
Han shu tersenyum melihat semua orang saling berpelukan, tidak dengan dirinya tidak ada teman berpelukan.
Tiba-tiba terasa pelukan di tubuh Han shu, ia terkejut melihat orang yang memeluknya dari samping.
Han shu melirik kesamping, ia seketika terkejut koki kerajaan yang memeluk tubuhnya.
"Kuharap Ceh yi yang memelukku tadi"gerutu Han shu.
Zhang melepaskan pelukannya dan memegang wajah Xia lu, "Apa kau ingin ikut bersamaku menemui Kak Lu zheng?"tanyanya dengan tatapan lembut.
Xia lu tersadar, ia seketika teringat akan sesuatu yang belum lama menghantui pikirannya tadi pagi, teringat akan mimpi buruk saat dirinya pingsan.
"Tidak Zhang, aku disini saja"tolak Xia lu yang membuat semua orang berhenti berpelukan dan meliriknya.
"Mengapa?"tanya Zhang menaikan sebelah alisnya heran.
"badanku agak tidak enakan"jawab Xia lu tersenyum tipis.
"Kau demam?, sakit?"risau Zhang menyentuh kening Xia lu dan memeriksanya.
"Hanya pusing"jawab Xia lu tersenyum.
Zhang memeluk kembali Xia lu, "Baiklah, kau di sini saja jangan pergi kemana-mana, cukup di istana saja jangan pergi keluar"pesannya menyapu-nyapu rambut Xia lu.
"emm"angguk Xia lu.
"oh iya, salamkan aku yah pada Kak Lu zheng, semoga dia selalu sehat"pesan Xia lu.
"Iya"lirih Zhang mengecup puncak rambut Xia lu.
Zhang melepaskan pelukannya, ia melirik kearah Han shu lalu melangkahkan kaki berjalan menuju luar diikuti Han shu dan lainnya.
"Bagaimana dengan bakpaonya?!"teriak Xia lu menghentikan langkah kaki Zhang yang sudah berada ditengah pintu keluar.
Zhang menolehkan kepalanya kebelakang, semua orang menjauh dan menampakan Xia lu yang berkacak pinggang didepan meja.
"Kau yang menang!"teriak Zhang tersenyum, ia menatap lurus kembali dan melanjutkan jalan.
Xia lu tersenyum memandang kepergian Zhang.
***
...Kekaisaran Yuan...
Kediaman Jenderal Chen
Di dalam salah satu kamar di situ, tampak Li chen duduk didepan meja rias sedang menyisir rambut sambil memandang dirinya dalam cermin.
"Dong li, kau tidak akan bisa menghalangiku memiliki Zhang"ucapnya tersenyum licik.
"Apalagi Xia lu, cih"decih Li chen memandang dirinya dalam cermin.
***
Sore hari
...Kediaman Lu zheng...
Tengah lapangan yang berada di kediaman itu, tampak dua Pria tinggi dan gagahnya sedang bertarung pedang.
"Ting...ting"suara dentingan pedang saling beradu.
"Adik sepertinya kemampuan berpedangmu bisa dibilang serakah"canda Lu zheng menangkis pedang yang ingin mengenai lengannya.
"hahaha, hanya Kakaklah lawan yang seimbang bagiku"tawa Zhang mengarahkan pedang ditangannya keleher Lu zheng.
"Ting"Lu zheng menangkisnya, ia langsung berduduk di hamparan rumput dengan nafas terengah-engah.
"Aku sangat senang dan bersyukur, tuhan menyembuhkan kakak"tutur Zhang ikut mendudukan diri disamping Lu zheng.
Dua Pria itu saling menatap dengan senyuman hangat, "Itu juga karena bantuan kalian berdua kau dan Xia lu, oh iya Xia lu tidak ikut?"tanya Lu zheng menaikan sebelah alisnya.
"Dia tidak ingin Kak, dia memberi salam padamu dan berdoa semoga kau selalu sehat"jawab Zhang tersenyum.
Lu zheng mengangguk mendengar lontaran adiknya.
"Jika seperti itu, besok malam saja kita merayakan syukuran dan langsung mengadakan Perjamuan besar"putus Lu zheng menatap wajah Zhang.
"Iya Kak, aku akan mengajak Xia lu"ucap Zhang menganggukan kepala.
"Dan satu lagi ada yang ingin aku beritaukan padamu, hal yang penting"bisik Lu zheng menggeser tubuhnya lebih dekat kesamping Zhang.
Zhang menaikan sebelah alisnya dengan wajah penasaran.
"Aku akan memilih calon istri di perjamuan besok, dan pernikahannya akan dilangsungkan bersamaan denganmu"bisi Lu zheng yang membuat Zhang melebarkan matanya.
"Apa benar?, tapi Kakak jangan sampai orang yang kau pilih adalah Mu xi wanita munafik itu, aku tidak ingin"larang Zhang berwajah datar.
Lu zheng menjauhkan wajahnya kembali, ia menatap atas langit, senyum tipis tampak dibibirnya.
"Itu tidak akan adikku"jawab Lu zheng.
"Dan juga jangan sampai orang yang kau pilih adalah Xia lu, karena dia adalah milikku"ucap Zhang lagi.
"Hahaha, itu tidak akan, kau pikir hanya Xia lu wanita di dunia ini?"sindir Lu zheng tersenyum menatap wajah Zhang.
"Baguslah"lontar Zhang berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Lu zheng.
Lu zheng tersenyum meraih tangan Zhang membantunya berdiri.
***
Malam hari yang sunyi
...Di Kekaisaran Xing xing...
Kediaman Zhang dan Xia lu
Dalam kamar dekat jendela, tampak Xia lu berdiri dihadapan Jendela sedang menatap pemandangan malam dari luar jendela.
Wajahnya nampak melamun memikirkan sesuatu yang terus menghantui pikirannya, ia teringat akan mimpi buruk yang dialaminya sore kemarin sepingsan saat peperangan.
#Mimpi yang dimimpikan Xia lu
Pagi hari langit tampak cerah, semua orang mengumpul dengan senyum bahagia memenuhi lapangan luas.
Tengah Karpet merah, berjalan Seorang gadis cantik dengan memakai pakaian pengantin serba merah tidak bertudung, tidak jauh dari hadapan gadis itu berjalan sosok Pria tampan dengan senyuman manisnya yang begitu mempesona.
"Xia lu"panggil Zhang berdiri dihadapan Xia lu yang memakai pakaian serba merah sama seperti dirinya.
"Zhang"panggil Xia lu tersenyum menghentikan langkah kakinya.
Zhang tersenyum, ia mengulurkan tangannya pada Xia lu menyambut gadis itu.
Xia lu mengangkat tangannya menerima uluran Zhang namun tiba-tiba, "Cetarrrrr"suara petir menggema diatas langit.
angin seketika berhembus sangat kencang, semua orang menghilang dimata Xia lu kecuali Zhang yang terbaring ditanah sedang kesakitan parah.
Xia lu terkejut melihat apa yang terjadi didepan matanya, ia berlari mendekati Zhang yang terbaring ditanah dengan wajah cemas.
"ZHANG!"teriak Xia lu duduk ditanah, ia menyentuh tubuh Zhang namun sentuhannya tembus pandang, ia tidak dapat menyentuh utuh tubuh Zhang.
Xia lu terkejut memandang tangannya yang tidak bisa menyentuh tubuh Zhang.
"Zhang!"panggil Xia lu namun tidak dapat didengar Zhang yang memegang dadanya kesakitan, darah banyak keluar dari mulut Zhang melumuri pakaian pengantin yang dipakainya.
"Kau tidak mendengarku!?"teriak Xia lu dengan wajah cemas terus ingin menggapai tubuh Zhang.
"Wahai kau, pilihanmu ada dua di dunia ini, meninggalkannya atau membiarkan dirimu tinggal disini, Jika kau meninggalkannya maka dia akan baik-baik saja dan jika kau membiarkan dirimu tetap disini maka itu akan menghancurkan dirinya, dia akan menghilang darimu untuk selamanya"ucap seseorang yang tidak diketahui keberadaannya.
Xia lu tersentak, "AKU TIDAK INGIN KEDUANYA!, AKU TIDAK INGIN MENINGGALKAN PRIA YANG KUCINTAI DAN AKU TIDAK INGIN DIA TERLUKA, AKU HANYA INGIN DIA SELALU BERSAMAKU DIMANAPUN DAN SELAMANYA"teriak histeris Xia lu.
"Zhang, kau mendengarkanku kan?, hikss hikss hikss"isak tangis Xia lu berusaha menggapai tubuh Zhang yang tak bisa disentuhnya.
"Xia lu!"teriak Zhang berusaha duduk dari baringannya.
"Kau, kau bisa melihatku kan?, kau bisa mendengarku kan Zhang?"tanya Xia lu berusaha menggapai tubuh Zhang namun tangannya menembus tubuh Pria itu.
Tiba-tiba Zhang ambruk terbaring kembali ditanah, matanya terpejam dengan mulut tertutup rapat.
"ZHANG!"teriak histeris Xia lu.
#kembali
Xia lu menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat mimpi itu, air mata tidak sengaja mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Entah itu mimpi atau kenyataan, aku tidak ingin Zhang terluka namun aku juga tidak ingin meninggalkannya, apa yang harus kulakukan?"lirih Xia lu.
Xia lu membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar, perasaannya begitu sesak dan bimbang.
"kreek"pintu kamar dibuka oleh seseorang.
"Nona manis kau sudah makan malam, bagaimana jika kita makan bersama?"