
"Kak Beth," panggil Shanty pada Beth yang masih fokus mengerjakan dekorasi untuk wedding cake Abang Timmy.
"Iya, Shan!"
"Pulang saja kalau memang sudah jam pulang," ujar Beth tanpa melihat ke arah sang karyawan.
"Baik, Kak!"
"Tapi ngomong-ngomong, di depan ada Pak Fairel, Kak!" Tukas Shanty kemudian memberitahu Beth.
Beth langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Shanty.
"Fairel?"
Shanty langsung mengangguk.
"Sudah lama?" Tanya Beth lagi.
"Baru saja, Kak!"
"Memang sudah baikan dan nggak perang lagi, Kak?" Tanya Shanty kemudian yang sepertinya kepo sekali.
"Masih, kok! Masih perang," jawab Beth dengan ekspresi wajah yang langsung membuat Shanty tergelak.
"Pulang sana, Shan!" Usir Beth kemudian pada sang karyawan.
"Iya, Kak Beth! Siapa juga yang mau jadi obat nyamuk disini," Seloroh Shanty kemudian yang langsung membuat Beth menggeram.
"Shanty!!"
"Shanty pulang dulu, Kak! Bye!" Pamit Shanty yang langsung ngacir dan berlari keluar dari dapur dan dari toko.
Dasar!
Beth sendiri langsung mencuci tangan sebelum lanjut keluar untuk menemui Fairel.
"Mana?" Tanya Beth entah pada siapa. Tak ada siapapun di toko dan Fairel juga tak ada.
Apa Shanty tadi membohongi Beth?
"Iel!" Panggil Beth akhirnya seraya celingukan dan mencari keberadaan Fairel yang mungkin terselip di bawah kolong meja.
Hah? Mustahil juga!
"Iel!" Panggil Beth lagi seraya garuk-garuk kepaka dan bingung sendiri. Tapi sepertinya Fairel memang tidak ada dan tidak datang ke toko.
Ah, mungkin Shanty tadi memang sedang usil saja.
Beth akhirnya hanya tertawa sendiri dan hendak masuk lagi ke dapur, saat kemudian netranya tak sengaja melihat truk box warna ungu yang berhenti di depan toko.
"Itu truk apa?" Tanya Beth yang akhirnya menghampiri jendela toko untuk memastikan kenapa truk itu berhenti di depan toko Beth. Tak ada orang di sekitar truk.
Aneh sekali!
"Itu truk siapa? Isi apa dan kenapa warnanya ungu?" Beth kembali bertanya-tanya dan gadis itu ganti menghampiri pintu toko lalu membukanya dan keluar.
"Halo!" Beth mengedarkan pandangannya ke sekeliling truk yang tampak sepi dan sepertinya memang tak ada orang. Kemana supir truknya?
Beth akhirnya menghampiri truk berwarna ungu tersebut untuk memeriksa. Namun belum juga Beth mencapai truk, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan yang membuat Beth terlonjak sekaligus terkejut.
"Apa itu?" Beth refleks berjongkok sembari menutup telinga, saat tiba-tiba potongan kertas kecil-kecil yang mirip isi dari confetti berjatuhan di atas kepalanya.
"Apa ini?" Gumam Beth yang masih bingung seraya bangkit berdiri perlahan. Beth lalu kembali menatap pada truk box warna ungu tadi yang box bagian belakangnya sudah terbuka lebar.
"Hah!" Beth langsung mematung di tempat saat melihat isi dari truk box tersebut. Ada banyak sekali bunga di dalamnya, lalu ada juga banner besar yang memperlihatkan wajah Beth.
Beth langsung menutup mulutnya sendiri memakai telapak tangan, bersamaan dengan beberapa orang yang tiba-tiba menghampiri Beth seraya membawa troli barang yang berisi sebuah box raksasa.
Apalagi ini?
"Ini apa?" Tanya Beth pada beberapa orang yang tadi mendorong troli tersebut. Namun alih-alih menjawab, mereka semua malah langsung pergi begitu saja dan meninggalkan Beth bersama box raksasa yang lebih mirip box kulkas raksasa.
Apa Beth baru saja menang undian dan mendapatkan hadiah kulkas raksasa?
Meskipun ragu, Beth akhirnya tetap mendekati box raksasa tadi, lalu membaca secarik kertas yang ditempel disisi kulkas yang bertuliskan petunjuk cara membuka box raksasa tersebut.
Ya, Beth hanya perlu menarik pita berwarna ungu yang menghiasi bagian atas box.
"Satu....dua...." Beth memegang erat ujung pita yang akan ia tarik, la.u gadis itu memejamkan kedua matanya.
"Ti....ga!" Beth langsung menarik pita tadi sembari membuka mata dan disaat itulah, Betj melihat Fairel yang sudah berdiri di dalam box sembari membawa bucket bunga dan sebuah kotak cincin di tangannya.
Hah? Apa?
"Hai, Beth!" Sapa Fairel dengan raut wajah lebay khas Fairel disertau senyuman absurd.
Astaga!
"Kau sedang apa?" Beth hanya mampu bergumam bingung saat tiba-tiba Fairel sudah menghampirinya, lalu berlutut di hadapan Beth. Fairel juga sudah meraih tangan Beth dan mengecupnya sebentar sebelum kemudian pria itu lanjut berucap,
"Maukah kau menikah denganku, Bethany Atmadja?" Fairel juga sudah menyodorkan kotak cincin yang tadi ia bawa.
Beth seketika langsung mematung dan tak mampu lagi berucap sepatah katapun dengan lamaran Fairel yang super-super mengejutkan ini.
"Lamaranmu tidak romantis!"
"Besok aku buatkan acara lamaran yang romantis yang akan membuatmu nyaris pingsan."
Selorohan Fairel kemarin, kembali terngiang di benak Beth dan ternyata Fairel tak hanya sekedar membual. Pria ini benar-benar melanar Beth dengan luar biasa romantis dan luar biasa mengejutkan hingga membuat Beth....
"Terima, Beth!"
"Katakan iya! Kenapa kau hanya diam saja?"
"Ayo bilang iya, Beth!"
Seruan dari beberapa orang yang mendadak sudah mengerubungi Beth dan Fairel benar-benar membuat Beth mendadak jadi linglung.
Beth sebenarnya kenal dengan semua orang yang kini mengelilingi dirinya dan Fairel. Tapi otak Beth mendadak berhenti bekerja dan semuanya menjadi blank.
"Jawab iya aku mau, Beth! Kenapa kau diam?" Ucapan Fairel yang masih berlutut di depan Beth seraya menyodorkan cincin, langsung menyentak lamunan Beth.
"Iya apa?" Tanya Beth bingung.
"Iya, aku mau menikah denganmu, Iel! Seperti jawabanmu kemarin!" Ucap Fairel merasa geregetan.
"Oh!" Beth hanya ber-oh-ria. Lalu gadis itu kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berdiri.
"Beth, cepatlah! Kakiku kesemutan!" Desak Fairel mulai tak sabar dengan jawaban Beth yang lama sekali.
"Cepat apa?" Tanya Beth lagi kembali dengan ekspresi bingung.
"Cepat jawab lamaranku!" Fairel semakin geregetan sekarang.
"Lamaran? Kau melamarku sekarang?" Cecar Beth yang tentu saja langsung membuat Fairel ganti ternganga.
Apa Beth sedang mabuk wedding cake?
"Kau melamarku dengan semua hal yang romantis ini, Iel?" Tanya Beth lagi yang sekarang malah sudah ikut-ikutan berjongkok dan menyamakan posisinya dengan Fairel.
"Iya!"
"Kenapa kau ikut berjongkok? Berdiri lagi dan jawab lamaranku cepat!" Peribtah Fairel sembari memberi kode pada Beth agar berdiri lagi.
"Rasanya aku mau pingsan," ucap Beth kemudian seraya menatap linglung lagi pada Fairel.
"Jawab dulu lamaranku lalu kau boleh pingsan," tukas Fairel yang langsung berdehem dan bersiap mengulangi lamarannya.
"Maukah kau menikah denganku, Bethany Atmadja?" Ucao Fairel sekali lagi sembari menyodorkan kotak cincin tadi pada Beth.
"Ya! Aku mau!" Jawab Beth seraya tersenyum sebelum kemudian tubuh mungil itu terlihat limbung dan hendak ambruk.
"Beth!!!" Seru Fairel yang bergegas meraih serta menopang tubuh Beth sebelum jatuh ke atas aspal.
Lamaran Fairel benar-benar sudah membuat Beth menjadi pingsan sekarang!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir