
Papan nama yang diukir dengan tangan Zhang sendiri hancur berkeping-keping dilantai didepan mata Zhang.
Xia lu langsung membalikan tubuhnya, air mata yang ingin keluar tidak bisa lagi ia bendung.
Zhang tersungkur dilantai, ia meraih gelang dan pecahan papan nama dengan tangan gemetaran.
"Mengapa kau merusaknya?"lirih Zhang dengan mata berkaca-kaca memandang papan nama yang terbelah-belah.
"Bukankah semua sudah jelas?, hubungan kita selama ini hanyalah sandiwara, pernikahan kita aku batalkan detik ini juga!"Bentak Xia lu tanpa berani melirik Zhang.
Zhang seketika berdiri, ia mendekati Xia lu dan langsung memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Tidak, aku tidak terima akan itu!"tegas Zhang menyandarkan kepalanya atas bahu Xia lu.
Xia lu membalikan tubuhnya dengan langsung mendorong tubuh Zhang menjauh, "KU BILANG PERGI!"teriaknya dengan pejaman mata.
Zhang memegang dadanya karena merasa sesak mendengar keputusan Xia lu membatalkan pernikahan.
"Tatap mataku Xia lu jika semua yang kau katakan memanglah benar, aku tahu kau tidak akan berani menatapku-kan?, hari-hari yang kita lalui bersama itu semua bukan sandiwarakan?, aku yakin itu!"lirih Zhang dengan mata berkaca-kaca dan tatapan teduhnya menatap Xia lu yang memejamkan matanya.
Tiba-tiba Xia lu membuka matanya dan menatap Zhang dengan wajah datar, "Semua adalah sandiwara, kau percaya?"jelasnya.
Cetarr, mendengar dan melihat raut wajah Xia lu yang meyakinkan, Zhang bagai disambar petir secara langsung.
Pria itu memundurkan langkah kakinya dengan perlahan, "Jadi cinta yang kuanggap tulus ini kau bilang sandiwara?, kau menganggap semuanya sandiwara, apa kau tidak peduli bagaimana perasaanku Xia lu saat kau mengatakan hal ini?"tanyanya perlahan memundurkan langkah kaki.
"Untuk apa aku peduli?"tanya balik Xia lu dengan tatapan datarnya.
"Benar, untuk apa kau peduli?"ucap Zhang terus memundurkan langkah kakinya sampai tubuhnya tersandar dipintu.
Tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang dari luar.
"kreekk"
Pintu dibuka lebar dan tampak sosok Pria yang berada dibelakang Zhang.
"Ying"sebut Xia lu.
"Ayo kita kembali, ini sudah saatnya menjemputmu"ucap Ying tersenyum.
"tunggu sebentar Ying, aku akan mengemas semua barangku"jawab Xia lu tersenyum.
"tidak perlu Xia lu, barangmu juga adakan dikamarmu di Kerajaanku, jadi ayo"ajak Ying.
Keadaan dikediaman itu begitu sunyi karena tidak ada pelayan maupun prajurit yang bertugas hanya saja Tiga orang itu.
"Aku harus mengganti pakaianku dulu Ying, kau tunggu diluar"suruh Xia lu langsung berjalan menuju kamar ganti dengan balutan selimut menutupi atas dadanya yang dirobek-robek Zhang tadi.
"Baiklah jika itu keinginanmu kembali Xia lu, aku tidak akan memaksa"lontar Zhang yang berdiri sedari tadi membuka suara.
Langkah kaki Xia lu yang ingin melangkah masuk seketika berhenti.
Setelah mengatakan hal yang sangat memaksakan dirinya, Zhang membalikan tubuh dan pergi dari kamar itu melewati Ying.
"cetarrr, cetarr"suara langit bergemuruh, guntur terdengar begitu nyaring.
Langit menggelap, awan hitam menggumpal membuat lingkungan gelap.
Ying menolehkan kebelakang memandang Zhang yang berjalan pelan dengan langkah berat.
Xia lu berjalan kembali masuk dalam kamar ganti dan langsung menutup pintu kamar dengan kasar. Gadis itu tersungkur dilantai, ia bersandar dipintu dengan wajahnya memerah.
Xia lu membungkam mulutnya dengan tangan, air mata keluar tidak sengaja menyapu pipi mulusnya. Dia menangis begitu deras tanpa suara saking merasa sakit dan sesaknya.
"Berikan aku kekuatan untuk bisa bertahan Tuhan, perasaan ini sungguh membuatku sesak namun aku harus melakukannya agar dia baik-baik saja"racau Xia lu sambil menangis deras.
Tidak sadar Ying bersandar dibalik pintu yang Xia lu juga sandar, dia mendengar semua keluh kesah Xia lu yang membuat hatinya ikut tersayat.
"Zhang, aku harap kau bisa melupakanku secepatnya, aku harus melakukan ini karena untuk keselamatanmu"lirih Xia lu.
Dari balik pintu Kaisar Ying menelan ludahnya dengan sulit, mungkin cinta mereka sungguhlah sulit, aku memang Pria brengsek dan penganggu diantara mereka, aku menyadari itu namun Jika Xia lu ingin bersamaku aku tidak bisa menolak akan itu karena aku juga mengingikannya(batin Ying).
Ditengah lapangan dikediaman itu, buliran air dari langit membasahi tempat, hujan lebat beserta angin kencang datang tiba-tiba membasahi semua tempat.
Zhang berjalan sempoyongan dengan pandangan kosong ditengah lapangan, wajah dan tubuhnya diguyuri air hujan.
Semua perkataan Xia lu yang menyakiti hatinya terus berputar dibenaknya seperti kaset rusak.
Tidak percaya atau tidak aku tidak peduli, asal kau tahu saja Semua hanyalah sandiwara, cintaku padamu selama ini, aku mendekatimu karena untuk membalaskan dendam pada mendiang Kaisar Wezi dan itu sudah tercapai.
Sebaiknya kau sadarlah Zhang, jangan terlalu berharap padaku, aku akan kembali pada Kaisar Ying karena dia awalnya adalah suami utuhku dan kau hanyalah pelampiasan dariku.
"Zhang, Zhang"panggil seorang gadis yang membawa payung menggoyang-goyangkan tubuh Zhang mencoba membuat Pria itu tersadar.
"Xia lu"sebut Zhang tersadar langsung melirik gadis yang menyadarkannya.
Pandangan Zhang kembali kosong, ia melangkah kembali dengan perasaan campur aduk.
Li chen menggandeng tangan Zhang dan membawa Pria itu berjalan keluar dari kediaman Xia lu.
*****
Hari menjelang sore
Hujan mulai mereda setelah lamanya turun, langit tampak kosong.
Di depan kamar
Xia lu dan Kaisar Ying baru keluar dari dalam kamar selama hujan berlangsung.
Mereka berdua menatap kearah langit yang sedikit cerah, Xia lu melangkah lebih dulu menginjak hamparan rumput yang membasah karena hujan diikuti Ying.
"Ayo kita segera kembali"ajak Ying menggandeng tangan Xia lu.
Xia lu melirik Ying yang menggandeng tangannya, ini baru sandiwara yang sesungguhnya aku hanya bisa mengandalkanmu membuat Zhang membenciku(batinnya).
Xia lu terpaksa melempar senyum pada Ying dan mereka berdua berjalan dengan santai.
***
Kediaman Zhang, dalam kamar
Tampak Zhang yang duduk dilantai bersandar disamping ranjang dengan pakaian masih basah.
"Xia lu mengapa kau melakukan semua ini?"lirihnya dengan air mata mengalir tidak sengaja menyapu pipinya.
"Zhang gantilah pakaianmu, nanti kau masuk angin"sela Li chen duduk ditepi ranjang ingin menyentuh atas kepala Zhang.
"AHHH"bentak Zhang tiba-tiba berdiri mengejutkan Li chen.
Zhang mendekat kedinding kamar dan mengarahkan tangannya lurus, "Buukk"dinding kamar itu dipukulnya keras sampai hancur bolong.
"Bukk...bukkk"tidak berhentinya Zhang memukul dinding, dia sudah tidak peduli dan merasakan lagi sakit tangannya yang meninju dinding sampai bolong.
Li chen membungkam mulutnya yang membuka lebar melihat apa yang dilakukan Zhang. Dia langsung berlari dan muncul disamping Zhang langsung menahan tangan kekar Pria itu yang ingin memukul kembali.
"Zhang kendalikan dirimu, sadarlah!"Teriak Li chen ditelinga Zhang.
"Aku sudah sadar Li chen!, Xia lu telah menghianati dan berbohong padaku!"jawab Zhang membentak-bentak.
Li chen terkejut dengan apa yang dikatakan Zhang, berarti rencanaku telah berhasil menghancurkan cinta mereka(batinnya).
"Kau tenangkan dulu dirimu, tenang"ucapnya dengan lembut meraih tangan kekar Pria itu dan membawanya mendekati ranjang.
Tiba-tiba masuk seseorang dengan wajah terkejutnya, "Apa yang terjadi pada Yang Mulia?"tanya Han shu berlari mendekati Zhang dan mengambil ahli memegang tangan Pria itu dari Li chen.
"Diam!"bentak Zhang lagi menarik tangannya kembali dari pegangan Han shu.
Han shu melirik kearah dinding yang bolong dengan wajah terkejut lalu melihat telapak tangan Zhang yang dipenuhi lumuran daragh terus mengalir dan menitik dilantai.
"Kalian Pergi semuanya!, aku ingin sendiri!"usir Zhang pada Han shu dan Li chen.
Dengan terpaksa Han shu dan Li chen keluar dari kamar dengan wajah tampak cemas.
Zhang menutup pintu kamar dengan kasar lalu membalikan tubuhnya dan berjalan pelan sambil mengusap air matanya yang terus menerus keluar tidak bisa berhenti.
***
...Hari mulai menjelang malam...
Kediaman Xia lu dulu
Li chen masuk dalam kamar utama bekas Xia lu tempati, ia melihat keadaan kamar itu tampak sedikit berantakan.
Langkah kakinya mendekati ranjang dan melihat kain yang terobek diatas ranjang lalu memandang kelantai melihat gelang dan papan nama berpecahan.
Gadis itu berjongkok dan memandang gelang itu degan senyuman licik, "Li chen tidak akan pernah kalah, Xia lu xia lu kau sudah terhempas jauh dari Zhang"ucapnya dengan wajah senang.
Li chen berdiri kembali dan mendekati meja rias, ia duduk dikursi depan meja ria itu dan memandang wajah cantiknya dalam cermin dengan senyuman senang.
Pandangannya beralih melirik laci meja dihadapannya, "Aku penasaran dia suka berdandan atau tidak?"tanyanya membuka laci itu dan melihat dalamnya yang hanya terdapat sebuah titah yang tergulung rapi.
Li chen mengambil titah itu dan membukanya, ia terkejut melihat sebuah tulisan yang terpapang jelas dalam titah itu.
"Zhang, ini adalah surat terakhir dari diriku untukmu yang aku tulis pagi setelah perjamuan, aku ingin memberitahu hal penting padamu bahwa aku bukanlah Xia lu yang sebenarnya, maksudku aku adalah seorang reinkernasi masuk dalam tubuh Putri Xia lu, namaku memang adalah Xia lu namun aku bukanlah Xia lu yang sebenarnya aku gadis dari masa depan yang terlempar kedunia ini, ku harap kau menemukan titah ini saat aku sudah tidak ada lagi dan mungkin kau tidak akan menemukannya selamanya, Terimakasih Zhang semua yang kau lakukan untukku selama dijaman ini, saat-saat bersamamu adalah hal yang terindah yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, kau adalah Pria terbaik yang membuatku bisa tersenyum dan tidur nyenyak selama disini, terimakasih aku sangat mencintaimu( ˘ ³˘)❤"isi surat yanh ditulis Xia lu dibaca oleh Li chen dengan suara pelan.
Li chen menggertakan giginya selesai membaca isi surat dari Xia lu, ia menggumpal titah itu dan meremasnya dengan wajah marah lalu melemparnya keluar dari jendela.
"Gadis gila, tidak tau diri, gadis asing yang tidak tau diri masuk dalam tubuh Putri Xia lu dan mendapatkan cinta Zhang, cihh menjijikan"geram Li chen mengepal kedua tangannya dengan erat.