
Triiing!.
Beth refleks menoleh ke arah pintu masuk toko, saat sebuah buket bunga raksasa berjalan sendiri....
Hah?
"Kak Beth, lihat!" Shanty langsung menyenggol pundak Beth saat akhirnya pria yang membawa buket raksasa tadi sudah terlihat wujudnya.
Ya, siapa lagi kalau bukan si tuan bawel menyebalkan bernama Fairel yang sudah hampir tiga minggu ini berstatus sebagai pacar Beth!
Konyol memang! Tapi itulah kenyataannya. Beth sendiri juga masih tak paham kronologi hingga ia bisa jadian dan pacaran dengan Fairel. Bahkan kadang Beth juga masih bertanya-tanya....
Masa iya Beth dan Fairel pacaran?
Secara hampir setiap hari Beth dan Fairel itu selalu berdebat dan ribut mengenai semua hal. Meskipun ujung-ujungnya mereka akan berdamai lalu pergi ke angkringan di dekat alun-alun kota setelah toko Beth tutup.
Hhhhh! Apa memang begini orang pacaran?
"Hai! Kau merindukanku?" Tanya Fairel yang sudah menaik turunkan alisnya ke arah Beth.
"Tidak!" Jawab Beth to the point.
"Masa tidak?" Sergah Fairel yang langsung merasa tak terima.
"Hampir satu pekan aku keluar kota dan kita tak bertatap muka selama itu--"
"Tapi hampir setiap malam kita mengobrol via video call, Iel! Jadi kenapa aku harus kangen?" Potong Beth seraya geleng-geleng kepala. Beth kemudian masuk ke dapur dan meninggalkan Fairel yang masih menganga tak percaya.
"Ck!" Fairel meletakkan dengan kasar buket bunga serba ungu yang tadi ia bawa. Pria itu lalu ikut menyusul masuk ke dapur.
"Beth!" Panggil Fairel pada Beth yang kini sedang memecahkan telur ke dalam baskom.
"Awas, oven sedang menyala dan jangan memegangnya!" Ujar Beth memperingatkan Fairel setelah insiden beberapa minggu silam yang membuat semua hal menjadi runyam.
Yang pada akhirnya membuat Fairel meng-klaim Beth sebagai pacarnya hingga pria itu juga mencuri ciuman pertama Beth.
Ah, sudahlah!
"Aku sudah tahu! Kau selalu saja mengatakannya setiap aku masuk ke dapurmu!" Gerutu Fairel yang sudah menarik kursi untuk ia duduk. Pria itu lalu duduk di hadapan Beth yang masih lanjut menimbang beberapa bahan kue.
"Beth!" Panggil Fairel lagi seraya menatap ke dalam wajah Beth yang serius sekali menimbang bahan-bahan.
"Hmmm! Apa?" Jawab Beth tanpa menatap pada Fairel.
"Aku disini, Beth!" Geram Fairel seraya melambai-lambaikan tangannya pada Beth. Lebay sekali!
"Iya, aku tahu kau duduk disana! Aku sedang menimbang bahan ini," tukas Beth seraya menuang tepung ke dalam mangkuk.
"Mau membuat apa memangnya?" Tanya Fairel lagi.
"Rollcake."
"Wow! Rasa apa? Rasa bibirmu ada?" Cecar Fairel kemudian yang langsung membuat Beth menatap tajam ke arah pria mesum di depannya tersebut. Namun bukannya merasa takut atau apa, Fairel malah sudah memonyong-monyongkan bibirnya ke arah Beth.
Dasar sinting!
"Kenapa kau tidak ke kantor dan malah kelayapan kesini?" tanya Beth kemudian mengalihkan pembicaraan. Beth sudah mulai menyalakan mixer untuk mengocok telur yang nantinya akan berubah menjadi rollcake kesukaan Fairel.
"Sebentar lagi jam makan siang, jadi aku hanya memanfaat waktu dengan efektif dan efisien," jawab Fairel sembari menunjukkan arlojinya pada Beth.
"Kak Beth!" Panggil Shanty kemudian dari pintu dapur.
"Iya, Shan! Ada apa?"
"Ada Kak Rossie di depan. Mau membahas tentang wedding cake katanya," ujar Shanty yang langsung membuat Beth mematikan mixer. Kebetulan adonan telur juga sudah mengembang dan siap dicampur dengan bahan lain.
"Bisa minta dia menunggu sebentar, kah? Ini nanggung soalnya," ujar Beth pada Shanty.
"Oke, Kak!" Shanty sudah keluar lagi dari dapur dan Beth langsung melirik ke arah Fairel yang sedang meneriksa satu persatu toples berisi aneka bahan kue dinatas meja.
"Tidak keluar untuk menemui Rossie?" Goda Beth usil pada Fairel yang langsung berdecak..
"Sudah tak ada urusan dengannya!" Jawab Fairel ketus.
"Masih patah hati? Masih belum move on? Masih merasa tersakiti karena cinta bertepuk sebelah tangan," cecar Beth lagi yang langsung membuat Fairel menyalak.
"Mana ada! Aku sudah lama move on!"
"Lalu kenapa sekarang tak mau menyapa?" Tanya Beth penasaran. Beth sudah selesai memindahkan adonan rollcake ke dalam beberapa loyang. Gadis itu lalu menghentakkan loyang satu persatu sebelum memasukkannya ke dalam oven.
"Padahal dulu kau tergila-gila sekali pada Rossie, kan? Sampai sampai--"
"Kenapa kau selalu saja membahasnya, membahasnya!" Sergah Fairel lagi dengan ekspresi bersungut-sungut.
"Kau juga selalu membahas tentang masa laluku bersama Reandra, padahal...."
"Padahal aku juga sudah move on!" Sergah Beth mengungkapkan uneg-unegnya.
"Bahkan kadang kau juga cemburu tak jelas dan masih menuduhku pergi bersama Reandra, kencan bersama Reandra saat aku tak kunjung menjawab teleponmu!" Ujar Beth lagi.
"Kau pacarku, jadi wajar kalau aku cemburu!" Sergah Fairel mencari pembenaran.
"Tapi apa harus sampai berlebihan dan overposesif begitu?" Tukas Beth menyampaikan sedikit keluhannya.
"Siapa yang overpesesif dan berlebihan? Sikapku biasa saja!" Sergah Fairel yang rupanya masih tak sadar diri.
Baiklah, terserah!
Beth sudah selesai memasukkan semua loyang kue ke dalam oven, lalu gadis itu segera memasang timer agar tak lupa.
"Ayo keluar dan menyapa Rossie!" Ajak Beth kemudian yang hanya membuat Fairel mendengus.
"Aku mau disini saja menunggu rollcake ku matang!" Jawab Fairel beralasan.
"Yang sudah matang masih ada di showcase. Akan aku ambilkan--"
"Bagus! Ambilkan sekalian air mineral lalu bawa kesini! Aku mau menukmati rollcake sekalian sauna juga di depan oven," tukas Fairel lagi menyela kalimat Beth.
Beth hanya mampu menghela nafas sekarang dan mearsa malas untuk melanjutkan debatnya bersama Fairel.
"Nanti Shanty yang akan membawakan rollcake-mu kalau begitu! Aku mau menemui Rossie dulu," tukas Beth akhirnya.
"Kenapa bukan kau yang membawakan rollcake dulu, lalu baru menemui adiknya Angga itu?" Cecar Fairel yang bahkan sama sekali tak mau menyebut nama Rossie dan malah memanggilnya dengan sebutan apa tadi?
Adiknya Angga?
Ada apa dengan pria ini?
"Ck! Ambil saja sendiri kalau begitu!" Pungkas Beth sebelum akhirnya gadis itu keluar dari dapur dan tak menggubris teriakan Fairel lagi.
Terserah saja!
"Kak, ini buketnya di taruh dimana?" Tanya Shanty saat Beth baru keluar dari dapur. Beth baru ingat debgan buket bunga raksasa berwarna ungu yang tadi dibawa oleh Fairel.
"Terserah kau saja, Shan!"
"Tolong ambilkan rollcake dan minuman untuk Fairel dan bawa ke dapur, ya!" Ujar Beth memberikan perintah pada karyawannya tersebut.
"Baik, Kak!"
Beth lanjut menemui Rossie yang siang ini datang bersama Tante Sita.
"Selamat siang, Calon pengantin!"
"Calon suami mana?" Tanya Beth sedikit berbasa-basi dan menggoda Rossie.
"Di Resto," jawab Rossie dengan wajah yang sedikit tersipu.
"Kebetulan Keano sedang banyak pekerjaan tak bisa menemani Rossie kesini, Beth! Makanya Tante yang menemani," ujar Tante Sita turut menjelaskan pada Beth yang langsung mengangguk dan tersenyum.
Tiga wanita itu lalu lanjut membahas tentang wedding cake untuk pernikahan Rossie dan Keano minggu depan.
Sementara Fairel yang mengintip dari kaca pintu dapur, beberapa kali menghentakkan kaki karena kesal dan merasa diabaikan oleh Beth.
"Apa wedding cake itu lebih penting ketimbang aku yang jelas-jelas adalah pacarnya!"
"Mengambilkan rollcake juga tak mau dan malah menyuruh Shanty!" Geram Fairel lagi seraya menggigit rollcake di tangannya dengan gigitan yang lumayan besar.
"Menyebalkan kamu, Beth!" Gerutu Fairel lagi berulang-ulang hingga akhirnya pria itu menghabiskan rollcake di dalam piring yang tadi dibawakan oleh Shanty.
Fairel sedang kelaparan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.