Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
TAK BISA TIDUR


Tok tok tok!


Beth bergegas membuka pintu kamar, dan langsung mendapati Abang Timmy yang berdiri di depan kamarnya.


"Ini!" Abang Timmy mengangsurkan kantong plastik berisi obat untuk Fairel.


Ya, tadi setelah resep dari Ethan dikirim, Beth sebenarnya ingin pergi sendiri ke apotek untuk membeli obatnya. Namun tentu saja Fairel langsung mencegah dengan sejuta satu alasan. Beth akhirnya berinisiatif untuk meminta tolong abang Timmy saja, mumpung abang Beth itu juga masih diluar.


"Terima kasih banyak, Bang!" Ucap Beth kemudian pada sang abang.


"Sakit apa sebenarnya Fairel?" Abang Timmy tampak penasaran.


"Bibirnya tak sengaja membentur kepala Beth tadi. Makanya ada robekan sedikit di dalam dan sempat berdarah juga...." Beth masih menjelaskan saat abang Timmy malah sudah tertawa seraya geleng-geleng kepala.


"Ada-ada saja kalian berdua ini!" Tukas Abang Timmy sebelum kemudian abang Beth itu berlalu pergi dan masuk ke kamarnya.


"Bukan Beth yang kerap bersikap lebay, Bang! Tapi Iel," gumam Beth sseraya menutup pintu kamar.


"Kunci sekalian pintunya, Beth!" Perintah Fairel yang membuat Beth terlonjak dan jantungnya nyaris melompat keluar.


Tadi kan Fairel sudah tidur? Kenapa sekarang bangun lagi?


"Kok bangun lagi? Kau tadi bukannya sudan tidur?" Tanya Beth bingung sembari wanita itu mengunci pintu kamar.


"Aku mendadak tak bisa tidur karrna bibirku terasa nyut-nyutan dan sepertinya bibirku juga menebal." Faire sudah bangkit dari atas ranjang, lalu pria itu bercermin di meja rias Beth dan langsung menjerit lebay.


"Hah!"


"Apa? Ada apa?" Cecar Beth yang buru-buru menghampiri Fairel.


"Kenapa bibirku jadi--"


"Jadi seperti habis disengat lebah, hah?" Ledek Beth seraya tergelak.


"Beth jangan tertawa!" Fairel langsung menarik lengan Beth hingga istrinya itu terduduk di pangkuannya.


"Kau apakan bibirku tadi?" Sergah Fairelyang masih meraba-raba bibirnya.


"Tak aku apa-apakan! Itu efek benturan dan luka tadi. Nanti juga kempes sendiri," tukas Beth menenangkan sang suami.


"Kalau tidak kempes bagaimana? Nanti dikira aku habis disengat lebah---"


"Ada masker yang bisa menutupinya kalau besok belum kempes, Iel!" Beth sudah membuka laci di meja rias yang berisi satu kotak masker.


"Tapi biasanya semalam juga sudah kempes," imbuh Beth lagi seraya menutup kembali laci yang tadi ia buka.


"Tahu darimana? Kau saja belum pernah mengalami yang seperti ini!" Sergah Fairel yang langsung membuat Beth mengendikkan kedua bahunya.


"Hanya menerka-nerka."


"Cepat minum obat agar besok kempes!" Perintah Beth kemudian sembari bangkit dari pangkuan Fairel. Beth lalu mengambil kantung plastik berisi obat dan membawanya ke hadapan Fairel.


"Tadi yang memberikan Kak Yvone atau Abang Timmy?" Tanya Fairel yang sudah memicing curiga.


"Abang Timmy!" Jawab Beth cepat sembari berdecak.


"Obatnya diminum semua?" Tanya Fairel lagi sembari memperhatikan satu persatu obat yang dikeluarkan oleh Beth dari kantung plastik.


"Tentu saja tidak! Ada obat luar yang untuk dioles!" Terang Beth yang tangannya sudah menunjuk ke tube salep di atas meja.


"Yang pil ini pahit tidak?" Tanya Fairel kemudian yang ekspresinya sudah lebay lagi.


"Mana aku tahu! Tapi kalau pil biasanya pahit," kikik Beth yang langsung membuat Fairel merengut.


"Aku tak usah minum yang pil kalau begitu!"


"Jangan begitu! Nanti lukamu tak sembuh-sembuh!" Beth berusaha membujuk sang suami.


"Tapi kata kamu lukaku tak dalam! Jadi tak usah minum obat!" Tukas Fairel keras kepala yang lagi-lagi hanya mampu membuat Beth menghela nafas.


"Kau oleskan saja salepnya!" Perintah Fairel lagi sembari menyodorkan tube salep tadi pada Beth.


"Janji dulu!" Beth ganti menyodorkan kelingkingnya pada Fairel.


"Janji apa?" Tanya Fairel bingung.


"Janji kau tak akan menangis, menjerit, merengek, dan--"


"Kalau rasanya sakit, tentu saja aku akan meringis!" Sergah Fairel cepat.


"Hanya meringis dan jangan menjerit lebay seperti tadi!" Beth memperingatkan Fairel.


"Kenapa memang kalau aku menjerit lebay? Kau takut dengan jeritanku?" Kekeh Fairel yang langsung membuat Beth memutar bola matanya.


"Telingaku pekak mendengar suaramu!" Ujar Beth blak-blakan sembari membuka kemasan tube salep di tangannya. Beth kemudian mengambil sedikit salep transparan tersebut dan mulai mengoleskannya di bibir Fairel dengan lembut dan hati-hati.


Lembut dan hati-hati!


Kalau Fairel masih menjerit-jerit tak jelas, Beth akan menyuruh pria ini untuk melakukannya sendiri.


"Sakit?" Tanya Beth sedikit khawatir karena tumben Fairel hanya diam dan tak mengeluarkan salah satu dari deretan ekspresi lebay-nya.


"Sakit tidak? Kok tumben diam?" Cecar Beth kemudian yang sudah selesai mengaplikasikan salep tadi di bibir Fairel.


"Aku menjerit kau marah, aku diam pun salah. Lalu aku--"


"Bukan menyalahkan!" Beth langsung menangkup wajah Fairel dengan cepat.


"Bibirmu seksi sekali," kikik Beth kemudian yang langsung membuat Fairel merengut.


"Aku jadi tak bisa mencecap bibir manismu malam ini!" Keluh Fairel kemudian ssmbari tangannya meraba dan memainkan bibir Beth yang beberapa hari belakangan ini menjadi candu baru untuknya.


"Aeem!" Beth tiba-tiba sudah melahap jari Fairel yang tadi bermain-main di bibir wanita itu. Terang saja hal terssbut langsung membuat Fairel mengumpat dalam hati, karena miliknya di bawah sana juga langsung ikut menegang.


Tapi kalau Fairel tak menuntaskan hal tersebut sekarang, kepalanya pasti akan sakit semalaman dan Fairel juga tak akan bisa tidur.


Ya ampun! Ini benar-benar kegalauan yang menjengkelkan!


"Kenapa melamun?" Teguran Beth langsung membuyarkan lamunan Fairel.


"Kenapa kau memancingku, Beth?" Fairel sudah menatap Beth dengan tatapan layaknya orang sedang menderita.


"Memancing apa? Masa iya hanya gara-gara aku melahap jarimu, milikmu langsung--" Beth meraba milik Fairel yang masih terbungkus celana dan langsung menghentikan kalimatnya saat mendapat milik Fairel yang memang sudah mengeras.


"Aku membayangkan milikku yang masuk ke dalam mulutmu," ungkap Fairel blak-blakan sembari mengusap bibir Bety. Fairel benar-benar ingin mencecapnya sekarang, tapi bibir Fairel seolah tak mengizinkan.


Bibir sialan!


Kenapa juga Fairel harus mengalami hal mengesalkan ini di momen yang tak tepat!


"Aku masih bertanya-tanya, kenapa para pria suka sekali miliknya dilahap oleh pasangannya?" Cerocos Beth yang sudah turun dari pangkuan Fairel, lalu ganti bersimpuh dan membuka celana yang Fairel kenakan.


"Karena sensasinya menyenangkan," jawab Fairel, sebelum kemudian pria itu tampak berpikir.


"Sebentar! Kau tadi menyebut para pria? Sudah berapa pria memangnya yang kau lahap anunya?" Cecar Fairel kemudian dengan nada bicara yang sudah meninggi.


"Maksudnya berapa pria? Aku bahkan baru melakukannya sekali saat kemarin kau memaksaku!" Jawab Beth blak-blakan.


"Lalu kenapa kau tadi bisa bertanya tentang semua pria yang suka miliknya di lahap?" Fairel sudah memicing penuh selidik pada Beth.


"Karena di video-video itu--" Beth langsung membungkam mulutnya sendiri yang keceplosan.


"Video?" Fairel langsung menyeringai penuh makna dan tentu saja hal ini membuat Beth merasa kesal. Kenapa juga Beth tadi bisa keceplosan?


"Aku hanya menontonnya sekali untuk menambah pengetahuan," ungkap Beth sebelum Fairel mencecarnya lebih jauh.


Lagipula, Beth rasa hal tersebut tak berlebihan! Usia Beth juga sudah seperempat abad dan Beth bukan lagi anak-anak di bawah umur!


"Menonton sekali tapi pasti langsung beberapa video yang kau tonton," kekeh Fairel kemudian yang langsung membuat Beth merengut.


"Seperti kau tak pernah melakukannya saja!" Beth akhirnya punya jawaban atas ledekan Fairel tadi.


"Tapi kan kemarin aku sudah mengaku--"


"Ini jadinya kau mau mengajakku bercinta atau berdebat tak jelas?" Sergah Beth memotong kalimat Fairel.


"Tanyakan pada tanganmu yang sejak tadi tak berhenti mengurut milikku itu!" Faire mengendikkan dagunya ke arah tangan Beth yang sejak tadi memang sudah menggenggam milik Fairel sembari mengocoknya....


Sial! Ini benar-benar gerakan refleks dan di luar kendali Beth!


"Ini kan gerakan refleks!" Beth segera membuat penyangkalan meskipun tangannya tetap masih tak mau berhenti melakukan hal 'nakal' tadi.


"Lahap kalau begitu!" Titah Fairel sembari menatap Beth dengan tatapan 'ingin'.


"Kau sudah mencucinya tadi? Aku tak mau kalau masih ada bau pesing," Beth segera mengendus area di sekitar milik Fairel


"Aku tak sejorok itu, Beth!" Geram Fairel yang malah membuat Beth terkikik.


"Kau benar! Aromanya wangi."


"Hanya sedikit gondrong tapi semoga aku tak bersin." Beth masih terus bercerocos meskipun wanita itu sudah mulai melahap milik Fairel.


"Kau bantu mencukurnya kalau memang menurutmu gondrong!" Decak Fairel sebelum kemudian pria itu merem melek saat miliknya mulai menyentuh langit-langit mulut Beth yang hangat dan basah.


Ouuuhhh!! Rasanya tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata!


Beth menatap wajah Fairel yang kini tampak sangat-sangat menikmati. Wanita itu lalu memainkan lidahnya untuk membelai ujung dari milik Fairel.


"Aaarrgghhh, Beth!!" Fairel mengerang penuh kenikmatan, sembari tangannya menjambak rambut Beth. Fairel lalu mengumpulkan rambut Beth menjadi satu dan mulai menggeliat lagi, saat mulut Beth mulai bergerak lagi untuk menghisap-hisap miliknya, layaknya sebuah lolipop.


"Terus, Beth!!" Fairel mengerang dengan semakin tak terkendali, membuat Beth semakin bersemangat untuk mengul*m milik suaminya tersebut.


"Aaaargghhh!"


"Emmppphhh! Kau benar-benar ahli, Beth!" Fairel terus meracau kesana kemari dan matanya tetap merem melek.


Seharusnya Beth merekam hal menarik ini, agar nanti saat Fairel meledeknya, ia jadi punya bahan untuk membalas!


Ah, tapi ponsel Beth tadi dimana, Beth lupa menaruhnya.


"Beth--"


"Emmpphh!!"


"Aaarrgghhh!!" Fairel tiba-tiba sudah mengerang panjang bersamaan dengan semburan cairan hangat yang kini terasa memenuhi mulut dan tenggorokan Beth.


Beth langsung membelalakkan kedua matanya dan diam sejenak, saat milik Fairel menyemburkan lagi sisa-sisa cairannya dengan barbar.


"Huh!" Fairel tampak bernafas lega sekarang. Berbeda dengan wajah Beth yang sudah memucat.


"Beth," Fairel menatap wajah sang istri yang masih pucat dengan kedua pipi yang menggembung.


"Kau baik-baik saja, Beth? Kenapa wajahmu--" Pertanyaan Fairel belum selesai, saat Beth tiba-tiba sudah berdiri dengan cepat, lalu berlari ke dalam kamar mandi dan muntah-muntah.


"Beth kau kenapa?"


.


.


.


Keracunan! 😂😂


Terima kasih yang sudah mampir.