Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
TAK KARUAN


"Beth!" Panggil Fairel seraya membuka pintu kamar. Beth langsung tampam merengut dan bersedekap saat Fairel masuk ke kamar.


"Ada apa? Aku kan tak lama!" Tukas Fairel yang langsung duduk di samping Beth.


"Tapi kau tak membawakanku makanan, Iel! Aku lapar!" Keluh Beth sembari bersungut yang langsung membuat Fairel menepuk keningnya sendiri.


"Ya ampun! Aku lupa, Sayang!"


"Aku akan turun dan mengambik sendiri--" Beth sudah bangkit dari duduknya, namun kemudian Fairel mencegah.


"Tidak usah! Aku akan menyuruh maid membawakan makananmu kesini," tukas Fairel cepat sembari menyuruh Beth untuk duduk lagi. Fairel lalu segera menghubungi maid di bawah lewat telepon dan menyuruh membawa makanan Beth ke kamar.


"Lihat apa yang aku bawa!" Fairel lalu menunjukkan sebuah amplop pada Beth.


"Apa itu?" Tanya Beth yang langsung penasaran.


"Tiket honeymoon kita!" Fairel mengibas-ngibaskan amplop tadi di hadapan Beth.


"Tadi Gavin yang memberikannya, sebagai hadiah pernikahan kita," cerita Fairel kemudian.


"Gavin tahu sja kalau aku memang berniat mengajakmu honeymoon di pulau itu!" Tukas Fairel lagi penuh semangat.


"Pulau? Pulau apa? Dimana?" Cecar Beth semakin merasa penasaran.


"Di dekat tempat tinggal Gavin," jawab Fairel.


"Oh! Dimana itu?" Tanya Beth sekali lagi.


"Iya disana! Kota di pesisir! Kenapa pertanyaanmu harus mendetail begutu?" Fairel menjawab sembari mengomeli Beth.


"Kan aku hanya penasaran," tukas Beth beralasan.


"Lagipula, kau juga belum mengatakan kalau sepupumu tinggal di pesisir pantai. Apa dia pemilik resort atau semacamnya?" Tanya Beth kemudian semakin penasaran. Sepertinya semua keluarga Halley memang kaya raya. Jadi meskipun ada yang tinggal di pesisir pantai, mustahil mereka bekerja sebagai nelayan. Pastilah mereka pemilik resort atau malah pemilik pantai.


Hahahaha! Konyol!


"Gavin bukan pemilik resort. Dia itu adalah instruktur surfing--"


"Wow keren!" Beth langsung berdecak keren.


"Siapa yang keren?" Faire sudah memicing tak senang.


"Gavin! Dia instruktur surfing, kan? Sejak dulu aku selalu ingin belajar surfing. Jadi nanti apa boleh aku minta Gavin untuk mengajariku?" Cerocos Beth panjang lebar yang langsung membuat Fairel bersedekap sekaligus melemparkan tatapan horor pada Beth.


"Gavin sudah pensiun sebagai instruktur surfing!" Ucap Fairel kemudian dengan nada ketus.


"Oh!" Beth langsung membulatkan bibirnya.


"Memang kenapa? Kau cemburu lagi?" Tebak Beth to the point.


"Tentu saja aku cemburu, Beth!! Aku ini suamimu!" Fairel sudah merengkuh kedua pundak Beth.


"Jadi kau hanya boleh memujiku! Hanya aku!" Sambung Fairel lagi sembari mengguncang tubuh Beth.


"Kau akan membuat pundakku memar lagi!" Protes Beth bersamaan dengan pintu kamar yang sudah diketuk dari luar.


"Huh! Akhirnya makananku datang!" Ucap Beth penuh semangat, sembari bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Seorang maid sudah membawa satu troli makanan.


Hah? Kenapa banyak sekali?


"Kenapa banyak sekali, Mbak?" Tanya Beth bingung.


"Sesuai permintaan Pak Fairel, Nona!"


"Selamat malam!" Ucap maid yang langsung berpamitan, setelah meletakkan troli makanan ke dalam kamar.


"Iel--"


"Agar kau tak pingsan lagi malam ini!" Sergah Fairel sebelum Beth menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi kan kita harus istirahat malam ini agar besok fit saat acara! Jadi tak usah lembur dulu!" Tukas Beth sembari merengut.


"Iya tidak lembur! Paling tiga sampai lima ronde saja," jaeab Fairel enteng yabg langsung membuat Beth ternganga.


"Lima ronde? Besok saat resepsi jalanku akan langsung ngangkang," cicit Beth yang langsung membuat Fairel tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa malah tertawa? Dua ronde saja pangkal pahaku sudah tak karuan rasanya!" Keluh Beth yang kini kembali merengut.


"Benarkah itu? Lalu kenapa di ronde ketiga, keempat, dan seterusnya des*hanmu malah semakin keras dan menggelegar?" Cecar Fairel yang semakin membuat Beth merengut.


"Itu bukan des*han! Itu ekspresiku saat kesakitan!" Kilah Beth cepat.


"Hmmm, benarkah itu?" Fairel masih tampak tak percaya.


"Kau kesakitan kenapa memangnya? Jarumku saja tumpul," seloroh Fairel yang pembahasannya mulai melantur kemana-mana. Beth akhirnya memilih untuk tak menanggapi lagi, dan wanita itu segera melahap makanannya , sebelum cacing-cacing yang berada di perutnya tak semakin mengamuk!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.