
...Kediaman Lu zheng...
Halaman depan dapur, keadaan tampak sangat ramai
Para prajurit maupun pelayan diminta duduk dan makan di tempat duduk yang berada depan meja bundar bersama Xia lu, Kaisar Zhang dan Pangeran Lu zheng beserta lainnya.
Terdengar suara dentingan sumpit, sendok yang beradu dengan piring meramaikan suasana sarapan pagi itu.
"aaaa, makan yang banyak"Zhang mengarahkan lauk potongn daging sapi pada mulut Xia lu dengan sumpit.
Xia lu langsung melahap potongan daging sapi yang muncul di depan mulutnya dengan senyuman.
Semua yang ikut makan disekitar jadi diam tak berkutik, mereka menganga melihat sikap romantis Pria yang di kenal dingin itu.
Zhang terus menyuapi Xia lu sampai piring di depan Xia lu dia suapi juga pada mulut gadis itu membuat semua hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah bengong.
Pangeran Lu zheng tersenyum melihat sikap adiknya, muncul pikiran sesuatu dibenaknya, ia memegang sumpit dan mengambil sayuran kangkung yang tersaji di piring tepat dihadapannya.
"Xia lu"panggil Lu zheng sembari mengambil sayuran kangkung.
Sontak Xia lu melirik kearah Pangeran Lu zheng yang menyebut namanya, "ada apa Kak Lu zheng?"tanyanya tersenyum.
Zhang meletakan sumpit yang di pegangnya dan ikut melirik Kakaknya sembari menyapu sudut bibir Xia lu dengan sapu tangan.
"Setelah sarapan temui aku dikamar, aku ingin bermain dan belajar kartu domino denganmu hanya denganmu, apa kau mau?"Tanya Pangeran Lu zheng langsung melahap kangkung yang diambilnya.
"hah?"bingung semuanya dengan permintaan Pangeran Lu zheng.
Xia lu dan Zhang saling melirik, Zhang mengangguk menatap wajah Xia lu.
"Baik, Kakak Lu zheng tidak perlu sungkan, tapi aku juga tidak terlalu pintar bermain kartu domino"tutur Xia lu tersenyum hangat melirik kembali Pangeran Lu zheng.
"Baik adik"ucap Lu zheng tersenyum menggoda melirik Xia lu membuat gadis itu jadi bingung.
***
Setelah sarapan pagi, Di kamar Lu zheng yang sama besarnya dengan kamar Kaisar Zhang dalam situ duduk dua orang di lantai.
Mereka berdua duduk di depan meja bundar berukuran sedang yang berada di tengah kamar.
Di atas meja itu terdapat dua cangkir dan satu teko besar yang berisi teh hangat.
"Kita akan main berapa ronde Kak Lu zheng?"Tanya Xia lu yang asiknya mengocok dan mengacak kartu yang berada ditangannya.
"Sampai aku bisa menang mengalahkanmu, ku dengar kau ahli dalam bermain kartu ini sama seperti Zhang"pujinya menatap gadis di hadapannya.
"hahaha, terimakasih kak Lu zheng, baik kita mulai namun sebelum itu aku meminta sesuatu"ucap Xia lu tersenyum.
"Apa katakan?"tanya Lu zheng tersenyum.
Xia lu mendekatkan sedikit wajahnya dan berucap pelan hanya terdengar oleh dua orang itu.
***
Di tempat lain
Dalam ruang kerja Kaisar Zhang
Zhang berjalan mondar-mandir dalam ruang itu, wajahnya tampak gelisah, dia bolak balik sambil berkacak pinggang.
Han shu yang berada tengah pintu masuk hanya terdiam, matanya mengekori pergerakan Majikan yang berjalan kesana kemari.
"Lihat atau tidak?, lihat atau tidak?"gumam Zhang dengan wajah berpikir.
"Apa yang sedang Yang Mulia pikirkan?"Tanya Han shu akhirnya membuka suara.
Zhang seketika berhenti melangkahkan kakinya, ia langsung mendekati Han shu dan menyentuh pundak Pria itu.
Zhang menarik nafasnya dan membuka suara, "Han shu tolong aku, bagaimana caranya bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan Lu zheng dan Xia lu di kamar kediaman sebelah?"Tanyanya tersenyum berharap Pria itu.
Han shu tersenyum dengan memicingkan matanya, "hah Yang Mulia penasarankan apa yang sedang mereka lakukan dan katakan, Saya punya cara ampuh"jawabnya penuh semangat.
Han shu berbisik memberitahu cara di telinga Zhang dengan tersenyum lebar.
Zhang tersenyum mendengar bisikan Pria itu.
***
Dalam kamar Lu zheng
"Ternyata kau sangat hebat bermain domino, secepat ini kartu ditanganmu habis"ucap Lu zheng tersenyum meletakan sepuluh kartu di tangannya keatas meja.
Xia lu tersenyum, "sekarang giliran Kak Lu zheng mengacak kartu"pintanya menyeduh teh hangat.
"Baik"jawab Lu zheng mengambil giliran mengocok kartu.
tiba-tiba terdengar ketukan pintu pelan, "Kakak"panggil seseorang yang berdiri di luar.
"Masuklah"pinta Lu zheng membuka suara.
"Kreek"pintu dibuka dan orang itu melangkah masuk.
"ada apa?"Tanya Lu zheng tanpa melirik orang itu.
Xia lu menolehkan kepalanya kebelakang melirik orang itu yang membuatnya terkejut.
"Minjam sabun, sabun di pemandianku habis"ucap Zhang menghentikan langkah kakinya sejenak dan melirik dari jauh Xia lu yang juga sedang meliriknya.
"Hah?, sabun?, siang-siang seperti ini kau ingin mandi?"Tanya Lu zheng menaikan kedua alisnya heran.
Zhang melirik Lu zheng, "Tentu saja, aku habis olahraga tadi"jawabnya ketus.
"Baiklah kau boleh ambil dalam kamar mandi, dalam lemari"ucap Lu zheng tersenyum.
Zhang seketika tersenyum tipis dan kembali melangkahkan kakinya menuju depan kamar mandi dan masuk dalam kamar itu.
tidak lama berselang, Zhang kembali keluar dari kamar mandi, ia berjalan menuju keluar sembari melirik dua orang yang asiknya bermain kartu domino.
Xia lu melempar senyum saat Zhang meliriknya.
Zhang juga tersenyum, ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar kembali.
Beberapa lama kemudian, Xia lu dan Lu zheng begitu asik bermain kartu domino sampai terdengar ketukan pintu lagi.
"Masuklah"pinta Lu zheng berteriak dari dalam kamar.
Pintu langsung dibuka dan masuk Zhang kembali, "Kakak numpang bercermin dan menyisir rambut, Kaca dikamarku pecah belah"ucapnya tersenyum melirik dua orang yang duduk berhadapan namun terhalang oleh meja.
Lu zheng menganggukan keinginan adiknya, ia kembali memandang kartu ditangannya.
Xia lu sejenak heran melihat rambut Pria tampak rapi saja namun basah.
Zhang tersenyum berjalan menuju kamar rias yang berada dekat Ranjang dan masuk kedalamnya tanpa menutup pintu kamar rias itu.
Dia duduk dikursi depan meja rias dan hanya memandang dirinya dalam kamar.
"hahaha, Kak Lu zheng kalah lagi"ucap Xia lu tertawa pelan namun terdengar Zhang dari dalam kamar rias yang membuat Pria itu keluar dan berjalan pelan sambil memantau dua orang yang asiknya bermain kartu
"Kau menang gadis pintar, cantik dan menyenangkan Xia lu, seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu daripada Zhang pasti aku sudah akan menikahimu"tutur Lu zheng tersenyum hangat menatap wajah Xia lu.
Zhang jadi menyunggingkan senyum kesalnya, ia melirik sekilas Xia lu setelah itu Lu zheng lalu langsung berjalan pergi dengan langkah cepat.
"brakkk"pintu ditutup dengan keras oleh Zhang membuat Xia lu dan Lu zheng dalam kamar terkejut akan sikap aneh Zhang.
"lupakan ayo kita lanjut"ucap Lu zheng tersenyum menatap Xia lu yang sedang melirik arah pintu yang ditutup oleh Zhang tadi.
Mereka pun melanjutkan bermain ronde ketiga.
"Kau tahu Zhang itu saat waktu kecil sangat cerewet, pernah dulu saat aku bermain dengan anak kecil lain dia jadi marah tidak jelas"ucap Lu zheng sembari memandang kartu ditangannya.
"cerewet?"tanya Xia lu tersenyum, bola matanya berputar sedang mengingat sesuatu.
"Kau benar sekali dia sangat cerewet"ucap Xia lu tersenyum hangat.
Xia lu mengulurkan tangannya memegang cangkir dan meminum teh hangat di dalamnya dengan pelan.
"Brakk"Pintu dibuka keras dan lebar oleh Zhang.
Xia lu sedang meminum hampir tersedak mendengar suara keras itu, cangkir di tangannya langsung di taruh atas meja kembali.
"Kakak minjam buku taktik perangmu, aku sudah membaca semua buku namun hanya buku yang ada padamu belum aku baca"tutur Zhang tersenyum tipis.
Lu zheng menghembuskan nafasnya, "Iya masuk saja dalam kamar rias tadi, bukunya ada dalam lemari yang berada dekat pintu"jawabnya tersenyum melirik Zhang.
Zhang langsung saja melangkahkan kakinya dan masuk dalam kamar itu tanpa menutup pintunya
Dia membuka lemari dan memandang dalamnya yang terdapat banyak peti kecil yang bersusun memenuhi lorong dalam lemari.
"ada apa dengan matamu Xia lu?"cemas Lu zheng mendekatkan wajahnya pada Xia lu yang mengedip-ngedip dan mengosok mata.
Zhang langsung mengintip dari dalam kamar rias, kepalanya tampak setengah muncul melihat dua orang yang duduk itu.
"dekatkan wajahmu, aku akan meniupnya"pinta Lu zheng tampak cemas.
Xia lu mendekatkan tubuh maupun wajahnya pada Pangeran Lu zheng.
Sama halnya juga dengan Lu zheng, ia juga mendekatkan wajahnya dan menyentuh kelopak mata Xia lu dibagian kanan lalu sedikit membukanya dan meniupnya.
Zhang jadi memayunkan bibirnya langsung menjauh dan ke depan lemari kembali, ia memindahkan semua peti ke lorong bawah dalam lemari itu.
"TAK TAK TAK TAK"kesalnya Zhang meletakan peti kecil satu persatu dengan sengaja menghentakannya dengan keras agar menganggu Xia lu dan Kakanya.
Diluar, Xia lu dan Lu zheng terkejut mendengar suara hentakan keras yang berasal dari dalam kamar rias.
"Xia lu, kau sangat cantik lain kali jika ada gadis mirip denganmu jangan lupa kenalkan padaku saja"Ucap Lu zheng tersenyum tidak memedulikan adiknya yang sedang kesal dalam kamar rias itu.
"Baik Kak Lu zheng jika ada"jawab Xia lu tersenyum.
Bertambah mendengar ucapan barusan dari dua orang itu, Zhang bertambah menghentakan peti yang ditaruhnya dibawah sampai habis yang berada diatas hingga nampak sebuah buku tebal.
Zhang langsung mengambilnya dan menutup pintu lemari lalu langsung keluar dengan wajah tampak sangat kesal.
Xia lu melirik Zhang yang menghentikan langkah kakinya saat tepat tidak jauh darinya.
Zhang melirik kesamping menatap dari jauh wajah Xia lu lalu langsung memalingkannya.
"Ck"dengusnya melangkahkan kaki kembali dengan langkah cepat keluar dari kamar.
"Jangan lupa tutup pintunya Zhang"teriak Lu zheng melirik arah pintu yang belum di tutup.
Zhang membalikan tubuhnya, ia memegang pintu dari luar lalu mendorongnya kesamping dengan gertakan gigi kemudian langsung menariknya kembali, "BRAKKK"pintu itu ditutup keras lebih keras dari sebelumnya.
"Ya ampun ada apa dengannya?"Tanya Xia lu memegang dadanya dengan wajah terkejut.
Lu zheng mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
"Kita lanjutkan lagi, sampai aku bisa menang"ucap Lu zheng tersenyum melirik Xia lu.
Xia lu mengangguk setuju.
Permainan dimulai kembali, Xia lu dan Lu zheng bermain kartu tidak lupa mereka membicarakan sesuatu yang tampak menyenangkan.
Sampai sore hari, Dua orang yang bermain itu tidak ada hentinya sesuai perjanjian.
Mereka yang asiknya bermain kartu tiba-tiba
"kreekk"pintu dibuka dan masuk seseorang dengan wajah panik yang disandiwarakan.
Sontak dua orang dalam jadi melirik kearah orang itu dengan wajah bertanya.
"Kakak, a...a..aku numpang itu, ahh ini sudah tidak tahan, numpang buang air besar"Ucap Zhang langsung berlari masuk dalam kamar mandi.
"ppftttt"Xia lu menahan tawa melihat Zhang yang begitu blak-blakan.
Lu zheng mengambil cangkir dan meminum teh didalamnya yang masih hangat karena ditambahkan Chu xi lagi teh dalam teko.
Di dalam kamar mandi, Zhang bersandar dipintu dan mendengar apa yang dikatakan oleh Xia lu dan Kakanya.
"Hahaha, adikku yang lucu"tawa Lu zheng selesai minum meletakan kembali cangkir di atas meja.
Mereka kapan selesainya main sejak tadi?, aku juga ingin menikmati waktuku bersama Xia lu, Kakak menyebalkan(batin Zhang yang bersandar dibalik pintu kamar mandi)
"Kak Lu zheng, Zhang itu mengapa wajahnya sesalu datar jika tidak bersamaku ataupun saat berhadapan dengan yang lain selain Kau, Han shu dan Li chen?, Mengapa dia jarang tersenyum?"Tanya Xia lu menaikan kedua alisnya.
"Dia memang sudah seperti itu, wajahnya seperti dinding datar, kau tahu saat dia masih kecil dia pernah menangis karena dicubit oleh teman-teman dari ibuku"ucap Lu zheng berucap pelan namun berhasil terdengar oleh Zhang.
Zhang tersenyum kesal mendengar ucapan Sang kaka mengisahkan dirinya.
Xia lu jadi tersenyum, "lalu mengapa dia jadi di cubit?"Tanyanya penasaran.
Lu zheng tersenyum hangat, "itu karena dia sangat menggemaskan dan tampan, ibu-ibu bahkan tergila-gila padanya saat dia kecil selalu dipaksa ingin dibawa kemana-mana dan parahnya dia pernah menghilang dan ternyata diculik oleh Para istri-istri menteri karena Zhang sangat menggemaskan, saat itu dia mengadu padaku dengan tangis lucunya"ucap Lu zheng menahan tawa menceritakan saat kecil.
Xia lu mengambil teko yang berada diatas meja sambil mendengar ucapan Lu zheng lalu menuangkan teh didalamnya ke cangkir.
"Dia mengadu padaku sangat menyedihkan seperti ini, Kak"Ucap Lu zheng terpotong.
Zhang yang keluar dari kamar mandi langsung menutup pintu
"Brakkk"pintu itu ditutup dengan keras oleh Zhang membuat Xia lu kaget setengah mati.
Teh hangat yang dituangkan Xia lu jadi mengenai punggung tangannya yang memegang cangkir membuat Zhang langsung berlari ingin mendekati kedua orang yang berduduk itu.
"apa kau baik-baik saja?"Cemas Lu zheng meraih tangan Xia lu dan mengelap air teh yang mengenai punggung tangan gadis itu dengan sapu tangan miliknya.
Zhang jadi menghentikan langkah kakinya dan melirik tidak jauh Kakanya menyentuh tangan Xia lu, dia langsung memalingkan wajah menyembunyikan wajah yang merah padam cemburu.
Xia lu langsung menarik tangannya merasa tidak nyaman Zhang melihatnya tadi, "Terimakasih Kak Lu zheng, aku akan mengelapnya sendiri"tolaknya dengan sopan.
Lu zheng mengangguk, ia menyimpan sapu tangannya kembali dan melirik Zhang yang melempar tatapan membunuh padanya.
"Cihh"decih Zhang langsung berjalan cepat keluar dari kamar.
Saat diluar Zhang memegang pintu dan mendorongnya dengan gertakan gigi dan wajah sangat kesal.
"BRAKKKK"ketiga kalinya pintu itu ditutup dan dibanting lebih keras dari sebelumnya.
Kartu dipegang Lu zheng jadi jatuh keatas meja saking terkejutnya.
Xia lu memegang dadanya, jantungnya hampir copot dengan sikap aneh Zhang yang menutup pintu dengan keras ketiga kalinya setiap keluar dari kamar.
Zhang menarik nafas dalam-dalam dan berlalu pergi.
"ada apa dengannya?"tanya Xia lu membersihkan cincin pertunangan yang melekat di jari manisnya.
"Entahlah"jawab Lu zheng mengambil kartu kembali.
Ternyata dia memang benar-benar sangat mencintai Xia lu, adik adik akhirnya kau benar-benar menemukan orang yang kau cintai aku sangat senang, semua ini hanya ujian dariku untukmu dan maaf aku membuatmu merasa kesal kau sangat lucu pertama meminjam sabun, kedua numpang bercermin, ketiga minjam buku dan terakhir numpang buang air besar, hahahha demi memantauku dan Xia lu dia rela bolak balik masuk kamarku, konyol sekali (batin Lu zheng).
bersambung...