
"Apa !!!" serempak Hector dan Isak mengeluarkan matanya. Tanpa sadar Isak dan Hector langsung masuk bersamaan. Mereka menghadap Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel.
"Yang Mulia, Permaisuri hilang.." ucap Hector lantang, bahkan dirinya tidak sadar tanpa memberi hormat dulu.
Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel berlari menuju kamar Anastasya. Sementara ketiga orang itu mengikutinya.
Kaisar Alex mengedarkan seluruh pandangannya. Namun tidak ada yang mencurigakan, mata Kaisar Alex menuju ke arah Hector dan Isak, "Kenapa kalian diam disini cepat cari Permaisuri." teriaknya.
Begitupun Pangeran Gabriel, setelah mengedarkan pandangannya tidak melihat jejak apapun. Ia langsung pergi. Kini istana di buat riuh karna kehilangan sosok Permaisuri.
"Bagaimana?" tanya Kaisar Alex pada Pangeran Gabriel.
Pangeran Gabriel menggeleng, ia tidak menemukan jejak sama sekali.
Kaisar Alex melihat ke arah Hector dan Isak, sama saja jawabnya hanya diam. Ekor matanya mengarahkan ke pemuda yang pernah Anastasya tolong sekaligus menjadi pengawal. Hasilnya sama saja.
Kaisar Alex menggertakkan giginya, ia mengeluarkan aura kekuatannya. Hingga ke empat laki-laki di depannya terhempas menjauh. Isak dan Hector menabrak tembok kokoh, darah segar keluar dari mulutnya, tubuh Pangeran Gabriel terhempas ke pot besar istana yang ditanami bunga mawar biru, sedangkan Sean tubuhnya terhempas ke pohon yang tak jauh dari tempatnya.
"Huk, huk," keempat orang itu terbatuk seraya mengelap darah di mulutnya.
Kaisar Alex melihat kedatangan Mery, Kendrix dan Arnoz. Matanya tertuju ke arah Mery yang sedang menangis. Dengan menggunakan kekuatan Spiritualnya. Kaisar Alex mencekik Mery dengan sekuat tenaga.
Semua orang membulatkan matanya saat melihat Kaisar Alex yang sudah mengeluarkan aura tirani.
"Katakan kenapa Permaisuri bisa hilang, apa kau tidak menjaganya dengan baik,"
bruk
Tubuh pelayan Mery terhempas ke arah tembok, langkah kakinya menuju ke arah Mery yang lemas, "Yang Mulia," seru Pangeran Gabriel menghentikan langkah kaki Kaisar Alex.
"Jangan menyiksanya, jika Permaisuri tau. Permaisuri akan membenci Yang Mulia." ucap Pangeran Gabriel.
"Argh..." teriak Kaisar Alex seraya menjambak rambutnya, "Kenapa kalian bisa lalai, nyawa kalian pun tidak sebanding dengan nyawa Permaisuri." teriak Kaisar Alex yang frustasi. Baru saja ia berniat membuka kehidupan baru. Namun kenyataan lain membuat dunianya hancur.
"Aku tidak mau tau. Kalian harus mencari Permaisuri sampai dapat." teriaknya lagi hingga jatuh ke lantai.
"Yang Mulia," seru Hector dan Isak. Mereka berniat membantu Kaisar Alex berdiri dan mengantarkannya ke kamar.
"Lepas," teriak Kaisar Alex.
"Dasar bodoh, percuma kau menangis jika tidak mencarinya. Tangisan mu tidak akan membuatnya kembali." teriak Pangeran Gabriel yang tak kalah emosi. Nafasnya naik turun, ia sungguh mengkhawatirkan Anastasya.
"Mery sebenarnya apa yang terjadi ? kenapa Permaisuri bisa hilang?" tanya Pangeran Gabriel, saat mereka mendengar Permaisuri menghilang, yang lainnya malah lupa mengintrogasi Mery.
"Sepertinya ini ulah musuh kita," ucap Pangeran Gabriel..
"Tapi siapa? musuh kita hanya Kekaisaran Emerald. Tidak mungkin dia melakukan pelanggaran." ucap Kaisar Alex seraya berdiri di bantu Hector dan Isak.
Perjanjian perang era abad ini, di semua Kekaisaran, tidak boleh masuk ke masing-masing wilayah musuh tanpa ijin dari musuhnya. Perjanjian perang hanya berlaku di perbatasan Kekaisaran saja.
"Bisa saja mereka melakukannya, kita harus menyelidikinya." ucap Pangeran Gabriel.
Sedangkan di tempat lain.
Seorang wanita malah tertidur pulas, di saat yang lain mengkhawatirkannya. Dia malah berguling kanan kiri menikmati empuknya kasur.
Anastasya menguap seraya menutup mulutnya, ia meraba kasurnya yang kelihatan asing baginya. Anastasya membuka matanya, ia melirik kanan kiri. Asing, itulah yang ia rasakan. Anastasya beranjak duduk, ia kembali menoleh kanan kiri.
"Apa yang terjadi?" Anastasya menjauhkan selimutnya yang menutupi tubuhnya. Ia turun tanpa alas kakinya. Ia kembali melihat sekitarnya, vas bunga mawar berwarn pink.
Anastasya menggeleng, ia tidak memiliki vas bunga itu. Anastasya mengedarkan ke arah riasan. Cermin yang berbentuk bulat dan lemari berwarna putih dengan ukiran bunga tulip.
"Tidak, ini bukan kamar ku." ucap Anastasya menuju ke arah pintu. Ia keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Semua tempat itu asing, ia tidak mengenalnya.
"Permaisuri," suara bariton dan tegas itu membuat Anastasya berhenti, ia membalikkan badannya. Anastasya sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, ia menatap lekat wajah itu.
Hidung mancung, bola mata kuning, rambut panjang Anastasya berfikir keras, tapi pikirannya melayang tidak karuan.
"Selamat datang di kekaisaran Emerald." ucapnya tersenyum.
Anastasya menelan ludahnya susah payah, setaunya Kekaisaran Emerald memiliki hubungan dengan iblis. Selain sifat Kaisar Emerald lemah lembut terhadap wanita. Dia juga bisa bersifat kejam dan memiliki kekuatan Supranatural.
Shit, kenapa harus aku yang bertemu dengannya, bukannya harus Elisha batinnya..
Anastasya memundurkan langkah kakinya, sedangkan Kaisar Emerald memberikan kode kepada dua kestria nya untuk menangkap Anastasya.
"Lepaskan," teriak Anastasya meronta-ronta.
"Bawa dia," ucap Kaisar Emerald mengabaikan pertanyaan Anastasya.
"Heh, apa alasan mu menculik ku?" teriak Anastasya tajam.
"Karna aku membutuhkan keturunan darimu, Permaisuri." ucapnya tersenyum misterius.