Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
SENGAJA


Beth dan Fairel baru menempuh setengah perjalanan ke toko ponsel, saat tiba-tiba motor Beth sedikit oleng dan terasa bergetar hebat.


"Iel!" Pekik Beth yang langsung mengeratkan pegangannya di pinggang Fairel. Beth lalu memejamkan mata, saat akhirnya Fairel berhasil menguasai laju motor, dan motir Beth bisa berhenti sempurna di tepi jalan.


"Iel!"cicit Beth yang masih mendekap Fairel dari belakang seraya memejamkan mata.


"Sepertinya ban motormu bocor," ujar Fairel yang langsung membuat Beth membuka mata, lalu menyadari posisinya yang sudah bersandar di punggung Fairel nan kekar.


Hah?


Beth buru-buru melepaskan dekapannya pada Fairel dan gadis itu sedikit salah tingkah.


"Kau bilang apa tadi?" Tanya Beth yang kemudian turun dari atas motor.


"Ban motormu bocor," ujar Fairel sekali lagi, seraya ikut turun dari motor,lalu menurunkan standart tengah motor Beth. Fairel dan Beth lalu sama-sama mengintip ke ban belakang motor yang memang tampak kempes dan ban dalamnya juga sedikit keluar.


Ya ampun!


Apa ini karena motor Beth yang tak sanggup menahan beban tubuh Beth dan Fairel?


"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Beth seraya merengut.


"Iya cari bengkel dulu agar bisa diganti bannya!" Jawab Fairel memberikan solusi, seraya kembali bangkit berdiri.


"Ayo dorong!" Perintah Fairel kemudian yang langsung membuat Beth merengut.


"Semuanya gara-gara ucapan kamu tadi!" Beth langsung menyalahkan Fairel atas ucapannya sebelum.mereka pergi tadi.


"Ucapan yang mana?" Tanya Fairel pura-pura tak ingat.


"Yang kau mengatai motorku butut lalu bakal mogok di tengah jalan!" Jawab Beth seraya menggerutu.


"Oh!"


"Aku kan tak serius tadi. Mana aku tahu kalau akhirnya benar-benar jadi kenyataan," tukas Fairel beralasan. Beth sontak berdecak dengan alasan Fairel yang selalu saja ada!


"Apa kira-kira masih ada bengkel yang buka jam segini?" Tanya Beth merasa ragu.


"Entahlah!" Fairel hanya mengendikkan kedua bahunya sembari terus mendorong motor Beth. Sementara Beth berjalan di belakang seraya membantu mendorong dari belakang.


"Itu bengkel!" Ucap Beth penuh semangat saat melihat tanda bengkel beberapa meter di depan. Namun saat Beth dan Fairel menghampirinya, rupanya bengkel sudah tutup.


"Ya ampun!" Des*h Beth merasa kecewa.


"Dorong lagi! Pasti ada yang masih buka bengkelnya!" Ucap Fairel penuh optimis.


Beth yang sebenarnya sudah kesal, akhirnya tetap mendorong motor kesayangannya tersebut, sambil berharap akan ada bengkel di depan yang buka.


Setelah berjalan hampir satu kilometer, Beth dan Fairel akhirnya bertemu dengan bengkel yang masih buka.


"Akhirnya!" Sorak Beth penuh syukur.


"Minum!" Ucap Fairel yang tiba-tiba sudah menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Beth.


Namun alih-alih langsung menerimanya, Beth malah merengut dan hanya memandangi botol air mineral tersebut.


"Masih marah?" Tebak Fairel yang sudah ikut duduk di samping Beth. Fairel kembali menyodorkan botol air mineral dingin tadi, dan kali ini Beth langsung menerimanya.


"Tentu saja aku marah! Sudah dua kali kau membanting ponselku!" Ujar Beth dengan nada bicara yang sudah bersungut-sungut.


"Iya, aku minta maaf! Nanti kita beli ponsel yang baru setelah ini! Yang sama dengan ponsel dari abangmu tadi, kan!" Tukas Fairel enteng seolah tanpa beban


Mungkin bagi Fairel, membeli ponsel hanyalah seperti membeli gorengan. Dasar pria kaya!


Fairel kemudian mengambil charger dari box ponsel yang tadi dilemparkan Beth pada pria tersebut. Setelah monta izin pada pemilik bengkel, Fairel lanjut mengisi daya batereinya yang tadi sudah sekarat.


Lima belas menit berlalu, dan motor Beth akhirnya sudah selesai ganti ban.


"Terima kasih, Pak!" Ucap Fairel yang juga sudah selesai mengisi daya ponselnya, meskipun baru terisi beberapa persen saja.


"Langsung pulang saja, Iel! Sudah jam delapan," ujar Beth seraya menunjukkan arlojinya pada Fairel.


"Tidak jadi beli ponsel baru? Besok aku belum tentu bisa mengantarmu karena aku sudah mulai ngantor," tukas Fairel yang langsung membuat Beth menggeleng dengan cepat.


"Aku pakai ponsel pemberianmu saja!" Putus Beth akhirnya seraya meraih paperbag yang tadi digantung Fairel di bagian depan motor Beth.


"Kenapa juga tidak dari tadi!" Decak Fairel yang langsung membuat Beth merengut.


"Sengaja memang! Agar kau merasakan bagaimana capeknya mendorong motor!" Sungut Beth kemudian pada Fairel yang langsung menatapnya dengan tajam.


"Apa? Mau marah?" Beth ganti mencibir-cibir pada Fairel.


Fairel masih tak menjawab dan pria itu hanya menengok ke kiri lalu ke kanan.


"Marah, gih!" Tantang Beth lagi, saat tiba-tiba tanpa aba-aba Fairel sudah menarik wajah Beth, lalu ******* bibir gadis itu hingga membuatnya membelalakkan mata.


"Masih manis seperti permen!" Ucap Fairel kemudian setelah pria itu melepaskan tautan bibirnya pada bibir Beth.


"Ayo pulang!" Ajak Fairel kemudian pada Beth yang masoh mematung karena shock dan kaget atas sikap mesum Fairel barusan.


Padahal mereka masih berada di tepi jalan dan bisa-bisanya Fairel mencium bibir Beth!


Lagi!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.