Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PUAS?


"Kenapa kesini? Bukankah katamu kita akan bertemu mama kamu?" Tanya Beth saat Reandra tiba-tiba malah membelokkan mobilnya masuk ke sebuah hotel.


"Iya, kita akan bertemu mama disini, Beth!" Jawab Reandra sembari mencari ruang parkir untuk mobilnya.


"Jadi, mama kamu sudah disini?" Tanya Beth lagi bersamaan dengan mobil Reandra yang kini sudah terparkir.


"Iya!"


"Nanti mama menyusul kesini. Tadi aku sudah menghubungi--"


"Kapan?" Sergah Beth menyela. Karena sejak tadi Reandra menjemput Beth yang sangat-sangat teelambat dari jam yang dijanjikan pria itu, Reandra sama sekali belum memegang ponsel.


"Tadi, sebelum aku jemput kamu," jawab Reandra dengan raut wajah meyakinkan.


"Tapi mama kamu lama tidak datangnya? Ini sudah jam delapan," tanya Beth lagi cemas karena ingat pada jam malam yang diberikan mama Tere.


Mama kandung Beth itu pasti akan marah jika Beth tak pulang tepat waktu. Dan yang lebih parah, Mama Tere mungkin tak akan pernah mengizinkan Beth pergi lagi bersama Reandra jika malam ini Reandra ingkar janji.


"Tidak akan lama!"


"Ayo turun!" Ajak Reandra kemudian seraya membuka pintu.


Beth ikut membuka sabuk pengaman, lalu keluar menyusul Reandra. Keduanya langsung menuju ke restorant hotel yang memang berada di samping lobi utama.


Beth dan Reandra duduk berhadapan di dalam resto, dan keduanya segera membuka buku menu sebelum membuat pesanan. Beberapa kali Beth juga melempar pandangannya ke pintu masuk resto, saat ada tamu yang masuk. Beth berharap yang datang itu adalah mamanya Reandra, namun ternyata tidak.


"Kau mau minum apa, Beth?" Tanya Reandra menyentak lamunan Beth.


"A--apa saja!" Jawab Beth tergagap.


"Pilih saja sesuai keinginanmu," tukas Reandra lagi.


Beth segera melihat daftar minuman di buku menu, lalu mengatakan pada waitres minuman yang ia mau.


"Aku ke toilet sebentar," pamit Reandra kemudian setelah pria itu membuat pesanan. Beth hanya mengangguk dan sekali lagi gadis itu mengarahkan pandangannya ke pintu utama resto, berharap mama Reandra akan segera datang.


"Kenapa lama sekali," gumam Beth kemudian setelah tamu yang tadi masuk ternyata bukanlah mamanya Reandra. Beth melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.


Ya ampun!


"Ada apa? Kau terlihat cemas," tanya Reandra yang sudah kembali ke kursinya.


"Mama kamu masih lama?" Tanya Beth mulai cemas. Sekaligus curiga sebenarnya karena gelagat Reandra yang tetap santai padahal sudah hampir jam sembilan.


Reandra ingat kalau Beth harus pulang jam sembilan, kan?


"Aku tidak tahu!"


"Tapi kalau kau lelah, kau nanti bisa istirahat dulu di atas. Aku sudah memesan kamar," tukas Reandra yang langsung membuat Beth menatap tak paham pada pria di depannya tersebut.


Kenapa Reandra harus memesan kamar? Bukankah Beth kesini hanya untuk bertemu mamanya Reandra?


"Kenapa memesan kamar segala, Re? Kita tak akan menginap--"


"Kita akan menginap!" Ucap Reandra yang tiba-tiba sudah menggenggam tangan Beth.


"Tapi aku harus pulang jam sembilan--"


"Nanti aku yang akan menjelaskan pada orangtuamu, Beth!" Sergah Reandra bersungguh-sungguh.


"Dengar!" Reandra mengecup tangan Beth yang mulai merasa ada yang tak beres.


"Aku punya satu ide agar Mama merestui hubungan kita," ucao Reandra seraya menatap serius pada Beth.


"Ide apa?" Tanya Beth tak paham


Reandra tak langsung menjawab karena waitres sudah datang mengantar minuman.


"Kau minumlah dulu, Beth!" Titah Reandra kemudian yang langsung membuat Beth menurut saja. Tenggorokan Beth memang sudah kering sekarang. Beth sekali lagi mengarahkan pandangannya ke pintu utama resto saat ada tamu yang datang.


Ah, tapi itu masih bukan mamanya Reandra!


"Jadi, idemu tadi apa?" Tanya Beth sekali lagi setelah gadis itu menyesap minumannya hampir setengah gelas.


"Kita menginap disini malam ini, lalu nanti aku akan memberitahumu di atas--"


"Tidak bisa, Re!" Tolak Beth cepat seraya bangkit dari duduknya.


"Dengarkan aku dulu, Beth!" Reandra langsung berpindah ke kursi di samping Beth dan merangkulkan tangannya di pundak kekasihnya tersebut.


"Hanya ini jalan satu-satunya agar mama merestui hubungan kita--"


"Konyol!"


"Aku tidak mau!" Ucap Beth tegas seraya menyentak rangkulan Reandra, dan bangkit dari duduknya. Disaat bersamaan, ponsel Beth juga mendadak berdering.


Mama Tere menelepon!


"Halo, Ma!" Sambut Beth cepat seraya kembali duduk.


"Sudah dimana? Ini sudah hampir jam sembilan."


"Masih perjalanan, Ma!" Jawab Beth sedikit tergagap. Beth akan pulang naik taksi saja setelah ini jika Reandra tak mau mengantar.


"Baiklah, hati-hati dan Mama tunggu di rumah, ya!"


"Mama sudah pulang?" Tanya Beth seraua melebarkan kedua matanya.


"Ya, baru tiba tadi."


"Kamu benar sudah di jalan, kan?"


"S--sudah, Ma!" Jawab Beth cepat mencoba menutupi rasa gugupnya karena berbohong.


"Baiklah! Mama tunggu di rumah. Bye!"


"Bye, Ma!" Ucap Beth bersamaan dengan telepon yang sudah terputus.


"Ayo pulang, Re! Mama sudah menelepon!" Ajak Beth kemudian pada Reandra yang masih duduk santai seraya menyesap minumannya.


"Sudah! Ayo pulang!" Ajak Beth kemudian.


"Sepuluh menit lagi," tukas Reandra seraya melihat arlojinya.


"Apa mama kamu sudah pasti datang sepuluh menit lagi?" Tanya Beth mulai emosi.


"Tidak tahu. Tapi barangkali kau berubah pikiran setelah sepuluh menit," tukas Reandra yang langsung membuat Beth berdecak.


"Baiklah! Aku akan pulang sendiri dan silahkan menunggu sepuluh menit lagi!" Ucap Beth kesal seraya bangkit dari duduknya, lalu menyampirkan tas ke pundaknya. Gadis itu langsung berlalu meninggalkan Reandra yang masih duduk santai seolah tak peduli.


"Sepertinya perkataan Fairel memang benar! Kenapa aku tak percaya pada Fairel?" Beth bergumam kesal sambil terus mengayunkan langkahnya ke pintu resto. Namun beberapa saat kemudian, Reandra sudah menyusul dan merangkul pundak Beth hingga membuat gadis itu sedikit menggeliat.


"Ayo ikut sebentar, Beth! Nanti akua akn mengantarmu pulang!" Ajak Reandra seraya memaksa Beth untuk berbelok ke arah lift, alih-alih ke arah lobi utama hotel.


"Kita mau kemana? Aku tidak mau menginap!" Ronta Beth yang terus berusaha menyentak lengan Reandra yang sejak tadi menempel di pundaknya.


Entahlah, Beth mendadak merasa illfeel pada Reandra!


"Sebentar saja, Beth! Demi hubungan kita!" Bujuk Reandra yang semakin mengeratkan rangkulannya. Reandra bahkan hendak mencium wajah Beth, namun Beth refleks menjauh.


"Aku mencintaimu, Beth--"


"Hentikan!"


"Aku mau pulang dan aku tak mau ikut denganmu!" Tolak Beth tegas sambil terus menyentak rangkulan Reandra.


"Sebentar saja, Beth!" Reandra terus memaksa Beth yang juga terus berontak.


"Aku tidak mau! Aku mau pulang sekarang!"


"Kau sudah berbohong!" Sentak Beth berulang-ulang. Namun alih-alih melepaskan tangannya dari pundak Beth, Reandra malah bersikap semakin gila dengan mendekatkan wajahnya pada Beth, seolah hendak melakukan sesuatu.


"Kau sudah berbohong," cicit Beth sekali lagi saat wajah Reandra semakin dekat ke arahnya dan kemudian pria itu berbisik,


"Aku tidak bohong, Beth! Aku mencintaimu dan aku akan membuktikan cintaku--" Reandra belum menyelesaikan kalimatnya saat tubuh pria itu sudah ditarik oleh seseorang dari belakang lalu dihadiahi bogem mentah beberapa kali.


Bugh! Bugh!


"Dasar brengsek!" Umpat Fairel yang rupanya adalah pria yang tadi memukul Reandra.


Security langsung datang melerai saat Fairel hendak melancarkan pukulannya lagi pada Reandra.


"Lepas!" Ronta Fairel saat security menyeretnya keluar dari lobi hotel. Sementara Reandra yang hidung dan bibirnya berdarah, langsung menatap sengit pada Fairel.


"Baj*ngan! Playboy!" Maki Fairel seraya berteriak seperti orang gila. Beth sendiri langsung meninggalkan Reandra dan mengikuti Security yang tadi menyeret Fairel keluar.


"Pak lepaskan dia!" Seru Beth seraya membantu Fairel melepaskan diri dari cekalan Security.


"Pergi dan jangan membuat kegaduhan disini!" Usir security kemudian.


"Ya! Aku memang mau pergi!" Jawab Fairel galak sembari meraih tangan Beth, lalu menarik tangan gadis itu untuk keluar dari hotel.


"Iel!" Panggil Beth pada Fairel yang terus menariknya keluar dari area hotel. Fairel bahkan tak berkata sepatah katapun dan hanya tangan pria itu yang terus menggenggam erat tangan Beth hingga di trotoar depan hotel.


"Iel!" Panggil Beth sekali lagi saat tiba-tiba Fairel menyentak tangan Beth dengan kuat hingga membuat Beth terhuyung dan nyaris jatuh.


"Puas kau sekarang karena bisa berduaan dengan pria playboy baj*ngan itu dan hampir diajak bermalam di hotel mewah!" Ucap Fairel pada Beth dengan berapi-api.


"Apa maksudmu?" Tanya Beth tidak paham.


"Masih bertanya apa maksudku?"


"Berapa kali aku memperingatkanmu agar jauh-jauh dari Reandra dan tak perlu lagi menanggapi apapun bualannya!"


"Tapi kau begitu keras kepala dan sama sekali tak mendengarkan nasehatku!" Fairel berdecih dan menatap sengit pada Beth yang kini sedang menggosok-gosok tangannya yang tadi Fairel cekal


"Atau kau memang suka diajak pria baj*ngan tadi menginap di hotel--"


"Tutup mulutmu!"


Plak!


Beth refleks menampar pipi Fairel yang sejak tadi membentaknya. Kedua mata gadis itu lalu berkaca-kaca.


"Aku bukan gadis seperti itu!"


"Tadi Reandra mengatakan kalau dia akan mengajakku bertemu dengan mamanya dan--" Beth menjelaskan dengan terbata-bata sambil sesekali gadis itu menyeka air mata di kedua matanya sebelum jatuh.


"Dan kau percaya begitu saja?"


"Dasar bodoh!" Sergah Fairel dengan nada yang tak lagi meninggi.


Fairel kemudian mengambil motornya yang tadi ia banting serampangan di depan hotel, dan menyalakan kendaraan roda dua yang suaranya berisik tersebut.


"Kau sedang apa? Cepat naik!" Perintah Fairel kemudian pada Beth yang masih diam seraya menundukkan wajahnya.


"Cepat naik, Bethany!" Perintah Fairel lagi dengan lebih tehas yang kali ini hanya membuat Beth mengangkat wajahnya namun tetap bergeming di tempat.


Fairel yang sudah kesal lalu turun dari motor dan menghampiri Beth yang masih diam.


"Kau benar-benar keras kepala!" Geram Fairel yang langsung mengangkat tubuh Beth dengan sangat mudah dan mendudukkan gadis itu di atas jok motornya.


"Memangnya kau mau pulang jalan kaki agar diculik pria brengs*k lain?" Omel Fairel yang sudah kembali naik ke atas motor, lalu menyalakan mesin motornya yang berisik lagi. Beth sedikit terlonjak dengan suara nyaring motor Fairel.


"Pegangan!" Perintah Fairel kemudian. Tidak ada jawaban maupun pergerakan dari Beth.


"Baiklah, terserah saja!" Gumam Fairel yang langsung menarik gas tanpa aba-aba. Terang saja hal itu langsung membuat Beth nyaris terjengkang ke belakang. Untunglah tangan Beth bergerak cepat dan masih sempat meraih serta berpegangan pada pundak Fairel, hingga dirinya tak jadi terjengkang.


"Makanya jangan keras kepala!" Gumam Fairel yang lanjut melajukan motornya menuju ke rumah Beth.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.