
Satu bulan kemudian....
"Sudah ada kabar baik?" Tanya Beth pada Rossie yang siang ini datang ke tokonya bersama Aunty Anne.
Beth memang sudah beraktivitas seperti biasa, dari membuka toko, lalu menyiapkan kue - kue pesanan customer. Dua bulan kemarin rutinita Beth tersebut memang sedikit kacau karena Beth fokus mempersiapkan acara pernikahan dan juga honeymoon bersama Fairel ke pulau. Namun tiga minggu terakhir aktivitas Beth sudah normal kembali, meskipun awalnya Beth harus berdebat dengan Fairel perihal kelanjutan toko kuenya ini. Namun setelah berulangkali meyakinkan, Fairel akhirnya setuju dan memberikan izin pada Beth untuk tetap meneruskan usaha toko kuenya ini.
"Masih belum! Kau sendiri bagaimana, Beth?" Rossie balik bertanya pada Beth sembari menatap ke aran perut Beth yang tertutup celemek.
"Mmmmm, belum aku test lagi," jawab Beth sembari tertawa kecil.
"Semoga ka,ian berdua sama-sama disegerakan, ya!" Ujar Aunty Anne yang langsung diaminkan oleh Beth dan Rossie.
"Sudah semua kuenya, Kak!" Lapor Shanty yang sudah selesai mengemas kue-kue oesanan Aunty Anne yang katanya mau dipakai untuk suguhan acara arisan hari ini di rumah baru Rossie dan Keano.
"Langsung bawakan ke mobil, Shan!" Titah Beth sembari menghitung total harga yang harus dibayar. Disaat bersamaan, Abang Timmy sudah tuba di toko, dan abang Beth itu bergegas mrmbantu Shanty untuk membawa kue-kue pesanan Aunty Anne ke mobil.
"Kembaliannya, Aunty!" Ucap Beth sembari menyodorkan uang kembalian pada Aunty Anne.
"Terima kasih, Beth! Kue-kue kamu selalu jadi favoritnya ibu-ibu kompleks," tukas aunty Anne memuji Beth yang langsung tersenyum lebar.
"Syukurlah kalau banyak yang suka, Aunty! Semoga lancar acara hari ini," ucap Beth sebelum kemudian Aunty anne dan Rossie pamit meninggalkan toko.
Abang Timmy sudah masuk lagi ke dalam toko, dan segera memeriksa kotak-kotak kue yang akan diantar pada customer, yang memang sudah Beth siapkan.
"Ini saja yang diantar, Beth?" Tanya abang Timmy memastikan.
"Iya!" Jawab Beth seraya melempar tatapan penuh makna pada sang abang yang belakangan ini menjadi kurir pengantar kue di toko Beth. Sebenarnya tidak masalah, hanya saja Beth merasa kalau Abangnya ini bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan lebih layak ketimbang hanya enjadi kurir pengantar kue. Dan lagi, Abang Timmy juga seolah tak mau berusaha untuk mencari pekerjaan baru, setelah ia kehilangan pekerjaannya sebagai bartender di kelab malam.
"Abang sedang berusaha, Beth!" Sergah abang Timmy yang langsung paham ddngan maksud dari tatapan Bety. Pria itu masih pura-pura sibuk memeriksa alamat yang Beth cantumkan di masing-masing totebag.
"Lalu kenapa abang menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Iel kemarin?" Tanya Beth yang kini sudah ganti bersedekap. Beth sebenarnya juga sedikit geregetan mengenai hal ini, karena niatan baik Fairel untuk memberikan Abang Timmy pekerjaan yang layak malah ditolak mentah-mentah.
"Aku tak ada pengalaman menjadi security," ujar abang Timmy beralasan. Beth langsung berdecak mebdengar alasan Abang Timmy.
"Kan bisa ikut pelatihan dulu, Bang! Iel juga suda memaparkannya pada Abang. Tapi abang saja yang menolak."
"Kata Kak Yvone, dia juga pernah menawarkan pekerjaan--"
"Pekerjaan yang ditawarkan Yvone tak sesuai dengan passion-ku! Lagipula sejak dulu aku itu bartender dan bukan barista," sergah abang Timmy lagi menyela kalimat Beth dan seolah sedang mencari pembenaran
"Ck! Kan bisa belajar! Semuanya bisa dipelajari asal abang punya kemauan! Abang jangan berpangku tangan saja pada Kak Yvone, mentang-mentang istri Abang itu wanita karier!" Ceramah Beth panjang lebar yang mulai kesal pada sang abang yang sepertinya pemilih sekali dalah hal pekerjaan. Menjadi security tak mau, menjadi barista tak mau, sekarang malam menjadi kurir kue dengan alasan membantu Beth agar tak kerepotan.
Padahal biasanya Beth juga sudah punya kurir langganan untuk mengantarkan kue-kuenya.
"Siapa yang berpangku tangan, Beth? Abang tak pernah minta uang pada Yvone sepanjang kami menikah!" Ujar Timmy menyanggah tuduhan Beth.
"Tapi Abang tak pernah memberikan kak Yvone uang belanja pasti!" Sergah Beth kembali menuduh. Meskipun Beth tak sepenuhnya tahu juga. Tapi kalau ditilik dari pendapatan, jelas sekali kalau gaji Yvone lebih besar ketimbang pendapatan Abang Timmy yang hanya menjadi kurir.
"Tahu darimana? Yvone yang cerita?" Cecar abang Timmy tajam yang langsung membuat Beth mengerucutkan bibir
"Tidak, sih! Hanya menebak! Tapi benar, kan?" Beth ganti menatap serius pada sang abang yang malah terkekeh sekarang.
Dasar!
"Abang juga punya penghasilan meskipun saat ini kelihatan tak bekerja, Beth!" Tukas abang Timmy akhirnya sembari mengusap kepala Beth.
"Pendapatan dari kost-kost-an saja, kan?" Tebak Beth cepat dan sok tahu.
"Yang penting ada pendapatan dan abang rutin memberikan uang bulanan pada Yvone, kan?" Sergah abang Timmy lagi mencari pembenaran.
"Kau bisa bertanya sendiri pada Yvone kalau masih tak percaya!" Imbuh abang Timmy lagi bersamaan dengan pintu toko yang dibuka dari luar, menandakan ada customer datang.
Eh, bukan customer, tapi Kak Yvone yang datang.
Panjang umur sekali! Baru juga dibicarakan!
"Tim, aku lupa membawa kunci rumah," ucap Kak Yvone dengan wajahnya tampak pucat. Wanita itu juga langsung meletakkan tasnya serampangan dan duduk di bangku drpan pintu.
"Kak Yvone sakit? Kok pucat?" Tanya Beth yang langsung sigap menghampiri Kak Yvone yang kini sudah duduk di bangku seraya memegangi kepalanya.
"Hanya sedikit pusing. Makanya aku pulang cepat. Tadi baru saja bertemu klien," jelas kak Yvone kemudian. Beth segera meletakkan punggung tangannya di kening Kak Yvone untuk memeriksa. Beth sedikit khawatir dengan kondisi kakak iparnya tersebut.
"Kak Yvone demam, Bang!" Lapor Beth pada abang Timmy yang sudah bersiap pergi mengantar pesanan.
"Aku kan harus mengantar pesanan," ujar abang Timmy beralasan.
"Antarkan Kak Yvone pulang dulu, Bang!" Sergah Beth memaksa. Kenapa juga abang Timmy malah cuek begini, padahao Kqk Yvone sedang sakit. Harusnya kan abang Timmy sedikit peduli!
"Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri," ucap Kak Yvone yang kembali memegangi kepalanya. Disaat bersamaan pintu toko kembali dibuka dari luar oleh seseorang. Kali ini yang datang adalah Fairel.
"Siang! Sedang ada reuni disini?" Sapa Fairel yang langsung menarik Beth ke sudut toko.
"Kenapa dekat-dekat dengan Kak Yvone?" Bisik Fairel yang sintingnya mulai kambuh.
"Kak Yvone sedang sa--" kalimat Beth langsung dibungkam oleh lum*tan bibir Fairel.
Dasar sinting! Padahal ada Abang Timmy dan Kak Yvone. Untung Shanty tadi sedang izin makan siang di dapur!
"Aku juga sakit, Beth!" Rengek Fairel setelah puas mencecap bibir Beth. Pria itu lalu meletakkan punggung tangan Beth di keningnya dan mulak berekspresi lebay.
"Sakit apa?" Tanya Beth sembari merasakan kening Fairel yang sama sekali tak terasa panas seperti kening Kak Yvone tadi.
"Sakit rindu! Rindu padamu!" Jawab Fairel yang langsung mendekap Beth dengan lebay.
Benar-benar!
"Belumlah! Belum kamu suapi!" Jawab Fairel seraya berdecak.
"Ya sudah, makan dulu!" Beth menangkup wajah Fairel namun hanya sebentar karena pandangan Beth kemudian sudah fokus lagi ke Kak Yvone yang tiba-tiba sudah ambruk dan nyaris terjerembab ke lantai. Beruntung Abang Timmy sigap mencegah dan menopang tubuh Kak Yvone.
"Kak Yvone kenapa, Bang?" Tanya Beth yang langsung tergopoh-gopoh menghampiri Abang Timmy yang langsung membaringkan tubuh Yvone di bangku kayu panjang di dalam toko.
"Tiba-tiba pingsan. Aku juga tak tahu kenapa," jawab abang Timmy yang benar-benar harus membuat Beth berdecak.
Kenapa Abang Timmy seolah masih tak peduli pada Kak Yvone?
Beth bergegas mengambil minyak kayu putih untuk mengembalikan kesadaran Kak Yvone.
"Masih demam," gumam Beth setelah memeriksa lagi suhu badan Kak Yvone.
"Apa tidak sebaiknya dibawa saja ke UGD, Bang?" Cetus Fairel memberikan usul sembari menatap ke arah abang Timmy.
"Aku tidak mau ke rumah sakit," ucap Kak Yvone yang rupanya sudah membuka mata. Beth bergegas pergi ke dapur, untuk mengambil air minum untuk Yvone.
Tak berselang lama, Beth sudah kembali dan wanita itu segera mengangsurkan air putih di tangannya pada Abang Timmy, sekakian meminta sang abang untuk membantu Kak Yvone minum.
Agar Abang Timmy sedikit perhatian pada Kak Yvone yang notabene adalah istrinya!
"Minum dulu, Kak!" Titah Beth bersamaan dengan Timmy yang akhirnya mau juga membantu Kak Yvone untuk minum.
"Beth, kau punya obat penurun demam?" Tanya abang Timmy kemudian pada Beth.
"Tidak ada, Bang! Bawa saja Kak Yvone ke dokter agar sekalian bisa diperiksa."
"Takutnya Kak Yvone hamil juga," saran Beth yang malah membuat Kak Yvone batuk-batuk.
Ya, meskipun abang Timmy terkesan cuek dan kurang perhatian pada Kak Yvone, tapi mereka berdua kan selalu tidur satu kamar setiap malam. Jadi pastilah mereka sudah pernah melakukan hubungan suami istri, dan bukan tak mungkin Kak Yvone juga sudah hamil anak Abang Timmy sekarang.
Ah, semoga saja memang ada kabar baik!
"Beth benar, Bang! Sebaiknya memang Kak Yvone dibawa ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Wajahnya pucat begitu," ujar Fairel turut menimpali.
"Kau mau ke dokter?" Abang Timmy malah bertanya pada Kak Yvone yang langsung menggeleng.
Dasar! Kenapa juga harus ditanya dulu! Kan busa langsung gendong saja dan bawa ke rumah sakit!
Benar-benar tak peka abang Beth ini!
"Paksa, Bang!" Ujar Beth akhirnya merasa geregetan.
"Aku tidak mau!" Tolak kak Yvone tegas.
"Lagipula, kau juga harus mengantar pesanan, kan?" Sambung kak Yvone lagi.
"Benar juga--"
"Ck!" Beth langsung berdecak dan menyela. Wanita itu juga langsung bergerak cepat mengambil kue-kue yang tadi hendak diantar oleh abang Timmy.
"Kuenya biar Beth yang antar, Bang!" Ujar Beth kemudian dengan nada tegas.
"Tapi--"
"Abang antar Kak Yvone ke dokter pokoknya!" Ucap Beth lagi bersikeras serta menatap tajam ke arah sang abang.
"Aku tidak mau ke dokter, Beth! Aku baik-baik saja--" Kak Yvone tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya, namun baru sebentar wanita itu sudah terhuyung lagi.
"Yv--"
"Kak Yvone perlu ke dokter!" Tegas Beth sekali lagi pada sang abang yang akhirnya mengangguk.
Kenapa juga tak dari tadi!
Abang Timmy lalu segera memaoah Yvone dan tentu saja hal itu membuat Beth kembali geregetan.
"Gendong, Bang!" Desis Beth sebelun akhirnya abang Timmy menggendong Yvone keluar dari toko. Beth dan Fairel langsung mengekor dan ikut keluar juga.
"Pakai mobil Iel saja, Bang!" Ujar Fairel cepat seraya membukakan pintu mobilnya, agar Abang Timmy bisa memasukkan Kak Yvone ke dalam mobil.
"Hati-hati mengemudi!" Pesan Beth saat Abang Timmy hendak menyusul masuk ke dalam mobil. Abang Timmy masih sempat melemparkan kunci motornya pada Fairel, sebelum pria itu masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama, mobil Fairel yang dikemudikan oleh Abang Timmy sudah melaju meninggalkan toko.
"Kak Yvone hamil?" Tanya Fairel kemudian pada Beth sembari pria itu memutar-mutar kunci di tangannya.
"Entahlah! Tapi semoga saja benar-benar hamil!" Jawab Beth seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Lalu kau, hamil juga?" Fairel sudah ganti merangkul pinggang Beth.
"Menurutmu?" Beth balik bertanya pada sang suami.
"Menurutku iya!" Jawab Fairel penuh percaya diri sembari mengusap perut Beth.
Beth hanya geleng-geleng kepala, namun wanita itu tetap mengaminkan dalam hati.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.