Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
SEMAKIN PROTEKTIF


Beth mengerjapkan kedua matanya, saat wanita itu mendapati pemandangan serba putih di langit-langit ruangan. Tangan Beth juga terasa nyeri dan perut Beth...


"Kau sudah bangun, Beth?" Suara Fairel dari sisi temoat tidur langsung membuat Beth menolehkan kepalanya. Raut cemas dan khawatir nampak jelas di wajah suami Beth tersebut.


"Perutmu masih sakit?" Tanya Fairel sembari mengusap lembut perut Beth.


"Sedikit," jawab Beth lirih, sembari menatap ke arah kantung infus yang kini tergantung di atas kepala Beth.


"Aku kenapa?" Tanya Beth kemudian oada Fairel yang masih mengusap-usap perutnya.


"Kau hamil, Beth! Kata dokter sudah enam minggu," jaeab Fairel yang langsung membuat Beth membulatkan kedua matanya.


"Hamil? Tapi aku tadi jatuh...." suara Beth langsung terdengar lirih dan rasa bersalah sontak memenuhi relung hati Beth.


Kenapa Beth tak kunjung melakukan testpack dan mencaritahu apa dirinya sudah hamil atau belum? Kenapa Beth ceroboh sekali? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada calon anak Beth dan Fairel.


"Iel--"


"Dia tidak apa-apa!" Ungkap Fairel menenangkan Beth yang langsung bernafas lega.


"Tadi dokter sudah memeriksa dan melakukan USG, dan kondisinya baik-baik saja, Beth!"


"Kau akhirnya hamil!" Kedua mata Fairel kembali berbinar dan pria itu langsung menciumi wajah Beth yang kini menangis bahagia.


Tak berselang lama, Mom Yumi dan Reina sudah tiba di kamar perawatan Beth.


"Bagaimana kondisi Beth, Iel!" Tanya Mom Yumiyang bergegas menghampiri bed perawatan Beth.


"Beth hamil, Mom!" Ucap Berh lirih yang langsung membuat Mom Yumi memeluk menantunya tersebut.


"Jangan bangun dulu, Beth! Kata dokter kau harus bedrest!" Ujar Fairel yang buru-buru mencegah Beth untuk bangun.


"Dan Mom memeluknya hpjangan terlalu erat!" Imbuh Fairel lagi mengingatkan Mom Yumi.


"Oh, ya!"


"Aku boleh memeluk Kak Beth? Abang sepertinya protektif sekali?" Tanya Reina sembari menatap Fairel dengan aneh.


"Aku kan hanya menjaga istri dan calon anakku!" Sergag Fairel beralasan.


"Dia memang begitu, Rei! Beth belum hamil saja dia sudah protektif sekali pada Beth. Apalagi sekarang!" Tukas Mom Yumi yang langsung membuat Reina tertawa meledek ke arah Fairel.


"Biar saja!"


"Lagipula, kau kan juga sedang hamil, Rei! Nanti kalau perutmu dan perutnya Beth beradu dan bayinya sama-sama terjepit bagaimana?" Fairel memaparkan teori yang sontak langsung membuat Reina, Mom Yumi, dan Beth tergelak.


"Kepala bayinya saling berbenturan begitu maksud abang? Konyol sekali!" Cibir Reina kemudian.


Reina akhirnya tetap menghampiri Beth dan memeluk sekilas kakak iparnya tersebut.


"Selamat, ya, Kak! Akhirnya kita hamil barengan, " tukas Reina sebelum kemudian wanita itu pamit ke kamar mandi untuk muntah-muntah.


Ya, adik Fairel itu memang masih mabuk di usia kehamilannya yang baru masuk lima belas minggu. Selisih sedikit dari Beth. Jadi mungkin nanti anak Fairel dan anak Reina akan seperti anak kembar jika jenis kelaminnya sama.


"Reina sudah mabuk dan muntah-muntah sejak awal kehamilan. Kok Beth sama sekali tidak mual dan muntah, ya, Mom? Kata dokter, kandungan Beth juga sudah enam minggu," tanya Beth panjang lebar pada Mom Yumi.


"Iya karena tak semua ibu hamil mengalami mual dan muntah, Beth!" Jelas Mom Yumi.


"Mom dulu mual-mual tidak saat hamil Iel? Pasti tidak juga, kan?" Tanya Fairel menerka-nerka.


"Memang tidak! Yang mual dan muntah kan Dad kamu!" Jawab Mom Yumi seraya terkekeh.


"Berarti nanti ke depannya, kau juga yang akan mual dan muntah," seloroh Beth sembari menunjuk ke arah Fairel.


"Mustahil!"


"Aku masih baik-baik saja dan tadi aku juga masih makan banyak di Rainer's Resto!" Tukas Fairel yang langsung sesumbar. Beth langsung mencibir dan Mom Yumi hanya geleng-geleng kepala.


"Mau makan, Beth? Mom tadi mampir beli mangga--"


"Ada mangga muda, Mom?" Sergab Fairel yang langsung menyambar kantung buah yang dibawa Mom Yumi.


"Tidak ada! Mangganya matang semua, Iel! Reina tadi yang ngudam mangga. Mom beli sekalian untuk Beth!" Jelas Mom Yumi yang langsung membuat Fairel berdecak.


"Padahal yang muda lebih segar, Mom!" Tukas Fairel yang langsung membuat Reina yang baru selesai muntah-muntah ikut menyahut.


"Siapa yang ngidam mangga muda?"


"Iel! Sudah mulai tanda-tanda!" Jawab Mom Yumi diiringi kekehan dari Beth.


"Nanti sebentar lagi ngidam seblak pasti, " ledek Reina kemudian.


"Tidak mungkin!" Sangkal Fairel cepat.


"Lagipula, ini bukan ngidam dan aku hanya sedang ingin makan mangga muda saja! Sayangnya tak ada," kilah Fairel beralasan.


"Yang ini enak dan manis! Cobalah!" Beth menyodorkan mangga yang baru saja dikupaskan oleh Mom Yumi ke depan mulut Fairel. Namun alih-alih langsung melahapnya, wajah Fairel malah tiba-tiba berubah pucat pasi.


"Iel, kau kenapa?" Tanya Beth cemas dan Fairel langsung menggeleng, lalu berlari ke kamar mandi.


"Hoeek!" Terdengar suara Fairel yang muntah-muntah di dalam kamar mandi, yang langsung membuay Mom Yumi dan Beth serta Reina saling bertukar pandang, lalu tiga wanita itu tertawa bersama.


"Kan! Kuwalat, Bang! Nikmati itu ngidamnya Kak Beth!" Seru Reina yang hanya dijawab Fairel dengan dengkusan dari dalam kamar mandi.


Kenapa jadi Fairel yang ngidam dan muntah-muntah?


****


Tengah malam, Beth tak bisa memejamkan matanya, saat tiba-tiba pintu kamar perawatannya diketuk oleh seseorang dari luar.


Siapa itu?


Beth baru saja akan membangunkan Fairel yang tidur mendengkur, namun pintu kamar malah sudah dibuka dari luar.


"Sia--"


"Beth!" Kak Yvone mengintip sejenak, sebelum lanjut masuk ke kamar sembari mendorong tiang infus.


"Kak Yvone!" Beth benar-benar terkejut dengan kehadiran kakak iparnya tersebut.


Tadi sebenarnya Abang Timmy juga sudah datang menjenguk Beth, setelah Beth mengirimkan pesan pada abangnya tersebut dan memberitahu kalau dirinya mendadak masuk rumah sakit yang sama dengan Kak Yvone karena terpeleset hingga pingsan.


"Aku tak bisa tidur," ucap Kak Yvone berbisik-bisik pada Beth.


"Sama," jawab Beth sembari mengendikkan dagu ke arah Fairel yang masih tidur mendengkur di samping Beth. Sepertinya kecapekan yang muntah-muntah.


"Selamat atas kehamilanmu, ya!" Ucap Kak Yvone kemudian seraya memeluk Beth.


"Semoga Kak Yvone juga secepatnya menyusul," tukas Beth yang hanya ditanggapi Kak Yvone dengan senyuman tipis.


"Beth, jangan kemana-mana!" Fairel sydah ganti berbaring miring senbari melingkarkan lengannya di perut Beth. Fairel memang ikut tidur di atas bed perawatan, setelah tadi pria itu minta pada pihak rumah sakit agar mengganti bed perawatan di kamar Beth dengan yang lebih besar.


Dasar aneh!


Tapi pihak rumah sakit menyetujui juga, entah Fairel menyogok berapa banyak dan mengancam apa.


Kak Yvone langsung tertawa kecil melihat tingkah polah Fairel yang masih saja menjaga Beth dengan sangat-sangat protektif, meskipun kedua matanya terpejam.


"Abang Timmy menemani Kak Yvone malam ini, kan?" Tanya Beth memastikan, dan Kak Yvone langsung mengangguk.


"Dia sudah pulas tadi. Makanya tidak lihat aku bangun dan berjalan kesini," jelas kak Yvone yang ganti membuat Beth tertawa kecil.


"Kak Yvone mau pindah disini saja biar satu ruangan dengan Beth--"


"Tidak usah, Beth!" Tolak Kak Yvone cepat.


"Toh hanya selisih satu lantai dan aku bisa mengunjungimu kapanpun." Tukas Kak Yvone lagi.


Sesaat, dua wanita itu sama-sama diam.


"Mama dan papa rencananya pulang kapan?" Tanya Yvone yang kembali buka suara.


"Besok sore sepertinya, Kak!" Jawab Beth yang memang belum mengabari Mama Tere dan Papa Will perihal kehamilannya. Biarlah nanti menjadi kejutan untuk kedua orang tua Beth tersebut.


"Hoaaaam!!" Beth sudah menguap dan Kak Yvone langsung bangkit dari duduknya.


"Kau sebaiknya istirahat, Ibu hamil!" Ujar Kak Yvone yang langsung membuat Beth tertawa kecil.


"Kak Yvone yakin bisa berjalan ke kamar sendiri?" Beth mendadak merasa ragu dan wanita itu sudah meraih ponselnya laku hendak menghubungi Abang Timmy.


"Aku akan minta perawat di depan mengantarku! Jangan mengganggu Timmy!" Cegah Kak Yvone yang langsung tahu kalau Beth hebdak menghubungi abangnya tersebut.


"Baiklah! Hati-hati, Kak!" Pesan Beth bersamaan dengan Kak Yvone yang akhirnya keluar dari kamar perawat Beth dan menutup kembali pintunya.


"Siapa?" Fairel tiba-tiba sudah bangun dan eksoresi wajahnya mirip orang terkejut.


"Siapa? Kau mimpi apa?" Tanya Beth yang langsung menatap heran pada sang suami.


"Kau tadi bicara pada siapa? Aku seperti mendengar kau memanggil kak pada seseorang!" Fairel bangkit dari atas bed perawatan dengan cepat, lalu berjalan ke pintu kamar perawatan, membukanya dan celingukan ke kanan lalu ke kiri lalu ke kanan lagi.


Tidak ada orang!


"Kau ngelindur?" Beth geleng-geleng kepala, lalu segera menyamankan posisi berbaringnya. Sementara Fairel sudah kembali lagi menghampiri Beth dan mengusap-usap perut istrinya tersebut.


"Kenapa kau belum tidur, Beth?" Tanya Fairel kemudian pada Beth.


"Ini baru mau tidur. Tadi aku tak busa tidur karena kau mendengkur," tukas Beth beralasan.


"Aku mendengkur karena belum dapat jatah!" Wajah Fairel sudah memelas.


"Libur dulu satu bulan kata dokter," ucap Beth yang langsung membuat Fairel merengut.


"Tapi kau masih bisa melakukannya memakai tangan, Beth!" Fairel tiba-tiba sudah mengarahkan tangan Beth ke miliknya yang kini tersembunyi di dalam celana.


"Iya besok kalau sudah pulang! Jangan disini!" Cicit Beth yang langsung membuat Fairel merengut lagi.


"Aku ngantuk juga sekarang," imbuh Beth lagi sembari merapatkan selimutnya.


"Kau tidak lapar?" Tanya Fairel yang masih mengusap-usap perut Beth.


"Tidak!" Jawab Beth cepat.


"Lalu kenapa aku merasa lapar? Aku juga ingin makan nasi bungkus di angkringan tenda biru," ujar Fairel yang langsung membuat Beth mengheka nafas.


"Beli sendiri sana! Aku mau tidur!" Ucap Beth tak mau tahu.


"Beth!" Fairel memasang wajah melas sembari menyandarkan kepalanya di sisi bed perawatan.


"Aku ngantuk, Iel!" Tukas Beth beralasan dan Fairel akhirnya hanya memegangi perutnya yang kini keroncongan.


Bukan Fairel tak mau pergi beli makanan sendiri. Tapi Fairel hanya khawatir, misalnya dia pergi, lalu Beth kenapa-kenapa dan tak ada yang menjaga bagaimana?


Kruuk! Kruuuk!


Suara perut Fairel kini terdengar lumayan kencang, hingga membuat Beth yang tadinya sudah memejamkan mata kembali membuka matanya.


"Iel!" Beth mengusap kepala Fairel yang masih bersandar di tepi bed perawatan.


"Aku lapar, Beth!" Keluh Fairel tanpa mengangkat kepalanya.


"Pergi beli makan sana!" Titah Beth yang langsung membuat Fairel menggeleng samar.


Wajar sebenarnya kalau Fairel lapar, secara pria itu terus saja muntah-muntah sebelum ia tidur tadi.


Beth yang merasa tak tega akhirnya meraih ponselnya lalu berpikir sejenak untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa ia pintai bantuan. Tapi siapa?


"Mau menghubungi siapa?" Tanya Fairel yang akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap penuh selidik pada Beth.


"Entahlah. Aku juga bingung."


"Sopir Dad sudah tidur belum, ya?" Beth balik bertanya pada Fairel yang langsung mengeluarkan ponselnya, lalu mengutak-atiknya sebentar.


"Halo, Pak! Ini Fairel!" Ujar Fairel cepat setelah teleponnya diangkat.


"Tolong belikan nasi bungkus di angkringan tenda biru dekat alun-alun, ya!"


"Sekalian belikan camilan untuk Beth. Dia sedang ngidam dan kelaparan!" Ujar Fairel yang langsung membuat Beth membulatkan kedua matanya.


"Kok aku? Yang ngidam kan kamu!" Protes Beth yang bibirnya langsung dibungkam oleh tangan Fairel.


"Cepat dan jangan lama-lama, Pak! Antar ke rumah sakit!" Pungkas Fairel sebelum kemudian pria itu menutup telepon.


"Pak sopir kamu bangunin?" Tanya Beth setelah Fairel menyimpan ponselnya di laci nakas.


"Bukan. Barusan yang aku telepon security," jawab Fairel jujur.


"Terserah dia mau bangunin pak sopir atau mau pergi sendiri. Yang penting ngidamku keturutan," tukas Fairel kemudian seraya naik ke atas bed perawatan, lalu mendekap Beth.


"Tadi katanya ngantuk! Cepat tidur, Beth!" Titah Fairel sembari mengusap-usap kepala Beth.


"Iya!" Jawab Beth yang langsung berusaha untuk memejamkan matanya. Namun mendadak rasa kantuk Beth malah hilang dan ia jadi tak bisa tidur.


Beth lalu menoleh ke arah Fairel yang sudah memejamkan mata.


Apa Fairel sudah tidur lagi?


Kruuuk! Kruuuk!


Suara perut Fairel kembali terdengar dan Beth benar-benar tak tahan untuk tak tertawa.


"Ck! Berisik sekali!" Dengkus Fairel sembari memukul perutnya sendiri, lalu kembali mendekap Beth dengan erat.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.