
"Pulang sendiri, Beth? Timmy tidak ikut?" Cecar Mama Tere saat Beth baru tiba di rumah.
"Mmm, Abang Timmy katanya nanti mau menyusul, Ma!" Jawab Beth beralasan. Mama Tere hanya mengangguk dan tak bertanya lagi.
"Kondisi Papa gimana, Ma? Apa masih demam?" Gantian Beth yang bertanya.
"Sudah tidak demam dan sudah baikan--" Mama Tere belum selesai menjawab, saat Papa Will sudah keluar dari kamar dan tampak sehat. Beth langsung menghambur ke pelukan papanya tersebut.
"Kenapa? Kangen sama papa?" Ledek Papa Will yang langsung membuat Mama Tere tertawa.
"Iya!"
"Dan khawatir juga," ujar Beth sembari meletakkan punggung tangannya di dahi Papa Will untuk memastikan lagi.
"Iya, sudah tidak demam," gumam Beth kemudian.
"Lalu tadi malam acaranya bagaimana? Istri Angga pasti cantik sekali," tanya Mama Tere kemudian yang ganti membahas acara semalam.
Huh! Beth mendadak jadi badmood saat ingat acara semalam. Sudah diketusi oleh Reina, masih juga dapat omelan dan tuduhan tak jelas dari Fairel!
"Beth! Kenapa melamun?" Tegur Mama Tere yang langsung membuat Beth tersadar.
"Eh!"
"Iya, Ma, bagaimana?" Tanya Beth tergagap.
"Mama boleh lihat foto Angga dan istrinya semalam?" Tanya Mama Tere yang langsung membuat Beth membulatkan bibirnya. Beth lalu mengeluarkan ponsel dan segera menunjukkan fotonya semalam bersama Angga dan Reina di atas panggung pelaminan.
"Timmy tidak kamu mintakan bunga? Barangkali bisa menyusul sebentar lagi," seloroh Papa Will yang langsung membiat Beth dan Mama Tere berdecak bersamaan.
"Itu mitos, Pa!" Sergah Beth cepat.
"Lagipula, Timmy juga sepertinya belum punya pacar--"
"Sudah, Ma!" Ucap Beth cepat seraya menatap bergantian pada Mama Tere dan Papa Will.
Eh, ya ampun!
Beth keceplosan!
"Apanya yang sudah? Abang kamu sudah punya pacar, Beth?" Mama Tere terlihat antusias.
"Eeeee....sepertinya, Ma!" Ringis Beth seraya menggaruk tengkuknya sendiri.
"Jadinya sudah punya atau belum?" Papa Will ikut bertanya untuk memastikan.
"Papa tanyakan saja ke Abang Timmy, ya!"
"Beth mau mandi dulu lalu ke toko," ujar Beth seraya ngacir pergi dan langsung masuk ke kamar.
Beth bersandar pada pintu kamar, dan jatuh terduduk. Gadis itu lalu membenamkan kepalanya di antara kedua lutut karena merasa bingung dengan keberadaan Abang Timmy yang hilang tiba-tiba.
Abang Timmy kemana sebenarnya?
****
"Kok masih tutup?" Gumam Fairel saat ia menyambangi toko kue Beth yang rolling door-nya masih tertutup rapat.
"Sudah jam dua belas padahal," decak Fairel lagi seraya melihat arloji di tangannya. Fairel lalu menyandarkan dagunya di atas kemudi, dan tetap menatap pada rolling door yang menutupi toko kue Beth.
"Ck! Sebenarnya gadis itu niat jualan atau tidak?" Gerutu Fairel mulai kesal karena rolling door toko Beth yang tak kunjung dibuka. Entah kemana perginya Beth sekarang!
Ponsel Fairel mendadak berdering, saat ia masih menggerutu kesal atas tutupnya toko kue Beth.
"Halo!" Jawab Fairel galak setelah tadi Fairel membaca nama Ryan tertera di layar.
"Galak sekali!"
"Kau dimana?"
"Disini!" Jawab Fairel malas.
"Disini dimana? Ada meeting tiga puluh menit lagi, Pak Direktur!"
"Gantikan aku, Pak Direktur kedua!" Jawab Fairel enteng yang langsung membuat Ryan berdecak di ujung telepon.
"Kenapa? Tidak mau?" Fairel ganti menyalak pada sang sepupu.
"Aku belum menjawab apa-apa, Bung! Kenapa kau begitu emosian belakangan ini?"
"Sudah mirip wanita sedang PMS saja--"
"Terserah aku dan tak usah sok-sokan mengatur!" Bentak Fairel kesal pada Ryan, sebelum kemudian pria itu menutup telepon.
"Hhhhh! Menyebalkan!" Teriak Fairel kemudian seraya membanting ponselnya ke atas dashboard. Fairel lalu lanjut memukul-mukul stir mobilnya dan berteriak seperti orang gila.
"Buka tokomu sekarang, Beth!"
"Atau aku akan mendobraknya!" Fairel yang sudah hilang kesabaran, segera turun dari mobil. Lalu dengan wajah bersungut-sungut, pria itu menghampiri rolling door toko Beth. Fairel lalu menggedor pintu besi tersebut.
"Buka pintunya!"
"Buka tokonya! Aku mau beli kue!"
"Beth, Bethany!!" Fairel menggedor penuh emosi pintu besi di hadapannya, saat sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan toko.
Beep beep!
"Hei, kau sedang apa?" Tegur seorang pria paruh baya dari dalam mobil yang wajahnya tampak tak asing.
Bukankah itu Papanya Beth?
Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya yang tentu saja langsung bisa Fairel kenali.
"Loh! Kamu kan yang waktu itu di angkringan," ujar Mama Tere yang rupanya masih mengenali Fairel.
"Siang, Tante!" Sapa Fairel cepat seraya mencium punggung tangan Mama Tere. Fairel juga melakukan hal yang sama pada Papa Will yang baru turun dari mobil.
"Mau beli kue?" Tanya Mama Tere selanjutnya, sementara Papa Will membuka pintu toko.
"Iya!" Jawab Fairel seraya meringis.
"Tante pemilik toko ini, ya?" Fairel lanjut berbasa-basi.
"Tadinya begitu! Tapi sekarang sudah diambil alih oleh Beth," terang Mama Tere.
"Sudah, Ma!" Lapor Papa Will kemudian setelah selesai membuka pintu toko.
Tak ada orang di dalam toko!
Lalu kenapa Fairel tadi menggedor pintunya seperti orang gila dan berteriak-teriak memanggil Beth?
"Mari masuk, Nak...."
"Iel, Tante!" Sahut Fairel yang langsung menyebutkan namanya.
"Nak Iel. Mari masuk!" Ajak Mama Terwujud sekali lagi dengan raut wajah yang ramah.
"Stok kuenya masih banyak, Ma!" Lapor Papa Will yang rupanya sudah masuk duluan untuk memeriksa stok.
"Karyawan yang biasanya tidak masuk, Tante?" Tanya Fairel kemudian kembali berbasa-basi.
"Yang satunya lagi?" Tanya Fairel semakin penasaran.
Yang satu lagi maksud Fairel tentu saja adalah Beth!
"Karyawan di toko kami cuma satu, Nak Iel," tukas Papa Will cepat.
"Tapi sepertinya ada dua karyawan setiap saya ke toko, Om!"
"Yang satu perawakannya kecil." Fairel menyebutkan ciri-ciri dan perawakan Beth.
"Mungkin yang dimaksud Nak Iel adalah Beth, Pa!" Tukas Mama Tere menerka-nerka.
"Iya, itu, Tante! Beth pulang kampung juga?" Tanya Fairel kemudian memastikan.
Memangnya Beth punya kampung? Kedua orang tuanya saja ada disini!
Mama Tere dan Papa Will kompak tersenyum setelah mendengar pertanyaan konyol dari Fairel.
"Beth itu sebenarnya putri kami, Nak Iel!" Papa Will akhirnya buka suara.
"Oh!" Fairel yang sebenarnya juga sudah tahu hanya membulatkan bibirnya dan bersikap seolah baru tahu.
"Lalu dia dimana, Om?" Tanya Fairel sekali lagi.
"Ada di rumah. Tadi sedang tidak enak badan, makanya tidak bisa ke toko," jelas Papa Will seraya mengulas senyum.
Tidak enak badan? Maksudnya sakit?
Beth sakit?
Apa ada hubungannya dengan caci maki Fairel kemarin?
"Nak Iel jadinya mau beli kue yang mana?" Pertanyaan Mama Tere segera membuyarkan lamunan Fairel.
"Rollcake saja, Tante!" Jawab Fairel cepat seraya menghampiri showcase berisi aneka kue favoritnya.
Ya, stok rollcake masih penuh dan lengkap!
****
Ciitt!!
Fairel menginjak rem lumayan keras, saat mobilnya hampir melewati rumah kedua orang tua Beth.
"Beth, kau sakit? Aku minta maaf soal kemarin."
Fairel menggeleng-gelengkan kepalanya dan merasa kalau kalimat yang ia susun kurang tepat.
"Beth, aku minta maaf karena sudah menuduhmu dengan konyol kemarin!"
Fairel menggeleng-geleng lagi dan merasa kalimatnya masih kurang tepat.
"Beth, aku minta maaf!"
"Singkat, padat, jelas!" Ucap Fairel kemudian yang kali ini ganti manggut-manggut.
"Baiklah!" Fairel turun dari mobil dan segera membuka pintu pagar depan yang tak terkunci. Pria itu sedikit celingukan, sebelum akhirnya masuk ke teras dan mengetuk pintu.
Ya, Fairel tidak menemukan bel seperti yang ada di rumahnya. Jadi Fairel ketuk saja pintu rumah Beth.
"Beth!" Panggil Fairel seraya mengetuk pintu depan.
Lima menit....
Sepuluh menit....
Tak ada jawaban apapun dari dalam rumah. Apa Beth tidur?
"Beth! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya!" Fairel mulai hilang kesabaran dan ketukannya pun semakin barbar.
"Kemana gadus itu?" Gumam Fairel kesal, sembari mengarahkan pandangannya ke garasi rumah Beth yang....
Kosong!
Sebentar, kalau Beth di rumah, bukankah seharusnya motor Beth yang jelek itu terparkir di garasi juga?
Lalu sekarang....
"Bodoh! Kenapa tidak sejak tadi aku melihat motornya yang tak ada di garasi!" Fairel menggerutu sendiri dan merutuki kebodohannya. Pria itu akhirnya keluar dari rumah kedua orang tua Beth, dan kembali masuk ke mobilnya.
"Apanya yang sakit! Orang sakit tapi masih bisa pergi kelayapan!" Fairel tak berhenti menggerutu, saat tiba-tiba ponselnya yang masih berada di atas dashboard berdering.
Fairel segera mengambil benda pipih persegi tersebut dan memeriksa siapa yang menelepon.
Dad Liam!
"Halo, Dad!" Sambut Fairel cepat.
"Iel, kau dimana? Kenapa tak ikut meeting?"
"Iel masih diluar, Dad! Bukankah sudah ada Ryan?" Jawab Fairel dengan nada malas. Fairel sedang kehilangan semangat hidup dan semangat bekerja sekarang.
Entahlah! Mungkin Fairel harus berlibur dan pergi sejenak dari kota ini, sekaligus berhenti makan rollcake Beth untuk sementara waktu!
Sepertinya kue itu yang sudah membuat Fairel bersikap berlebihan pada Beth belakangan ini, termasuk membuntuti dan mengawasi gadis itu dengan lebay.
Sialan memang!
Beth mencampurkan ramuan apa di rollcake-nya?
"Kau kenapa? Suaramu terdengar lesu?"
"Apa Iel boleh cuti dari kantor barang satu pekan, Dad?" Tanya Fairel akhirnya tanpa pikir panjang lagi.
"Mau kemana satu pekan?"
"Berlibur, keluar kota," jawab Fairel seraya menyugar kasar rambutnya. Cukup lama Dad Liam terdiam dan Dad kandung Fairel itu juga tak langsung memberikan jawaban.
"Pulang sekarang dan bilang ke Mommy-mu kalau begitu, agar dia tak khawatir!"
"Dad memberikan izin?" Tanya Fairel sekali lagi serelah Dad Liam memberikan jawaban.
"Ya!"
"Happy holiday, Son!"
Fairel hanya mengulas senyum tipis, sebelum kemudian panggilan Dad Liam terputus.
"Happy holiday, Iel!"
"Nikmati saja liburanmu, dan lupakan gadis bercelana kodok menyebalkan itu!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.