
Bruuuk!
"Astaga! Iel!" Pekik Mom Yumi saat Fairel yang terlalu semangat mencium Beth, membuat Beth hilang keseimbangan dan terjengkang ke belakang. Fairel bahkan malah cari kesempatan dengan menindih Beth sekarang sembari menatap genit pada wanita yang baru beberapa menit yang lalu dinyatakan sah sebagai istrinya tersebut.
"Hai, Istriku! Sudah tak sabar untuk malam pertama?" Goda Fairel sembari mengecup lagi bibir Beth. Namun hanya sesaat karena tubuhnya sudah buru-buru ditarik oleh Dad Liam.
"Iel! Kau sedang apa, hah?" Geram Dad kandung Fairel tersebut.
Sedangkan Mom Yumi dan Mama Tere buru-buru menbantu Beth yang tadi sempat terjengkang untuk kembali bangun dan duduk. Sepertinya Fairel benar-benar sudah tak sabar untuk segera menerjang Beth malam ini.
Sedikit mengkhawatirkan!
"Jaga sikapmu! Masih banyak tamu!" Desis Dad Liam lagi pada Fairel yang malah cengengesan. Dasar tak jelas!
"Kita berdoa dulu sebelum lanjut masuk ke kamar, ya!" Seloroh pak penghulu yang langsung membuat semua tamu undangan tergelak.
Selesai membaca doa, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Fairel sudah berulang kali melirik ke arah Beth yang malam ini terlihat anggun mengenakan gaun putih Reina serta sentuhan make up minimalis.
"Makan yang banyak, Istriku!" Bisik Fairel kemudian yang sukses membuat wajah Beth bersemu merah.
"Sekalian suapi aku, ya!" Bisik Fairel lagi yang langsung membuat Beth berdecak. Beth lalu menoleh ke arah Fairel yang rupanya sudah membuka lebar mulutnya.
Dasar Fairel!
"Aaaaak! Mana makanannya?" Tagih Fairel yang masih membuka lebar mulutnya.
"Iel! Makan sendiri kenapa?" Tegur Mom Yumi yang kini ikut-ikutan geram pada tingkah lebay sang putra.
"Beth tak keberatan menyuapi, kok!" Tukas Fairel yang sudah mangap lagi.
Beth akhirnya segera menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut Faire, lengkap dengan lauk dan sayurnya, sebelum didahului oleh nyamuk yang barangkali tersesat dan mengira kalau mulut Fairel yang mangap lebar itu adalah goa.
Bisa saja, kan?
"Enak?" Tanya Beth yang langsung membuat Fairel mengangguk-angguk.
"Enak sekali! Kau yang memasak tadi?" Tanya Fairel kemudian yang tentu saja langsung membuat Beth memutar bola matanya.
Apa Fairel amnesia?
Jelas-jelas sejak tadi Beth duduk di sebelah Fairel dan tak beranjak kemana-mana. Lalu bagaimana ceritanya Beth bisa memasak semua makana yang disajikan malam ini?
Benar-benar tak habis pikir!
"Beth! Kok bengong?" Fairel tiba-tiba sudah menangkup wajah Beth.
"Bukan aku yang memasak! Kan sejak tadi aku duduk di sampingmu!" Tukas Beth menjawab pertanyaan Fairel sebelum dirinya bengong tadi.
Kenapa Beth baru menjawabnya?
"Iya, kau tak perlu memasak juga malam ini karena kita baru saja menikah," ujar Fairel yang entah mengapa arah pembicaraannya semakin ngawur saja. Entahlah, Beth juga bingung dan sedikit pusing.
"Suapi lagi, Istriku!" Pinta Fairel yang kembali genit pada Beth.
Ah, sudahlah!
Sepertinya memang sudah settingannya begini dan sulit untuk diubah.
****
Menjelang tengah malam, Mama Tere dan Papa Will akhirnya berpamitan. Tadinya Mom Yumi sudah meminta kedua orang tua Beth tersebut untuk menginap saja di kediaman Halley. Namun Mama Tere dan Papa Will malah kompak menolak.
"Mama pulang dulu, ya!" Pamit Mama Tere seraya memeluk Beth. Raut wajah Mama kandung Beth itu nampak sedih. Tadi juga sepanjang acara Mama Tere lebih banyak diam dan seperti orang yang sedang tertekan. Ada apa sebenarnya?
"Mama kenapa sejak tadi terlihat sedih?" Tanya Beth akhirnya pada sang mama.
"Kata siapa? Mama tidak sedih," kilah Mama Tere seraya menyeka butir bening di sudut matanya.
"Tapi sekarang mama menangis--"
"Mama menangis bahagia, karena akhirnya kau sudah menikah dengan pria yang benar-benar mencintaimu, Beth!" Mama Tere langsung menangkup wajah sang putri.
"Kau bahagia malam ini, kan?" Tanya Mama Tere lagi.
"Iya, Ma!" Beth mengangguk-angguk.
"Beth bahagia sekali!" Beth masih mengangguk-angguk dan gadis itu segera memeluk sang mama.
"Iya! Tapi harus minta izin dulu pada Fairel. Dan kalau Fairel tak mengizinkan--"
"Iel pasti mengizinkan, Ma!" Sergah Beth menyela, sembari melepaskan pelukannya pada sang mama.
"Mengizinkan apa?" Tanya Fairel yangsudah menghampiriibu dan anak tersebut.
"Mengizinkan aku main dan menginap di rumah mama. Kau tak akan melarang, kan?" Ujar Bethyang langsung membuat Fairel tertawa kecil.
"Tentu saja tidak selama menginapnya bersama aku. Kalau sendirian aku tak akan mengizinkan!" Fairel menatap tegas pada Beth.
"Kalau kau di luar kota?" Tanya Beth lagi membeberkan kemungkinan.
"Kau ikut keluar kota juga! Kau kan istriku! Seperti Reina dan Angga itu yang kalau keluar kota selalu berdua," tukas Fairel yang langsung membuat Beth membulatkan matanya.
"Tapi kan Reina memang asisten Abang Angga--"
"Kok panggilnya abang? Angga sekarang adikmu, Beth! Panggil Angga saja dan jangan bang!" Sergah Fairel menyela dan mengingatkan.
"Eh, iya!" Beth langsung menutup mulutnya dan Mama Tere malah terkekeh dengan kelakuan Beth tersebut.
"Aku kan bukan asistenmu. Jadi aku tak usah--"
"Harus!" Tegas Fairel sembari menatap tajam pada Beth.
"Jangan membantah Fairel lagi! Dia suamimu sekarang, Beth!" Nasehat Mama Tere yang langsung membuat Beth merengut.
"Sudah jangan merengut lagi! Mama mau pulang sekarang," pamit Mama Tere sekali lagi seraya mencium kening Beth. Papa Will lalu berpamitan juga pada Fairel dan Beth, sebelum kemudian pasangan paruh baya tersebut meninggalkan kediaman Halley.
"Malam pertama!" Fairel tiba-tiba sudah menggendong Beth ala bridal, sesaat setelah mobil Papa Will melaju pergi.
"Iel! Ada Mom dan Dad!" Cicit Beth memperingatkan Fairel yang kini sudah membawa Beth masuk ke rumah, dan seolah mengabaikan tatapan dari Mom Yumi serta Dad Liam.
"Kan sudah sah! Siapa juga yang akan melarang!" Ujar Fairelpenuh percaya diri yang kini sudah langsung menggendong Beth menaiki tangga.
"Aku bisa berjalan sendiri! Turunkan aku!" Perintah Beth seraya memukul-mukul dada Fairel.
"Tidak akan! Kau istriku sekarang dan aku akan menggendongmu sampai ke kamar!" Tukas Fairel keras kepala, meskipun sekarang nafas pria itu sudah terdengar ngos-ngosan.
"Turunkan aku! Kau akan sesak nafas nanti!" Perintah Beth lagi.
"Tidak akan! Aku kuat!" Fairel masih keras kepala dan terus menggendong Beth sampai ke lantai dua.
"Huh! Huh! Huh!" Fairel menghentikan langkahnya sejenak dan pria itu ngos-ngosan sekali. Wajah Fairel juga sudah merah padam dan Beth benar-benar tak tahan untuk tak tertawa.
"Dasar keras kepala! Kau akan langsung pingsan nanti jika tetap menggendongku sampai ke kamar," seloroh Beth yang langsung membuat Fairel yang masih mengatur nafasnya menjadi berdecak.
"Kau bisa...."
"Memberiku nafas buatan kalau aku pingsan." Tukas Fairel yang kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
"Buka pintunya!" Perintah Fairel yang langsung membuat Beth yang masih berada di gendongan Fairel, segera meraih gagang pintu lalu mendorongnya.
"Huh! Akhirnya!" Fairel langsung membanting tubuh Beth ke atas tempat tidur dan menindihnya.
"Iel!" Beth buru-buru menahan dada Fairel memakai dua tangan.
"Apa lagi? Kau tak bisa menolakku sekarang! Kita sudah sah!" Ucap Fairel berapi-api.
"Tutup dulu pintunya!" Beth mengendikkan dagu ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.
"Haish!" Fairel langsung mendengus kesal, namun pria itu akhirnya tetap bangkit dari atas ranjang dan pergi menutup pintu kamar. Sementara Beth yang seolah baru saja mendapat kesempatan untuk kabur buru-buru menyelinap ke toilet nyaris tanpa suara.
"Sudah aku tutup dan kita siap--" Fairel baru saja berbalik dan hebdak menerjang Beth lagi saat mebdadak istrinya itu sudah menghilang dari atas ranjang.
"Beth! Kau kemana?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir