
"Menikah?"
Mama Tere dan Papa Will kompak berteriak dan wajah kedua orang tua Beth tersebut tampak terkejut.
Atau sangat-sangat terkejut?
"Eeeeee, Iel hanya bercanda, Ma, Pa!" Ujar Beth cepat menenangkan sang mama dan papa.
"Ish! Apanya yang bercanda? Orang aku serius!" Decak Fairel cepat seraya mengeratkan genggamannya pada tangan Beth.
"Kau tadi juga sudah mengatakan setuju pada ajakanku! Jangan pura-pura amnesia!" imbuh Fairel lagi mengingatkan Beth yang langsung meringis.
"Sebentar, sebentar!" Mama Tere akhirnya buka suara.
"Kenapa mendadak kalian mau menikah--"
"Kau tidak sedang hamil, kan, Beth?" Sergah Papa Will tiba-tiba yang langsung berhadiah delikan dari Mama Tere.
"Papa!"
"Hamil?" Beth langsung garuk-garuk kepala karena bingung.
"Kau sedang hamil, Beth?" Gantian Fairel yang turut melontarkan pertanyaan.
"Hamil dengan siapa? Memang kita sudah melakukannya?" Beth balik bertanya bingung pada Fairel.
"Kalian sudah melakukannya?" Sekarang gantian Mama Tere yang bertanya panik.
"Melakukan apa, Ma? Beth tidak hamil!" Sergah Beth cepat sebelum semua masalah menjadi runyam.
"Putri kita tidak hamil! Jangan berpikiran negatif!" Mama Tere langsung memukul lengan papa Will yang malah meringis seraya garuk-garuk kepala.
"Lalu kenapa mereka mendadak mau menikah?" Tanya Papa Will bingung.
"Kenapa kalian mendadak ingin menikah?" Mama Tere akhirnya melontarkan pertanyaan Papa Will barusan pada Beth dan Fairel.
"Karena kami saling mencintai, Tante!" Jawab Fairel cepat dan lantang seraya menunjukkan genggaman tangannya dan tangan Beth yang sejak tadi belum terlepas.
"Benar, kan, Beth?" Tukas Fairel lagi yang hanya membuat Beth meringis dan mengangguk.
"Tapi benar kau belum..." Papa Will membentuk gerakan setengah lingkaran di perutnya yang sukses berhadiah pukulan di lengan sekaligus delikan dari Mama Tere.
"Belum, Pa!"
"Beth berani kok membuktikannya pakai tespect!" Jawab Beth sungguh-sungguh.
"Sudah jangan membahasnya! Aku percaya kalau Beth sangat bisa menjaga diri dan ia tak akan mengabaikan nasehat dari kita, Will!" Sergah Mama Tere kemudian merasa sesikit geregetan pada sang suami.
"Iya, Ma! Kan papa hanya memastikan!" Ujar Papa Will lagi.
"Jadi, Om dan Tante memberikan restu pada hubungan kami, kan?" Tanya Fairel kemudian seraya menatap bergantian pada Mama Tere dan Papa Will.
"Restu? Tentu saja kami merestui, Iel!"
"Asalkan Beth bahagia, kami juga ikut bahagia," ujar Papa Will cepat.
"Tapi masalah pernikahan, apa ini tidak terlalu cepat?" Gantian Mama Tere yang buka suara.
"Tidak, Tante!"
"Iel dan Beth sudah serius dan memikirkannya matang-matang--"
"Aku belum memikirkannya dengan matang," bisik Beth pada Fairel.
"Tapi sudah bilang mau tadi! Sudah tak usah beralasan!" Fairel balik berbisik pada Beth yang langsung merengut.
"Kalian bisik-bisik apa?" Tanya Papa Will curiga.
"Bukan apa-apa, Pa!" Jawab Beth tetap dengan bibir yang mengerucut. Membuat Fairel jadi gemas dan ingin melum*tnya saja.
Eh!
Tapi ada Mama Tere dan Papa Will!
Tahan! Tahan!
"Lalu kedua orang tuamu bagaimana, Iel? Mereka sudah tahu?" Cecar Mama Tere kemudian.
"Sudah, Tante!" Jawab Fairel cepat.
"Mom dan Dad juga sudah memberikan restu dan besok saat hari pernikahan Abang Timmy mereka akan datang untuk bertemu Om dan Tante sekalian," tutur Fairel yang langsung membuat Mama Tere dan Papa Will bertukar pandang lalu keduanya mengangguk.
"Kau sudah memberikan undangan pada kedua orang tua Iel, Beth?" Tanya Mama Tere kemudian pada sang putri yang sejak tadi hanya merengut.
"Belum, Ma! Kan tadi nggak bawa," jawab Beth seraya bangkit berdiri dan hendak mengambil undangan untuk kedua orang tua Fairel. Namun kemudian Beth sadar kalau tangannya masih tertaut dengan tangan Fairel.
Ya ampun!
"Lepas!" Ujar Beth seraya mengendikkan dagu ke genggaman tangan Fairel yang sudah mirip borgol untuk tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Fairel penuh selidik.
"Mengambil undangan, Iel!!"
"Kau pikir aku mau kemana? Pergi ke planet Mars?" Geram Beth yang langsung membuat Fairel terkekeh. Fairel akhirnya melepaskan genggamannya pada tangan Beth.
"Jangan lama-lama!" Pesan Fairel yang tentu saja tak luput dari perhatian Mama Tere dan Papa Will yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Mom dan Dad benar sudah memberikan restu, Iel?" Tanya Mama Tere sekali lagi seolah masih tak yakin dengan jawaban Fairel yang pertama tadi.
"Benar, Tante!"
"Kebetulan Mom kan langganan juga di toko kue Beth, dan kerap datang ke toko juga."
"Jadi Mom dan Beth itu sudah lumayan dekat, dan Mom menyukai Beth," terang Fairel panjang lebar yang langsung membuat Mama Tere mengangguk dan mengulas senyum.
Sementara Beth sudah kembali seraya membawa undangan pernikahan Abang Timmy yang kebetulan memang masih ada sisa beberapa.
"Duduk disini lagi!" Titah Fairel seraya menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Ck! Aku mau duduk sama Mama," tolak Beth yang sudah mendaratkan bokongnya di sofa di samping Mama Tere. Terang saja hal tersebut langsung membuat Fairel berekspresi tak senang dan sedikit merengut.
"Jadi undangannya mau berapa? Satu saja kan? Untuk Mom--"
"Eh!" Beth buru-buru membungkam mulutnya sendiri karena bisa-bisanya ia sudah lancang memanggil Mom dan Dad.
"Iya, sudah benar panggilnya Mom dan Dad! Kan calon mertua!" Sergah Fairel yang langsung disambut kekehan dari Mama Tere dan Papa Will.
"Untukku tidak ada?" Protes Fairel kemudian yang langsung membuat Beth mengernyit.
"Aku belum dapat, Beth! Kemarin yang diantar Keano itu kan untuk Reina dan Angga!" Sergah Fairel lagi yang langsung membuat Beth membulatkan bibirnya. Beth kemudian segera menuliskan nama Fairel Halley di undangan selanjutnya, lalu memberikannya pada Fairel.
"Sudah benar, kan?" Tanya Beth memastikan.
"Iya!" Jawab Fairel setelah membaca namanya sendiri yang tadi ditulis oleh Beth. Tulisan tangan Beth ternyata tak jauh berbeda dari tulisan di cake-cake buatannya yang terpajang di showcase toko.
Cantik dan punya ciri khas!
"Sudah semua! Kau tidak pamit pulang?" Ujar Beth kemudian seraya menatap penuh kode pada Fairel.
"Beth!" Tegur Mama Tere karena Beth yang niat sekali mengusir Fairel.
"Beth kan hanya mengingatkan Iel, Ma!"
"Mama juga sepertinya sudah mengantuk. Papa juga!" Beth menunjuk ke arah Papa Will yang kini sudah menguap.
"Iya, sebaiknya Iel memang berpamitan, Om, Tante!" Tukas Fairel yang akhirnya sadar diri juga dan bangkit dari duduknya.
"Sekali lagi Iel minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Om Will dan Tante Tere," ujar Fairel lagi.
"Sama sekali tidak, Iel!" Jawab Mama Tere cepat seraya mengulas senyum.
"Salam untuk kedua orangtuamu, Iel! Semoga nanti mereka bisa menyempatkan datang di acara pernikahan Timmy," ujar Papa Will menyampaikan harapannya.
"Mom dan Dad pasti datang, Om!" Ucap Fairel penuh keyakinan.
"Sudah yang basa-basi dan cepat pulang sana!" Bisik Beth yang sudah menghampiri Fairel lagi.
"Antar aku ke depan!" Fairel sudah menggenggam erat tangan Beth.
Lagi!
Harusnya memang Beth tadi tak perlu mendekat pada pria bucin yang kini berstatus sebagai calon suaminya ini!
Oh, masih sulit dipercaya!
Benarkah Beth akan menikah dengan Fairel?
Lalu apa kabar rumah tangga mereka nanti? Apakah setiap hari bakalan ribut dan adu pendapat?
Entahlah! Beth masih belum ada bayangan!
"Iel pulang dulu, Om, Tante!" Fairel segera berpamitan pada Mama Tere dan Papa Will seeta tak lupa mencium punggung tangan keduanya.
"Hati-hati, Iel!"
"Iya, Tante! Selamat malam!" Pamit Fairel sekali lagi sebelum kemudian pria itu menarik tangan Beth yang sejak tadi ia genggam.
"Beth hanya mengantar sampai teras, Ma!" Tukas Beth dengan langkah yang sedikit malas.
Iya, malas!
Tapi tangannya ditarik oleh Fairel begini, jadilah Beth terpaksa mengantar.
"Mau ikut lagi ke rumah Mom?" Tawar Fairel sedikit menggoda.
"Tidak, terima kasih!" Tolak Beth cepat.
Fairel lalu menengok ke kiri dan ke kanan, sebelum kemudian pria itu mendekatkan wajahnya pada Beth.
"Mau apa?" Beth buru-buru menahan bibir Fairel yang sudah monyong-monyong tak jelas memakai tangan.
"Ck! Satu kecupan saja, Beth! Agar aku bisa tidur nyenyak malam ini!" Ujar Fairel beralasan
"Enggak! Kan tadi sudah berkali-kali di kamarmu," rengut Beth seraya menundukkan wajahnya.
"Tadi ya tadi! Sekarang aku mau lagi!" Tukas Fairel blak-blakan.
"Mesum!" Cibir Beth kemudian.
"Biar! Kan sama calon istri!" Sergah Fairel yang langsung dengan cepat mencecap bibir Beth hingga membuat Beth yang tak siap langsung membelalakkan mata.
"Iel!!" Rengut Beth lagi setelag Fairel mengakhiri ciuman beberapa detiknya.
"Masih manis! Kau mengoleskan gula di bibirmu, ya?" Gombal Fairel yang hanya membuat Beth berdecak. Namun wajah Beth sedikit memanas akibat ciuman sekilas Fairel tadi.
Ya ampun!
Jangan bilang kalau pipi Beth juga sudah memerah sekarang!
"Aku pulang dulu, Calon istri!" Pamit Fairel kemudian dengan nada menggoda yang malah sedikit menggelikan.
"Iya, pulang sana dan lepaskan tanganku!" Beth menunjukkan tangannya dan tangan Fairel yang masih saja saling bertaut.
"Kau yang tak mau melepaskan genggamanku sejak tadi," tukas Fairel beralasan.
"Ish! Kenapa jadi aku?" Beth akhirnya berusaha melepaskan genggaman tangannya dan tangan Fairel. Namun sulit karena Fairel semakin erat saja menggenggam tangan Beth.
"Iel, lepaskan!" Beth mulai geregetan sekarang.
"Kau yang tak mau melepaskannya. Mau ikut aku pulang lagi, hah?" Goda Fairel seraya terkekeh.
"Ck! Tanganmu ini yang tak mau lepas!" Beth benar-benar habis kesabaran sekarang.
"Tinggal lepas saja apa susahnya, Beth?"
"Ck! Iel!" Beth sudah benar-benar kesal dan Fairel malah tergelak.
"Ish! Dasar tangan hulk!" Dengkus Beth kemudian seraya melesakkan kuku dadi tangan satunya ke punggung tangan Fairel.
"Aaarrrgggh!" Fairel refleks menjerit dan genggaman tangan pria itu akhirnya juga mengendur.
Huh! Akhirnya Beth bisa melepasan genggaman hulk dari tangan Fairel.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.