
"Tokonya tutup, Nyonya!" Lapor pak supir pada Mom Yumi yang hari ini minta diantar ke toko kue Beth.
"Iya, benar! Apa Beth ada acara di luar, ya?" Gumam Mom Yumi menerka-nerka. Sebenarnya bukan tanpa alasan Mom Yumi datang ke Sweety Cake siang ini. Mom Yumi benar-benar ingin bertemu Beth, lalu menanyakan perihal hubungan Beth dan Fairel serta penyebab Fairel yang kemarin marah-marah tak jelas.
Mom Yumi tak mau ikut campur, namun hanya ingin jadi penengah misalnyaemang ada kesalahpahaman di antara Beth dan Fairel. Meskipun sebenarnya Mom Yumi sudah sangat berharap kalau Beth akan menjadi pelipur sekaligus penyembuh patah hati Fairel kemarin atas cintanya pada Rossie.
"Ya sudah, kita pulang saja, Pak!" Ucap Mom Yumi akhirnya. Mobil akhirnya kembali melaju dan meninggalkan Sweety Cake.
****
"Uhuuk! Uhuuk!" Beth kembali batuk-batuk saat Mama Tere menyuapi gadis itu dengan bubur.
"Minum dulu!" Titah Mama Tere seraya mengangsurkan air hangat pada Beth.
"Nanti sore ke dokter, ya!" Ujar Mama Tere kemudian membujuk Beth sekali lagi. Namun Beth langsung menggeleng.
"Beth istirahat di rumah saja, Ma!" Ujar Beth kemudian dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tadi pagi saat bangun tidur, suara Beth memang mendadak hilang dan tubuh Beth juga demam tinggi hingga menggigil.
"Sepertinya Mama harus menghubungi Rossie dan memintanya--"
"Jangan!" Beth langsung meraih tangan sang mama sembari menggeleng lagi.
"Beth bisa menangani wedding cake Rossie. Lusa pasti Beth sudah baikan, Ma!" Tukas Beth lagi sebelum kemudian gadis itu kembali batuk-batuk.
"Minum lagi!" Mama Tere kembali membantu Beth untuk minum. Setelah itu Mama Tere kembali hendak menyuapi Beth, namun sang putri malah menggeleng.
"Beth kenyang, Ma!" Ucap Beth yang memang tak punya selera makan sejak kemarin.
"Baru beberapa sendok, Beth!"
"Beth mau minum obat, lalu tidur saja, Ma!" Tukas Beth lagi sembari meraih ponselnya.
Beth membuka aplikasi pesan, namun riwayat pesan paling atas bukan lagi pesan dari Fairel melainkan hanya operator yang mengabarkan kalau masa aktif nomor Beth akan berakhir bulan depan.
Ya, tak ada lagi pesan berisi rayuan gombal dari Fairel karena sejak kemarin Beth memang sudah memblokir nomor pria itu sekaligus menghapus semua riwayat pesan Fairel.
"Bibir kamu manis seperti permen! Pantas saja rollcake buatanmu juga enak!"
Mata Beth langsung berkaca-kaca saat kalimat serta rayuan gombal Fairel terus saja berkelebat di kepalanya.
"Beth, kau menangis?" Tanya Mama Tere seraya memeriksa dengan seksama wajah Beth.
"Enggak, Ma!" Kilah Beth cepat seraya meraih tisu dari atas nakas.
"Pengaruh flu--" Beth menyeka hidungnya yang memang berair.
Berair karena Beth menangis dan bukan karena flu.
"Ini obat kamu!" Mama Tere kemudian mengangsurkan obat pada Beth.
"Kalau sore nanti kau masih belum membaik, kita akan ke dokter, ya!" Tukas Mama Tere lagi yang langsung membuat Beth merengut. Beth lalu segera meminum obat yang tadi diberikan oleh Mama Tere, bersamaan dengan pikirannya yang kembali melayang pada seseorang yang belakamgan ini membuat Beth jadi banyak pikiran....
Fairel!
****
Fairel mendorong pintu ruangan Ryan tanpa permisi tanpa basa-basi, hingga membuat Dad Liam dan juga Ryan yang tadinya sedang bicara serius menjadi terkejut.
"Iel! Kenapa tak mengetuk pintu?" Tegur Dad Liam merasa geram
Fairel tak berucap sepatah katapun dan pria itu malah langsung menyambar map yang sedang dipegang oleh Ryan.
"Iel yang akan pergi, Dad!" Ucap Fairel kemudian seraya mengangkat map tadi.
"Tidak!" Tolak Dad Liam tegas.
"Kau baru dari luar kota juga kemarin, kenapa sekarang mau pergi lagi? Sekarang giliran Ryan--"
"Iel tetap akan pergi dan biarkan Ryan tetap disini!" Sergah Fairel keras kepala.
"Iel, jangan keras kepala--"
"Pokoknya Iel tetap akan pergi! Titik!" Tegas Fairel lagi seraya membawa map tadi keluar dari ruang kerja Ryan, tanpa pamit tanpa basa-basi lagi.
"Ada apa lagi dengan anak itu?" Tanya Dad Liam bingung.
"Entahlah!" Gumam Dad Liam yang juga merasa bingung.
Tapi bukankah kemarin Fairel sudah move on dan sudah menjalin hubungan bersama si gadis tukang kue?
Lalu kenapa sekarang....
****
"Tutup!" Teriak Fairel seraya keluar dari mobil, saat pria itu sudah sampai di depan Sweety Cake yang rolling door-nya memang tertutup rapat.
"Aku juga tak sudi bertemu apalagi melihat wajahmu!" Fairel menendangi rolling door toko Beth dengan membabi buta.
"Tutup saja seterusnya dan tidak usah buka toko kue lagi!"
"Dasar tidak niat jadi pengusaha!" Fairel tak berhenti menendangi rolling door toko kue Beth hingga menimbulkan suara berisik yang memancing perhatian beberapa orang yang lewat.
"Apa lihat-lihat?" Maki Fairel pada orang-orang yang menatapnya dengan aneh.
"Aku akan pergi dan nanti saat aku kembali, aku pasti sudah melupakan kau! Beserta tokomu yang jelek ini!"
"Dan juga rollcake-mu yang tidak enak itu!"
"Tutup saja seterusnya!"
"Seterusnya!" Fairel menendang rolling door toko Beth sekali lagi, sebelum kemudian ia masuk ke mobilnya dan menatap bersungut pada rolling door yang tetap tertutup rapat.
"Awas jika nanti kau menampakkan diri di hadapanku lagi!" Tuding Fairel ke toko Beth, sebelum kemudian pria itu melajukan mobilnya dan meninggalkan Sweety Cake.
****
Ting!
Beth baru membuka mata, saat ponselnya berbunyi nyaring, menandakan ada pesan masuk. Segera Beth meraih benda pipih persegi tersebut dan memeriksa pesan yang masuk.
Pastilah Fa....
"Astaga!" Beth mengusap wajahnya sendiri sembari tak berhenti merutuk dalam hati. Kapan Beth akan melupakan tuan bawel si tukang perintah itu?
Beth segera membuka pesan yang rupanya dari Abang Timmy.
[Orang ini kenapa?] -Abang Timmy-
Beth membuka video yang juga dikirimkan oleh Abang Timmy. Ada video rekaman CCTV yang menunjukkan Fairel yang sedang menendang-nendang rolling door di toko Beth yang memang tutup hari ini. Beth langsung menghela nafas saat menyaksikan Fairel yang sepertinya frustasi berat tersebut.
Beth lalu mengetikkan pesan balasan untuk Abang Timmy.
[Mungkin hanya sedang PMS, Bang! Dia memang selalu melakukan hal random begitu kalau toko tutup] -Beth-
[Abang masih tak paham tentang hubungan yang terjadi di antara kau dan Fairel] -Abang Timmy-
[Hanya hubungan penjual kue dan penggemar rollcake, Bang! Tak ada hubungan apa-apa] -Beth-
Pesan terkirim dan tak ada lagi balasan pesan dari Abang Timmy.
Entahlah! Mungkin Abang Timmy memang sedang sibuk.
Beth akhirnya tak jadi tidur dan gadis itu langsung membuka akses CCTV tokonya yang memang bisa dilihat dari ponsel. Segera Beth memeriksa, apa Fairel masih ada di depan toko atau sudah pergi.
Ternyata sudah tidak ada!
Berarti memang sudah pergi.
"Lupakan pria itu, Beth! Lupakan saja!" Berh lalu bergumam pada dirinya sendiri.
"Apa bagusnya menjadi pelarian dari perasaan seseorang?" Gumam Beth lagi sembari gadis itu menutupi kepalanya dengan selimut.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.