
"Aku boleh pulang sekarang, Iel?" Tanya Beth lagi entah sudah yang ke berapa kali. Sejak tadi Fairel terus saja memegangi tangan Beth, hingga membuat gadis itu tak bisa beranjak kemana-mana.
"Mau kemana sebenarnya? Kenapa kau buru-buru--"
"Aku sudah disini hampir tiga jam!" Sergah Beth galak seraya mendelik pada pria di depannya.
Fairel hanya berdecak lalu pria itu meraih jam digital di atas nakas dan melihat angka yang kini tertera disana.
"Kau tadi kesini naik apa?" Tanya Fairel selanjutnya.
"Naik motor."
"Sendiri?" Tanya Fairel lagi.
"Iyalah! Nanti kalau ada yang mengantar kau mencak-mencak lagi!" Sahut Beth sesikit bersungut.
"Tidak akan jika yang mengantar Abang Timmy atau Papa kamu," kekeh Fairel seraya menyibak selimut yang tadi menyelimuti kakinya.
"Kau mau kemana?" Tanya Beth penuh selidik.
"Mau mengantarmu pulang!" Fairel lanjut turun dari atas ranjang, tetap dengan tangan yang masih memegangi tangan Beth.
Ya ampun!
Sudah mirip truk gandeng saja mereka sekarang.
"Kenapa mau mengantarku pulang? Aku bawa motor sendiri."
"Lagipula, bukankah kau masih sakit? Tangan dan kakimu saja masih babak belur begitu," cerocos Beth yang hanya diabaikan oleh Fairel yang kini malah menarik Beth ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya.
Hah?
"Iel! Kau mau membawaku kemana?" Beth buru-buru menahan langkahnya dan sedikit menyentak pegangan tangan Fairel.
"Aku mau cuci muka!"
"Kau sendiri yang sejakntadi tak mau melepaskan pegangan tanganku," ujar Fairel dengan raut tanpa dosa yang benar-benar membuat Beth ternganga.
Padahal jelas-jelas sejak tadi Fairel yanh menggenggam tangan Beth dan tak mau melepaskannya. Kenapa sekaranh malah jadi terbalik-balik begini ceritanya?
"Baiklah, lepas!!" Beth menyentak tangannya sekali lagi.
"Kau yang tak mau melepaskannya," ujar Fairel lagi.
"Tapi kau yang sekarang memegang tanganku!" Sergah Beth dengan suara yang sudah meninggi.
Fairel sontak tertawa kecil lalu menarik Beth ke dalam kamar mandi.
"Iel--"
"Temani aku cuci muka!" Ujar Fairel cepat yang langsung membuat Beth mendengus dan terpaksa mengikuti Fairel karena tangan Fairel yang seolah sudah melekat di tangan Beth dan tak bisa dilepas, sekuat apapun Beth mencoba.
Sudahlah!
"Ini!" Fairel menyodorkan sebuah sabun wajah pada Beth setelah mereka berdua berada di depan wastafel di dalam kamar mandi.
"Aku harus apa?" Tanya Beth sembari membaca beberapa tulisan di kemasan sabun cuci muka Fairel yang kini berada di tangan Beth.
"Kau bantu aku cuci muka!" Ujar Fairel yang kembali membuat Beth mendengus.
"Pakai saja sendiri! Kenapa jadi lebay begini?" Sungut Beth kemudian merasa tak paham dengan sikap Fairel yang semakin ngadi-adi.
"Nanti kau pasti kabur dan langsung pulang jika aku tinggal cuci muka," tukas Fairel beralasan yang sukses membuat Beth ternganga..
"Cepat, Beth!" Perintah Fairel lagi.
"Lepaskan dulu tanganku!" Pinta Beth akhirnya yang langsung membuat Fairel menuruti permintaan gadis itu.
Beth mengusap-usap sejenak pergelangan tangannya, sebelum kemudian gadis itu meraih sabun wajah Fairel dan menuangkannya ke tangan.
"Usap yang lembut!" Fairel memberikan komando pada Beth yang langsung mencibir.
"Setelah ini aku akan membuka salon juga," gumam Beth dalam hati.
****
"Iel, kau sudah baikan?" Tanya Mom Yumi saat Fairel menuruni tangga masih sambil menggandeng tangan Beth.
"Sudah, Mom!"
"Iel mau mengantar Beth dulu--"
"Tidak usah! Aku bawa motor sendiri," sergah Beth menyela kalimat Fairel.
"Bawa motor sendiri malam-malam begini! Mau memberikan santapan untuk para begal di jalan?" Cerocos Fairel yang langsung membuat Beth bungkam.
"Beth biar diantar sopir, jika memang kamu khawatir, Iel!" Tukas Mom Yumi memberikan solusi bijak.
"Tidak!" Tolak Fairel cepat dan tegas.
"Iel sendiri yang akan mengantar Beth dan memastikan dia aman sampai rumah!"
"Beth calon istri Iel, Mom!" Ujar Fairel kemudian membuat pengakuan blak-blakan yang tentu saja langsung membuat Mom Yumi terkejut.
"Calon istri?"
"Ya! Baru tadi Iel melamarnya, Mom!" Jawab Fairel dengan nada pamer seraya pria itu menciumi tangan Beth yang sejak tadi masih ia genggam.
"Iel!" Desis Beth yang merasa tak enak hati pada Mom Yumi.
"Beth calon istri Iel, Mom!" Pamer Fairel sekali lagi.
"Benar itu, Beth?" Mom Yumi ganti bertanya pada Beth yang langsung meringis.
"Itu, Tante...."
"Iel hanya--"
"Ish! Benarlah!"
"Kenapa kau bilang hanya bercanda?" Sergah Fairel memotong jawaban Beth yang belum selesai.
"Iya, tapi jawabanmu sudah tertebak!" Decak Fairel tak mau kalah.
"Dasar sok tahu!" Cibir Beth kemudian.
"Aku memang selalu tau isi kepala dan pikiranmu!" Sahut Fairel lagi sembari mengacak rambut Beth yang langsung merengut.
Terang saja, perdebatan serta tingkah Beth dan Fairel tersebut langsung membuat Mom Yumi mengul*m senyum.
"Jadi benar?" Tanya Mom Yumi sekali lagi.
"Apanya--"
"Iya tentu saja benar, Mom!" Sergah Fairel memotong lagi sekaligus mendahului jawaban Beth.
"Mom susah bisa menghubungi Aunty Audrey berarti?" Seloroh Mom Yumi yang langsung dijawab Fairel dengan penuh semangat.
"Tentu saja bisa, Mom!"
"Secepatnya kalau perlu karena--"
"Jangan cepat-cepat!" Sela Beth seraya menyentak tangan Fairel yang terus saja menggenggam tangannya tanpa mau melepaskannya.
"Kenapa jangan cepat-cepat? Kau tak mau cepat-cepat jadi istriku?" Sergah Fairel yang kini sudah langsung mendelik pada Beth.
"Mau...." Beth meringis.
"Tapi kan Mama dan Papa saat ini masih fokus pada pernikahan Abang Timmy," ucap Beth lagi.
"Oh, iya! Abang kamu menikah..."
"Lusa, Tante!" Jawab Beth cepat yang langsung membuat Mom Yumi mengangguk.
"Nanti Tante Yumi dan Om Liam bisa datang ke acaranya," ujar Beth lagi mengundang kedua orang tua Fairel tersebut.
Atau calon mertua Beth?
Masih sulit dipercaya!
"Datang bertemu calon besan, Mom!" Timpal Fairel yang langsung membuat Mom Yumi tertawa kecil.
"Sekalian lamaran berarti?" Seloroh Mom Yumi lagi.
"Tepat!" Sahut Fairel penuh semangat.
"Lamaran?" Beth mendadak linglung.
"Iya lamaran yang resmi! Agar kau tidak menganggap lamaranku main-main atau candaan saja!" Sergah Fairel yang entah mengapa genggaman tangannya terasa semakin erat saja.
"Dad mana, Mom?" Tanya Fairel kemudian yang tak melihat keberadaan Dad Liam.
"Sudah tidur tadi. Sepertinya kelelahan karena harus mengerjakan pekerjaan kantor dobel," terang Mom Yumi sedikit menyindir Fairel.
"Tapi kamu sudah sembuh sepertinya, jadi berarti besok sudah bisa ke kantor lagi--"
"Aduuhh!" Fairel tiba-tiba kembali mengaduh seraya meringis lebay.
"Digigit harimau lagi?" Celetuk Beth yang langsung membuat Fairel merengut.
"Bukan harimau lagi, tapi dinosaurus!" Jawab Fairel masih sambil mencebik tak jelas.
"Sakit sekali, Beth!" Rengek Fairel lagi manja seraya menyodorkan tangannya yang sudah tertutup lengan kaos pada Beth.
Beth kemudian meniup lengan Fairel tersebut.
"Tidak usah mengantarku pulang kalau begitu," gumam Beth kemudian yang langsung membuat Fairel berdecak.
"Sudah sembuh!"
"Ayo!" Fairel tiba-tiba langsung menarik tangan Beth lagi.
"Eh....eh..!"
"Pamit ke Mom kamu dulu!" Sergah Beth mengingatkan Fairel yang buru-buru sekali.
"Bawa sopir saja, Iel!" Ujar Mom Yumi memberikan saran.
"Tante Yumi benar. Bawa sopir saja." Beth ikut-ikutan memberikan saran.
"Iya!" Jawab Fairel yang akhirnya menurut.
Beth lalu segera berpamitan pada Mom Yumi.
"Beth pulang dulu, Tan--"
"Mom!" Bisik Fairel yang langsung membuat Beth mengernyit.
"Belajar memanggil Mom mulai sekarang! Kan calon mantu," tukas Fairel.
"Beth pulang dulu, Mom," pamit Beth kemudian meskipun sedikit canggung.
Perasaan niat Beth tadi datang ke rumah ini untuk menjenguk Fairel, kok sekarang pas mau pulang tiba-tiba sudah jadi calon mantu?
Hari Beth sepertinya memang berjalan sedikit aneh hari ini.
"Hati-hati, ya!" Mom Yumi langsung memeluk Beth dengan erat. Persis pelukan seorang ibu pada putrinya.
Beth bisa tahu karena Mama Tere juga sering melakuapada Beth!
"Dan terima kasih karena sudah mau membuka hatimu untuk Iel," ucap Mom Yumi lagi yang masih belum melepaskan pelukannya.
Beth tak mampu lagi berkata-kata karena kini yang Beth tasakan hanyalah hatinya yang terasa menghangat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.