Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
SESUMBAR


Fairel masih mengusap-usap tangannya yang tadi dicaplok serta digigit okeh Beth. Bisa-bisanya istri Fairel itu melakukan hal barbar seperti tadi. Kalau tangan Fairel infeksi bagaimana, coba?


"Kenapa, sih? Lebay!" Cibir Beth kemudian pada Fairel yang langsung merengut.


"Tanganku sakit, Beth! Kenapa kau sekarang berubah jadi kanibal dan hendak memakan tanganku?" Cerocos Fairel yang langsung mengajukan protes.


"Aku kanibal? Kau itu yang pertama jadi kanibal! Setiap malam juga suka melahap dan menggigiti dadaku sampai merah-merah!" Balas Beth blak-blakan sekaligus bersungut-sungut.


"Dadamu kenyal dan menggiurkan."


"Cup cup cup!" Fairel sudah memonyong-monyongkan bibirnya seperti bayi yang hendak menyusu. Bayi tua mungkin lebih tepatnya!


"Aku boleh menghisapnya lagi, Beth?" Tanya Fairel kemudian dengan nada merayu dan menggoda. Pria itu juga sudah mendekat ke arah Beth yang langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Tidak! Kan kata dokter tak boleh!" Beth beringsut mundur untuk menghindari bibir Fairel yang masih monyong-monyong tak jelas.


"Nanti kalau kau hisap-hisap, perutku akan kontraksi! Kau mau hal buruk--"


"Sssshhhhh!!" Fairel langsung membungkam mulut Beth.


"Jangan bicara hal-hal yang tak baik, karena ucapan adalah doa!"


"Sehat-sehat anaknya Dad, ya!" Fairel lanjut mengusap perut Beth, lalu juga menciuminya berulang kali.


"Dad menyayangi dan menantikan kau lahir ke dunia....." Fairel berpikir beberapa saat.


"Berapa bulan lagi, Beth?" Tanya Fairel kemudian yang mendadak bingung.


"Tujuh setengah bulan," jawab Beth seraya terkikik.


"Ah, iya! Tujuh setengah bulan lagi! Tumbuh sehat di dalam, Sayangku!"


"Mmmuuuaaah Mmmuuuaaah!" Fairel kembali menciumi perut Beth berulang-ulang yang tentu saja sedikit menimbulkan sensasi geli di perut Beth.


"Dad menyayangimu!" Pungkas Fairel kemudian.


"Mami juga!" Timpal Beth cepat.


"Kok Mami, sih? Mommy!" Sergah Fairel mengoreksi.


"Kan sama saja!" Gumam Beth seraya berdecak.


"Bedalah! Mommy dan Mami! Itu beda, Beth! Dan aku maunya panggilan anak kita ke kita berdua ke depannya adalah Mom dan Dad! Bukan Mami dan Papi!"


"Bukan!" Fairel membentuk tanda silang besar memakai tangannya.


Astaga! Hal seperti itupun dia permasalahkan!


"Baiklah, terserah! Sekarang aku mau makan mangga yang kemarin dibawakan Mom--"


"Pagi!"


Beth belum selesai bicara, saat Mom Yumi dan Dad Liam sudah datang dan masuk ke dalam kamar perawatan. Panjang umur sekali!


"Pagi, Mom!" Sambut Beth yang langsung tersenyum sumringah. Mom Yumi bergegas memeluk Beth, setelah wanita paruh baya itu memberikan sebuah buntalan besar pada Fairel.


Berat sekali!


Apa Mom Yumi baru saja membawa bom?


"Ini apa, Mom?" Tanya Fairel kemudian seraya membuka buntalan tas kain tadi. Rupanya berisi buah-buahan segar termasuk mangga yang tadi baru saja diidam-idamkan oleh Beth.


Tapi kenapa Mom Yumi malah tudak membawa rollcake atau nasi bungkus yang Fairel inginkan, ya? Padahal Fairel kan juga sedang ngidam!


"Apa itu mangga, Iel?" Tanya Beth setelah melihat Fairel membongkar bawaan Mom Yumi tadi.


"Ya!" Jawab Fairel sedikit merengut.


"Bisa tolong kau kupaskan untukku?" Pinta Beth seraya memasang puppy eye.


"Kupaskan, Calon Dad! Lalu setelah itu kau bjsa pergi ke kantor!" Ujar Dad Liam seraya menepuk punggung Fairel.


"Ke kantor, Dad? Tapi kan Iel sedang menjaga Beth! Bagaimana nanti kalau Beth butuh sesuatu?" Sergah Fairel memaparkan alasan panjang kali lebar.


"Mom yang akan menjaga Beth sampai kau pulang, Iel! Jadi tak perlu cemas!" Tukas Mom Yumi cepat.


"Tidak ada tapi-tapi! Kemarin kau juga sudah bolos setengah hari!" Ujar Dad Liam lagi dengan tatapan tegas.


"Tapi Iel masih ngidam, Dad!"


"Hoeek!" Fairel tiba-tiba berakting mual di depan Dad Liam.


"Iel mau muntah dulu!" Pamit Fairel kemudian seraya berlalu ke arah toilet.


"Dia kenapa?" Dad Liam langsung menatap penuh tanya ke arah Mom Yumi.


"Seperti kau dulu! Mual dan muntah saat aku hamil!" Jawab Mom Yumi seraya tertawa kecil.


"Kok bisa?" Dad Liam langsung mengernyit bingung.


"Namanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Dad Liam! Mungkin nanti saat Beth melahirkan, Iel juga akan pingsan seperti kau dulu," ujar Mom Yumi kemudian yang langsung membuat Dad Liam berdecak.


"Siapa yang pingsan, Mom?" Sahut Fairel yang rupanya sudah selesai muntah-muntah. Entah benar muntah-muntah atau hanya sekedar akting belaka!


"Dad kamu dulu! Saat Mom--"


"Sudah tak usah dibahas!" Sergah Dad Liam memotong dan menyela.


"Saat Mom melahirkan Iel, ya? Dad payah!" Cibir Fairel kemudian pada Dad Liam.


"Ck! Nanti kamu juga palingan pingsan saat melihat Beth melahirkan!" Sergah Dad Liam yang balik mencibir sang putra.


"Tidak akan! Iel nanti akan merekam detik-detik kelahiran anak Iel, Dad! Dan Iel tak akan pingsan!" Tukas Fairel sesumbar.


"Merekam? Kau akan merekam bagaimana anakmu keluar?" Beth langsung menatap tak percaya pada Fairel.


"Kenapa memangnya? Kan itu moment penting seumur hidup, Beth!" Ujar Fairel beralasan.


"Tapi tak usah direkam juga, Iel! Kan malu!" Desis Beth yang langsung membuat Mom Yumi angkat bicara.


"Kau bisa merekam moment serelah bayinya krluar nanti, Iel! Bukan saat bayinya hebdak keluar! Kau harus mendampingi Beth dan memberikannya semangat di detik-detik bayi akan keluar!"


"Betul itu!" Timpal Dad Liam seraya manggut-manggut.


"Apanya yang betul? Bukannya Dad pingsan saat Mom melahirkan? Jadi bagaimana Dad memberikan dukungan?" Cecar Fairel dengan nada meledek yang langsung membuat Dad Liam berdecak.


"Kan Dad pingsannya setelah kau keluar! Dad phobia pada darah Mommy-mu yang banyak sekali!" Sergah Dad Liam beralasan yang malah justru membuat Fairel terkekeh.


"Phobia darah!" Cibir Fairel kemudian.


"Nanti Dad akan merekam detik-detik kau pingsan saat Beth melahirkan!" Sergah Dad Lian lagi mulai kesal.


"Iek tak akan pingsan, Dad! Iel kan tak selemah Dad!" Sahut Fairel yang kembali sesumbar.


"Kita lihat saja nanti! Kalau benar kau tidak pingsan, Dad akan--"


"Memberikan Iel cuti satu bulan setelah Beth melahirkan!" Sergah Fairel cepat.


Dad Liam berpikir sejenak sebelum kemudian mengangguk.


"Oke! Dad akan memberikanmu cuti satu bulan jika kau tak pingsan saat Beth melahirkan! Tapi jika kau pingsan, maka cutimu hanya satu hari!" Putus Dad Liam akhirnya membuat sebuah kesepakatan.


"Hanya satu hari?" Fairel langsung ternganga tak percaya.


"Tidak adil sekali!" Gumam Fairel kemudian seraya berdecak.


"Tadi katanya tidak akan pingsan! Lalu kenapa harus khawatir?" Cibir Dad Liam yang langsung membuat Fairel berdecak sekali lagi.


"Iya juga! Iel akan mendapatkan cuti satu bulan nanti setelah Beth melahirkan!" Tukas Fairel penuh percaya diri yang hanya membuat Dad Liam mencibir.


Sementara Mom Yumi dan Beth yang sejak tadi menyaksikan perdebatan dua pria di keluarga Halley tersebut langsung bertukar pandang kemudian geleng-geleng kepala. Dad dan anaknya ternyata sama saja!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.