
"Yvone langsung pulang saja, Aunty!"
Beth baru saja datang menghampiri Mama Sita, Yvone dan juga abang Timmy, saat ternyata Yvone malah sudah mau pamit pulang. Beth sekilas juga melohat ke wajah Abang Timmy yang semalam masih lebam di beberapa bagian. Tapi sekarang sudah tak terlihat dama sekali. Yvone sepertinya pandai sekali meruas wajah Abang Timmy hingga lebamnya tak ada yang terlihat.
"Sudah mau pulang, Yv?" Beth sedikit berbasa-basi pada Yvone. Tapi dalam hati Beth sangat-sangat berterima kasih pada sahabatnya ini.
"Iya!"
"Sudah tak terlihat, kan?" Yvone berbisik-bisik pada Beth yang langsung mengacungkan ibu jarinya.
"Yvone pulang dulu, Aunty! Selamat pagi!" Pamit Yvone sekali lagi seraya mencium punggung tangan Mama Tere dengan takzim. Gadis itu kemudian segera menuju ke mobilnya yang terparkir di depan kost-an Timmy.
Sedangkan mobil Fairel yang tadi mengantar Mama Tere dan Beth sudah pergi dan Beth tak peduli.
Syukur-syukur nanti sore Fairel lupa ke toko dan tak jadi mengambil rollcake pesanannya!
"Jadi, kau dan Yvone pacaran?"
"Enggak, Ma!"
Beth sudah kembali menghampiri Mama Tere dan Abang Timmy yang sepertinya sedang berdebat di dalam kost.
"Tidak pacaran tapi pagi-pagi sudah disamperi!" Celetuk Beth usil. Langsung terdengar dengkusan dari Abang Timmy.
"Ini juga makanan darimana?" Tanya Mama Tere yang baru saja meletakkan kotak makan yang tadi ia bawa dari rumah di dapur kecil di dalam kost-an Abang Timmy.
"Yvone yang bawa," jawab Abang Timmy seraya menggelar karpet di depan untuk mereka bertiga duduk.
"Masih bilang tak pacaran?" Mama Tere sontak tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
"Kan Beth sudah bilang, Ma!"
"Lagipula, Abang Timmy dan Yvone serasi, kan?" Tukas Beth lagi meminta pendapat Mama Tere.
"Serasi!" Jawab Mama Tere cepat.
"Apanya yang serasi? Timmy dan Yvone tak pacaran, Ma!" Ujar Timmy bersikeras.
"Belum saja!"
"Semoga segera jadian," Celetuk Beth yang langsung berhadiah delikan dari Timmy.
"Bilang aamiin, Bang! Memangnya Abang Timmy nggak pengen cepat-cepat nikah, trus ngasih Mama cucu," seloroh Beth lagi.
"Kamu duluan saja! Sama yang tadi nganterin kamu dan Mama!"
"Siapa, Ma?" Timmy bertanya pada Mama Tere yang masih sibuk memindahkan makanan yang tadi dibawa Yvone ke dalam piring.
"Fairel!" Jawab Mama Tere.
"Nah, itu! Sepertinya cocok!" Seloroh Abang Timmy seraya terkekeh.
"Dih cocok apanya? Tiap ketemu saja selalu ribut," ungkap Beth seraya merengut.
"Mama sejak tadi sebenarnya mau tanya ke kamu, Beth!" Ujar Mama Tere yang sudah ikut duduk di atas karpet.
"Tanya apa, Ma?"
"Iya itu. Hubungan kamu dan Fairel itu sebenarnya sudah sejauh mana?"
"Hubungan apa, sih, Ma?" Sergah Beth yang kembali merengut.
"Kami itu tak ada hubungan apa-apa! Kecuali hubungan penjual dan pembeli."
"Beth jualan rollcake, Iel yang beli rollcake-nya," jelas Beth panjang lebar.
"Tapi Fairel beberapa kali mencarimu saat kamu pamit liburan kemarin."
"Bahkan, Fairel sempat sampai menggedor pintu toko waktu itu," cerita Mama Tere yang langsung membuat Beth ternganga.
"Serius, Ma?" Tanya abang Timmy tak percaya.
"Iya! Papa kamu juga melihat," cerita Mama Tere.
"Trus nggak mama tegur? Atau mama minta ganti rugi seperti pas dia banting-banting pintu kaca di toko--" Beth cepat-cepat membungkam mulutnya memakai telapak tangan.
"Banting-banting pintu kaca di toko?" Timmy dan Mama Tere kompak melemparkan tatapan penuh selidik pada Beth yang keceplosan.
Sialan!
"Jadi waktu itu yang membuat pintu toko lepas itu Fairel?" Tanya Abang Timmy lagi penuh selidik.
"Dia sudah ganti rugi semua biaya perbaikannya, Bang!" Cicit Beth kemudian.
"Kenapa Fairel membanting pintu toko sampai lepas? Apa ada masalah?" Cecar Mama Tere penasaran.
"Tidak ada, Ma! Iel hanya sedang PMS saja," jawab Beth asal, seraya tangannya mencomot satu kue pastel yang sepertinya tadi dibawa Yvone.
Katanya tadi macet, kok masih sempat beli kue dan gorengan?
"Mana ada pria PMS, Beth! Ngacau kamu!" Abang Timmy mengacak rambut Beth yang sintak langsung membuat sang empunya merengut.
Kurang kerjaan sekali pria itu menelepon Beth terus!
"Kenapa tak diangkat?" Tanya Mama Tere saat Beth mematikan panggilan dari Fairel.
"Malas, Ma!" Beth mencomot satu pastel lagi dan ponselnya berdering lagi.
Astaga!!
Beth akan merendam ponselnya ini di bak mandi saja.
"Coba lihat!" Abang Timmy sudah dengan cepat merebut ponsel Beth.
"Abang!" Geram Beth karena terlambat menghindar.
"Oh! Fairel!" Ucap Timmy sedikit berseru.
"Tinggal angkat saja apa susahnya!" Hari Timmy langsung menggeser tombol hijau, sebelum kemudian pria itu mengembalikan ponsel Beth.
Ck! Menyebalkan!
"Abang!" Geram Beth sekali lagi pada sang abang yang malah berekspresi tanpa dosa.
"Beth!"
"Iya, apa?" Jawab Beth sedikit malas.
"Yang mengunjungi abangmu sudah selesai, kan?"
"Cepat kembali ke toko dan mulai membuat rollcake pesananku! Awas nanti kalau sore aku datang rollcake-nya belum jadi!"
"Kau mau apa memangnya kalau belum jadi?" Tanya Beth memancing sekaligus menantang.
"Aku akan..."
"Akan apa?" Beth sudah bangkit dari duduknya, lalu masuk ke kamar sang abang.
"Menghancurkan Sweety Cake?" Beth masih memancing karena belum ada jawaban dari Fairel.
"Aku akan menyuruhmu kerja rodi dan menyelesaikannya sampai selesai!"
"Dan aku akan mengawasimu sampai kau menyelesaikannya!"
"Begitu saja!" Beth mencibir pada Fairel.
"Iya!"
"Jadi cepat selesaikan dan jangan banyak alasan lagi! Aku akan ke toko jam lima sore nanti!"
"Iya, aku datang! Ryan bawel!"
Beth masih sempat mendengar Fairel yang menggerutu pada seseorang bernama Ryan di ujung telepon, karena pria itu sepertinya lupa mematikan telepon.
Siapa Ryan?
Entahlah, Beth tak peduli!
Beth kembali keluar dari kamar Abang Timmy, dan langsung mendapat sambutan berupa tatapan aneh dari Mama Tere dan Abang Timmy.
"Iel hanya tanya apa pesanannya sudah jadi atau belum, Ma!"
"Kenapa menatap Beth seperti itu, sih?" Rengut Beth yang langsung membuat Mama Tere tertawa kecil.
"Tatapan Mama normal-normal saja, kok!"
"Iya, kan, Tim?" Mama Tere meminta pendapat sang putra.
"Iya! Beth saja yang salting," pendapat abang Timmy yang langsung berhadiah tinjuan di pundak Abang Timmy.
"Auuw! Aduuh!" Abang Timmy refleks mengaduh dan Beth mendadak lupa kalau pundak Abang Timmy yang barusan ia tinju kemarin sempat memar.
"Eh, maaf, Bang!" Beth buru-buru minta maaf.
"Cuma ditinju Beth kok seoersakit sekali, Tim?" Mama Tere buru-buru menghampiri Abang Timmy dan hendak memeriksa pundak putra sulungnya tersebut, saat kemudian abang Timmy mencegah dengan cepat.
"Hanya bercanda, Ma!" Ucap Timmy seraya tersenyum tanpa dosa.
"Ya ampun! Mama sudah cemas padahal!" Decak Mama Tere yang langsung membuat Abang Timmy mengangkat jarinya membentuk huruf V. Sementara Beth masih memperhatikan raut wajah sang abang yang sepertinya masih menahan sakit.
Ya ampun!
Harusnya Beth lebih berhati-hati!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.