
"Selamat pagi, Bu!" Sapa perawat yang pagi ini datang untuk memeriksa kondisi Beth.
"Pagi!" Jawab Beth sambil buru-buru mengeplak lengan Fairel yang masih melingkar di pinggangnya. Dasar!
"Hmmmmmp! Apa, Beth?" Gumam Fairel tanpa membuka matanya dannmalah semakin mengeratkan dekapannya pada Beth. Ya ampun!
"Bangun!!" Desis Beth gemas, sembari wanita itu mencubit tangan Fairel.
"Aaauuuwwww! Sakit!" Keluh Fairel yang akhirnya membuka mata dan bangun dari tidur kebo-nya.
"Ada apa, sih?" Tanya Fairel kemudian masih dengan wajah linglung dan mengantuk. Sementara perawat yang masih memeriksa Beth hanya mengul*m senyum.
"Ada apa?" Tanya Fairel lagi.
"Cuci muka sana! Dokter datang sebentar lagi!" Perintah Beth pada sang suami.
"Nasi bungkusku bagaimana? Tadi malam security tak kesini mengantar?" Cecar Fairel yang ternyata masih ingat saja pada nasi bungkusnya semalam.
Fairel memang tertidur saat menunggu nasi bungkus pesanannya datang semalam. Dan hingga nasi bungkus itu datang, Fairel tak kunjung bangun dan malah semakin mendengkur. Jadilah akhirnya Beth yang menghabiskan nasi bungkus tersebut karena saat mencium aromanya, Beth mendadak lapar.
"Beth!" Tegur Fairel yang langsung membuat Beth meringis.
"Nanti kau beli saja sendiri! Yang semalam diantar security sudah aku habiskan!" Ujar Beth membuat pengakuan sembari memamerkan deretan giginya pada Fairel.
"Kau makan? Tapi aku kan lapar!" Fairel langsung memasang wajah melas.
"Iya nanti kau tinggal makan itu!" Beth mengendikkan dagunya ke arah totebag berisi makanan yang pagi tadi diantar oleh maid. Kata maid, Mom Yumi yang memasak semuanya untuk Beth dan Fairel.
"Itu apa? Nasi bungkus juga?" Tanya Fairel yang bergegas memeriksa.
"Itu masakan Mom. Baru setengah jam yang lalu diantar oleh maid," ujar Beth yang langsung membuat Fairel berdecak kecewa.
"Aku maunya nasi bungkus, Beth!" Rengek Fairel kemudian seraya duduk di lantai, seperti bocah yang sedang merajuk.
"Kan tinggal beli!" Tukas Beth cepat.
"Belum buka jam segini!" Fairel mulai menendang-nendangkan kakinya dan Beth benar-benar harus menghela nafas, melihat tingkah absurd Fairel tersebut.
Disaat bersamaan, dokter masuk ke dalam kamar perawatan dan Fairel buru-buru bangkit berdiri lalu bersikap normal lagi.
Lah! Udahan ngambeknya?
"Pagi, Dokter!" Sapa Fairel pada dokter kandungan perempuan yang menangani Beth. Tentu saja yang meminta dokternya harus perempuan adalah Fairel. Sudahlah!
"Pagi, Pak!"
"Pagi, Bu! Tadi malam nyenyak tidurnya?" Dokter sedikit berbasa-basi sebelum lanjut memeriksa kondisi Beth. Tak lupa Beth juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar kandungannya agar ia tak lagi ceroboh atau melakukan hal-hal yang bisa membahayakan kandungannya ke depannya nanti.
Setelah menjawab semua pertanyaan Beth dan Fairel, dokter akhirnya berpamitan dan Fairel mengantar hingga ke pintu.
"Lapar!" Gumam Fairel kemudian seraya mengusap perutnya. Fairel lalu membuka totebag berisi makanan yang tadi sempat ia abaikan. Ada rollcake juga ternyata di dalamnya.
Huh! Tahu begitu sudah sejak tadi Fairel membuka dan memakannya. Tapi Fairel masih ingin makan nasi bungkus angkringan!
"Enak!" Ucapn Fairel dengan mulut yang penuh kue. Pria itu lalu menatao ke arah Beth yang kini bibirnya mengerucut.
"Tidak kenapa-kenapa!" Jawab Beth seraya bersedekap , lalu memalingkan wajahnya dari Fairel.
"Kenapa, sih?" Fairel semakin bingung dan akhirnya pria itu mendekati Beth.
"Mau rollcake?" Fairel sudah menyodorkan rollcake bekas gigitannya ke depan mulut Beth. Namun istri Fairel itu malah langsung menampiknya. Tentu saja hal tersebut membuat Fairel benar-benar bingung sekarang.
"Beth kau kenapa?" Fairel akhirnya meletakkan sisa rollcake-nya tadi dan langsung mendekat, sekaligus menangkup wajah Beth yang kini terlihat marah dan kesal.
Beth marah kenapa? Sepertinya tak sedang bercanda.
"Ish! Kau menyebalkan!" Beth tiba-tiba sudah memukuli dada Fairel.
"Menyebalkan! Genit! Tukang merayu!" Beth terus mengomel sembari memukul-mukul dada Fairel.
"Menyebalkan kenapa, Beth? Dan genit apanya? Aku merayu siapa memangnya?" Cecar Fairel bingung.
"Merayu dokter tadi! Kau juga mengantarnya sampai ke pintu sambil berkata-kata dengan genit, 'terima kasih, Dokter!'" Beth menirukan ucapan Fairel tadi pada dokter yang memeriksa dirinya.
"Padahal biasa saja ngomongnya kan bisa!" Gerutu Beth lagi.
"Dasar menyebalkan! Menyebalkan! Pergi sana!" Usir Beth kemudian seraya mendelik galak pada Fairel yang langsung garuk-garuk kepaa.
Beth habis kesambet hantu apa, ya? Kok mendadak sikapnya jadi lebay tak jelas begini?
"Tapi perasaan aku tadi ngomongnya--"
"Genit sekali!" Sergah Beth memotong.
"Bukan! Aku tak genit sama sekali!" Sanggah Fairel cepat.
"Iyalah tidak mau mengaku!" Beth sudah ganti bersedekap seraya merengut.
"Beth, aku bingung. Kenapa mendadak sikapmu jadi aneh dan lebay begini-"
"Lalu kenapa? Kau tidak suka?" Beth langsung menyalak galak pada Fairel. Bukanka biasanya yang suka menyalak-nyalak dan bicara bersungut-sungut begitu adalah Fairel? Lalu kenapa Beth sekarang jadi ikut-ikutan? Benar-benar sulit dimengerti!
"Aku lapar!" Fairel akhirnya mrmilih untuk tak menanggapi kemarahan Beth. mungkin istri Fairel itu memang sedang PMS.
Eh, tapi kan Beth hamil! Jadi, mana mungkin PMS?
"Kau akan menghabiskan rollcake itu tanpa membaginya denganku?" Tanya Beth kemudian tetap dengan nada galak dan bersungut.
"Kau mau? Makan!" Fairel segera menyuapi Beth sembari mebgerling genit. Namun di luar dugaan, Beth yang sudah membuka mulut dengan sangat lebar tiba-tiba ikut men-caplok tangan Fairel yang sedang menyuapinya.
"Beeeeth! Kenapa tanganku ikut kau makan?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.