
Li chen yang duduk disamping Jenderal Pei melirik Xia lu yang duduk dihadapannya hanya dihalangi oleh meja.
apa yang dia pikirkan?, aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dari Zhang, aku harus mengetahuinya(batin Li chen).
"Nanti aku menceritakannya Zhang"jawab Xia lu melempar senyum menatap wajah Zhang, ia beralih memandang makanan tersaji diatas piring depan dirinya.
Xia lu tersenyum mengambil potongan wortel yang berada diatas piring dengan sumpit yang dipeganganya, ia mengarahkan wortel itu pada mulut Zhang.
"Makanlah yang banyak"ucap Xia lu tersenyum.
Zhang tersenyum langsung melahap wortel yang disuguhkan Xia lu, ia mengunyah dengan tersenyum.
"wahhh"decak semua anggota Pasukan tersenyum melihat Xia lu dan Zhang, Mata mereka tidak terpusat pada makanan namun malah terpusat pada Sepasang Kekasih yang begitu romantis itu.
Li chen mengenggam erat sumpit ditangannya melihat keakraban dua orang tepat didepan matanya, rasanya sangat menyesakkan hatinya.
"Aku sudah kenyang"ucap Li chen menghentakan sumpit diatas piring membuat semua orang jadi heran, ia beranjak dari dudukan lalu membalikan tubuh dan pergi tanpa sepatah kata apapun meninggalkan makanan yang tersisa sedikit dipiringnya.
"ada apa dengannya?"tanya Xia lu memandang Li chen yang berjalan keluar lalu menatap wajah Zhang.
"Dia memang seperti, suasana hatinya selalu berubah-ubah Xia lu"jawab Zhang tersenyum menatap wajah Xia lu yang tampak sedang berpikir.
"oh"paham Xia lu menganggukan kepalanya.
Zhang tersenyum menyapu-nyapu atas rambut Xia lu, "Makanlah"ucapnya dengan lembut.
"emm"gumam Xia lu tersenyum memandang makanan didepannya kembali.
***
...Kekaisaran Li...
Istana Kerajaan Li yang berada ditengah-tengah kota, dalam sebuah kamar mewah yang berada di istana itu tampak dua sosok Pria yang duduk dilantai saling menghadap sesama.
"Ayah, aku sudah menyiapkan kita akan memakai semua Prajurit untuk peperangan melawan Raja Dylan"ucap Pangeran Dong li dengan wajah datar menatap wajah Pria dihadapannya yang adalah ayahnya.
Ayah Pangeran Dong li atau Kaisar Gu li tersenyum tipis memegang bahu Putranya, "Ayah berharap saat Pasukan Kaisar muda Zhang datang kita harus bersikap sebaik-baiknya, Kita sangat memerlukan bantuannya dan tidak akan menang jika kita tidak meminta bantuan pada Kaisar muda itu"ucapnya dengan suara lembut.
Pangeran Dong li mengangguk, ia melempar senyum paksa mendengar ucapan ayahnya.
"Iya ayah"ucap Dong li beranjak dari dudukannya, ia membungkuk memberi hormat pada ayahnya.
"Saya akan pergi Ke kota ayah menyambut Kaisar muda Zhang besertanya"ucap Dong li lagi membuka suara.
"Baik, kau seharusnya sudah menunggu disana"tutur Kaisar Gu li menatap sang putranya.
Dong li tersenyum berdiri tegak kembali, ia membalikan tubuhnya dan berlalu pergi keluar kamar.
***
...Siang hari...
Para Pasukan Zhang, Xia lu dan besertanya baru memasuki wilayah Kota dibagian tengah Kekaisaran Li, Sepanjang jalan orang-orang yang berada ditengah jalan meminggirkan tubuh mereka ketepian.
Langkah kaki kuda pelan seakan memberi kesempatan Para rakyat disitu melihat sosok Anggota Pasukan yang tampan, beserta sang ketuanya yang juga begitu tampan ditambah sosok gadis sangat cantik yang berkuda dengan Pria tampan itu.
Tepat didepan sebuah penginapan besar, Kaisar Zhang menghentikan pacuan kudanya membuat Para anak buahnya yang berkuda dibelakang ikut menghentikan kudanya.
"Kita istirahat dulu di penginapan, kalian bisa berganti pakaian atau mandi waktunya tidak lama"Ucap Kaisar Zhang sambil turun dari atas kuda lalu membantu Xia lu turun.
"Baik Yang Mulia"jawab semuanya dengan serempak langsung turun dari atas kuda lalu membawa kuda mereka berjalan keparkiran disamping penginapan yang tampak sangat besar dan luas.
Semua orang sudah masuk dalam penginapan dan kini hanya tersisa tiga orang yang masih belum masuk.
Li chen turun dari atas kudanya ia menarik tali kuda dan membawa kudanya berjalan melewati kuda Kaisar Zhang tanpa melirik dan sepatah kata apapun.
Xia lu sekilas melirik kesamping melihat Li chen yang berjalan dengan raut wajah datar seperti biasa.
"Xia lu kau boleh masuk kedalam penginapan, aku ingin pergi sebentar"ucap Zhang tersenyum.
Li chen yang sempat mendengar ucapan Zhang tidak jauh menuju tempat parkiran menghentikan langkah kakinya.
"Kemana?, apa aku boleh ikut?"tanya Xia lu menghadapkan tubuhnya pada Zhang.
Zhang tersenyum, ia memegang wajah Xia lu dan menatap manik mata gadis cantik itu dengan tatapan penuh cinta, "tidak perlu, kau disini saja tidak lama aku akan kembali"jawabnya dengan lembut.
Xia lu mengangguk, "Baiklah"ucapnya tersenyum.
Li chen tersenyum tipis, ia kembali membawa kudanya berjalan.
"Mmmooa"kecup Zhang mencium pipi Xia lu dengan perasaan gemas.
Xia lu tersenyum manis, ia langsung berlari pergi masuk dalam penginapan.
Zhang tersenyum langsung menaiki kuda kembali, ia mengambil sesuatu dalam selipan jubahnya yang adalah cadar. Dia memakai cadar menutupi setengah wajah lalu berkuda kembali dengan pelan.
Kaisar Zhang berkuda menyusuri kota di Kekaisaran Li, tidak terlalu jauh dari Penginapan tadi ia menghentikan kudanya didepan sebuah toko aksesoris yang tampak tidak terlalu ramai.
Zhang turun dari kuda, ia memandang dari luar toko aksesoris wanita dengan senyum tampak dibibir seksinya lalu berjalan melangkah masuk dalam toko itu.
Saat masuk, hal yang pertama Zhang lihat adalah Rak-rak yang tersusun sebuah topi bundar,gelang-gelang, liontin cantik dan lainnya masing-masing dalam susunan satu rak yang berada ditengah ruangan.
Keadaan tampak tidak terlalu ramai dalam toko itu, ada sekitar beberapa orang yang melihat-lihat dan memilih barang.
Zhang berjalan menyusuri rak-rak dan melihat barang-barang yang tersusun, "Tidak ada yang menarik untuk Xia lu"gumamnya.
Dari balik rak sebelah seorang gadis bersembunyi dengan membawa kipas yang menutupi setengah wajahnya, ia bersandar di dinding rak dan sedikit mengintip Kaisar Zhang yang tampak bingung.
"Hai anak muda, kau bingung memilih aksesoris untuk istrimu?"tanya Wanita paruh baya yang muncul disamping Zhang mengejutkan Pria itu.
"Istri?, Iya aku ingin memberikan sesuatu padanya agar setiap saat dia selalu mengingatku"jawab Zhang tersenyum tipis dibalik cadar menatap wajah wanita paruh baya di sampingnya.
"Kau sepertinya tampak muda, Kau menikah muda dan istrimu pasti muda bagaimana jika membuat gelang dari tanganmu sendiri agar istrimu merasa sangat senang dan bahagia, wanita mana yang tidak senang dibuatkan sesuatu yang akan sering dipakainya dan dibuat oleh tangan Pria yang disukainya sendiri"tutur Wanita paruh baya itu tersenyum menggoda pada Zhang.
"Baik, aku ingin segera membuatnya dan tolong kau ajarkan"ucap Zhang dengan wajah datarnya.
"Aigooo, sungguh romantis diam-diam ingin membuatkan sesuatu untuk istrinya meski tidak tau cara membuatnya, uuuhh aku jadi iri"ucap Wanita paruh baya tersenyum girang.
"Ayo cepat sini"ajak Wanita paruh baya itu berjalan lebih masuk dan keluar dari susunan rak-rak diikuti Zhang dibelakang.
Wanita paruh baya itu berjalan menuju sebuah meja yang tersusun banyak, ia duduk didepan meja yang berada paling ujung dan Zhang pun ikut duduk dikursi menghadap wanita itu.
"Hm"dehem Zhang menganggukan kepala memandang semua bahan diatas meja.
"Ayo mulailah, kau tau warna tali benang ini langka makanya aku memberikan yang ini saja agar istrimu suka, Kau sangat beruntung, Ayo buatlah"pinta wanita itu tersenyum pada Zhang.
Zhang mengangguk, dia mengambil salah satu bahan dan langsung saja mengambil bahan lainnya.
Tangan Zhang begitu cepat menyatukan tali benang dan menganyamnya begitu rapi dengan perasaan setulus hati.
Wanita paruh baya yang duduk didepan Zhang melihatnya hanya melongo dengan mulut terbuka lebar.
"sudah"ucap Zhang tersenyum memperlihatkan gelang cantik yang sudah jadi dibuatnya dengan begitu cepat.
"Woahhh"kagum wanita paruh baya dihadapan Zhang melototkan matanya terkejut.
"Terimakasih, mengapa aku memilih toko ini untuk melihat-lihat aksesoris karena pelayanannya yang sangat baik, Ini untuk anda"ucap Zhang berdiri langsung meletakan satu koin besar emas terbatas diatas meja.
Zhang tersenyum dibalik cadarnya, ia membalikan tubuh dan memandang gelang cantik berukiran nama Xia lu ditelapak tangannya.
"Woahhh Koin ini!?"kaget Wanita paruh baya itu bergetar hebat menyentuh koin emas yang tergeletak diatas meja tepat didepan matanya.
Zhang langsung beranjak pergi menuju luar toko itu dengan senyuman tidak henti dibalik cadarnya.
semoga Xia lu menyukai gelang buatanku ini, aku hanya akan membuatkan untuknya agar ketika dia memandang gelang ditangannya yang ku buat sendiri maka dia akan selalu teringat padaku(batinnya).
Gadis yang sedari tadi mengintip tidak jauh dari balik rak langsung berjalan menuju meja menghadap wanita paruh baya pemilik toko itu.
"Aku ingin kau buatkan gelang sama persis seperti Pria itu tadi, dia adalah suamiku jadi aku ingin membuat kejutan untuknya"ucapnya tersenyum manis duduk dikursi bekas dudukan Zhang.
"Jadi Nona adalah istrinya, pantas saja cantik"puji wanita itu menyimpan koin besar emas dalam laci dibawah meja.
"Iya, tolong buatkan sama persis berapapun bayarannya namun dengan nama berbeda"ucap gadis itu tersenyum hangat.
***
...Penginapan...
Kaisar Zhang kembali dengan senyuman senang dibalik cadarnya, ia masuk dalam penginapan membuat semua anak buahnya dari dalam penginapan kaget.
Zhang melepas cadarnya agar dikenali para anggota pasukannya, "Kalian bersiaplah kita akan berangkat lagi menuju tengah kota di Kekaisaran ini menemui pasukan Dari Kaisar Gu li"titahnya.
Semua pemuda membungkukan tubuh mereka dengan hormat menerima titahan Sang Kaisar.
"Oh iya dimana kamar Putri Xia lu?"tanya Zhang melirik semua pemuda.
"Ada apa Zhang?"tanya suara merdu yang membuat semua mata terpusat padanya.
Zhang tersenyum melihat Xia lu yang melipat kedua tangannya didepan dada bersandar didaun pintu, ia langsung berjalan cepat menghampiri gadis itu.
Xia lu tersenyum melihat Zhang berjalan mendekatinya.
Sesampainya di hadapan Xia lu, Zhang langsung menarik tangan gadis itu dan mendorong pintu yang tertutup.
Mereka berdua masuk dalam kamar dan Zhang menutup pintu kembali.
Semua pemuda yang berada diluar kamar melototkan mata mereka dengan mulut menganga.
"Sungguh Putri Xia lu bagai tetesan air hujan yang perlahan-lahan berhasil melubangi kerasnya sebuah batu seperti Kaisar Zhang"ucap Jenderal Pei yang melongo bersandar di dinding.
Dalam kamar...
Xia lu duduk diatas meja rias dengan wajah penasaran apa yang ingin ditunjukan Pria di hadapannya memperlihatkan kedua tangan yang mengenggam erat menyembunyikan sesuatu didalamnya.
"Coba tebak, dan pilih dari salah satunya"pinta Zhang tersenyum menatap wajah Xia lu.
"Emm, ini?"tunjuk Xia lu menyentuh sebelah tangan kanan Zhang dan membuka jari yang saling melekat.
"eh tunggu dulu"larang Zhang menyembunyikan kedua tangannya kebelakang punggung belum sempat dibuka Xia lu.
"Kenapa?"tanya Xia lu menaikan kedua alisnya menatap wajah tampan Zhang.
Zhang tersenyum manis, ia menyodongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kedepan wajah Xia lu.
"Cium dulu disini"godanya sengaja memperlihatkan sebelah pipi mulusnya pada Xia lu.
Xia lu seketika tersenyum, ia langsung mengangkat kepalanya sedikit dan mencium pipi Zhang dengan perasaan gemas.
"Mmoooa, mmmoaa"gemas Xia lu sebelah pipi Zhang.
Zhang menjauhkan kembali tubuhnya dengan senyuman senang, kedua pipinya kini merona malu seperti kepiting rebus.
"Sekarang lihatkan apa yang kau sembunyikan ditangan kanan karena aku merasa disitu ada sesuatu"ucap Xia lu tersenyum.
Zhang menatap wajah Xia lu, ia tidak ingin menunggu langsung memperlihatkan apa yang berada digenggaman tangan kanannya pada Xia lu.
"Wah gelang, apa ini untukku?"tanya Xia lu tersenyum girang melihat gelang cantik sederhana dengan warna pink muda dan ada papan nama ditengahnya yang bertulisan nama seseorang.
"Iya"jawab singkat Zhang tersenyum meraih sebelah tangan kiri Xia lu dan langsung memasangkan gelang itu di pergelangan tangan gadis itu.
"Aku membuat gelang terbatas ini sendiri hanya untukmu Xia lu kau tidak akan menemukan gelang seperti ini karena hanya aku yang membuatnya, apa kau menyukainya?"tanya Zhang tersenyum selesai memasangkan gelang ditangan Xia lu.
"Sangat"angguk Xia lu langsung turun dari atas meja rias, ia memeluk erat tubuh Pria dihadapannya.
Zhang tersenyum membalas pelukan Xia lu, ia menyapu-nyapu rambut gadis dalam dekapan lalu mengecup atas rambutnya dengan lembut.
"Xia lu, mengapa aku memberikan gelang padamu agar kau bisa selalu mengingatku kapanpun jika kau memandang gelang yang melekat ditanganmu"ucap Zhang dengan lembut.
Xia lu tersenyum mendengar ucapan Zhang, ia menjauhkan tubuh namun kedua tangannya masih melekat dipinggang Zhang.
"Zhang, memakai gelang ataupun tidak aku akan selalu mengingatmu, Kau tidak mungkin akan ku lupakan seumur hidup, adanya dirimu selalu disisiku aku sudah merasa aman dan tenang, Terimakasih aku mencintaimu"ucap Xia lu dengan mata berbinar haru menatap wajah Zhang.
Zhang tersenyum memegang wajah Xia lu, ia menyatukan keningnya pada kening Xia lu, "Berjanjilah tetap disisiku selamanya"lirihnya dengan nafas mengemburu dirasakan oleh Xia lu.
"Emm"angguk Xia lu tersenyum menatap bola mata Zhang dari dekat.
"Aku sangat menyayangimu"ucap Zhang mendekap tubuh Xia lu kembali dengan senyuman senang.
bersambung...