
Tepat pukul lima sore, Fairel sudah tiba di depan toko kue Beth yanh masih.....
Tutup!
"Apa? Kenapa tokonya masih tutup? Beth masih belum selesai mengunjungi abangnya?" Fairel bertanya-tanya sendiri, sembari tangan pria itu merogoh ponselnya dari dalam saku. Fairel lalu segera menghubungi nomor Beth.
"Awas kalau tidak diangkat! Aku dobrak juga--"
"Halo!"
Fairel belum selesai menggerutu, saat teleponnya sudah dengan cepat diangkat oleh Beth.
Tumben!
"Kau dimana, Beth? Kenapa tokomu masih tutup, hah? Rollcake-ku masih belum jadi?"
"Benar-benar kau itu--"
"Aku di dalam toko!" Kalimat Beth langsung membuat Fairel terdiam.
"Di dalam toko?"
"Ya! Aku sedang mengerjakan pesananmu, makanya toko sengaja aku tutup."
"Kau sendirian?" Tanya Fairel lagi.
"Ya! Shanty sedang cuti. Kau kangen pada karyawanku itu?"
Fairel sontak berdecak dengan pertanyaan konyol Beth.
"Nanti aku sampaikan pada Shanty kalau kau--"
"Aku tak kangen pada karyawanmu!!" Fairel langsung menyalak geram pada Beth.
"Sekarang buka pintunya karena aku mau masuk!" Perintah Fairel kemudian sok galak.
"Sepuluh menit lagi! Aku masih belum selesai mengemas kuenya."
"Aku bantu mengemas! Buka pintunya cepat, Beth!" Perintah Fairel lagi lebih galak. Fairel sudah turun dari mobil dan pria itu langsung menuju ke depan toko kue Beth.
"Beth!" Teriak Fairel seraya melihat ke arah kamera CCTV di sudut depan toko.
"Beth, buka pintunya!!" Teriak Fairel lagi pada kamera CCTV.
Tak berselang lama, rolling door toko akhirnya dibuka dari dalam.
"Berisik!" Komentar Beth sembari bersedekap.
"Awas! Rollcake-ku mana?" Fairel tiba-tiba sudah merangsek masuk padahal Beth belum mempersilahkan. Dasar customer tak tahu diri!
"Beth! Ini kenapa masih polos?" Teriak Fairel kemudian saat Beth kembali menutup rolling door, lalu menghampiri Fairel yang sudah langsung menuju ke meja produksi.
"Kenapa masih polos dan belum selesai? Kau kemana saja tadi?" Cecar Fairel lagi yang hanya membuat Beth memutar bola matanya. Gadis itu lalu lanjut mengerjakan rollcake Fairel yang masih setengah jadi.
"Beth!" Geram Fairel lagi.
"Apa?" Jawab Beth kesal.
"Kenapa pesananku belum selesai?"
"Ini hampir selesai dan aku sedang mengerjakannya! Jadi berhentilah cerewet!" Beth akhirnya memperingatkan Fairel dengan galak sembari mendelik pada pria itu.
"Ck! Aku hanya bertanya dan kau malah memarahiku! Dasar galak!" Rengut Fairel yang kembali harus membuat Beth memutar bola matanya.
"Kau malah lebih galak dari aku!" Gumam Beth kemudian yang langsung membuat Fairel tiba-tiba merengkuh kedua pundak gadis itu.
"Apa katamu barusan?" Tanya Fairel galak.
"Tidak apa-apa!" Jawab Beth berusaha menyentak kedua tangan Fairel di pundaknya.
"Kau akan membuat pundakku biru-biru lagi!'
"Lepas!" Sentak Beth yang langsung membuat Fairel berdecak.
"Ck! Aku kan tak sengaja waktu itu!"
"Tak sengaja tapi cengkeramanmu kuat sekali!" Sergah Beth yang kini sudah ganti merengut.
"Kau yang duluan dan mencari gara-gara! Kalau waktu itu kau tak menghilangkan cincinku untuk Rossie--"
"Sudah kubilang, kalau aku tak tahu menahu tentang cincin itu! Kau selalu saja membahas kalau waktu itu kalau waktu itu!" Cibir Beth bersungut-sungut.
"Iya kalau waktu itu aku tak jatuh ke kolam, cincinku tak akan hilang dan aku pasti sudah---" Fairel tak melanjutkan kalimatnya dan kedua tangan pria itu mengepal erat.
"Sudah jadian dengan Rossie? Atau sudah menikah dengan Rossie?"
"Padahal Rossie juga belum tentu menerima lamaranmu malam itu karena--"
"Sudah diam dan cepat kerjakan saja pesananku!" Geram Fairel menyela, sembari tangannya membungkam mulut Beth yang terus saja bercerocos.
"Lepas!" Beth meronta dan berusaha menyentak tangan Fairel.
"Aku tak bisa nafas!" Protes Beth lagi.
"Memangnya kau bernafas memakai mulut?" Tanya Fairel heran yang kini sudah melepaskan bungkamannya pada mulut Beth..
"Kadang-kadang," jawab Beth bergumam. Beth akhirnya sekesai menghias rollcake pesanan Fairel dan gadis itu segera memasukkan rollcake aneka rasa tersebut ke dalam box.
"Aku bisa tutup satu minggu setelah ini berarti," gumam Beth kemudian seraya menutup box rollcake yang terakhir.
"Mau kemana libur satu minggu?" Cecar Fairel yang rupanya mendengar gumaman Beth tadi.
"Bukan urusanmu!" Jawab Beth seraya memberikan totebag yang berisi tujuh box rollcake pada Fairel.
"Kau belum memberitahuku mau liburan kemana. Jadi aku tak akan pergi!" Fairel meletakkan kembali totebag tadi, dan kini pria itu bersedekap pada Beth.
"Sudah aku bilang kalau itu bukan urusanmu!"
"Kenapa kau selalu ikut campur dan bertanya mendetail mengenai kegiatanku, aku pergi kemana. Apa pergi bersama siapa!" Beth mengungkapkan semua rasa kesalnya pada Fairel.
"Aku tak selebay itu!" Sanggah Fairel cepat.
"Terserah! Pulang sana!" Usir Beth sekali lagi.
"Kau tak akan berlibur bersama Reandra, kan?" Tanya Fairel lagi yang langsung membuat Beth berdecak dan merasa geregetan.
"Berapa kali aku harus bilang, kalau ku tak menjalin hubungan apa-apa lagi dengan Reandra, Iel! Kenapa kau masih saja membawa-bawa nama pria itu?" Omel Beth kemudian pada Fairel.
"Hanya memastikan karena dulu kau bucin akut pada Reandra," tukas Fairel yang bukannya segera pergi, namun malah mengambil satu box rollcake dari dalam totebag, lalu membukanya.
"Kau mau apa? Kenapa dibuka lagi rollcake-nya? Aku menyuruhmu untuk segera pulang!!" Beth mulai hilang kesabaran sekarang.
"Aku sudah kelaparan dan cacing-cacingku di dalam perut sudah berdemo hebat! Jadi aku akan makan kuenya sebentar." Fairel sudah duduk di salah satu bangku yang ada di dalam toko sekarang.
"Bisa kau ambilkan piring dan sendok, Beth?" Perintah Fairel kemudian.
"Ck! Tidak ada piring dan sendok!" Tukas Beth yang kini sudah berkacak pinggang di samping Fairel.
"Pulang sana!" Usir Beth sekali lagi. Namun Fairel sama sekali tak menggubris dan pria itu malah asyik melahap rollcake-nya.
Dasar bebal!!
****
"Masih di toko, Ma! Tapi nanti Beth pulang sebelum jam sembilan," ujar Beth pada Mama Tere via telepon.
"Masih banyak pesanan?"
"Heem," jawab Beth lagi seraya menatap ke arah Fairel yang masih duduk anteng di tempatnya sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Hhhhhh!
Beth sampai lelah mengusir pria itu sejak tadi!
"Nanti hati-hati pulangnya, ya!"
"Iya, Ma!" Jawab Beth lagi sebelum akhirnya telepon dari Mama Tere terputus.
Setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku, Beth lalu menghampiri Fairel lagi.
"Kau sebenarnya mau pulang jam berapa?" Tanya Beth ketus.
"Suka-suka akulah!" Jawab Fairel yang benar-benar membuat Beth ingin menjambak rambut pria di depannya tersebut.
"Minumku habis!" Fairel menyodorkan gelasnya yang kosong pada Beth yang langsung berdecak.
Sebenarnya Beth tadi tak berniat memberikan minum pada Fairel. Namun tragedi Fairel yang tersedak rollcake tadi, membuat Beth tak tega.
Dan lihatlah sekarang hasilnya!
Fairel malah semakin betah duduk di dalam toko. Makan rollcake, minum, dan mengerjakan pekerjaannya juga.
Menyebalkan!
"Beth! Kenapa melamun? Minumanku habis!" Fairel menggoyang-goyangkan gelasnya di depan Beth.
"Baguslah!" Beth langsung menyambar gelas tadi dari tangan Fairel.
"Kau bisa pulang sekarang!" Tukas Beth lagi yang langsung membuat Fairel berdecak.
"Baru jam setengah tujuh." Fairel menunjukkan arlojinya ke arah Beth yang langsung mendengus.
"Aku punya jam malam!" Beth memperingatkan Fairel.
"Jam sembilan, kan? Itu masih dua jam lagi!" Ujar Fairel sebelum pria itu fokus ke laptopnya lagi. Disaat bersamaan, ponsel Fairel yang ada di samping laptop, tampak berdering.
"Mommy-mu sudah telepon itu! Pulang sana!" Cibir Beth sok tahu yang langsung membuat Fairel terkekeh. Pria itu lalu mengangkat telepon dan hanya berbicara sebentar, sebelum lanjut meletakkan ponselnya lagi.
"Ada kurir makanan di depan! Kamu bukakan itu rolling door-nya!" Perintah Fairel kemudian pada Beth yang langsung menganga tak percaya.
"Siapa yang pesan makanan?" Tanya Beth tak percaya.
"Akulah! Cepat sana!" Perintah Fairel lagi.
"Ck! Menyebalkan!" Beth menggerutu dan hendak membuka rolling door, saat Fairel kembali berseru.
"Beth--"
"Apalagi?" Beth menyalak pada Fairel.
"Jangan lebar-lebar membukanya! Ambil makanan dan langsung tutup lagi!" Ujar Fairel yang benar-benar membuat Beth ingin mengumpat. Beth akhirnya tak jadi membuka rolling door dan gadis itu kembali menghampiri Fairel.
"Kau buka saja dan kau ambil sendiri saja makanannya!" Ucap Beth kesal sebelum kemudian gadis itu pergi ke dapur, dan duduk merengut disana.
"Dasar menyebalkan!" Gerutu Beth merasa kesal
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.