
Tak sampai lima menit, Fairel sudah keluar lagi dari toilet dan menghampiri Beth yang masih belum beranjak dari dapur.
"Kau tahu wanita kaya yang melabrakmu ke toko waktu itu? Itu adalah mamanya Re-"
"Aku sedang tak ingin membahasnya!" Sergah Beth memotong kalimat Fairel yang belum selesai.
"Aku hanya memberitahu barangkali kau belum tahu!" Tukas Fairel yang kini sudah bersedekap pada Beth.
"Aku sudah tahu!" Jawab Beth yang balik bersedekap pada Fairel.
"Lalu kenapa masih menanggapi telepon dari Reandra? Kau seharusnya menjauhi pria brengsek cap buaya darat itu, Beth!" Cerocos Fairel yang langsung membuat Beth memutar bola mata.
"Memang darimana kau tahu kalau aku masih menanggapi telepon Reandra? Apa kau menyadap ponselku?" Cecar Beth dengan nada kesal.
"Kau baru saja membuat pengakuan!" Sahut Fairel sembari mencibir.
"Kapan?" Sergah Beth sedikit bingung.
"Tadi, baru saja! Beberapa menit yang lalu," ujar Fairel yang semakin membuat Beth bingung.
"Sudah! Lupakan saja!" Tukas Fairel kemudian.
"Tapi aku tak--"
"Sudah!"
"Aku bilang sudah ya sudah!" Gertak Fairel galak.
"Dasar keras kepala!" Gerutu Fairel lagi.
"Kau sendiri juga keras kepala!" Beth balik menggerutu pada Fairel.
"Sudah tahu kalau Rossie pacarnya--"
"Tidak usah bawa-bawa Rossie!" Fairel hendak membungkam bibir Beth, namun dengan cepat tangan pria itu sudah disentak oleh Beth.
"Aku sudah move on!" Tegas Fairel seraya mendelik pada Beth yang langsung mencibirnya.
"Baiklah, kembali ke topik!"
"Aku peringatkan sekali lagi agar kau berhenti menanggapi telepon ataupun chat dari Reandra-"
"Kau siapa memangnya mengatur-ngatur aku?" Sergah Beth yang balas mendelik pada Fairel.
"Aku Fairel Halley!"
"Dan aku sangat tahu kelakuan brengsek Reandra sampai ke akar-akarnya!"
"Belum lagi ibunya Reandra yang kemarin melabrakmu itu!"
"Memangnya kau mau harga dirimu diinjak-injak seperti itu? Tidak mau kan?" Cecar Fairel panjang lebar yang langsung membuat Beth merengut.
"Kau dengar aku, Beth Bethany? Jangan merengut begitu!" Tukas Fairel lagi yang malah membuat Bethany semakin mengerucutkan bibirnya.
Disaat bersamaan, ponsel Fairel sudah berdering.
"Halo!"
"Iel, kau masih makan siang?"
Fairel langsung terjejut saat mendengar suara Dad Liam di ujung telepon. Pria itu lalu memeriksa layar ponselnya dan mengumpat.
"Sial! Aku pikir Ryan!"
"Apa kau baru saja mengumpat, Iel?" Teguran Dad Liam langsung menggema di telinga Fairel, sesaat setelah pria itu meletakkan ponselnya di telinga.
Ya ampun!
Pecah sudah gendang telinga Fairel!
"Tidak, Dad! Ini Iel mau kembali ke kantor, kok!" Sergah Fairel cepat dan sedikit gelagapan. Terang saja hal itu langsung mengundang tawa Beth.
"Cepat ke kantor kalau begitu! Tiga puluh menit lagi ada meeting!"
"Siap, Dad! Iel meluncur ke kantor sekarang. Bye!" Punglas Fairel seraya menutup telepon. Pria itu lalu langsung melesakkan ponselnya je dalam saku celana dan keluar dari dapur toko Beth.
"Iel, kuemu!" Seru Beth yang bergegas menyusul Fairel, lalu menyambar kotak lue di atas etalase toko. Fairel sendiri sudah keluar dari toko dengan terburu-buru sampai tak ingat pada kuenya.
"Iel!" Beth langsung memberikan kotak kue pada Fairel yang sudah membuka pintu mobil.
"Sudah aku bayar?" Tanya Fairel amnesia.
"Sudah!" Jawab Beth cepat seraya berbalik.
"Beth!" Panggil Fairel kemudian yang langsung membuat Beth menghentikan langkahnya dan berbalik.
"A--"
"Ingat pesanku tadi tentang Reandra!" Fairel menuding sekaligus menatap tegas pada Beth yang langsung berdecak.
"Iya! Pergi sana!" Usir Beth kemudian yang sudah kembali berbalik lalu masuk ke dalam toko.
Fairel juga bergegas masuk ke mobil. Tak berselang lama, mobil Fairel sudah melaju meninggalkan Sweety Cake.
****
"Halo, Mom!" Sambut Fairel yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Iel, kau pulang jam berapa?"
"Ini Iel baru mau pulang, Mom!" Jawab Fairel seraya keluar dari ruang kerjanya. Sudah ada Ryan yang berdiri di depan ruang kerja Fairel entah maksudnya apa!
"Pasti si gadis bercelana kodok!" Tebak Ryan sok tahu yang langsung membuay Fairel berdecak.
"Ini Mom!" geram Fairel seraya menunjukkan layar ponselnya pada Ryan.
"Sore, Aunty!" Sapa Ryan kemudian pada Mom Yumi.
Fairel langsung mengibaskan tangannya pada Ryan dan mengusir sepupunya tersebut sebelum kembali meletakkan ponsel di telinga.
"Iel, kau dengar, Mom? Tadi Mom seperti mendengar suara Ryan!"
"Iya, dia memang menyebalkan, Mom!" Curah Fairel seraya mendelik pada Ryan yangvstdah masuk ke dalam lift, namun tetap sambil meledek Fairel, hingga akhirnya pintu lift tertutup dan menelan Ryan menyebalkan!
"Iel!"
"Iya, Mom! Iel dengar!" Jawab Fairel cepat.
"Baiklah! Nanti langsung mampir ke toko kue Beth dan beli--"
"Apa, Mom?" Sergah Fairel menyela yang sedikit bingung dengan instruksi Mom Yumi.
"Mom menyuruhmu mampir ke toko kue Beth sejak tadi! Kau tidak dengar?"
"Iel dengar, Mom!" Fairel menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iel hanya kurang fokus tadi," imbuh Fairel lagi beralasan.
"Baiklah, Mom ulangi!"
"Kau mampirlah ke toko kue Beth dan beli beberapa kue karena Aunty Audrey akan ke rumah sore ini untuk membahas foto prewedding Reina dan Angga--"
"Reina sudah sehat, Mom?" Sela Fairel yang baru ingat kalau tadi pagi Reina sempat pingsan di kamar.
"Sudah!"
"Syukurlah kalau begitu," gumam Fairel merasa lega.
"Jangan lupa pesan Mom, Iel!"
"Iya, Iel ingat, Mom!" Jawab Fairel sebelum kemudian Mom Yumi berpamitan dan telepon terputus.
"Hhhh! Ke toko Beth lagi!" Gumam Fairel sebelum pria itu masuk ke dalam lift dan turun ke lantai paling bawah.
****
Tak sampai lima belas menit, Fairel sudah sampai di toko kue Beth yang hampir....
Tutup!
"Beth!" Seru Fairel yang buru-buru keluar dari mobil, lalu berlari menghampiri Beth.
"Kau lagi! Kenapa kah selalu memata-mataiku?" Gerut Beth masih sambil menutup rolling door tokonya.
"Geer! Aku kesini mau beli kue! Jangan ditutup dulu tokonya!" Fairel mencegah tangan Beth yang hendak menarik rolling door yang sudah setengah tertutup.
"Kue apa lagi? Tadi siang kau sudah makan banyak kue dan sudah membungkusnya juga! Besok lagi makan kuenya atau kau bisa kena diabetes!" Omel Beth panjang lebar yang langsung membuat Fairel berdecak.
"Kau pikir aku kaum mageran yang tak pernah berolahraga?" Sergah Fairel tak terima.
"Terserah!" Beth masih berusaha menarik rolling door di depannya.
"Jangan tutup dulu! Ambilkan kue dulu karena Mom yang menyuruhku untuk membeli kue!" Tukas Fairel panjang lebar yang langsung membuat Beth mengernyit lagi.
"Mom? Maksudnya Tante Yumi?" Tanya Beth memastikan.
"Iya! Kau kenal, kan? Mau ada tamu penting di rumah-"
"Tante Yumi mau kue apa?" Tanya Beth yang akhirnya kembali membuka pintu tokonya di bagian dalam rolling door.
"Yang ada saja kata Mom!" Jawab Fairel seraya melirik ke dalam showcase. Masih ada beberapa stok cake slices dan juga tart untuk ulang tahun.
"Kenapa jam segini sudah tutup? Mau kencan bersama Reandra?" Tuduh Fairel to the point.
"Sinting! Apa tuduhanmu tak bisa lebih konyol lagi?" Sanggah Beth yang stdah membuat garis miring memakai telunjuknya di dahi.
"Aku mau menemani Mama membeli baju untuk anak-anak panti!" Lanjut Beth kemudia yang langsung membuat Fairel sedikit terperangah..
"Maksudnya panti?"
"Panti asuhan!" Tukas Beth cepat.
"Oooh! Mama dan papa kamu donatur?" Tanya Fairel kepo. Sementara Beth tangannya sudah cekatan untuk mengemas kue-kue yang hendak dibeli oleh Fairel.
"Bukan!" Ujar Beth menjawab pertanyaan Fairel.
"Lalu kenapa mau membelikan baju untuk anak-anak?" Tanya Fairel lagi penasaran.
"Karena dulu Mama dibesarkan di panti asuhan juga!" Jawab Beth langsung pada intinya.
"Ooh!" Fairel langsung membulatkan bibirnya.
"Sudah selesai!" Beth menyodorkan kantong berisi aneka kue tadi pada Fairel.
"Kau dan mamamu akan membeli baju dimana? Di mall?" Cecar Fairel lagi sebelum pria itu keluar dari toko!
"Bukan urusanmu!" Sahut Beth ketus yang sama sekali tak mau memberitahu Fairel.
"Ck! Dasar pelit! Nanti aku juga bakal tahu!" Gumam Fairel yang sudah punya niatan untuk mengekori Beth nanti.
Fairel hanya mau memastikan kalau Beth benar-benar pergi bersama sang mama dan bukan bersama Reandra.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.