
"Beth!"
"Iya!"
"Kenapa kau tidur?" Tanya Fairel yang langsung membuat Beth membuka matanya. Wanita itu kemudian meringis.
"Aku hanya sedang menahan rasa sakit," ungkap Beth seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Fairel.
"Aaaarrggghhhh!! Kenapa kau---" Fairel ikut-ikutan meringis lebay.
"Aku hanya memegang pelan tanganmu. Kenapa kau berteriak?" Omel Beth pada Fairel yang masih meringis.
"Kau merem*s tanganku seperti buldozer dan kau bilang pelan---"
"Beeeeth!!!!" Fairel kembali memekik saat Beth mer*mas tangannya dengan kuat.
"Maaf itu gerakan refleks karena perutku...panggulku...sakit sekali," ucap Beth tanpa rasa bersalah sedikitpun. Kenapa juga harus merasa bersalah, Beth sedang berjuang menahan sakitnya kontraksi sekarang, karena bayinya akan lahir sebentar lagi.
"Sakit sekali!" Fairel mengusap-usap tangannya sendiri yang kini terasa cenut-cenut.
"Kau mau kemana?" Beth tiba-tiba sudah meraih tangan Fairel lagi yang belum sembuh dari rasa sakit.
"Aku tidak kemana-mana, Beth! Aku hanya sedang mengusap tanganku yang hampir patah.
"Tanganmu masih baik-baik saja! Panggulku ini yang hampir......" Beth mengerang dan meringis lagi sambil tak lupa merem*s kuat tangan Fairel.
"Beeeettttth!!!" Teriak Fairel yang sudah ikut-ikutan meringis.
"Panggulku hampir lepas," ujar Beth melanjutkan kalimatnya, setelah rasa kontraksi tadi sedikit hilang.
"Aku akan bilang pada dokter agar kau dioperasi saja! Tanganku tak lama akan patah jika terus-terusan kau rem*s dengan barbar seperti tadi!" Gerutu Fairel yang hendak keluar, namun tangannya ditahan olrh Beth.
"Jangan kemana-mana dan tetap disini!!" Beth memperingatkan Fairel dengan tajam.
"Aku hanya ingin memanggil dokter--"
"Ada apa? Kontraksinya sudah mulai sering?" Tanya dokter yang rupanya sudah masuk ke dalam ruangan.
"Ya! Sepertinya sudah dua menit seka----" Beth kembali meringis.
"Kapan anak kami lahir, Dok! Istri saya berubah barbar saat kontraksinya datang," lapor Fairel yang langsung membuat dokter terkekeh. Dokter perempuan paruh baya tersebut kemudian segera mengecek pembukaan Beth. Fairel ikut-ikutan mengintip juga, meskipun pria itu sedikit bingung membayangkan bagaimana kepala bayinya akan lewat dan keluar melalui jalan lahir yang sepertinya tak terlalu lebar.
Bagaimana kalau tak muat?
"Sudah sembilan. Berarti sebentar lagi," ucao Dokter yang langsung membuat Fairel garuk-garuk kepala, lau menghampiri Beth lagi yang kini wajahnya tampak menahan sakit.
"Kau yakin akan melahirkan normal, Beth?" Tanya Fairel kemudian yang tak terlalu digubris oleh Beth karena rasa sakit yang ia rasakan sudah berkali-kali lipat. Beth malah menarik lengan Fairel lalu mencengkeramnya dengan sangat kuat.
"Beeeeth!!!!" Teriak Fairel lagi.
"Sakit sekali!"
"Aku rasa--"
"Bayinya---"
"Sudah mau keluar!" Ucap Beth terbata-bata.
"Dokter!! Bayinya sudah mau keluar!!" Fairel ganti berteriak pada Dokter yang sudah bersiap-siap.
"Aku panggilkan Mama, ya!" Ujar Fairel yang langsung membuat Beth menggeleng.
"Mom! Kau mau melahirkan ditemani Mama dan Mom?" Tawar Fairel lagi sembari berusaha melepaskan lengannya yang masih dicengkeram erat oleh Beth.
"Tidak mau!" Jawab Beth galak.
"Aku maunya---" Beth mebarik lengan Fairel semakim dekat lalu menggigitnya dengan sekuat tenaga.
"Sakit sekali!" Erang Beth setelah puas menggigit lengan besar Fairel yang kini terdapat bekas gigi seri Beth.
Baiklah!
Ini terakhir kali Fairel membiarkan Beth melahirkan secara normal. Yang selanjutnya, Fairel akan minta dokter membelah perut Beth saja!
"Lenganku juga sakit karena kau gigit, Beth! Kenapa kau beribah jadi zombie?" Fairel balik mengomeli Beth yang kini sudah ganti mencakar-cakar lengan Fairel. Beth seolah mengabaikan aba-aba dari dokter untuk mengejan karena sekarang yang ingin Beth lakukan hanyalah mencakar, menggigit, dan memukuli Fairel sampai puas demi meluapkan rasa sakitnya.
"Beth, cepatlah mengejan dan jangan memukuliku terus!" Teriak Fairel akhirnya mulai hilang kesabaran.
"Aku sedang berusaha! Kenapa kau malah memarahiku dan tak memberiku semangat!" Beth langsung membentak Fairel dengan galak.
"Baiklah aku semangati!"
"Ayo, Beth! Ayo sedikit lagi! Kau pasti bisa!" Fairel mulai mengeluarkan kata-kata penyemangat untuk Beth.
"Ayo, Beth!"
"Ayo, Sayang! Kau bisa!"
"Diamlah! Kau berisik!" Bentak Beth lagi sembari mendorong Fairel agar menjauh.
"Aku jadi tak bisa konsentrasi," gerutu Beth lagu sejbari menarik nafas panjang sesuai arahan dari dokter.
"Aku sedang menyemangatimu, Beth! Bukankah tadi--"
"Diam!!" Bentak Beth galak yang langsung membuat Fairel diam. Fairel kemudian menarik nafas panjang dan mengusap lembut kepala Beth.
"Kepalanya sudah terlihat, Bu! Ayo mengejan lagi lebih kuat!" Ucap Dokter memberikan aba-aba pada Beth yang langsung mengangguk. Beth kemudian menggenggam erat tangan Fairel.
"Jangan kemana-mana!" Pinta Beth seraya menatap sayu ke dalam wajah Fairel.
"Aku tidak kemana-mana meskipun kau memarahiku," jawab Fairel cepat.
"Aku tak memarahimu! Aku hanya kesakitan!" Tukas Beth beralasan.
"Iya, aku tahu! Mau masuk ruang operasi saja?" Tawar Fairel kemudian.
"Tidak!" Jawab Beth galak. Fairel langsung diam dan tak bertanya lagi.
"Ayo, Bu! Tarik nafas panjang dulu!" Dokter memberikan aba-aba dan Beth segera mengikut instruksi dari dokter. Fairel yang masih menggenggam erat tangan Beth, ikut-ikutan menarik nafas panjang.
Beth memejamkan matanya perlahan, dan saat rasa sakit itu kembali datang, Beth langsung membuka mata sembari mengikuti instruksi dokter untuk terus mengejan agar bayinya lekas keluar.
"Mmmmmmpphhh!!" Beth menoleh sejenak ke arah Fairel yang juga ikut-ikutan mengejan sembari memejamkan mata. Kenapa Fairel jadi ikut-ikutan mengejan?
"Terus dorong, Bu! Sedikit lagi!" Aba-aba dari dokter membuyarkan lamunan Beth, dan segera membuat Beth meneruskan dorongannya. Hingga kemudian di detik selanjutnya, suara tangisan bayi seolah menjadi akhir dari perjuangan panjang Beth menahan rasa sakit.
"Selamat! Jenis kelaminnya laki-laki!" Ucap Dokter sembari menunjukkan bayi laki-laki berpipi gembil yang begitu tampan.
"Mmmmppphhhh!!" Fairel masih saja merem sembari mengejan di samping Beth, padahal bayinya sudah lahir.
"Iel!!" Beth memukul lengan sang suami demi menyadarkannya.
"Apa? Aku sedang memberikanmu tutorial cara mengejan!" Tukas Fairel ya g kembali mengejan lagi.
"Anakmu sudah lahir!" Desis Beth bersamaan dengan perawat yang sudah meletakkan bayi laki-lakinya tadi didada Beth demi melakukan inisiasi menyusu dini.
"Benarkah? Mana?" Fairel akhirnya bangkit dari kelinglungannya dan segera mencari keberadaan sang bayi yang kini sudah menempel di dada Beth.
"Dia laki-laki," ucap Beth yang langsung membuat Fairel mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Dia tadi keluar lewat...." Fairel menunjuk ke bagian bawah tubuh Beth.
"Iyalah! Memangnya kau pikir lewat mana?" Jawab Beth cepat yang langsung membuat Fairel buru-buru mengintip ke arah milik Beth. Disaat bersamaan, dokter sedang membantu Beth untuk mengeluarkan plasenta bayi yang masih ada di dalam rahim.
"Itu apa? Bayi saya kembar, Dok? Tapi kenapa yang itu tidak ada wajah--" suara Fairel langsung terputus karena mendadak suami Beth itu malah langsung ambruk ke lantai.
Bugh!!
"Iel!!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.