Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
LUPA


Fairel berulang kali menatap ke arah pintu kamar Beth yang tertutup. Pria itu merasa sudah tak sabar untuk segera masuk ke dalam, lalu memeluk Beth yang pastilah sekarang sudah mengenakan lingerie yang tadi pagi Fairel belikan.


Ya ampun!


Kenapa pembicaraan Fairel dengan Papa Will ini tak selesai-selesai? Dan kenapa juga papa mertua Fairel ini seolah tak paham.


"Iel!" Teguran Papa Will menyentak lamunan Fairel.


"Iya, bagaimana tadi, Pa?" Tanya Fairel cepat berusaha untuk kembali fokus pada pembicaraan. Namun bukannya menjawab pertanyaan Fairel, Papa Will malah tertawa kecil sekarang.


"Sebaiknya kau mandi dan istirahat dulu saja!" Tukas Papa Will akhirnya seraya bangkit dari duduknya, lalu menepuk punggung Fairel.


"Baik, Pa! Nanti malam kita bisa lanjut membahasnya lagi sembari main catur, Pa!" Ujar Fairel sedikit berbasa-basi. Tapi mungkin nanti malam Fairel akan pura-pura lupa karena ia berniat lembur lagi malam ini.


Fairel juga akan menyediakan nasi, camilan, susu hangat, dan buah-buahan agar Beth tak pingsan lagi. Nanti kalau Beth pingsan lagi, Fairel harus memanggil Dokter Ethan menyebalkan itu lagi. Lalu secara otomatis, Dokter berkacamata itu akan meraba-raba tubuh Beth lagi seperti kemarin.


Huh! Menyebalkan!


Seharusnya yang boleh melakukan itu kan hanya Fairel yang notabene adalah suami sah Beth!


Lagipula, kenapa juga Dokter Ethan yang harus menjadi Dokter langganan di keluarga Halley? Kenapa juga tak cari dokter yang berjenis kelamin perempuan saja? Siapa kira-kira, ya?


"Iel! Kok malah bengong di sini?" Teguran Mama Tere langsung membuyarkan lamunan Fairel tentang dokter langganan di keluarga Halley yang seharusnya diganti.


Kurang kerjaan sekali Fairel sampai memikirkan hal tak penting seperti itu!


"Ini baru mau mandi dan istirahat, Ma!" Ujar Fairel seraya bangkit dari duduknya.


"Nanti kalau mau makan rollcake, ada di kulkas, ya!" Tukas Mama Tere yang langsung membuat Fairel mengangguk.


"Siap, Ma! Nanti Iel habiskan semua rollcake-nya, " seloroh Fairel kemudian seraya menuju ke kamar Beth.


Ah, Fairel sudah tak sabar untuk segera melihat Beth yang pasti akan terlihat seksi sekali saat Fairel membuka pintu kamar.


"Aku datang, Beth!" Ucap Fairel penuh semangat seraya mendorong pintu kamar Beth. Namun bukan Beth yang mengenakan lingerie yang kini Fairel lihat, melainkan sebuah pemandangan lain.....


"Iel! Kau sudah pulang?" Sapa Beth yang sama sekali belum mengenakan lingerie-nya.


"Nanti kita lanjutkan obrolan kita, Beth!" Tukas Yvone yang tadi memang sudah berada di kamar Beth saat Fairel membuka pintu kamar. Dan bukan hal itu saja yang membuat Fairel jengkel, melainkan Yvone yang bisa-bisanya berbaring di atas ranjang dan tepat disamping Beth. Tanpa jarak!


Sedang melakukan apa dua wanita ini tadi, coba?


Lalu misalnya Fairel tak menggerebek, apa mereka juga akan sama-sama saling menelanj*ngi?


Yvone sudah keluar dari kamar Beth, dan Fairel langsung menutup serta mengunci pintu kamar. Fairel lalu menatao tak senang pada Beth yang sama sekali tak menepati janjinya pagi tadi.


"Ada apa? Kenapa menatapku begitu? Merasa cemburu hanya karena aku mengobrol bersama Kak Yvone!" Cecar Beth yang kini sudah berkacak pinggang pada Fairel.


"Hanya mengobrol? Kau bahkan sudah tidur bersama Yvone tadi, Beth!"


"Dan posisi kalian itu sangat-sangat dekat, tanpa jarak. Misalnya aku tak masuk tepat waktu...." Fairel sudah mendelik lebay pada Beth.


"Maka obrolanku bersama Kak Yvone akan tetap berlanjut dan tak terpotong begitu saja," tukas Beth sembari membuka almari di hadapannya, la,u membuka benda dari kayu tersebut dan mengeluarkan baju ganti untuk Fairel.


"Mandi sana! Nanti aku temani makan," ujar Beth kemudian yang kini sudah kembali menghampiri Fairel yang masih mengerucutkan bibirnya.


"Aku tak mau mandi! Aku mau menagih janjimu siang tadi!" Fairel sudah ganti bersedekap dan menatap Beth dengan tajam.


"Janji apa?" Tanya Beth bingung dan Fairel tentu saja langsung berdecak tak percaya.


"Janjimu siang tadi, Beth! Sebelum aku pergi ke kantor!" Fairel sudah merengkuh kedua pubdak Beth dan sedikit mengguncangnya.


"Iya, janji apa? Aku benar-benar lupa?" Tanya Beth semakin bingung dan tak ingat. Beth benar-benar tak ingat sekarang. Bety berjanji apa memangnya pada Fairel siang tadi?


"Jangan pura-pura--"


"Aku benar-benar lupa, Iel!" Sergah Beth bersungguh-sungguh.


"Ck! Lalu yang kau ingat apa, hah? Berduaan bersama Yvone tadi?" Cecar Fairel kemudian dengan nada kesal.


"Kak Yvone!" Beth mengoreksi dengan cepat panggilan Fairel pada Yvone.


"Terserah!" Marah Fairel kemudian seraya melepaskan rengkuhannya p ada pundak Beth, lali pria itu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang Beth.


"Aku benar-benar tak percaya kau lupa begitu saja dengan janjimu hanya karrna kau tadi-'"


"Bisakah kau langsung to the point saja mengatakan janjiku tadi siang padamu, ketimbang kau harus merengek dan merajuk seperti bocah begini?" Sergah Beth yang kini sudah bersedekap dan sedikit merasa kesal pada Fairel yang bertingkah lebay.


"Tidak akan kukatakan, jika kau saja tak berusaha untuk membujukku!" S u ngut Fairel kemudian yang benar-benar membuat Beth ingin menjambak saja rambut suaminya tersebut.


"Berikan susu!" Jawab Fairel tetap merengut.


"Susu? Baiklah! Mau rasa stroberi, coklat, atau vanila--"


"Susumu itu maksudku!" Sergah Fairel blak-blakan yang langsung membuat Beth membelalak, lalu menatap ke dadanya sendiri.


"Kenapa? Tidak mau? Memang dasar tak ada niat untuk membujukku!" Cerocos Fairel yang kini sudah merajuk lagi.


Beth hanya menghela nafas, dan benar-benar tak habis fikir dengan isi otak Fairel. Kalau bukan hal mesum, pasti isinya hal-hal sepele yang dibesar-besarkan, lalu tiba-tiba merajuk tak jelas.


"Kau benar-benar tak mau memberikannya, Beth?" Tanya Fairel sekali lagi sembari melempar tatapan tajam pada Beth.


Beth menghela nafas sekali lagi, lalu wanita itu segera naik ke atas ranjang atau lebih tepatnya ke atas Fairel yang kini berbaring telentang. Fairel langsung bersiul dan sepertinya sudah berhenti merajuk.


"Buka!" Perintah Fairel sembari menunjuk ke kancing blouse yabg dikenakan Beth. Namun Beth sama sekali tak melakukan perintah Fairel dan wanita itu malah hanya diam saja.


"Ck!" Fairel tentu saja langsung berdecak dan pria itu akhirnya bergerak sendiri untuk melepaskan kancing blouse Beth.


"Wow!" Fairel kembali berdecak kagum seperti semalam, saat ia kembali menyaksikan gunung kembar Beth yang sepertinya sedikit lebih besar.


Apa Beth memompanya?


Fairel akhirnya memilih untuk tak memikirkan hal tersebut dan memilih fokus pada gundukan kenyal milik Beth yang kini berada di dalam genggamannya.


"Jadi, kau mau memberitahuku sekarang mengenai janjiku padamu siang tadi?" Tanya Beth akhirnya setelah Fairel puas bermain-main dengan dada Beth.


"Kau tak memakai lingerie saat aku pulang. Padahal aku sudah sangat siap untuk menerjangmu," jawab Fairel sebelum membungkam mulutnya sendiri dengan dada Beth yang begitu menggiurkan.


"Oh iya!" Beth langsung menepuk keningnya sendiri.


"Aku benar-benar lupa!" Ungkap Beth lagi sembari menatap pada Fairel yang kini begitu buas melahap kedua gubdukan kenyalnya secara bergantian.


"Iyalah lupa!" Faire menjeda sejenak kalimatnya.


"Kau sibuk berduaan bersama Yvone," lanjut Fairel sebelum pria itu melahap lagi gundukan kenyal Beth.


"Ya ampun! Ini benar-benar menggemaskan!" Gumam Fairel kemudian yang sudah membenamkan wajahnya di antara kedua gunung kembar Beth.


"Sudah, Iel!" Beth menjambak rambut Fairel dan berusaha untuk mengangkat wajah Fairel. Namun susah sekali.


"Sudah bergairah, hah?"


"Buka bajuku kalau begitu dan ayo kita bercinta lagi!" Faire akhirnya mengangkat wajahnya dari dada Beth, dan pria itu langsung mengerling nakal ke arah Beth.


"Kau belum mandi!" Beth segera mengingatkan.


"Mandikan aku kalau begitu!" Fairel memerintah Beth lagi.


"Lagipula, kenapa harus mandi sekarang, jika nanti setelah bercinta kita mandi lagi?" Ujar Fairel kemudian yang langsung membuat Beth mengendikkan kedua bahunya.


"Mungkin agar aku tak pingsan saat mencium aroma tubuhmu," gumam Beth kemudian menjawab pertanyaan Fairel tadi.


"Ck! Aku kan wangi, Beth!"


"Coba kau cium!" Fairel sudah mengangkat Kedua lengannya dan memamerkan ketiaknya yang masih tertutup oleh kemeja.


"Tidak usah! Takutnya aku nanti pingsan," tolak Beth seraya hendak turun dari atas Fairel. Namun tanpa diduga Fairel malah sudah menarik Beth secara tiba-tiba.


"Mau kemana lagi!"


"Hah!" Beth yang kaget karena ditarik tiba-tiba oldh Fairel, sontak tersungkur dan kepalanya tak sengaja membentur dagu Fairel lumayan keras.


"Aaarggghh!!"


"Beeeeth!!!" Jerit Fairel yang kini bibirnya sudah berlumuran darah.


Ya ampun!


Drama apa lagi ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.