Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
HARUS BISA!


Beth menatap lekat wajah Reandra yang kini begitu dekat dengan wajahnya. Sejuta rasa kagum sekaligus rasa yang tak bisa Beth ungkapkan dengan kata-kata, seolah melebur di dalam hati Beth.


"Kenapa kau terus-terusan menatapku seperti itu, Beth?" Tanya Reandra dengan raut heran.


"Tidak kenapa-kenapa. Kau tampan sekali malam ini," jawab Beth tanpa sedikitpun memalingkan tatapannya pada Reandra.


"Kau pandai merayu sepertinya," gumam Reandra yang langsung membuat Beth tertawa kecil.


"Tapi kau suka, kan?" Tanya Beth penuh percaya diri.


"Ya!" Jawab Reandra yang sudah mendekatkan wajahnya dengan wajah Beth. Semakin dekat dan Beth refleks memejamkan mata seolah rahu apa yang akan dilakukan oleh Reandra. Beth sudah merasakan hembusan nafas Reandra yang begitu dekat dengan wajahnya, saat tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol mereka berdua.


Adegan ciuman yang hampir terjadi diantara Reandra dan Beth pun seketika menjadi gagal terealisasi. Ditambah ponsel Beth di dalam clutch yang mendadak terasa bergetar.


"Ada telepon," ucap Beth sembari menunjukkan ponselnya pada Reandra yang langsung mendengus. Reandra tak berkomentar apa-apa dan membiarkan Beth mengangkat telepon.


"Halo, Bang!" Sambut Beth karena yang menelepon adalah Abang Timmy.


"Sudah pulang?"


"Belum, Bang? Kan baru jam--", Beth melirik arlojinya dan sedikit kaget karena ternyata sudah hampir jam sepuluh malam.


"Posisi dimana? Biar aku jemput."


"Nanti Beth pulang bareng Reandra saja, Bang!" Tolak Beth beralasan.


"Nanti jam berapa, Beth? Sudah jam sepuluh dan jam malam kamu itu hanya sampai jam sembilan. Kalau Mama dan Papa tahu--"


"Jangan lapor Mama dan Papa, Bang!" Sergah Beth memotong dengan cepat dan sedikit merengek pada sang abang.


"Pulang sekarang makanya!"


"Iya!" Jawab Beth akhirnya sedikit kesal.


"Kirim sharelock-nya dan abang jemput. Mumpung Abang masih luang dan tamu belum terlalu banyak."


"Iya!" Jawab Beth lagi masih kesal.


Telepon sudah terputus. Beth segera menyimpan kembali ponselnya, sebelum kemudian gadis itu mengedarkan pandangannya untuk mencari Reandra yang sudah tak berada di tempat semula.


"Rean!" Panggil Beth kemudian seraya menyusul Reandra yang rupanya sedang mengambil minum.


"Ya!" Jawab Reandra sedikit dingin.


"Aku harus pulang sekarang. Apa acaranya masih lama?" Tanya Beth memastikan.


"Tidak! Sudah banyak yang pulang," jawab Reandra seraya mengendikkan dagu ke beberapa tamu undangan yang memang sudah mulai meninggalkan lokasi.


"Kau akan mengantarku pulang, kan?" Tanya Beth sedikit merayu.


Reandra terlihat menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Beth.


"Ya!" Reandra melingkarkan lengannya di pinggang Beth, lalu segera mengajak Beth meninggalkan gedung acara. Saat itulah, sepasang mata menatap tak senang ke arah Reandra dan Beth yang sudah meninggalkan gedung.


Pemilik sepasang mata tadi, lalu meletakkan ponsel di telinganya dan berbicara pada seseorang.


"Cari tahu asal-usul gadis yang bersama Reandra!"


****


Setelah menempuh perjaoanan kurang dari dua puluh menit, mobil Reandra akhirnya tiba di depan rumah Beth.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Beth sedikit tersipu.


"Sama-sama!" Jawab Reandra santai yang entah mengapa malah mencondongkan tubuhnya ke arah Beth.


Beth yang seolah bisa menebak apa yang hendak dilakukan oleh Reandra, hanya diam dan tak sedikitpun melakukan pergerakan.


Wajah Reandra sudah semakin dekat, saat tiba-tiba kaca jendela mobil diketuk dari luar oleh seseorang.


"Brengsek!" Gumam Reandra yang langsung mengumpat, karena Beth yang langsung refleks menoleh ke jendela mobil untuk melihat siapa yang mengetuk.


"Abang Timmy!" Ucap Beth seraya melepaskan sabuk pengaman.


Tadi Beth memang mengirim pesan pada Abang Timmy kalau dirinya pulang bersama Reandra dan meminta sang abang untuk tak usah menjemput. Namun sepertinya Abang Timmy masih khawatir hingga pria itu menunggu Beth di rumah.


Abang Timmy membantu membukakan pintu mobil Reandra untuk Beth, saat Beth kembali berpamitan pada Reandra.


"Terima kasih sekali lagi, Re!" Ucap Beth seraya tersenyum tulus namun hanya dibalas Reandra dengan anggukan samar


Pria itu seperti sedang kesal.


Tapi kesal kenapa?


"Terima kasih sudah mengantar Beth!" Timmy ikut-ikutan berterima kasih sebelum kemudian pria itu menutup kembali pintu mobil Reandra. Tak berselang lama, Reandra sudah langsung tancap gas dan meninggalkan rumah Beth.


"Kenapa abang pulang? Katanya sedang kerja?" Cecar Beth pada Timmy.


"Memastikan saja kalau kau sudah sampai di rumah!" Jawab Timmy tegas.


"Beth sudah sampai di rumah dan Beth baik-baik saja, Bang!"


"Reandra kan memang pria yang baik," cerocos Beth yang sama sekali tak ditanggapi oleh Timmy.


Timmy sudah langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Beth yang kembali sibuk mengeluarkan ponselnya dari dalam clutch karena benda itu kembali bergetar.


"Nomor asing?" Gumam Beth sast mendapati deretan nomor asing tertera di layar ponselnya.


"Beth sudah kenyang tadi, Bang!" Jawab Beth beralasan.


Ponsel Beth sudah berhenti bergetar dan sepertinya si nomor asing tadi tak jadi menelepon. Biar saja!


"Kalau sudah kenyang, simpan makanannya di lemari pendingin agar tidak basi!" Omel Timmy yang sudah kembali masuk ke dalam rumah. Beth segera mengekori abangnya tersebut sambil melontarkan alasan lagi.


"Beth tadi buru-buru, Bang!"


"Abang jadinya mau kembali lagi ke tempat kerja?" Tanya Beth memastikan.


"Ya!"


"Aku pulang hanya untuk memastikan kalau kau sudah pulang dan sampai di rumah," jawab Tokonya yang langsung membuay Beth mengangguk. Disaat bersamaan, ponsel Beth terasa bergetar lagi dan nomor asing tadi kembali menelepon.


"Siapa, sih?" Gumam Beth yang akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon.


"Ha--"


"Beth!!"


Telinga Beth nyaris tuli saat mendengar suara keras dari seorang pria di ujung telepon. Benar-benar!


"Iya, aku Beth! Dan aku belum tuli. Jadi pelan-pelan saja memanggilnya!" Gerutu Beth pada siapapun di ujunh telepon. Entahlah! Sepertinya itu orang yang menyebalkan.


"Ngomong-ngomong, ini siapa?" Tanya Beth akhirnya agar tak salah bicara.


"Fairel Re--"


"Fairel Halley maksudku!"


"Oh, kau! Ada apa menelepon malam-malam?" Tanya Beth sedikit malas. Lagipula, darimana juga Fairel tahu nomor pribadi Beth? Perasaan yang Beth cantumkan di box kue adalah nomor kontak toko.


"Kue untuk Rossie hancur! Kau bisa memperbaikinya, kan?"


"Bisa! Pasti bisa dan harus bisa!"


Beth benar-benar harus menggaruk kepalanya sendiri saat mendengar cerocosan Fairel yang jelas-jelas tadi melontarkan pertanyaan namun malah ujung-ujungnya dijawab sendiri.


Dasar aneh!


"Beth! Kau mendengarku?"


"Ya!"


"Besok pagi kau bawa saja kuenya ke toko jam delapan--"


"Aku butuh kuenya malam ini tengah malam karena Rossie ulang tahunnya tengah malam nanti!"


"Kenapa menyuruhku ke toko besok pagi?"


"Tapi ini sudah malam!" Sergah Beth tak kalah galak dari Fairel.


"Aku akan menjemputmu ke rumah, lalu kita ke toko dan kau perbaiki kueku!"


"Tidak bisa!" Tolak Beth tegas.


"Harus bisa! Kue buatanmu tak ada yang menyamai dan kalau aku beli ke toko pasti tak ada yang menjual!"


"Yasudah! Kau belikan pacarmu kue yang di toko saja!" Tukas Beth memberikan saran.


"Tidak mau! Aku mau acara malam ini spesial jadi kuenya juga harus spesial!"


"Nanti aku tambah bayarannya jadi tiga kali lipat!"


"Ck!" Beth langsung berdecak dan menghentakkan satu kakinya karena kesal.


"Aku jemput di rumah sekarang, ya! Nanti aku pamitin ke kedua orangtuamu juga! Ini benar-benar urgent, Beth!"


"Memang kau tahu rumahku dimana?" Tanya Beth mencibir.


"Kau bisa mengirim sharelock-nya!"


Beth tak langsung menjawab dan gadis itu menatap pada Abang Timmy yang sudah bersiap kembali ke tempat kerja lagi.


"Kita bertemu saja di toko!" Ujar Beth kemudian.


"Tapi ini sudah malam--"


"Aku diantar Abangku!" Jawab Beth cepat seraya menutup telepon dari Fairel secara sepihak. Biar saja! Beth sedang kesal.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Abang Timmy heran.


"Abang jangan pergi dulu! Beth mau numpang sampai ke toko kue," pinta Beth seraya berlalu ke kamarnya. Beth akan ganti baju dulu.


"Ke toko mau apa, Beth? Ini sudah malam!" Tanya Abang Timmy seraya menyusul sang adik.


"Ada pelanggan yang mau mengambil kue untuk memberi kejutan ulang tahun pacarnya. Nanti Beth akan tidur di toko saja, Bang!" Ujar Beth sebelum gadis itu menutup pintu kamar dan menguncinya. Beth harus berganti baju.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.