EXTRAORDINARY YOU

EXTRAORDINARY YOU
Menikmati waktu berdua


Enam bulan kemudian...


Di sebuah tempat dapur besar


Tampak Pria tampan yang mengenakan topi putih tinggi berdiri dihadapan meja sedang memotong daging diatas papan potong dimeja itu.


"tak tak tak"suara hentakan pisah menyentuh papan pemotong bahan masak itu.


"Zhang, jangan lamban nanti kau terlambat kerja!"teriak Xia lu duduk dibangku meja makan yang berada tidak jauh dari depan meja masak itu.


"Iya iya"jawab Zhang yang selesai memotong daging sapi menjadi halus dan meletakannya dalam mangkok lalu menyalakan keran dan membasuh daging itu dengan bersih.


Xia lu menganggukan kepalanya, ia mengambil gelas yang berisi air susu putih dan meminumnya sambil mengusap-usap perutnya yang membuncit besar.


***


Selesai Zhang memasak setiap pagi untuk istri tercintanya, ia duduk disebelah kursi yang diduduki Xia lu bersiap menyuapi wanita yang kini telah hamil tua itu.


"Aaaaaa" Zhang membuka mulutnya mengarahkan sendok pada mulut Xia lu yang tertutup rapat.


"Buka mulutnya"pinta Zhang.


"tidak"tolak Xia lu menggelengkan kepalanya.


"Bukankah kau ingin aku suapi istriku?, mengapa sekarang menolak?"heran Zhang menaikan kedua alisnya.


"khem...khemm"dehem dua orang Pria secara bersamaan melangkah masuk dalam dapur menuju meja makan besar itu.


"Suamiku kau pergilah kerja, nanti terlambat dan dimarahi bos, aku baik-baik saja disini"omel Xia lu dengan melipatkan kedua tangannya didepan dada.


"Tidak perlu, hari ini Zhang bisa berlibur, orang suruhanku akan menganti untuk sementara benarkan Lu wen?"tanya Drs. Li min yang berjalan berdampingan dengan ayah Xia lu.


"Iya nak kau harus selalu disisi istrimu, Putriku ini sangat membutuhkan dirimu saat-saat dia sedang hamil mengandung cucu kami yang tidak lama lagi akan keluar"sambung ayah Xia lu.


Zhang dan Xia lu seketika melirik asal suara melihat dua Pria tua yang berjalan menuju mereka.


"Iya ayah, aku ingin tetap disini menjaga istriku"lontar Zhang tersenyum.


"Cepat makanlah, aaaa"pinta Zhang mengarahkan sendok makanan yang berisi sayuran hijau pada Xia lu.


Xia lu langsung menyambarnya, ia mengunyah sembari tersenyum menatap Zhang.


Zhang tersenyum menyapu lembut rambut Xia lu, "Lagipula aku adalah bosnya, siapa yang bisa memarahiku?"tanyanya.


Xia lu mengangguk dengan wajah lugu seperti anak kecil.


"Lulu, istirahatlah yang banyak"pesan Lu wen yang berdiri dibelakang bangku Xia lu menyapu lembut kepala rambut putrinya itu.


"Menantuku, jangan terlalu banyak pikiran dan kau Zhang jangan sampai membuatnya sedih"pesan Li min, ayah Zhang yang juga berdiri dibelakang bangku Xia lu menyapu lembut rambut menantunya yang sedang mengandung itu.


"Iya ayah"jawab serempak Xia lu dan Zhang.


"Baik kami akan pergi dulu, berangkat kerja"ucap kompak Dua pria paruh baya itu saling merangkul lalu berbalik dan berjalan kembali.


"Menantuku Zhang jaga istrimu, awas jika dia sampai terluka"pesan Lu wen, ayah Xia lu.


"Zhang, jaga istrimu baik-baik"pesan Li min, ayah Zhang.


"Iya!"jawab singkat Zhang berteriak keras.


"Hati-hati ayah, ayah mertua"ucap Xia lu dengan suara keras melambaikan tangannya pada dua pria tua yang berjalan saling merangkul itu menuju luar dapur.


Dua pria paruh baya yang selalu sibuk itupun pergi untuk mengurus pekerjaan mereka yang begitu banyak, yang mana Drs. Li min seorang Presiden negara saat ini dan Mr. Lu wen seorang atlet profesional yang menjadi guru hebat dan terkenal dibelahan dunia.


***


Siang hari, cuaca begitu panas namun tidak didalam kamar yang ditempati sepasang suami dan istri sedang bersantai di atas sofa. Mereka bersantai dengan posisi satu duduk dan satunya berbaring dengan kepala disandarkan pada paha orang yang duduk.


"Istriku, kau semakin cantik hari kehari, melihatmu tubuhmu sehat seperti ini, berisi dan menggemaskan"tutur Zhang melirik keatas menatap wajah Xia lu yang juga menatapnya.


"Kau memuji seperti ini pasti ada yang di inginkan kan?"tanya Xia lu melempar senyum curiga sambil mempebaiki tali pakaian dibersebelahan bahunya yang melorot.


Zhang tersenyum, ia merubah posisi baringannya menyamping menghadap perut buncit wanita dihadapannya saat ini. Kedua tangan kekar dan panjangnya melingkar di perut dan pinggang memeluk tubuh wanita itu.


"Iya aku menginginkan sesuatu, namun aku harus menahannya bukan, jika si kecil keluar nama apa yang akan kita berikan?"tanya Zhang mendongakan kepalanya menatap wajah Xia lu.


Xia lu tersenyum menyapu lembut kepala rambut Zhang yang berada dipangkuannya.


"Kau ingin menamainya apa?, jika aku Ai Zen Zhalu jika dia pria, dan perempuan Ai Xian Zhalu, Ai artinya Cinta dan Zhalu gabungan namamu dan aku Zhang dan Xia lu, bagaimana?"tanya Xia lu tersenyum manis memperbaiki poni rambut Zhang.


"Istriku yang cerdas, nama yang bagus aku sangat menyukainya dan aku akan senang bayi kita perempuan atau laki-laki aku tidak peduli, yang terpenting saat dia keluar kau selamat dan anak kita juga selamat"tutur Zhang dengan lembut memandang perut besar Xia lu yang bersentuhan dengan hidung mancungnya.


"Iya Zhang"balas Xia lu mengusap lembut kedua pipi Pria dipangkuannya.


"Asal bersamamu Xia lu atau istriku aku sangat bahagia, melihatmu dan memandangmu seperti ini akupun sangat bersyukur"lirih Zhang lalu mengecup mesra dan penuh kasih sayang perut Xia lu yang dibaluti busana rumahan khusus untuk wanita hamil.


Xia lu tersenyum haru, ia melepaskan sebelah tangan kekar Zhang lalu meletakan diperutnya yang buncit dan mengenggam telapak tangan Pria yang menyentuh perutnya.


"Aku pun sama Zhang, asal kau ada disini bersamaku dan calon buah hati kita ini, aku sangat bahagia"balas Xia lu mengusap-usap perutnya dengan tangannya dan Zhang yang saling bergenggaman.


Zhang tersenyum manis memandang perut Xia lu, "Dia sedang apa yah disana?"tanyanya.


"Yah bagaimana aku tahu calon buah hati kita sedang apa didalam sini?, kau ini konyol sekali"jawab Xia lu menjauhkan tangan Zhang yang menyentuh perutnya.


Zhang seketika duduk melihat raut wajah Xia lu yang tampak kesal. Dia menggeser tubuh kesamping berdekatan dengan Xia lu.


Tiba-tiba Zhang langsung menggendong tubuh istrinya dengan pose mesra membawanya naik keatas ranjang dengan hati-hati.


"Ka...kau ingin apa?"gagap Xia lu menatap wajah Zhang.


Zhang hanya diam, ia membaringkan tubuh wanita di gendongannya dengan hati-hati diatas ranjang sambil menyusun tiga bantal sebagai sandaran kepala dan punggung wanita itu.


Setelah membaringkan tubuh Xia lu, Zhang merangkak menaiki atas tubuh Xia lu dan menatap lembut wanita itu, "Aku ingin menjenguk buah hati kita didalam sana, dia pasti sangat merindukan ayahnya"jawabnya yang membuat Xia lu seketika cegukan.


"Kenapa?, kau tidak ingin baiklah itu tidak masalah kita tidur saja bersama"tutur Zhang menurunkan tubuhnya kembali.


"Eh, bo...boleh asalkan jangan cepat Zhang, pelan-pelan saja"setuju Xia lu yang membuat Zhang kembali merangkak keatas tubuhnya dan langsung mencium bibir wanita itu dengan lembut dan pelan.


Jari Xia lu meraba belakang leher Zhang menerima ciuman Pria itu dengan sangat lembut.


Bola mata mereka saling menatap dari jarak dekat, Zhang melepaskan ciuman dibibir dan beralih mengecup leher Xia lu dengan pelan dan lembut.


"ahh"******* keluar dari bibir Xia lu merasakan sentuhan lembut dari bibir Zhang yang semakin menyosor kebawah.


Zhang melorot pakaian dibagian lengan bahu Xia lu hingga tampak kulit kenyal dan menyosop kulit mulus wanita dibagian itu.


"erghh"erangan pelan keluar dari bibir seksi Xia lu, wajanhnya merona malu dengan tubuh menggeliat geli.


"hahaha, Zhang stop!, jangan diatas dadaku i..ih...itu gel..."tegur Xia lu tertawa pelan.


Bukannya berhenti Zhang malah semakin menyosop hasrat kulit mulus Xia lu dibagian atas dada dengan tersenyum nakal.


Aksi Zhang semakin nakal, ia semakin menurunkan pakaian tipis Xia lu hingga tampak dua gunung kembar yang terbalut oleh Kutang tanpa tali.


Zhang langsung melepaskan kutang itu dengan mengigitnya, alhasil kutang yang menuti dua guning kembar Xia lu itupun terlepas dan Perang diatas ranjang pun terjadi namun dilakukan dengan cara santai dan nikmat.


***


...Sore hari...


...Di tempat lain...


Di sebuah Cafe yang ramai akan para pengunjung. Ujung meja dudukan terdapat sosok Pria dan wanita duduk saling berhadapan.


Wajah kedua orang itu tampak canggung sedang menatap makanan berbagai khas dipiring atas meja.


"Ma...makanlah sayang"gagap Han shu dengan wajah canggung menatap gadis berambut pendek dihadapannya.


Yu ri tersenyum mengangguk, "Ba...baik"gagapnya juga menggaruk kepala yang tidak gatal.


Han shu juga mengangguk, ia mengambil mangkok kosong dan meletakan nasi maupun lauk pauk kedalamnya.


"Malam itu, a...aku"gagal Han shu menelan salivanya dengan susah payah.


aiss, mengapa bicaraku jadi tergagap seperti ini, sebelumnya lancar-lancar saja namun setelah malam itu(batin Han shu).


"Jangan bahas itu, kita bicarakan yang lain saja nah soal Investasi dengan Tuan Ling apa Mr. Zhang menyetujuinya?"tanya Yu ri mengapit potongsn daging sapi halus dengan sumpit yang disausi kecap manis.


Han shu seketika tersenyum renyah dengan menggosok-gosokan telapak tangannya, "Oh soal investasi aku belum menanyainya, ya ampun aku lupa beruntung kau memberitauku Yu ri"lontarnya dengan wajah panik.


"Tenanglah Han shu, jangan panik"tutur Yu ri tersenyum lembut.


Han shu mengambil handphonenya dalam saku celana belakang, ia memicik tombol dilayar handphone untuk menelpon seseorang.


"Tutt...tuttt"


...Di lain tempat...


"Ck, siapa yang menelpon saat-saat keadaan begini?"tanya Zhang turun dari atas tubuh Xia lu lalu merangkak mengambil handphone diatas meja yang berada disamping ranjang.


Xia lu mengangkat selimut dan menutupi atas tubuh Zhang dan dirinya.


Berhasil mengambil handphone yang berdering, Zhang berbaring disamping Xia lu dan memperbaiki selimut yang dipakai mereka.


"Hallo"ketus Zhang mendekatkan handophonenya ketelinga.


Xia lu memeluk tubuh Zhang dari samping lalu menyentuh-nyentuh perut Sixpack Pria yang disampingnya dengan senyuman kagum.


"Salam Bos, saya terlambat memberitahu tentang ini pada anda, Tuan Ling mempertanyakan tentang Investasi yang anda..."ucap Han shu terpotong dalam telepon.


"Katakan pada Tuan Ling besok aku akan mengajaknya bertemu dan membicarakan soal investasi dan kau undang juga Direktur Li, kami berdua akan mempertimbangkannya dalam pertemuan besok"sela Zhang dengan wajah datarnya.


"Baik Bos"jawab Han shu dalam telepon.


Zhang menutup kembali telepon dan menatap memandang tingkah Xia lu yang terus menekan-nekan perutnya dari dalam selimut.


"Suamiku kita menonton film horor ditelevisi apa boleh?"tanya Xia lu mendongakan kepalanya menatap Zhang.


"Kau tidak takut?"tanya Zhang menyentuh lengan Xia lu dari balik selimut.


"Tidak, selama kau ada disini dan kita nonton dari jauh ditempat tidur sini saja tidak masalahkan?"tanya Xia lu tersenyum.


Zhang menganggukan kepalanya, ia menggeser layar handphonenya dan membuka aplikasi remote televisi. Dia menghidupkan televisi melalui remote hpnya.


TV menyala menampilkan langsung siaran drama kerajaan romantis yang sedang berlangsung.


"Han shuo, jangan lakukan itu hikss hikss kumohon"suara tangis Putri Qian qian dari dalam televisi yang dipaksa dicium oleh suaminya Tuan muda Han shuo.


Zhang memindah siaran TV lagi dengan remote dalam hpnya. sedangkan Xia lu ia terkejut melihat Drama romantis yang terus muncul dilayar televisi.


Kini acara Tv menampilkan lagi tentang drama romantis, "sarangheoyo, ooh everytime my see you, kedhe nol"dan berpindah lagi, "Doraemonn~~la la la"


Zhang memicik cepat menekan tombol maju siaran sebanyak beberapa kali hingga berhenti kesebuah siaran horor.


"Zhang"panggil Xia lu langsung menutupi setengah wajahnya dengan selimut hanya sepasang mata yang terlihat.


"Tidak usah takut, kau bisa memeluk tubuhku"lontar Zhang meletakan handphonenya disamping dan memeluk tubuh Xia lu sambil mengusap-usap perut buncit wanita itu dari dalam selimut.


Xia lu menganggukan kepala, ia melirik kearah televisi yang melekat didinding tidak jauh dari ranjang.


Dua orang yang berbaring diatas ranjang itu menonton dari atas ranjang dengan wajah sama-sama tegang melihat layar televisi yang menampakan sebuah sumur yang tampak angker.


Dalam televisi itu, sebuah sumur kering yang terlihat begitu angker, dedaunan melilit dipinggir dinding sumur maupun diatasnya. Keadaan begitu sunyi dan terasa mencekam.


Seseorang gadis remaja yang tersesat berjalan mundur sampai tersudut kedinding sumur itu, bulu kuduknya tiba-tiba merinding, perlahan ia membalikan tubuhnya dan tiba-tiba "Aaaaaaaaaa"teriaknya yang ditarik oleh Seorang wanita memakai busana putih yang rambutnya terurai dan kukunya sangat panjang menarik tubuh gadis itu.


"Aaaaaaaa!"teriak Zhang masuk dalam selimut memeluk erat tubuh Xia lu dengan wajah takut.


"Pfttt"Xia lu menahan tawa melihat ketakutan Zhang yang memeluknya sangat erat.


"Xia lu matikan cepat, kau tidak boleh menonton hal seperti itu nanti terkejut"lontar Zhang dari dalam selimut sambil meraba seprai ranjang mencari handphonenya.


"titt"Xia lu mematikan Tv, ia ikut masuk dalam selimut dan memandang wajah Zhang.


"Kau bilang jika aku takut aku akan memeluk tubuhmu tapi ini?"tanya Xia lu tersenyum nakal.


"Aaa, aku tidak takut hanya saja aku ingin memeluk anak kita dalam sini, dia pasti juga takut jadi dia butuh perlindungan ayahnya"jawab Zhang membuka selimut kembali dan membalikan tubuhnya membelakangi Xia lu.


"Oh"angguk Xia lu juga membalikan tubuhnya membelakangi Zhang.


Zhang seketika membalikan tubuh kembali merasa hal janggal, dia mendekatkan tubuhnya semakin dekat disamping Xia lu.


"Ayo kita tidur"ajak Zhang memeluk tubuh Xia lu dari samping.


Xia lu seketika membalikan tubuhnya berbaring telantang dengan sedikit menghadap Zhang.


Zhang tersenyum berbaring dengan posisi miring, ia memeluk kembali tubuh Xia lu dengan tatapan lembut.


Xia lu menatap wajah Zhang dengan tatapan tidak kalah lembut.


"Mmooa"kecup Zhang mencium kening Xia lu lalu turun keperut buncit wanita itu.


Zhang memperbaiki posisinya kembali memeluk tubuh Xia lu dengan posisi miring sambil menyapu lembut wajah wanita yang bersamanya saat ini. Dia bahkan menyanyi hanya beberapa lirik dan memandang wajah wanita dalam pelukannya yang sudah tertidur pulas.


Air tidak sengaja mengalir dipipi Zhang memandang wanita yang bersamanya saat ini, "Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu Xia lu, aku sangat senang dan bahagia kita tetap selalu bersama seperti saat ini, aku sangat bersyukur Tuhan menyatukan kita dan takdir mempertemukan cinta kita, aku akan membahagiakanmu sampai kita menua bersama"lirihnya begitu haru.


Xia lu yang setengah sadar mendengar ucapan Zhang hampir tak bisa menahan air mata yang ingin keluar.


"Cupp"kecup Zhang mencium lagi pipi Xia lu dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya dan Xia lu.


Dua orang itupun tertidur dengan sangat nyaman saling berpelukan hangat dari balik selimut. sepasang suami istri yang saling mencintai dan menyayangi itu hidup bersama begitu bahagia setelah lamanya melewati ujian sulit.