
Liera menunduk, ia meremas bajunya. Jika memang tidak bisa cara seperti ini. Dia akan memohon pada Duke Rachid dan Duchess Maya. Inilah satu-satunya yang harus ia tempuh. Ia akan lalui lika-liku untuk suaminya. Dia sadar, selama ini Viscount Elca memperlakukannya dan anaknya begitu baik. Bagaimana dia bisa melupakan hal seperti itu?
"Aku ingin beristirahat," ujar Liera. Pelayan di sampingnya mendorong kursi roda itu menjauh dari mereka.
Sementara Caroline dan Duke Elios segera memeluk Viscount Elca. Membantunya untuk kuat, "Sayang, lupakan dia."
Viscount Elca semakin terisak di dalam pelukan sang ibu. "Aku, aku."
Kesedihan Viscount Elca membuat kedua orang tua itu berjaga seraya melihat lukisan di depannya. Wajahnya tersenyum, memberikan sejuta kehangatan. Matanya yang indah seperti Elca, mampu menyihir lawan jenis. Tidak heran, jika Viscount Elca banyak gadis yang mengejarnya.
"Viscount Luis, aku minta maaf. Aku gagal menjadi seorang ayah untuknya. Kamu boleh mengutuk ku, memarahi ku. Karena akulah yang bodoh."
Caroline semakin terisak di dalam dekapannya. Hatinya begitu hancur dan hancur, seolah tidak bisa bersatu lagi. Lebih baik dia yang sakit dari pada putranya. Begitu dia menyayangi Viscount Luis sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya di pelukannya. Ia masih ingat, air matanya terjatuh saat mata itu sudah tertutup rapat.
Caroline memukul dada Duke Elios, ia tidak sanggup mengingatnya. Bagaimana ia menjaga Viscount Luis sepenuh hatinya.
Keesokan harinya.
Michelia terbangun dengan wajah segar, ia sudah pasrah dengan hidupnya. Mungkin, ini jalan yang harus di tempuh. Menyimpan rasa untuk laki-laki yang beristri. Menjadi istri kedua, tidak mungkin. Dia memiliki hati, dia tidak bisa membayangkan rasa sakit Liera.
"Nona, aku sudah menyiapkan air hangat." Ujar Mery di balik pintu.
Michelia tersenyum, ia melangkah ke arah kamar mandi. Beberapa menit ia merendam tubuhnya, menghirup wangi aroma jeruk di bathub itu. Melepaskan semua pikiran berat di kepalanya dan paling dalam, melepaskan berat di hatinya.
Michelia keluar dari bathub itu, ia meraih jubah mandi dan handuk di pojok kanan bathubnya. Ia keluar seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk tadi.
"Wah nona sudah kelihatan segar," ujar Mery. Ia membantu Michelia merias diri dan memakai gaun berwarna ungu. Rambut keriting gantungnya di biarkan terurai.
"Apa Ibu dan Ayah sudah bangun?" tanya Michelia.
"Sudah tadi nona, tetapi nona Liera menemui Duke Rachid dan Duchess Maya."
"Apa?" teriak Michelia berdiri. "Dimana mereka?" tanya Michelia dengan wajah panik.
Michelia tidak menanggapi perkataan Mery, ia harus mencari keberadaan ayah dan ibunya. Jika Michelia memberitaukan semua, hancurlah semuanya. Ia terus berlari tidak memperdulikan tatapan para pelayan yang merasa keheranan menatapnya.
Michelia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Liera. Ia harus mencegahnya sebelum terlambat. Sesampainya dia halaman belakang, ia melihat ayah dan ibunya duduk di kursi membelakanginya. Ia bernafas lega, tidak ada Liera. Ia melangkah menuju ke arahnya. Namun saat melihat Liera di depan kedua orang tuanya. Seketika nafasnya berhenti, ia menganga melihat Liera menangis di depan kedua orang tuanya. Hancurlah sudah, sepertinya dia sudah terlambat.
"A, ayah." Kedua insan itu menoleh dan Liera menatapnya dengan air mata yang mengalir deras.
Michelia melangkah, ia menatap kedua orang tuanya yang memalingkan wajahnya yang terlihat sangat shok.
"Ini bukan salahnya ayah. Ini salah ku ibu."
Duke Rachid memijat pelipisnya, awalnya dia terkejut mendengarkan semua perkataan Liera. Tidak percaya, ya tidak percaya. Namun ia juga merasa yakin, pantas saja Michelia menolak perjodohannya dengan bangsawan lainnya. Ia kira Michelia tidak memiliki seseorang di hatinya.
"Ayah,"
"Apa semuanya benar Michelia?" Duke Rachid mengeraskan rahangnya. Bukan karena dia membencinya, tapi karena dia merasa Michelia akan menghancurkan pernikahan orang. Liera menceritakannya semuanya, asal usulnya sampai ia menikah dengan Viscount Elca.
"Jangan menyalahkannya Yang Mulia." Liera menggelengkan kepalanya. "Perasaan tidak memiliki salah apa pun."
"Perasaan memang tidak salah, tapi ini salah." Teriak Duke Rachid.
"Michelia," ia merangkul kedua tangan putrinya, menggoyangkan tubuhnya. "Kamu lihat, gara-gara dirimu. Ibu mu menangis." Bentak Duke Rachid.
"Aku sudah berjanji, tidak akan pernah membuat ibu mu menangis."
"Ibu," Michelia berjongkok, "Maafkan aku. Aku janji apa pun akan aku turuti."
Duchess Maya berdiri, ia masih belum menerima semua kenyataanya. Dia tidak membenci putrinya, tapi ia tidak tega melihat wanita di depannya memohon. Menjadikan Michelia istri untuk suaminya dan rela bercerai. Tidak, semua ini salah. Pernikahan bukan tempat main-main. Janji pada Tuhan, bukan sebuah lelucon. Ketika sepasang insan sudah berjanji, maka mau tidak mau mereka harus saling melengkapi.
"Bicaralah dengan Viscount Elca. Ibu dan Ayah mu akan berbicara dengannya dan kedua orang tua Viscount Elca." Ujar Duchess Maya berlalu pergi di susul Duke Rachid. Meninggalkan Michelia menangis tersedu-sedu.