Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
KAU MEMAAFKANKU?


"Beth! Sedang apa disini?" Tanya Tante Sita yang sepertinya terkejut karena mendapati Beth yang sudah berdiri di depan kamar Abang Angga. Tadi Beth memang mengekori Tante Sita ke kamar Abang dari Rossie ini.


"Maaf, Tante! Tapi apa itu baju untuk Pak Ibel?" Tanya Beth sembari menunjuk ke kemeja serta celana panjang di tangan Tante Sita.


"Pak Ibel?" Tante Sita tampak mengernyit.


"Maksud Beth Fairel, Tante!" Koreksi Beth cepat yang selalu saja salah memanggil nama panggilan Fairel.


Ibel atau Irel, sih? Beth lupa-lupa ingat!


"Oh! Iya!" Jawab Tante Sita cepat.


"Baju ini memang untuk Fairel," sambung Tante Sita lagi.


"Mmmm, apa boleh kalau Beth saja yang memberikannya, Tante? Sekalian Beth mau minta maaf karena sudah membuat Fairel tercebut ke kolam," ujar Beth kemudian yang langsung diiyakan oleh Tante Sita.


Huh!


"Baiklah kalau begitu." Tante Sita segera mengangsurkan sepasang baju tadi ke tangan Beth.


"Tapi apa kau tahu Fairel ada dimana sekarang? Dia tidak di kamar mandi di kamarnya Angga," tanya Tante Sita kemudian.


"Fairel ke kamar mandi di dekat dapur, Tante! Tadi Beth melihatnya," jawab Beth cepat.


"Oh, begitu!"


"Ya sudah! Kamu antar bajunya Fairel sana! Tante akan kembali ke halaman belakang," titah Tante Sita kemudian.


"Iya, Tante!" Jawab Beth yang langsung turun lagi ke lantai satu dan menuju ke kamar mandi di dekat dapur, dimana tadi Fairel masuk ke dalamnya.


"Mbak! Fairel masih di dalam?" Tanya Beth pada salah satu maid di kediaman Hadinata, saat gadis itu mendapati pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


"Kurang tahu, Non! Tapi sepertinya memang belum keluar." Maid baru menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba pintu kamar mandi sudah dibuka dari dalam, lalu Fairel yang langsung melesat keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk.


Namun karena Beth masih berdiri di depan pintu kamar mandi, jadilah Fairel malah menabrak Beth yang refleks menjerit.


"Astaga!"


Beth nyaris terjengkang karena tabrakan Fairel tadi, namun tangan pria itu langsung sigap menahan tubuh Beth. Sepertinya Fairel masih belum sadar kalau yang ia tahan adalah Beth. Karena selang beberapa detik, Fairel yang sepertinya sudah sadar langsung melepaskan tangannya.


"Sedang apa kau disini?" Fairel langsung menggertak Beth yang malah menutup rapat kedua matanya memakai telapak tangan.


Dasar aneh!


"Aku mengantar baju untuk Pak Ibel!" Jawab Beth sembari menyodorkan baju di tangannya namun tetap sambil memejamkan mata dengan rapat.


Langsung terdengar decakan dari Fairel.


"Pak Ibel Pak Ibel!"


"Iel!" Geram Fairel pada Beth yang rupanya salah menyebut nama panggilan Fairel.


"Eh, iya!"


"Pak Iel." Beth langsung meringis namun tetap dengan mata yang terpejam.


"Ini bajunya, Pak!" Ucap Beth sekali lagi yang tangannya tetap menyodorkan baju pada Fairel.


Fairel akhirnya mengambil baju dari tangan Beth yang matanya masih saja merem. Dasar gadis aneh!


"Pergi sana!" Usir Fairel kemudian setelah mengambil baju dari tangan Beth. Fairel lalu masuk lagi ke dalam kamar mandi setelah pria itu menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Braaak!


"Ya ampun!" Beth refleks terlonjak dan membuka mata. Pintu kamar mandi sudah tertutup rapat dan Fairel yang tadi hanya mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya tak lagi terlihat.


Fiuuh, akhirnya!


Beth tadinya hendak berbalik dan perhi, namun kemudian Beth ingat kalau ia tadi belum jadi minta maaf pada Fairel.


Baiklah, Beth akan menunggu Fairel keluar lagi, meskipun sebenarnya Beth masih kesal pada pria itu perihal omongan Fairel siang tadi yang menuduh Reandra sebagai playboy.


Tapi berhubung malam ini Beth sudah melakukan kesalahan yang membuat Fairel basah kuyup, jadi Beth akan tetap minta maaf. Toh hati Beth juga sedang berbunga-bunga sekarang, berkat ucapan I love you dari Reandra tadi.


"I love you too, Reandra." Beth bermonolog sendiri, saat tiba-tiba pintu kamar mandi kembali menjeblak terbuka dan Fairel yang kini berkacak pinggang pada Beth.


"Kenapa belum pergi?" Tanya Fairel ketus sembari matanya melotot pada Beth.


"Saya mau minta maaf, Pak Ib-"


"Eh, Pak Iel maksudnya," ucap Beth mengoreksi panggilannya pada Fairel yang nyaris keliru. Tentunya Beth juga mengulas senyum pada Fairel yang masih ketus.


Dasar pemarah!


"Aku tidak memaafkanmu! Kau sudah membuatku basah kuyup!" Jawab Fairel yang langsung mengomeli Beth.


Seumur-umur, baru kali ini Beth meminta maaf pada seseorang, namun permintaan maafnya ditolak. Benar-benar diluar prediksi!


"Tapi saya tidak sengaja, Pak!" sergah Beth berusaha menjelaskan pada Fairel yang masih tampak marah. Beth juga menunjukkan raut penyesalan, berharap Fairel akan memaafkannya.


"Ck! Sudah kubilang untuk tidak memanggilku Pak!"


"Aku bukan bapakmu!" Gertak Fairel yang sepertinya sedikit geram pada Beth yang kinialah meringis.


"Iya, maaf, Pak--" Beth kembali meringis saat Fairel sudah memelototi dirinya yang kembali memanggil Pak.


Salah lagi!


"Kau memaafkanku, kan?" Tanya kemudian penuh harap.


"Tidak!" Jawab Fairel cepat dan galak.


Ya ampun!


Masih marah rupanya! Padahal Beth sudah minta maaf baik-baik dan memberikan baju ganti juga.


Dasar galak!


"Hush! Hush! Minggir!


"Aku mau lanjut menemui Rossie-ku!" Ujar Fairel selanjutnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya pada Beth agar menyingkir dan memberikan Fairel jalan.


"Iel!" Beth tadinya enggan menyingkir, namun Fairel terap mengusirnya sembari mendelik-delik.


Beth akhirnya hanya merengut, lalu segera menyingkir dan membiarkan Fairel lewat.


Terserah saja!


Fairel sudah menghilang ke arah halaman belakang, tempat dimana acara utama dari ulang tahun Rossie digelar.


Sementara Beth yang tadinya juga hendak pergi, tak sengaja melihat baju basah Fairel yang teronggok di dalam kamar mandi. Beth menatap baju-baju tersebut sembari berpikir sebentar.


"Apa aku bawa pulang dan aku cucikan saja, ya!" Beth bergumam sembari bertanya pada dirinya sendiri.


"Lalu besok setelah kering akan aku kembalikan pada Fairel, sekalian minta maaf lagi."


"Mungkin saja Fairel akan memaafkanku nantinya." Beth terus bermonolog dan bertanya pada dirinya sendiri.


"Baiklah!" Putus Beth akhirnya seraya pergi ke dapur untuk mencari tas atau plastik yang akan ia pakai untuk membawa baju Fairel.


Setelah menemukan sebuah tas belanja dari dapur, Beth lanjut memunguti baju-baju Fairel yang teronggok di sudut kamar mandi.


Beth akan langsung pulang saja dan pamit pada Tante Sita. Beth harus secepatnya mencuci baju-baju Fairel yang basah kuyup ini!


****


Fairel yang sudah sekesai mengganti bajunya yang basah kuyup dengan baju Angga, langsung kembali ke halaman belakang untuk menemui Rossie yang mungkin kini sudah menunggunya dengan cemas.


Ah, pasti Rossie takut Fairel kedinginan atau menggigil gara-gara tercebur ke kolam tadi. Jadi sebaiknya Fairel memang cepat-cepat menemui Rossie agar gadis itu berhenti khawatir.


Fairel langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman belakang demi mencari keberadaan Rossie yang ternyata sedang berbincang dengan seseorang.


Jangan bilang kalau itu adalah....


Keano lagi!


Fairel mempercepat langkahnya dan langsung merengkuh kasar pundak Keano lalu mendorongnya dengan kasar agar menjauh dari Rossie.


"Sudah kubilang agar jangan dekat-dekat dengan Rossie!" Gertak Fairel seraya mendelik pada Keano.


Namun sepertinya Keano memang keras kepala. Karena alih-alih menjauhi Rossie seperti perintah Fairel, Keano malah justru meraih tangan Rossie dan menggenggamnya dengan lancang.


Keano brengsek!


"Lepas dan jauh-jauh sana!" Fairel kembali menggertak serta mendelik pada Keano.


"Tapi Rossie pacar Keano, Bang!" Sergah Keano yang masih keukeuh menggenggam tangan Rossie.


Fairel seketika langsung diam setelah mendengar pengakuan Keano barusan. Pria itu lalu menatap tajam pada Keano, sebelum kemudian tertawa terbahak-bahak seolah Keano baru saja melawak.


"Keano serius, Bang!" Ucap Keano setengah berteriak karena Fairel yang masih terus tertawa terbahak-bahak.


"Aku tak percaya!" Sergah Fairel sembari mendelik pada Keano.


"Tak usah mimpi!" Fairel ganti menuding pada Keano sekarang.


"Hanya karena semalam kau berhasil mendahuluiku saat memberikan kejutan untuk Rossie, lalu kau langsung mengaku sebagai pacar Rossie?"


"Cih! Mimpimu ketinggian, Keano Abian!" Cerocos Fairel panjang lebar yang benar-benar tak percaya dengan kata-kata Keano.


Keano pacarnya Rossie? Mimpi sekali sepupu Fairel ini!


"Tapi Keano dan Rossie memang sudah berpacaran jauh sebelum Keano memberikan kejutan untuk Rossie semalam, Bang!" Ujar Keano lagi yang sepertinya memang niat sekali membuat Fairel marah.


"Jangan bohong!" Gertak Fairel yang emosinya mulai tersulut


"Abang Kean tidak bohong, Bang!" Sekarang gantian Rossie yang buka suara.


"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London," sambung Rossie lagi.


Fairel kembali terdiam untuk beberapa saat, dan pria itu menatap tak percaya pada Rossie. Bahkan genggaman tangan Fairel pada Rossie juga sudah terlepas.


"Kalian berdua pasti sedang bercanda, kan?" Fairel menuding bergantian ke arah Keano dan Rossie.


"Kalian hanya sedang bercanda!" Suara Fairel sudah naik lima oktaf sekarang. Gemuruh di dada Fairel tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata sekarang.


Mustahil Rossie dan Keano....


Tidak mungkin!


"Kami tidak bercanda, Bang!"


"Bahkan-"


"Bahkan apa?" Bentak Fairel memotong penjelasan Keano. Pria itu lalu meraih tangan Rossie kembali hingga membuat Rossie tersentak kaget.


"Kau tahu, Rossie!"


"Malam ini, aku sudah menyiapkan sebuah cincin-" Fairel meraba saku celananya dan mencari-cari keberadaan cincin yang tadi ia simpan di saku sebelah kanan sejak dari rumah.


Tapi kenapa sekarang tidak ada?


"Sebentar!" Fairel ganti memegang tangan Rossie memakai tangan kanannya, lalu tangan kiri pria itu ganti meraba saku celana sebelah kiri.


Tidak ada juga!


Tapi bagaimana bisa....


"Aku mengantar baju untuk Pak Ibel."


Ingatan Fairel langsung tertuju pada si tukang kue menyebalkan yang menyebabkan Fairel terpaksa melepaskan celananya, lalu ganti memakai celana Angga.


Ya, cincin untuk Rossie ada di saku celana Fairel yang basah tadi.


"Brengsek! Cincinnya ada di saku celanaku yang basah!" Gumam Fairel, sembari pria itu berlari masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Rossie begitu saja.


Fairel langsung secepat kilat menuju ke kamar mandi di dekat dapur, dimana ia tadi berganti baju. Tadi Fairel memang meninggalkan bajunya yang basah kuyup disana. Jadi pasti semuanya masih ada di sana.


Fairel langsung mendorong pintu kamar mandi dengan kasar untuk mencari keberadaan celananya di sudut kamar mandi.


Tapi tidak ada!


"Apa? Siapa yang mengambil celana dan bajuku?" Tanya Fairel entah pada siapa. Pria itu langsung memeriksa sudut kamar mandi yang lain, namun tetap tidak ada! Baju Fairel beserta cincin untuk Rossie sudah hilang dicuri seseorang!


Siapa yang mengambil?


"Pak Fairel cari apa?" Tanya seorang maid yang sudah menghampiri Fairel yang masih kebingungan di dalam kamar mandi.


"Bajuku! Kau menyingkirkannya kemana?" Tanya Fairel dengan wajah panik sekaligus bingung.


Bagaimana Fairel akan melamar Rossie, jika cincinnya saja hilang!


"Baju apa, Pak? Saya tidak melihatnya," jawab maid yang ekspresinya terlihat takut.


"Lalu baju dan celanaku kemana? Ada cincin untuk Rossie...." Fairel sudah keluar dari kamar mandi, dan pria itu menyugar kasar rambutnya karena frustasi.


Fairel juga langsung menyandarkan punggungnya dengan lesu di ambang pintu kamar mandi, saat kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Rossie dan Keano berputar-putar di kepalanya


"Tapi Keano dan Rossie memang sudah berpacaran jauh sebelum Keano memberikan kejutan untuk Rossie semalam, Bang!"


"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London."


"Rossie dan Keano sudah berpacaran sejak lama? Kenapa aku bisa tidak tahu?" Gumam Fairel merutuki kebodohannya sendiri.


"Dasar bodoh!" Fairel meluapkan emosinya dengan meninju pintu kamar mandi, sebelum kemudian pria itu meninggalkan kediaman Hadinata dan memacu mobilnya entah kemana.


Pikiran Fairel sedang kacau sekarang!


****


Beth yang baru tiba di rumah, langsung membawa baju Fairel yang basah ke laundry room di rumah kedua orang tuanya tersebut.


"Beth, sudah pulang?" Tanya Mama Tere yang rupanya belum tidur.


"Iya, Ma! Beth sedikit mengantuk, jadi tadi pulang cepat," jawab Beth sembari memasukkan baju-baju Fairel ke dalam mesin cuci.


"Lalu kenapa malah mencuci baju?" Tanya Mama Tere lagi terheran-heran.


"Mendadak rasa kantuknya hilang setelah sampai di rumah," jawab Beth sembari meringis.


Mama Tere hanya geleng-geleng kepala dan tak bertanya lagi. Mama kandung Beth itu sudah berlalu dari laundry room, meninggalkan Beth yang baru saja akan menuangkan detergen ke dalam mesin cuci. Namun kemudian tatapan Beth langsung tertumbuk pada sesuatu yang menyembul dari saku celana Fairel.


"Apa ini?" Gumam Beth sembari memeriksa benda persegi tersebut.


"Oh, kotak cincin!" Ucap Beth kemudian setelah tahu benda yang sepertinya tadi dikantongi oleh Fairel.


"Tapi tidak ada isinya," gumam Beth lagi seraya membolak-balik kotak cincin berwarna biru tersebut. Beth ganti merogoh saku celana Fairel untuk mencari sesuatu.


Ya, barangkali tadinya kotak itu berisi cincin atau kalung yang jatuh ke dalam saku karena kotaknya juga sudah terbuka saat Beth menemukannya.


"Tidak ada apa-apa," gumam Beth akhirnya setelah memeriksa semua saku celana Fairel. Gadis itu lalu mengendikkan bahu dan lanjut mencuci semua baju Fairel yang basah. Besok semuanya sudah haris kering karena Beth akan mengembalikan baju-baju ini saat makan siang sekalian minta maaf.


Lagi!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.