sebaiknya kamu istirahat, paman butuh waktu."
Setidaknya sebelum menikah, ia masih memiliki kesempatan untuk bersanding dengan pamannya.
Disisi lain.
Setelah perdebatan itu, Putri Maya menuju ke halaman belakang. Ia berusaha menegarkan hatinya sekuat-kuatnya. Ia bukanlah seorang manusia yang tidak memiliki hati, ia hanya seorang gadis biasa, terkenal sifat bar-barnya, bisa merasakan sakit hati dan hancur.
Putri Maya duduk di atas pohon Oak yang tak lumayan tinggi. Ia terus merenungi pertengkaran tadi, apakah ini salahnya? atau kah dirinya yang terlalu egois?. Ya, dirinya sekarang merenungi perbuatannya entah salah atau benar.
Putri Maya membuka kalung yang berada di genggamannya, ia ingin memakainya kembali, tapi rasa kecewa itu masih tersimpan.
Sedangkan dari belakangnya, terlihat laki-laki sedari tadi mengikutinya. Mulai dari ruang pertemuan sampai ia mengikuti ke halaman belakang. Laki-laki itu menatap Putri Maya, ia ingin menghibur tapi takut melihat wajah Putri Maya seperti melihat Permaisuri Anastasya yang sedang marah. Dengan gaya coolnya, menghembuskan nafas sejenak, menata kembali rambutnya. Laki-laki itu berjalan berjinjit dan mengendap-ngendap, layaknya seekor kelinci yang sedang mencuri buah wortel.
Duar
Putri Maya terkejut, ia hampir terjatuh. Dengan sigap laki-laki itu memeluk pinggang Putri Maya dengan satu lengan kekarnya.
Putri Maya menggigit bibir bawahnya, Mencium bau badannya saja ia tau siapa laki-laki yang berbuat usil padanya. Laki-laki berwajah menyebalkan, geram ingin mencakarnya. Putri Maya mendorong siku tangan kanannya dengan keras, hingga siku tangannya mengenai hidung laki-laki itu.
Aaa
Laki-laki itu mengerang kesakitan, ia memegang hidungnya. Lalu menatap Putri Maya yang terjatuh ke tanah.
"Maaf," ucapnya merasa bersalah, tangan kirinya masih memegang hidungnya yang masih merah. Sementara tangan kanannya ia julurkan membantu Putri Maya untuk berdiri.
"Shit !" Putri Maya yang jatuh terduduk, ia mendonggakkan wajahnya, mengabaikan tangan berkulit putih di depannya itu.
"Hais, bisakah Putri meminta maaf dan berterimakasih." ujarnya.
"Dirimu yang keterlaluan, kenapa harus diriku yang meminta maaf." ejeknya, ia membersihkan roknya yang tersangkut daun kering.
"Putri, wanita secantik dirimu bersedih, hanya karna masalah kecil. Sebaiknya buang saja orang seperti itu. Ganti saja dengan ku," Arnoz menarik kerah bajunya, "Tampan kan," sambungnya dengan pede.