Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PERASAAN ANEH


"Reina sangat tahu kalau Abang Iel masih merasa patah hati karena Rossie yang lebih memilih Keano ketimbang Abang ."


"Tapi bukan berarti juga, Abang harus mendekati gadis tukang kue itu sebagai pelarian!"


"Abang Iel sedang apa disini? Beli kue juga?"


"Tidak! Hanya sedang gabut!"


"Aku akan kembali ke kantor! Jam makan siang sudah selesai.


"Berarti kau belum sepenuhnya move on dari Rossie?"


"Tidak usah sok tahu dan tak usah membawa-bawa nama itu lagi!"


'"Aku sudah move on!"


Beth menyeka air matanya dengan cepat, saat taksi sudah sampai di depan Sweety Cake. Rolling door sudah ditutup, namun ada mobil Papa Will di depan toko. Jadi sepertinya Mama Tere masih di dalam dan belum selesai mengurus pesanan cake yang tadi Beth tinggal.


"Terima kasih, Pak!" Ucap Beth seraya mengangsurkan uang untuk ongkos taksi. Beth kemudian segera turun dari taksi dan membuka pelan pintu rolling door. Baru juga Beth membuka pintu depan toko, sudah terdengar tawa renyah Mama Tere dan Papa Will dari arah dapur.


Beth langsung mengambil sebotol air putih dari dalam lemari pendingin, lalu meneguknya hingga tandas.


"Beth, sudah pulang?" Sapa Papa Will sata Beth baru selesai membuang botol bekas air mineral ke tempat sampah.


"Sudah, Pa!" Jawab Beth tak bersemangat.


"Siapa, Will?" Tanya Mama Tere yang sudah ikut keluar dari dapur.


Beth langsung menghampiri Mama kandungnya tersebut.


"Pesanannya bagaimana, Ma?" Tanya Beth seraya melongok ke dam dapur.


"Sudah hampir siap. Tinggal dikemas saja," tukas Mama Tere.


"Lalu kondisi Iel bagaimana, Beth? Dirawat atau--"


"Sudah langsung boleh pulang, Ma!"


"Kan hanya tangannya yang terluka," jelas Beth sedikit malas. Gadis itu lalu masuk ke dalam dapur untuk memeriksa pesanan yang tadi ia titipkan pada Mama Tere.


Semuanya memang sudah dikeluarkan dari loyang dan siap dikemas.


"Tapi bukan berarti juga, Abang harus mendekati gadis tukang kue itu sebagai pelarian!"


"Memangnya kau pikir, kau itu pantas untuk Abang Iel?"


"Kenapa kau menaruh benda berbahaya di dapur? Kalau tanganmu yang kecil itu yang terbakar bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?"


"Ini sudah malam! Ayo aku antar pulang!"


"Beth!"


"Aduh, Auuw!" Beth refleks mengaduh, saat Mama Tere menegur sekaligus memegang lengannya yang tadi dicengkeram oleh Fairel di ruang UGD.


Kenapa rasanya jadi nyeri, ya?


"Tangan kamu kenapa?" Tanya Mama Tere yang hendak memeriksa, namun buru-buru dicegah oleh Beth.


"Tidak apa-apa, Ma!" Jawab Beth cepat.


"Benar tidak apa-apa? Kok barusan mengaduh?" Mama Tere masih curiga.


"Iya benar, Ma!"


"Beth mau lanjut packing karena satu jam lagi kuenya diambil," tukas Beth kemudian mengalihkan pembahasan. Gadis itu meraih tumpukan box kue dan berusaha menahan nyeri di lengannya agar Mama Tere tak curiga.


"Ponsel kamu seharian tadi tidak aktif, ya?" tanya Mama Tere kemudian yang sudah ikut bergerak untuk membantu Beth mengemas kue pesanan.


"Kehabisan baterei?" Tanya Mama Tere lagi.


"Iya!" Jawab Beth seraga meringis sekaligus berbohong. Beth masih belum memindahkan kartu SIM-nya ke ponsel yang baru.


Tapi kalau Beth memakai ponsel yang kemarin dibelikan Fairel itu, nanti berarti ponsel Beth dan Fairel kembaran!


Kenapa juga Fairel kemarin membelikan ponsel yang sama dengan ponsel miliknya.


"Ck!" Beth berdecak sendiri saat mengingat sikap-sikap Fairel belakangan ini yang.....


Sedikit berlebihan!


Entahlah!


Beth tak mau memikirkannya!


****


"Disini, Pak?" Tanya sopir taksi, saat taksi yang ditumpangi oleh Fairel tiba di depan Sweety Cake. Sudah ada satu mobil yang terparkir di samping mobil Fairel yang tadi memang ia tinggalkan di depan Sweety Cake.


"Tidak jadi, Pak! Antarkan saya pulang saja!" Ucap Fairel akhirnya seraya menyebutkan alamat rumahnya pada supir taksi.


Fairel memilih untuk mengurungkan niatnya menemui Beth, karena sepertinya kedua orang tua Beth ada di dalam toko. Fairel butuh bicara empat mata bersama Beth, jadi kalau ada orangtua Beth di toko, bagaimana Fairel bisa bicara empat mata?


Ya, mobil tua tadi seingat Fairel adalah milik Papanya Beth.


Mungkin besok saja Fairel akan menemui Beth!


Taksi lalu kembali melaju dan Fairel segera mengeluarkan ponselnya untuk menelepon sopir Dad Liam.


"Selamat Sore--"


"Pak! Ini Fairel! Tolong ke Sweety Cake dan ambil mobilku disana, ya! Bawa kunci cadangan!" Perintah Fairel sebelum pria itu mengakhiri telepon.


Fairel lalu menatap pada tangan kanannya yang kini terbalut perban.


"Reina sangat tahu kalau Abang Iel masih merasa patah hati karena Rossie yang lebih memilih Keano ketimbang Abang ."


"Ck! Siapa juga yang patah hati!"


"Aku kan sudah move on!" Gumam Fairel menggerutu sendiri, saat pria itu ingat pada kata-kata Reina sok tahu di rumah sakit tadi.


Fairel sudah menguap saat hampir sampai di kediaman Halley. Mungkin Fairel akan langsung tidur nanti setelah sampai di rumah!


****


"Mobil Iel sudah diambil, Pa?" Tanya Beth saat ia tak lagi melihat mobil Fairel yang tadi saat Beth pulang dari rumah sakit masih ada.


"Sopirnya tadi yang mengambil," ujar Papa Will.


"Oh!" Beth hanya membulatkan bibirnya, lalu lanjut masuk ke dalam mobil papa Will.


Entah mengapa, mendadak hati Beth sedikit merasa kecewa saat tadi Papa Will mengatakan kalau mobil Fairel sudah diambil oleh sang sopir. Padahal tadinya Beth pikir,Fairel akan mengambil sendiri mobil ke toko....


"Memangnya kau pikir kau itu pantas untuk Abang Iel?"


"Tapi bukan berarti Abang Iel harus menjalin hubungan dengan gadis tukang kue ini sebagai pelarian! Seperti tak ada gadis lain saja!"


Kalimat Reina lagi-lagi terngiang di kepala Beth.


"Bodoh!" Rutuk Beth kemudian pada dirinya sendiri karena sydah terlalu percaya diri dengan perhatian yang diberikan oleh Fairel.


Padahal yang sebenarnya terjadi....


Mungkin Beth hanya sebatas pelarian dari patah hatinya Fairel atas cintanya yang tak sampai pada Rossie.


Beth hanya sebatas pelarian!


"Mungkin karena Fairel tangannya masih terluka dan belum bisa mengemudi," ucapan Mama Tere langsung membuyarkan lamunan Beth.


"Tadi tangan Fairel yang terluka kanan atau kiri, Beth?" Gantian Papa Will yang bertanya pada sang putri.


"Hah? Bagaimana, Pa?" Tanya Beth tergagap karena sedikit tak fokus pasa pertanyaan sang papa.


"Tangan Iel yang terbakar kiri atau kanan?" Papa Will mengulangi pertanyaannya.


"Hah? Beth--"


"Tidak tahu," jawab Beth yang mendadak pikirannya malah blank.


"Kok bisa tidak tahu? Kau kan yang tadi menolong Fairel dan membawanya ke UGD, Beth!" Tanya Mama Tere terheran-heran.


"Eh.... iya!" Beth masih belum bisa berpikir jernih.


Kata-kata Reina terus saja berputar di kepala Beth.


Beth hanya pelariannya Fairel!


Semua perhatian Fairel hanya semu semata!


"Kiri atau kanan, Beth? Kau kenapa melamun terus sejak tadi?" Cecar Mama Tere yang sepertinya sudah geregetan dengan sang putri.


"Apanya yang kiri dan kanan, Ma?" Tanya Beth bingung yang langsung membuat Mama Tere berdecak dan Papa Will yang sontak terkekeh.


"Mungkin Beth lapar, Ma! Ayo kita cari makan dulu saja!" Ajak Papa Will kemudian, seraya melajukan mobil ke arah alun-alun kota.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.