Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 23_puas kalian berdua, hah.


"Aku tidak perlu menjawab apapun pertanyaan Ratu," jawabnya datar. Secepat mungkin ia menetralkan hatinya. Mungkin saja hatinya hanya kasian terhadap Ratu dan mengikuti permintaan terakhir almarhum Ayahnya.


"Aku hanya mengikuti kata terakhir Ayah ku," sambungnya lagi menatap lurus kedepan.


"Hah," Anastasya memandang lekat Kaisar Alex, "Seharusnya Yang Mulia senang, bukankah selama ini Yang Mulia harapkan," bentak Anastasya.


"Lepaskan Ayah hamba Yang Mulia," sambungnya lagi.


"Tidak akan," jawab Kaisar Alex singkat.


"Apa Yang Mulia menunggu hamba menangis darah? apa Yang Mulia menunggu hamba mati secara perlahan? apa kalian berdua menginginkan hal itu?" teriak Anastasya dengan amarah menggebu-gebu.


"Yang Mulia,"


Anastasya dan Kaisar Alex menoleh, ia melihat Elisha menuju ke arah mereka.


"Maafkan Duke Erland dan Ratu. Mungkin mereka tidak suka dengan kehadiran hamba. Yang Mulia tidak perlu menikah dengan hamba." Elisha menangis tersedu-sedu dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia akan membuat Ratu Anastasya siapa dirinya dan untungnya ia mendengarkan jika Duke Erland di hukum. Hal seperti itulah yang akan mendukung rencana bagusnya.


Kaisar Alex langsung menghampiri Elisha dan membantunya berdiri, "Jangan menangis ini semu tidak ada salahnya dengan mu. Aku hanya ingin memenuhi permintaan Ayah." lirih Kaisar Alex seraya menghapus air mata bening di pipi Elisha.


prok


prok


prok


Ratu Anastasya bertepuk tangan melihat melodi drama yang di mainkan di depannya. Muak dan muak melihat mereka selama ini.


"Oh inilah dramanya, yang satunya perebut suami orang dan yang satunya suka menyiksa orang. Penguasa yang hebat."


"Ratu Anastasya jaga bicara mu,"


Kaisar Alex menatap Anastasya tajam.


hiks


hiks


hiks


"Jangan menangis semua ini tidak ada hubungannya dengan mu. Hatiku yang telah memilih mu."


Nyut


Nyut


Nyut


Ratu Anastasya merasakan sakit di dadanya. Melihat dan mendengarkan lansung, hatinya hancur berkeping-keping, telinganya seakan pecah. Orang yang dulu ia cintai membunuhnya secara perlahan-lahan. Sekuat-kuatnya hati jika pernah mencintai, hati itu masih bisa tergores.


"Drama yang menakjubkan di mana wanita penggoda menangis histeris. Merasa teraniaya dan di tolong oleh sang Pangeran. Dongeng yang sempurna." Anastasya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


plak


Pipi itu berwarna ungu seketika. Darah segar mulai keluar dari mulutnya. Air bening turun tanpa seijinnya. Ia menoleh dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau membenciku, kenapa kau melimpahkan padanya?" teriak Kaisar Alex menatap tajam Anastasya.


Anastasya diam membeku, pipi kanannya terasa nyeri dan panas. Ia meraba pipi kanannya.


Anastasya tertawa lepas, dadanya terasa sesak. Ia melihat ke wajah Kaisar Alex tanpa rasa penyesalan.


"Puas," ucapnya pelan. Namun masih bisa di dengarkan oleh Kaisar Alex dan Elisha.


"Puas," teriaknya dengan nafas naik turun.


"Puas kalian berdua, hah." bentak Anastasya.


Seketika Duke Rachid, Enzo, dan Enzi lansung masuk. Mulai tadi mereka hanya mengira jika Kaisar Alex tidak akan menggunakan kekerasan. Maka dari itu mereka menunggu di luar ruangan kerja Kaisar Alex.


Tenggorokan Anastasya tercekat, ia menunjuk Kaisar Alex. Derasnya air bening sudah tidak bisa di bendung lagi. Ratu Anastasya membuka mahkota di kepalanya. Ia menyerahkan mahkota itu di tangan Kaisar Alex dan berlalu pergi.


Sementara Kaisar Alex memandang mahkota di tangannya. Tangannya gemetar, baru kali ini dia menampar Ratu.


"Yang Mulia jangan pernah menyesal apa yang telah di lakukan oleh Yang Mulia." ucap Duke Rachid berlalu pergi di ikuti Enzo dan Enzi dengan hati amarah.


Lain halnya dengan Elisha, hatinya mulai berbunga-bunga. Ia merasa menang apa yang dia lakukan saat ini.