
"Yang Mulia," sapa Elisha tersenyum, ia duduk di samping Kaisar Alex berhadapan dengan Anastasya.
Sementara Anastasya hanya diam, ia menoleh ke arah pintu. Namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Kendrix dan Arnoz.
"Mery, kamu panggil mereka." perintah Anastasya. Lalu, melanjutkan suapannya.
Kaisar Alex bingung dengan perintah Anastasya, karna hatinya penasaran ia menanyakannya, "Permaisuri menunggu siapa?" tanya Kaisar Alex..
Anastasya diam tidak memberikan respon apa pun, selang beberapa saat datanglah Mery, Arnoz dan Kendrix.
"Maaf Yang Mulia Kaisar, Permaisuri dan Selir Elisha. hamba datang terlambat,"
Anastasya tersenyum, "Tidak apa-apa duduklah dan makan bersama kami." perintahnya.
"Permaisuri, apa tidak sopan? Permaisuri meminta mereka makan bersama tanpa meminta ijin dari Yang Mulia Kaisar." timpal Anastasya.
Anastasya pun melirik Kaisar Alex, ia meminta jawabannya.
Kaisar Alex yang mengerti lirikan Permaisurinya, ia menatap kedua orang itu.
"Tidak apa-apa Elisha, lagi pula Permaisuri telah memintanya." jawab Kaisar Alex.
Elisha pun bertambah kesal, ia tidak menyangka Kaisar Alex begitu saja menyetujui Permaisuri. Secepatnya ia harus menyingkirkan kedua duri yang akan menjadi hambatannya.
"Makanlah," perintah Kaisar Alex melihat ke arah Arnoz dan Kendrix.
Seketika mereka mengikuti perintah Kaisar Alex.
Hening, tidak ada yang berbicara sedikit pun. Bahkan tak terdengar suara nyamuk sekalipun. Lain halnya dengan Kaisar Alex sering melihat ke arah Anastasya. Sementara Anastasya mengabaikan lirikannya.
Sedangkan Elisha, seakan akan ingin memakan hidup-hidup Kendrix dan Arnoz. Seorang ayah dan anak itu hanya diam saja.
"Hamba sudah selesai Yang Mulia. Hamba izin pamit." ucap Anastasya beranjak berdiri.
Setelah kepergian Anastasya, Kaisar Alex pun menyusul. Ia tidak menghabiskan makanannya, yang ia pedulikan saat ini mengejar Permaisurinya. Hatinya ingin dekat dengan Permaisurinya. Walaupun ia harus selalu menerima penolakan. Mungkin ini adalah karma bagi dirinya.
"Untuk apa Yang Mulia datang kesini?" suara tegas itu menghentikan langkah kaki Kaisar Alex yang hendak masuk kedalam kamar Anastasya.
Kaisar Alex yang sudah tidak tahan lagi, ia menyeret orang itu ke ruangannya, "Ck, kau selalu mengganggu ku saja." ucap Kaisar Alex dengan nada kesal.
"Sebaiknya aku harus menyegel mu," sambungnya lagi. Kaisar Alex merapalkan sebuah mantra, ia tidak peduli dengan teriakan penolakan laki-laki di depannya ini.
"Pangeran Gabriel, sekarang giliran ku bersamanya," ucap Kaisar Alex tersenyum menyeringai.
Kaisar Alex keluar dari ruang kerjanya dengan penuh wibawa. Hatinya bersorak senang, dalam pikirannya kenapa tidak dari dulu ia melakukan penyatuan jiwa untuk mengelabui Permaisurinya.
"Maaf, tapi aku akan berusaha membuat mu mencintai ku lagi." ucap Kaisar Alex seraya mencium kening Anastasya.
Kaisar Alex menaiki ranjang Anastasya. Lalu, tidur di sampingnya. Memeluknya dengan erat. Sehingga kehangatan itu mulai menyelusuri tubuhnya dan ikut terlelap mengikuti jejak sang Permaisuri.
Ke esokan paginya, Kaisar Alex bangun terlebih dulu. Senyum cerah muncul di bibirnya. Rasa bahagianya tidak dapat di ungkapkan dengan apapun. Kaisar Alex sekilas mengecup dahi wanita di sampingnya. Lalu, mencium bibirnya.
"Terimakasih Permaisuri," Kaisar Alex bangkit dari tempat tidurnya. Rasanya berat meninggalkan Anastasya. Namun dirinya tidak bisa mengabaikan berkas istana yang menumpuk. Sebelum meninggalkan Anastasya Kaisar Alex kembali mengecup keningnya.
Di lain tempat, Arnoz dan Kendrix telah selesai bersiap-siap. Dengan tekad yang bulat mereka akan meninggalkan istana hari ini. Tapi, sebelum itu Arnoz dan Kendrix berniat meminta ijin lebih dulu Pada Kaisar Alex. Merekapun berjalan menuju ruangan Kaisar Alex yang berada di lantai dua dengan menaiki tangga.
"Tunggu kalian mau kemana?" Kendrix dan Arnoz menoleh, mereka melihat senyum licik mengembang di bibirnya itu.
"Aku tidak ingin berdebat dengan mu, aku datang kesini hanya ingin menemui Yang Mulia untuk mengucapkan terimakasih dan akan meninggalkan istana." ucap Kendrix datar..
"Oh, baguslah jika kalian sadar diri." ucap Elisha di iringi senyum mengejek.
"Ibu, kenapa ibu melakukan seperti ini? menghancurkan kehidupan orang lain. Apa Ibu tidak takut pembalasan yang akan menghampiri Ibu." ucap Arnoz membuat darah Elisha mendidih.
"Jangan pernah memanggilku Ibu," bentaknya dengan tatapan kebencian.
Hati Arnoz teriris, sakit, sangat sakit. Kenapa Ibu yang ia cintai harus membuangnya? apakah dirinya tidak ada sedikit pun di hati sang Ibu. Jika yang lain bermain dengan Ibunya, kenapa dirinya tidak.
"Elisha berhenti, dia juga anak mu." bentak Kendrix yang sudah tidak tahan dengan sikap Elisha.
Elisha semakin geram, tangannya gatal ingin menampar Kendrix. Saat Elisha ingin melayangkan tangannya ke arah Kendrix. Sebuah suara menghentikan tangannya.
"Berhenti Elisha," suara tegas itulah yang membuat Elisha bertambah kesal.
"Jangan ikut campur Permaisuri. Mereka tidak sopan dengan ku."
Elisha sekali lagi melayangkan tangannya. Dengan sigap Anastasya mencekal lengannya. Tatapan sengit mulai keluar dari mata mereka.
"Lepaskan,"
"Tidak akan, kau ingin menamparnya bukan. Maka langkahi dulu mayat ku." ucap Anastasya tersenyum licik.
Ini hadiah dari Permaisuri Anastasya untuk Selir tercinta
Perkataan Anastasya semakin menyulut kobaran api di hati Elisha. Dengan sekuat tenaga Elisha memberontak dan tanpa sadar dorongan Elisha membuat Anastasya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Hingga ia terdorong dan jatuh berguling dari tangga itu membuat semua orang disana syok sekaligus panik.
"Permaisuri," teriak pelayan Mery histeris.