EXTRAORDINARY YOU

EXTRAORDINARY YOU
Dimana ini?


ENAM BULAN KEMUDIAN...


Di sebuah tempat yang berdinding beton dengan cat putih, lantai keramik yang juga bewarna putih.


Tempat yang dipenuhi dengan alat medis begitu banyak, ditengah tempat itu terbaring seorang gadis cantik di atas kasur dengan mengenakan piyama biru muda.


Ventilator terpasang dikedua lubang hidungnya.


"tittt...tittt...titt"suara monitoring yang berada tidak jauh dari samping kasur tiba-tiba berbunyi nyaring dengan menunjukan grafik tanda detak jantung.


Layar Monitor terus berbunyi dengan menunjukan grafik detak jantung yang normal 📈📉📈📉📈📈📈


"Woaahhh"kaget sosok gadis yang duduk disamping kasur tengah mengenggam tangan gadis yang terbaring di atas kasur itu.


"DOKTER!"teriak gadis itu seketika berdiri dari dudukannya.


Sosok Pria paruh baya dengan memakai kemeja putih dan alat medis yang mengantung dilehernya masuk dalam ruang itu lalu mendekati gadis yang berbaring dikasur.


"Tolong keluar, saya akan memeriksa kondisi pasien"pinta Pria itu yang adalah seorang dokter.


Gadis yang tadinya berteriak itu pun melangkah keluar dari ruang ICU dengan langkah cepat. Dia menutup pintu ruang itu dengan rapat.


Dokter tadi mendekati gadis yang terbaring dikasur dengan wajah panik, ia memasangkan alat pemeriksa detak jantung keatas dada bagian kiri gadis itu.


Tiba-tiba gadis yang terbaring itu duduk membuat dokter yang memeriksa kondisinya terkejut bukan main.


"Zhang"ucapnya langsung melepaskan selang yang melekat masuk dalam hidungnya, infus yang terpasang dipunggung tangannya dilepaskan begitu saja.


Gadis itu melepas selimut, kakinya menginjak lantai yang terasa dingin.


"Tolong Pasien berbaring, anda belum sembuh sepenuhnya"tegur Dokter menyentuh pundak gadis itu dengan wajah cemas.


"CUKUP!, AKU BAIK-BAIK SAJA!"bentaknya langsung berlari mendekati pintu dan membukanya, ia melangkah keluar dan saat keluar.


"Xia lu!"teriak sosok gadis yang berdiri didekat dinding ruang itu langsung berlari dan memeluk gadis yang keluar dari ruang ICU.


"hikss...hiksss"tangisnya pecah membasahi baju yang dipakai orang yang dipeluknys.


"Di...dimana aku?"tanyanya terbata-bata mendorong gadis yang memeluknya.


"Xia lu syukurlah, kau kau terbangun"ucap gadis itu dengan wajah memerah akibat menangis.


Gadis yang memakai piyama biru itu pun seketika tersungkur dilantai dengan wajah bengong.


"Aku kembali?"lirih Xia lu dengan suara lemah terdengar sangat menyedihkan.


"Xia lu, syukurlah kau terbangun sudah sejak enam bulan usai kau ditembak dengan pistol oleh Han zi"ucap gadis yang menangis itu berjongkok didepan Xia lu dan menyentuh pundaknya.


"Yu ri"panggil Xia lu langsung memeluk gadis dihadapannya dengan tangis pecah membuat orang yang berada disekitar menengok asal suara tangis.


"Huwaaaa, aku sangat merindukanmu Xia lu, aku selalu mendoakanmu siang dan malam agar kau bisa sembuh dan terbangun dari koma, tidak kusangka kau masih bisa berdiri tepat didepanku saat ini"isak tangis Yu ri membalas pelukan Xia lu dengan sangat erat.


Dari pintu keluar Dokter dari dalam ruang ICU langsung mendekati kedua gadis yang saling berpelukan dibawah.


"Tolong kalian jangan ribut, di rumah sakit tidak ada yang boleh berisik"tegus dokter itu lalu mengambil telponnya dalam saku.


Xia lu dan Yu ri yang adalah sahabatnya seketika berdiri, mereka berdua melepas pelukan dan saling memandang wajah sesama.


"Hallo Mr. Lu wen, saya membawakan kabar baik jika putri anda telah sepenuhnya sadar"ucap dokter yang memegang telpon genggam menempel ditelinganya.


"titttt"telepon seketika dimatikan oleh pihak yang ditelepon dokter itu.


Xia lu dan Yu ri kembali berpelukan erat melepaskan rasa rindu mereka.


"Nn. Xia lu bagaimana dengan kondisi anda sekarang?"tanya dokter berdiri dihadapan dua gadis yang berpelukan erat.


Xia lu seketika melepaskan pelukannya, ia melirik kesamping menatap wajah dokter, "Aku baik-baik saja, tidak usah menelpon ayahku, aku bisa pulang sendiri"ketusnya dengan wajah dingin langsung berlari pergi.


"Maaf atas sikap teman saya dokter"ucap Yu ri menundukan kepala, ia langsung berlari mengejar Xia lu yang juga berlari tanpa alas kaki menginjak lantai dingin rumah sakit itu.


Xia lu berlari begitu kencang melewati sepanjang ruang-ruang dalam rumah sakit itu, air mata sudah tak kuasa ia bendung hingga akhirnya keluar membasahi pipinya, ia tidak peduli akan orang-orang disekitar yang melihatnya dengan wajah terkejut.


"XIA LU!"teriak Yu ri berlari kencang terus mengejar temannya yang baru sadar dari lamanya dalam kondisi koma begitu lama.


Sesampainya menuju pintu luar rumah sakit, ia langsung keluar dan disambut oleh puluhan cahaya kamera.


"Cekrek...cekrek"ratusan lebih Reporter memfoto sosok gadis yang memakai piyama biru keluar dari rumah sakit menginjak tembok didepan rumah sakit itu tanpa alas kaki.


Xia lu menutup matanya dengan kedua tangan begitu silau akan cahaya dari kamera yang dinyalakan oleh Reporter yang mendesaknya.


"Katakan Nn. Xia lu bagaimana anda bisa terbangun tiba-tiba sekarang setelah mengalami koma selama beberapa bulan?"


"Apa ayah anda menyembunyikan kabar kesembuhan anda yang sudah lama?"


"Bagaimana perasaan Nn.Xia lu atlet muda setelah mengalami tragedi fatal ditembak oleh tunangan anda aktor muda Han zi yang sekarang sudah dikurung dari balik jeruji besi?"


Berpuluh-puluhan pertanyaan yang ditanyakan oleh Para reporter yang mendesak Xia lu membuat gadis itu merasa pusing.


Yu ri yang mengejar Xia lu langsung memeluk gadis yang mematung ditempat itu ditengah kerumunan oleh Para reporter yang mengajukan banyak pertanyaan.


Di jalan depan rumah sakit besar itu, berhenti sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dalam mobil itu keluar sosok Pria paruh baya dengan wajah tampannya mengenakan setelan Kemeja biru tua.


"DIAM SEMUANYA!"bentak Pria itu membuka suara.


Mendengar itu semua reporter terdiam dan melirik asal suara.


Para Reporter semakin mendesak menggerumbungi sosok Pria paruh baya itu namun tiba-tiba dihalang oleh Para orang pria itu yang berbadan kekar mengenakan jaz hitam dengan memakai kacamata hitam.


"Ayah"panggil Xia lu langsung memeluk sosok Pria itu yang adalah ayahnya.


"Putri ayah"sebut ayah Xia lu langsung membawa Putrinya berjalan menuju mobil.


"Paman, saya ikut!"teriak Yu ri berlari mengekori dua orang itu masuk dalam mobil.


Xia lu dan ayahnya masuk dalam mobil dan duduk dikursi mobil secara berdampingan.


"Masuklah"suruh Ayah Xia lu pada Yu ri yang berada di luar mobil.


Yu ri langsung masuk dan duduk disamping kiri Xia lu lalu menutup pintu mobil dengan cepat.


Body guard yang menghalangi jalan Para reporter pun tak sanggup melawan hingga akhirnya mobil hitam mewah itu dikerumuni.


"Jalan ro xi"pinta ayah Xia lu pada supir yang mengemudi.


Pak ro xi pun menyalakan mesin mobil dan mobil itupun berjalan dengan kecepatan sedang.


Para reporter harus menjauhkan tubuh mereka ketika mobil itu mulai berjalan.


***


Dalam mobil hitam itu, Xia lu memeluk ayahnya dengan sangat erat.


"Lulu, kata dokter kondisimu telah membaik, itu syukurlah"ucap Mr.lu wen menyapu lembut atas rambut Xia lu.


"Ayah, aku ingin pulang ke apartemen saja, tolong untuk saat ini"pinta Xia lu dengan nada suara lemah.


"Mengapa?, tinggallah bersama ayah, ayah berjanji akan menjadi ayah yang sangat baik untukmu selama ini ayah sangat menyesal tidak pernah mem..."tutur Pria paruh baya itu terpotong.


"Iya ayah, kita sudah sampai didepan apartemen tolong turunkan saja!"pinta Xia lu melepas pelukannya.


Mobil yang dijalankan itu tiba-tiba berhenti didepan sebuah bangunan besar pencakar langit.


Xia lu melirik kesamping kanan menatap wajah Yu ri, "Yu ri, kau pulanglah temui aku besok saja"tuturnya terdengar lemah.


"Tap..."jawab Yu ri terpotong.


"Aku tidak ingin mendengar penolakan siapapun itu!"ucap Xia lu dengan tegas.


Yu ri terpaksa turun dari mobil lalu Xia lu, setelah itu Yu ri kembali masuk dalam mobik atas permintaan Xia lu menyuruhnya pulang saja.


"Nak, ayah akan menyuruh body guard menjaga pintu kamar apartemenmu"ucap Mr. lu wen dari dalam mobil.


"Tidak perlu ayah, aku bisa menjaga diri, dan jangan mengantarku Terimakasih"ketus Xia lu langsung membalikan tubuhnya dan berjalan menuju bangunan besar.


"Tapi kondisi tubuhmu..."ucap ayah Xia lu dengan wajah prihatin melihat Putrinya yang bersikeras itu.


"Ayah tenang saja, aku akan mengunjungi rumah besok pagi, sekarang sudah sore aku ingin beristirahat dalam kamar di apartemen saja"sela Xia lu menolehkan kepalanya sekilas kebelakang lalu menatap lurus kembali dengan langsung berlari kencang.


"Lulu"kaget ayah Xia lu melihat Putrinya yang baru sembuh itu berlari kencang sungguh diluar dugaan.


Yu ri dan Ayah Xia lu hanya bisa memandang dari dalam mobil melihat Xia lu yang baru masuk dalam apartemen.


Dalam apartemen yang bernama apartemen bintang star, keadaan didalam tempat itu tidak terlalu ramai hanya ada beberala orang yang berlalu melewati Xia lu yang masih memakai pakaian rumah sakit.


Xia lu mencari apartemennya yang bernomor 100 dilantai 5 tanpa berubah sedikitpun letak apartemen miliknya.


***


Sementara itu ditempat lain


Di lapangan luas, besar penerbangan dan pendaratan pesawat


Tampak pesawat besar yang mendarat di area kawasannya sesuai garis. saat sepenuhnya sudah mendarat pesawat itu berhenti tepat dibatas garis panah.


Sosok Pria tampan yang tinggi dengan mengenakan jas hitam dengan dasi rapi turun menginjak tangga yang dikeluarkan oleh pesawat.


Dibelakangnya terdapat beberapa Pria dengan memakai Jaz dan kacamata hitam yang ikut menuruni tangga


***


Dalam kamar di apartemen Xia lu


Xia lu yang masih mengenakan baju piyamanya berdiri didepan kaca jendela yang begitu besar menampakan bangunan-bangunan besar yang terlihat dari dalam.


Air mata terus mengalir menyapu pipi mulusnya mengingat kejadian indah yang sekejap sudah menjadi kenangan baginya.


"Zhang, kita tidak bisa bertemu lagi"lirihnya memandang atas langit dari balik kaca jendela transparan dihadapannya.


Xia lu langsung menutup tirai jendela kamar, lalu ia naik keatas kasur besar tempat tidurnya dan berbaring dengan posisi tengkurap.


"Hiksss...hikss...mengapa Tuhan harus mempertemukanku dengannya yang pada akhirnya kami berpisah selamanya, hiksss hikss"racau Xia lu disertai tangisnya begitu pecah.


"Padahal kami sudah menikah, dan saling mencintai, mengapa Tuhan tega melakukan ini padaku?, hikss hikss"racaunya lagi.


seprai kasur jadi basah akibat air mata yang terus keluar dari matanya.


Gadis itu tidak berhentinya menangis karena merasa begitu sedih dengan apa yang terjadi pada hidupnya.


bersambung...