Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PERGI SANA!


"Beth!" Panggil Fairel pada Bethany yang masih menyibukkan diri di belakang meja kasir.


Padahal sebenarnya Beth juga sedang tak ada kerjaan dan sejak tadi ia hanya bolak-balik menghitung uang kembalian sambil sesekali melirik ke arah Fairel yang tak kunjung pergi dari tokonya.


"Beth!" Panggil Fairel lagi.


"Apa! Kau mau kue lagi?" Jawab Beth tanpa beranjak dari belakang meja kasir.


"Aku sudah kenyang!" Jawab Fairel seraya bersendawa. Pria itu juga terlihat mengusap-usap perutnya.


"Ya pulang sana kalau sudah kenyang!" Gumam Beth sambil mencibir pada Fairel yang tanpa Beth sadari sedang menatap ke arahnya.


"Kau bilang apa barusan?" Tanya Fairel seraya mengernyit pada Beth.


"Bilang apa? Aku tak bilang apa-apa!" Sanggah Beth cepat.


"Kau terlihat menggerutu barusan namun tanpa suara. Kau sedang mengomentari diriku?" Cecar Fairel penuh rasa percaya diri.


"Cih! Geer sekali!" Cibir Beth cepat.


"Bilang saja iya!" Sergah Fairel tetap percaya diri yang langsung membuat Beth kembali mencibir.


Fairel tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya dan menghampiri Beth yang masih berada di belakang meja kasir.


"Semuanya dua ratus ribu!" Ucap Beth cepat, menghitung semua kue yang sudah Fairel makan dan juga pria itu bungkus. Tak lupa dua botol minuman yang juga sudah Fairel habiskan sendiri.


Entahlah! Sepertinya Fairel membawa toren di perutnya.


"Berapa?" Tanya Fairel seraya mengeluarkan dompetnya dari saku.


"Dua ratus ribu," jawab Beth mengulangi ucapannya tadi.


Fairel lalu mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompet dan mengangsurkannya pada Beth.


"Kau sudah tak berhubungan dengan Reandra brengsek itu, kan?" Tanya Fairel saat Beth balik mengangsurkan struk pada pria tersebut.


"Bukan urusanmu!" Jawab Beth dengan nada ketus.


Disaat bersamaan, ponsel Beth yang ada di samping mesin kasor mendadak berdering. Ada nama Reandra di sana, dan Beth buru-buru menyembunyikannya dari Fairel yang tadi sempat melirik kepo.


"Dari siapa? Jangan bilang dari Reandra brengsek!" Sergah Fairel yang nada bicaranya sudah terdengar meninggi.


"Bukan siapa-siapa!" Sergah Beth cepat.


"Pergi sana!" Usir Beth kemudian pada Fairel sembari gadis itu melirik ke layar ponselnya yang masih berdering serta bergetar.


"Angkat saja kalau memang bukan dari Reandra! Aku tak akan menguping," tukas Fairel seraya menyandarkan sikunya di meja kasir seolah siap untuk menguping.


Dasar!


"Kau tidak kembali ke kantor?" Beth berusaha mengalihkan pembicaraan dan entah mengapa ponselnya terus sana bergetar tanpa henti. Reandra seakan ingin bicara hal penting.


"Masih jam istirahat," jawab Fairel santai sembari melirik arlojinya. Pria itu masih saja di posisinya semula yaitu menyandarkan siku di meja kasir, sembari menatap pada Beth.


"Kau mungkin bisa pergi ke suatu tempat sampai jam istirahatmu berakhir! Tak perlu juga berada di tokoku sepanjang istirahat!" Tukas Beth yang kini sudah salah tingkah karena Fairel yang tak kunjung pergi dan Reandra yang tak kunjung berhenti menelepon.


Entahlah! Beth bingung!


"Angkat saja teleponnya!" Fairel mengendikkan dagunya ke arah ponsel Beth dengan raut tanpa dosa. Benar-benar menyebalkan!


"Shanty!" Panggil Beth akhirnya pada sang karyawan.


"Iya, Kak!"


"Gantikan aku!" Titah Beth seraya pergi berlalu dan masuk ke dalam dapur toko.


"Pak Iel mau bayar?" Tanya Shanty ramah.


"Sudah!" Jawab Fairel seraya menunjukkan struk yang tadi diberikan oleh Beth.


"Ini kuenya, Pak!" Shanty segera memberikan kotak berisi kue yang dibeli oleh Fairel untuk dibungkus.


"Aku mau menumpang ke kamar mandi karena sudah kebelet," tukas Fairel kemudian seraya beberapa kali melemparkan tatapannya ke arah pintu dapur dimana tadi Beth menghilang.


"Silahkan lewat sana, Pak! Nanti lurus saja, toiletnya ada di ujung," jelas Shanty sembari menunjuk ke arah pintu dapur.


Ah, yes! Akhirnya Fairel bisa menyelidiki tentang siapa tadi yang menelepon Beth!


"Pak Iel!" Tegur Shanty pada Fairel yang malah terlihat melamun.


"Iya! Aku paham dan tak perlu diantar!" Tukas Fairel cepat sembari berjalan cepat ke pintu yang mengarah ke dapur tadi. Fairel dengan cepat mendorong pintu tersebut dan kedua netranya langsung tertumbuk ke arah Beth yang sedang bicara dengan seseorang di telepon sembari duduk di bangku plastik di dalam dapur. Beth bahkan terlihat kaget saat Fairel masuk.


"Iya, aku masih di toko!" Ucap Beth pada seseorang entah siapa di ujung telepon.


Tapi Fairel masih curiga kalau itu adalah Reandra!


Fairel langsung menatap penuh selidik pada Beth.


"Masih banyak pekerjaan sebenarnya. Jadi aku belum bisa memberikan jawaban. Nanti aku telepon lagi. Bye!" Ucap Beth tergesa sambil menutup telepon.


Namun diluar dugaan, tangan Fairel malah tiba-tiba sudah bergerak cepat untuk menyambar ponsel Beth.


"Iel!" Pekik Beth yang hendak mengambil ponselmu lagi, nanun Fairel mencegah dan malah mengangkat tinggi-tinggi ponsel Beth, hingga sang empunya tak bisa meraihnya.


"Kembalikan ponselku!" Beth tiba-tiba langsung menyerang Fairel dan mendorong pria itu dengan lumayan barbar.


Fairel yang tak siap otomatis langsung terjengkang ke belakang dan Beth yang tangannya ditarik oleh Fairel ikut jatuh sembari menindih tubuh Fairel.


Ya ampun!


"Aduuh!" Fairel memekik karena Beth menimpa tubuhnya dengan lumayan keras.


"Syukurin!" Olok Beth yang langsung menyambar ponselnya yang tadi dirampas Fairel. Gadis itu lalu segera bangkit berdiri dari atas Fairel dan mendelik pada Fairel yang masih telentang di lantai dapur toko.


"Beth tolong aku!" Fairel mengulurkan tangannya ke arah Beth dan meminta bantuan agar Beth mau menariknya bangun.


"Bangun saja sendiri!" Jawab Beth ketus.


"Ck! Tega!" Fairel memasang wajah melas. Lagi dan lagi!


Beth akhirnya mengulurkan tangannya dan membantu Fairel menyebalkan itu untuk bangun dan berdiri.


"Oh, ya ampun!"


"Kau tadi ditelepon siapa?" Tanya Fairel penuh selidik setelah pria itu berhasil bangun dan berdiri.


Tadinya Beth pikir setelah Fairel ia smack down, pria itu tak akan bertanya dan merasa kepo! Ternyata sama saja!


"Sudah kubilang bukan urusanmu!" Jawab Beth semakin ketus.


"Kau sendiri kenapa lancang masuk-masuk ke dapur, hah? Dasar tidak sopan!" Beth lanjut mengomeli Fairel yang malah terlihat merapikan kerah kemejanya.


"Aku mau ke toilet dan kata Shanty--"


"Itu toiletnya di ujung!" Sergah Beth memotong jawaban Fairel sembari gadis itu mendorong Fairel ke arah toilet.


"Auuw! Pelan-pelan, Beth!" Geram Fairel seraya menyentak tangan Beth yang tadi mendorong pundaknya. Fairel lalu masuk ke dalam toilet, meninggalkan Beth yang langsung berdecak sendiri.


"Dasar sinting!" Gumam Beth kesal.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.