
"Dad tahu kalau keinginanmu untuk memiliki Rossie itu sebenernya hanya sepuluh persen cinta dan sembilan puluh persen sisanya adalah gengsi!"
"Kau hanya gengsi dan takut kalah saing dari Keano! Makanya kau selalu mengejar-ngejar Rossie seperti orang gila."
"Ck! Siapa juga yang gengsi pada Keano menyebalkan!" Gerutu Fairel saat kalimat nasehat dari Dad Liam tempo hari kembali berputar-putar di kepalanya.
"Aku lebih tampan dari Keano!" Dengkus Fairel lagi seraya bangun dari atas kasur,lalu menatap pada bayangan wajahnya di cermin.
"Aku tampan!"
"Dan jika Rossie lebih memilih Keano..." Fairel tak melanjutkan kalimatnya dan pria itu mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
"Berarti Rossie memang tak bisa melihat ketampananku!" Teriak Fairel akhirnya dengan nada kesal.
"Kau harus move on, Iel!"
"Carilah wanita lain di luaran sana! Wanita di dunia ini bukan hanya Rossie semata! Dan duniamu juga tak akan kiamat hanya karena kau tak jadi memiliki Rossie!"
Nasehat Dad Liam yang lain ikut berkelebat di kepala Fairel.
"Move on?" Fairel bergumam pada dirinya sendiri, lalu pria itu kembali mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur dengan kasar.
"Move on?" Fairel tertawa sumbang seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan kebodohannya yang selama ini selalu mengejar-ngejar Rossie yang bahkan tak sedikitpun menghiraukannya.
"Aku akan move on!" Tekad Fairel kemudian.
"Aku akan membuktikan pada Keano menyebalkan itu kalau aku bisa mendapatkan gadis yang seribu kali lebih baik dan lebih cantik dari Rossie!" Gumam Fairel lagi seraya mengangguk-angguk dan membulatkan tekad di dalam hatinya. Disaat bersamaan, ponsel Fairel mendadak berderinh.
Nama Ryan tertera dengan jelas di layar ponsel.
"Apalagi sekarang? Ryan mau meledekku?" Gerutu Fairel seraya mengangkat telepon dari Ryan.
"Halo!" Sapa Fairel galak.
"Kenapa kau membentakku? Aku bahkan belum bicara apapun."
"Ck!" Fairel langsung berdecak dan menyugar kasar rambutnya.
"Ada apa?" Tanya Fairel akhirnya sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Foto-foto yang semalam kau kirim tak sengaja terhapus sebelum aku pindahkan ke laptop--"
"Bodoh!" Maki Fairel pada sang sepupu.
"Iya! Terima kasih pujiannya!" Suara Ryan terdengar ketus.
"Bisa kau kirimkan ulang? Aku akan mengerjakannya sebelum datang ke acara pertunangan Reina sore nanti."
"Memangnya istrimu sudah sehat? Kenapa memaksa datang kalau istrimu masih terbaring tak berdaya--"
"Sial! Nona sudah sehat dan sudah beraktivitas dengan normal!"
"Iya, aku hanya tanya dan tak perlu bersungut begitu!" Sungut Fairel yang langsung membuat Ryan berdecak di ujung telepon.
"Kau juga bicara sambil bersungut-sungut seperti gadis sedang PMS saja! Apa Rossie baru sana memutuskan--"
Fairel langsung menutup telepon dari Ryan karena pria itu membawa-bawa Rossie.
Lagi!
Brengsek memang Azzaryan Andreas itu!
Fairel akan minta pada Dad Liam agar me-mutasi Ryan ke planet Mars!
Ping!
Pesan dari Ryan masuk ke ponsel Fairel dan bukan hanya satu pesan saja. Ada sekitar sepulih pesan yang isinya sama semua.
[Kirimkan foto-fotonya, Iel] -Ryan-
Fairel langsung mendengus dan tak berhenti memaki sepupunya tersebut. Lagipula apa maksud Ryan mengirimkan pesan berderer-deret begitu? Mau meneror Fairel?
Sedikit malas, namun jari Fairel akhirnya tetap bergerak untuk membuka galeri ponselnya dan mengirim ulang foto-foto yang kemarin ia kirimkan pada Ryan.
Masih bagus Fairel belum menghapus semua fotonya!
Selesai mengirim satu album foto pada sepupunya yang menyebalkan, Fairel lalu menutup aplikasi galeri. Namun kemudian jari Fairel malah tak sengaja meng-tap rekaman video saat dirinya dan Reandra mengobrol di airport pagi tadi.
Fairel akhirnya memutar kembali video rekaman tersebut dan mendengarkan percakapan bersama Reandra.
"Oh, iya! Aku kan mau membuat si tukang kue itu serangan jantung," gumam Fairel yang baru ingat dengan video bukti perselingkuhan Reandra tersebut.
"Aku pikir kau berpacaran dengan si tukang kue."
"Kau sudah punya pacar, Honey?"
"Belum! Aku masih jomblo!"
Video sudah berhenti dan Fairel berpikir sejenak.
"Aku akan makan rollcake saja untuk meredam stress," gumam Fairel kemudian seraya bangkit berdiri, lalu berganti baju dan sedikit menyisir rambutnya yang berantakan.
"Fairel lalu meraih dompet dan kunci mobil, sebelum keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
Tepat saat Fairel hampir sampai di lantai bawah,sudah ada Reina yang sepertinya sedang ditegur oleh Mom Yumi karena kelayapan tak jelas di hari pertunangannya.
"Reina hanya jalan-jalan, Mom!"
"Jalan-jalan atau dari apartemen Angga?" Celetuk Fairel sok tahu, seraya menatap penuh selidik pada Reina yang wajahnya juga kusut.
Seperti ada beban berat yang ditanggung oleh Reina. Padahal malam ini kan malam pertunangannya dengan Angga. Lalu kenapa Reina terlihat tertekan?
"Abang kapan pulang?" Sergah Reina yang hebdak menghambur ke pelukan Fairel. Namun Fairel sudah menghindar dengan cepat.
"Aku sedang tidak mau dipeluk!" Ketus Fairel yang langsung membuat Reina merengut.
"Aku sedang badmood!" Ucap Fairel lagi sebelum kemudian pria itu lanjut menuruni tangga dan meninggalkan Reina yang hanya bergumam tak jelas. Reina juga langsung naik ke atas menuju ke kamarnya.
"Kau mau kemana, Iel?" Tanya Mom Yumi seraya menahan lengan Fairel yang sudah hendak pergi.
"Cari angin, Mom!" Jawab Fairel tanpa menatap pada Mom Yumi.
"Cari angin kemana? Kau baru sampai rumah, dan Mom perhatikan wajahmu juga murung sama seperti Reina."
"Kalian berdua sebenarnya kenapa?" Cecar Mom Yumi yang kini sudah ganti merengkuh kedua pundak Fairel.
"Nanti saja Iel cerita pada Mom!"
"Iel harus menemui Ryan," ujar Fairel akhirnya beralasan.
Fairel melepaskan perlahan tangan Mom Yumi dari pundaknya, lalu pria itu segera berlalu. Namun saat melihat dekorasi untuk pertunangan Reina yang sudah selesai di pasang, Fairel mendadak ingat pada sesuatu dan pria itu segera menghentikan langkahnya.
"Mom! Kue untuk acara nanti malam sudah diambil?" Tanya Fairel seraya menoleh pada Mom Yumi.
"Sudah diambilkan Keano tadi."
"Ck! Kenapa tidak menyuruh Iel saja?" Protes Fairel yang langsung berdecak berulang-ulang.
"Mom pikir kau pulangnya sore dan tak akan sempat mengambil kue ke toko. Beth juga tidak bisa mengantar,karena belum tahu alamat rumah ini," tukas Mom Yumi panjang lebar.
Fairel kembali mendengus dan pria itu segera melanjutkan langkahnya ke garasi mobil, meninggalkan Mom Yumi yang hanya geleng-geleng kepala!
****
[Ini alamat lengkap rumah Reina, Beth! Maaf, tadi aku lupa memberitahu] -Rossie-
Beth hanya menghela nafas, setelah membaca pesan dari Rossie. Padahal Beth sudah berniat untuk tak datang malam ini ke acara pertunangan Reina dan Angga. Beth khawatir kalau Reina masih menaruh rasa curiga padanya.
Masih lekat di ingatan Beth tentang kesalahpahaman Reina beberapa minggu lalu saat gadis itu mengura kalau Beth adalah selingkuhannya Angga.
Hahaha! Konyol!
"Aku harus beralasan apa, ya?" Beth bertanya pada dirinya sendiri, sembari menatap pada cake depannya yang sedang ia dekor. Beth baru selesai merapikan buttercream yang menyelimuti cake tersebut.
Ping!
Ponsel Beth kembali berbunyi, saat Beth masih sibuk memikirkan alasan untuk tak datang ke pertunangan Angga dan Reina.
Ada pesan masuk dari....
Yvone?
"Ck! Ada apa lagi?" Gerutu Beth yang tadinya ingin mengabaikan saja pesan dari Yvone. Namun jari Beth malah tak sengaja membuka pesan Yvone. Ssbuab foto langsung ter-download dan Beth Benarkah kaget dibuatnya.
[Beth, Abangmu kecelakaan.] -Yvone-
Beth langsung membelalakkan kedua matanya. Gadus itu buru-buru melepaskan celemek dan jeluar dari dapur toko.
"Shanty!" Beth memanggil Shanty yang masih melipat kardus untuk tempat kue.
"Iya, Kak! Ada apa?"
"Kau urus dulu cake yang tadi belum aku selesaikan, lalu kau tutup tokonya, ya! Aku harus buru-buru pergi!" Ujar Beth dengan kalimat yang sudah belepotan.
"Iya, Kak! Nanti kuncinya--"
"Antar saja ke rumah Mama!" Pesan Beth sembari berjalan ke arah pintu utama toko.
"Kak Beth! Kunci motor!" Seru Shanty seraya berlari mengejar Beth yang sudah menepuk keningnya sendiri.
"Hati-hati, Kak!" Pesan Shanty seraya mengangsurkan kunci motor Beth.
"Iya!" Jawab Beth sembari tangannya mengetik pesan balasan pada Yvone.
[Kirimkan alamat rumah sakitnya, Yv!] -Beth-
Tak berselang lama, pesan dari Yvone kembali masuk, berisikan alamat sebuah rumah sakit.
Beth tak menunggu lagi dan segera memacu motornya ke rumah sakit tempat Abang Timmy dirawat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.