Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
ADA ADA SAJA!


"Kenapa nomormu tidak aktif, Beth?"


"Kau memblokir nomorku lagi?" Cecar Fairel, begitu pria itu masuk ke dalam toko. Fairel juga sudah melemparkan tatapan takam ke arah Beth, seolah Beth baru saja berbuat hal kriminal....


"Kau pikir, kau itu pantas untuk Abang Iel?"


Kalimat Reina malah kembali menari-nari di kepala Beth, saat gadis itu balik membalas tatapan tajam Fairel.


Beth tak pantas untuk Fairel?


Memang Beth selama ini menjalin hubungan apa dengan pria galak bernama Fairel itu?


Selain Fairel yang bucin akut ke rollcake-nya Beth, sepertinya tak ada hubungan istimewa apapun diantara Beth dan Fairel.


Lagipula, Beth juga tak tertarik pada Fairel galak berparas.....


Setengah tampan!


Itupun kalau dilihat cukup lama dan penuh keheningan. Kalau hanya dilihat sekilas, sama sekali tak tampan.


"Beth!" Kibasan tangan Fairel di depan wajah Beth sontak langsung membuat lamunan Beth menjadi buyar.


Hah?


"Kenapa malah melamun?" Tegur Fairel yang kembali mendelik pada Beth.


Kan!


Fairel itu sangat suka mendelik, menggerutu, marah-marah, mengomel, mencak-mencak.


Gadis mana juga yang tahan menjadi pacar dari Abang kesayangan Reina ini!


Sepertinya Reina itu perlu menjalani terapi agar berhenti berprasangka buruk pada semua orang.


"Melamun lagi!"


"Auuww!" Beth mengaduh karena Fairel entah sengaja entah atau bagaimana sudah berani memencet hidung Beth.


"Apa, sih?" Rengut Beth kemudian seraya berlalu dari hadapan Fairel lalu hendak masuk ke dapur.


"Kau mau kemana!" Fairel refleks menarik tali bagian belalang dari overall yang dikenakan oleh Beth .


"Iel!" Pekik Beth yang mau tak mau terpaksa berhenti, ketimbang overallnya sobek atau terlepas.


"Kau belum menjawab pertanyaanku! Mau main kabur saja!" Decak Fairel yang kini sudah merengkuh kedua pundak Beth.


Beth sontak menatap pada kedua tangan Fairel yang kini masih berada di pundaknya.


"Apa? Rengkuhanku lembut begini!" Kelit Fairel cepat yang seolah sudah paham makna dari tatapan Beth pada tangannya.


"Lembut apanya? Tanganmu saja sebesar hulk begitu!" Protes Beth yang langsung membuat Fairel berdecak dan melihat ke tangannya sendiri.


"Coba lihat tanganmu!" Fairel ganti menengadahkan satu tangannya ke arah Beth, sementara tangan satu lagi tetap di pundak Beth.


"Apa, sih? Kurang kerjaan!" Gumam Beth yang menolak menunjukkan tangannya yang mungkin hanya setengah ukuran dari tangan besar Fairel. Gadis itu juga berusaha menyentak rengkuhan Fairel di pundaknya.


"Pergi sana! Aku mau menutup toko!" Usir Beth kemudian pada Fairel.


"Baru datang sudah disuruh pergi! Aku belum makan rollcake!" Decak Fairel


"Kenapa nomormu tidak aktif, Beth?" Tanya Fairel sekali lagi.


"Ponselku tadi kau banting! Bagaimana nomorku bisa aktif?" Jawab Beth dengan nada ketus.


"Aku kan sudah membelikanmu ponsel baru--"


"Ponselnya di rumah!" Sergah Beth memotong.


"Pulang dan ambil! Apa susahnya? Kau lupa alamat rumahmu? Atau jarak rumahmu terlalu jauh, sejauh bumi ke pluto?" Cecar Fairel lagi yang langsung membuat Beth memutar bola matanya.


"Aku sibuk dan banyak pekerjaan di toko!" Tukas Beth kemudia seraya berbalij dan hendak meninggalkan Fairel.


"Sesibuk apa memangnya, Beth? Jangan pergi dulu karena aku belum selesai bicara!"


"Beth Bethany, kau dengar aku atau tidak?" Fairel terus bercerocos sementara Bethany hanya acuh dan gadus itu sydah menghilang ke arah dapur.


"Hhh!!" Fairel menyugar rambutnya sendiri sebelum lanjut menyusul Beth ke dapur.


"Kenapa kau selalu meninggalkan aku, saat aku belum selesai bicara?" Protes Fairel yang sudah ikut masuk ke dapur.


"Apa kau tak lihat?" Jawab Beth seraya meninggikan suaranya.


"Shanty kemana memang?" Tanya Fairel kemudian yang baru sadar kalau karyawan Beth itu rupanya tak di toko.


"Masih cuti," jawab Beth yang tangannya sudah mulai bergerak untuk memindahkan adonan dari mangkuk mixer ke beberapa loyang.


"Itu kau membuat apa? Kenapa bukan rollcake?" Tanya Fairel lagi yang langsung membuat Beth menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu menoleh gemas ke arah Fairel.


"Stok rollcake di depan masih banyak, dan aku tak akan membuat kue yang stoknya masih banyak!"


"Lagipula, ini juga pesanan orang yang akan diambil malam ini," tukas Beth yang sudah kembali melakukan aktivitasnya.


"Oh, rollcake-nya masih banyak. Aku mau beli--"


"Kau kemarin sudah membeli semua varian masing-masing satu box, Iel! Mustahil kalau semuanya sudah habis!" Potong Beth yang kini sudah melempar tatapan tajam pada Fairel.


"Yang kemarin masih ada di rumah. Tapi sekarang aku mau membeli untuk aku makan disini," ujar Fairel menjelaskan.


"Toko akan aku tutup beberapa menit lagi. Kau pulang dan makanlah rollcake-mu yang di rumah!" Usir Beth tegas.


"Tutup saja! Aku akan di dalam dan mengerjakan beberapa pekerjaanku."


"Lagipula, bukankah katamu tadi kau masih mau mengerjakan pesanan itu sampai malam," Imbuh Fairel lagi seraya mengendikkan dagunya ke deretan loyang banana cake yang sudah Beth isi memakai adonan, dan kini siap masuk ke dalam oven.


Bodoh!


Kenapa Beth tadi harus mengatakannya secara jujur.


"Ambilkan aku rollcake-nya dulu!" Perintah Fairel kemudian.


"Kau akan diabetes jika makan rollcake setiap hari, Iel!" Ujar Beth memperingatkan pria di depannya tersebut.


"Aku mengimbanginya dengan olahraga yang cukup! Jadi tak usah khawatir!" Tukas Fairel yang ternyata begitu keras kepala.


"Baiklah, terserah saja!" Gumam Beth yang sudah malas berkomentar lagi.


"Mana rollcake-ku, Beth?" Tagih Fairel kemudian.


"Ambil saja sendiri! Aku sibuk!" Jawab Beth malas. Beth sudah mulai memasukkan loyang-loyang banana cake ke dalam oven sekarang.


"Apa jika ada pelanggan yang datang kau juga akan menyuruh mereka mengambil cake---"


"Aaaaarrgggghhh! Panas!!!" Jerit Fairel heboh seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang tadi ia sandarkan di sisi oven yang menyala.


Entah pria itu sedang mabuk atau sedang ngelindur. Bisa-bisanya dia menyandarkan tangan di sisi oven yang panas tanpa alas tanpa apapun.


Mau belajar jadi kuda lumping?


"Dasar ceroboh! Sudah tahu oven sedang menyala, kenapa malah kamu pakai bersandar?" Omel Beth seraya menaruh tangan Fairel di bawah keran, lalu menyiramnya dengan air dingin.


"Sakit sekali, Beth!" Keluh Fairel yang wajahnya sudah merah padam sekarang.


"Iya, salah kamu sendiri!" Beth masih tak berhenti menggerutu sembari gadis itu memperhatikan tangan Fairel yang melepuh.


"Sepertinya kau harus ke UGD. Luka bakarnya serius," ujar Beth lagi yang langsung merogoh saku bajunya dan hendak mengambil ponsel. Namun kemudian Beth ingat kalau ponselnya rusak tadi.


Ish!


Semua gara-gara Fairel!


"Tetap diam disini dan aku akan menelepon Mama dulu!" Ujar Beth kemudian seraya keluar dari dapur, lalu memakai telepon toko untuk menghubungi sang mama. Beth akan minta Mama Tere datang ke toko dan menangani banana cake yang tadi sudah terlanjur masuk ke dalam oven.


Beth akan mengantar Fairel ke UGD dulu sementara.


Hhhh!


Ada-ada saja tingkah tuan bawel menyebalkan itu!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.