
Beth terjaga di pagi-pagi buta, saat ponsel yang semalam ia charger di atas meja berdering dengan nyaring. Gadis itu mengucek-ngucek matanya sejenak sebelum meraih ponsel berwarna putih tersebut dan membaca nama kontak yang tertera di layar. Tulisannya sedikit buram karena Beth masih mengantuk. Beth akhirnya mengucek matanya sekali lagi dan nama Mama Tere langsung bisa terlihat dengan jelas.
"Mama?" Gumam Beth yang langsung sigap mengangkat telepon.
"Halo, Ma!" Sambut Beth sebelum kemudian gadis itu menguap lebar.
"Beth, kau sudah bangun? Mama dan Papa sudah di depan rumah."
"Hah?" Kedua mata Beth seketika langsung terbuka lebar dan rasa kantuknya juga sirna begitu saja.
"Buka pintunya, Beth! Dari tadi Mama tekan bel tapi kamu tidak dengar."
"Iya..."
"Sebentar, Ma!" Beth bergegas melihat jam yang menunjukkan pukul empat pagi.
Sekarang bagaimana Beth akan pulang ke rumahnyayang berjarak sekitar tiga kilometer dari toko? Berlari sampai ke rumah pagi-pagi buta begini?
Mana motor Beth ada di rumah karena semalam Beth diantar Abang Timmy!
Seharusnya Beth setuju saja saat Fairel menawarinya tumpangan untuk mengantarnya pulang.
Bodoh!
"Beth! Kenapa lama sekali?" Pertanyaan Mama Tere langsung membuyarkan lamunan Beth.
"Bentar, Ma!"
"Beth cari taksi dulu..." Beth langsung meringis dan membayangkan ekspresi Mama Tere saat ini.
"Maksudnya cari taksi? Kamu sedang dimana, Beth?" Suara Mama Tere sudah meninggi.
"Beth masih di toko, Ma! Semalam ada pesanan kue mendadak, jadi Beth harus lembur dan tidur di toko," terang Beth membeberkan semunya pada Mama Tere. Semoga mama kandung Beth itu percaya!
Sejenak, di ujung telepon terdengar hening. Mungkin Mama Tere dan Papa Will sedang berdiskusi.
"Beth akan cari taksi dulu, Ma!" Ujar Beth lagi.
"Tidak usah!"
"Kau pulang nanti saja kalau langit sudah terang!"
"Lalu Mama dan Papa menunggu di teras, begitu? Enggak, enggak--"
"Beth!"
Beth langsung diam mendengar gertakan tegas sang papa. Gadis itu lalu menghela nafas dan melihat jam lagi. Waktu hanya bergerak lima belas menit dan di luar langit juga pasti sudah gelap.
"Tetap di toko sampai langit terang, lalu kau bisa pulang, Beth!" ujar Papa Will yang kini sudah ganti berbicara di ujung telepon.
"Iya, Pa!" Jawab Beth patuh.
"Papa tutup teleponnya sekarang!"
"Iya, Pa! Maaf, karena Beth nggak di rumah dan nggak bisa bukain pintu--"
Tuut tuuut tuut!
Telepon terputus dan Beth lanjut mengusap wajahnya sendiri. Setelah meneguk satu botol air mineral, Beth lanjut pergi ke toilet untuk mencuci muka. Beth sementara akan memeriksa stok bahan saja, lalu membuat beberapa cake juga sembari menunggu langit terang. Rasa kantuk Beth bahkan sudah menguap pergi sekarang!
Drrttt!
Getaran disertai nada dering lagu My Love dari ponselnya, membuat Beth yang masih menata cake di dalam showcase tersentak.
Siapa lagi yang menelepon pagi-pagi buta begini?
"Mama," gumam Beth setelah nembaca nama kontak yang tertera di layar ponsel. Segera Beth mengangkatnya.
"Halo, Ma!"
"Beth, buka pintu toko! Mama dan Papa ada di depan toko sekarang."
"Hah?" Beth langsung melebarkan kedua bola matanya.
"Kenapa? Kamu mau membuat pengakuan sekarang kalau sebenarnya kamu tidak di toko?"
"Beth di dalam toko, Ma!" Sergah Beth cepat seraya bergerak untuk mengambil kunci. Gadis itu lalu membuka pintu depan toko dan rolling door-nya sekalian.
Benar saja!
Sudah ada Papa Will dan Mama Tere di depan toko.
"Mama!" Beth langsung menghambur ke pelukan Mama Tere yang terlihat bernafas lega.
"Lembur bersama Shanty?" Tanya Papa Will seraua mengedarkan pandangannya ke dalam toko yang tampak sepi.
"Enggak, Pa! Beth sendiri," jawab Beth seraya meringis.
"Tumben." Mama Tere sudah mengernyit.
"Mmmmm, Beth harus mengerjakan kue ulang tahunnya Rossie, Ma!" Jelas Beth kemudian yang langsung menemukan alasan tepat.
"Dan kebetulan kemarin juga ada pesanan kue dadakan," imbuh Beth lagi yang kembali meringis.
Mama Tere akhirnya hanya mengangguk dan terlihat percaya.
"Ngomong-ngomong, tadi Mama dan Papa kesini naik apa? Pagi-pagi sudah ada taksi?" Tanya Bethany selanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Kami menumpang mobil terangga yang kebetulan lewat tadi," jawab Mama Tere.
"Tadinya mama kamu mau mengajak Papa jalan kaki ke depan gang sampai ketemu taksi," timpal Papa Will ikut menjelaskan.
Bersalah karena dirinya yang malah tak berada di rumah saat kedua orang tuanya pulang dari berlibur. Semua gara-gara Pak Fairel menyebalkan!
"Mama hanya ingin memastikan, Beth!"
"Mama itu khawatir kalau-kalau kamu pergi ke suatu tempat dan tak izin pada Mama," ungkap Mama Tere kemudian membeberkan tentang kekhawatirannya.
"Beth tidak akan selancang itu, Ma! Beth selalu ingat pesan Mama, kok!"
"Dan abang Timmy juga selalu memantau Beth saat kemarin Mama dan Papa pergi," tutur Beth bersungguh-sungguh.
"Aku sudah bilang kalau Beth itu bertanggung jawab, Tere!" Ujar Papa Will yang langsung membuat Mama Tere berdecak.
"Iya, iya!"
"Jadi kue untuk Rossie sudah selesai belum? Biar Mama bantu--"
"Mama istirahat saja, Ma!" Potong Beth cepat sembari merengkuh kedua pundak mama kandungnya tersebut,lalu membimbingnya agar kembali duduk.
"Berarti Timmy pulang ke rumah terus selama mama dan papa tidak ada?" Tanya Papa Will memastikan.
"Iya pulang kalau siang, Pa! Tapi hanya sebentar-sebentar sekedar menengok Beth," terang Beth yang langsung membuat Papa Will mengangguk.
"Timmy ada cerita ke kamu tentang dia yang mungkin sudah punya pacar atau calon istri?" Gantian Mama Tere yang bertanya.
"Tidak pernah, Ma!"
"Tapi firasat Beth malah mengatakan kalau abang Timmy menyembunyikan sesuatu di kost-annya, Ma!" Ujar Beth yang langsung membuat Mama Tere dan Papa Will kompak mengernyit.
"Maksud kamu menyembunyikan seorang wanita?" Papa Will melontarkan pertanyaan terlebih dahulu.
"Mungkin saja, Pa! Karena kan Abang Timmy seperti betah saja berada di kost-an dan jarang pulang."
"Beth sih sudah ada rencana untuk menggrebek Abang Timmy kalau nanti luang," tutur Beth lagi yang langsung membuat Mama Tere berdecak.
"Nanti bilang mau menggrebek Abang Timmy, tapi ujung-ujungnya pergi bersama Yvone!" Cibir Mama Tere seolah sedang mengingatkan kembali tentang kebohongan Beth beberapa tahun silam. Rupanya mama kandung Beth itu masih saja ingat.
"Beth udah nggak kayak gitu, Ma!" Sergah Beth membela diri.
"Papa percaya, kok!" Timpal Papa Will yang langsung mendapat pelukan mesra dari Beth.
"Mulai!" Decak Mama Tere yang sekarang sudah bangkit berdiri, lalu pergi ke dapur toko.
"Kue untuk Rossie sudah selesai, Beth?" Seru Mama Tere dari dapur.
"Sudah, Ma!" Jawab Beth yang masih bergelayut pada Papa Will.
"Pa!"
"Apa?" Jawab Papa Will cepat.
"Beth boleh punya pacar?" Tanya Beth setengah berbisik.
"Pacar--"
"Sssttttt!" Beth buru-buru membungkam bibir Papa Will yang suaranya terlampau keras.
"Tumben tanya Papa?" Tanya Papa Will menatap.usil pada sang putri.
"Kan Papa teman curhatnya Beth! Pala yang selalu membela Beth dan tak pernah mengomel seperti Mama," beber Beth yang tentu saja langsung membuat Papa Will terkekeh.
"Boleh, kan? Kalau Beth punya pacar, Pa? Beth kan sudah dua puluh lima tahun, Pa!" Rengek Beth lagi dengan nada manja.
"Kamu kenalin ke papa dulu cowok yang sydah jadi pacar kamu itu, agar Papa busa menilainya," ujar Papa Will mengajukan syarat. Beth langsung mengangguk setuju.
"Tapi ini diantara kita saja, ya, Pa!"
"Jangan bilang-bilang ke Mama--"
"Apa yang jangan bilang-bilang ke Mama?" Tanya Mama Tere tiba-tiba yang sudah bersedekao di belakang Beth yang masih bergelayut pada Papa Will.
"Bukan apa-apa, Ma!" Jawab Beth cepat.
"Hmmmm, Mama jadi curiga!" Mama Tere memicing pada Beth yang langsung salah tingkah. Dusaat bersamaan, oven di dapur yang menandakan kue Beth sudah matang, sudah berbunyi.
Ting!
"Beth mau angkat kue dulu, Ma!" Ucap Beth yang langsung ngacir pergi ke dapur meninggalkan Mama dan papanya.
"Beth!" Decak Mama Tere yang hanya membuat Papa Will terkekeh.
"Papa tidak mau memberitahu juga?" Mama Tere ganti bersedekap pada sang suami.
"Kemarilah aku beritahu!" Papa Will langsung menarik tangan Mama Tere, hingga wanita paruh baya itu terduduk di pangkuannya.
"Papa!"
"Apa? Beth sedang sibuk dengan kuenya!" Sergah Papa Will yang kini malah mendekap sang istri.
Dan semua pemandangan tersebut tak luput dari perhatian Beth yang mengintip dari pintu dapur.
"So sweet! Mau juga didekap Reandra begitu," gumam Beth seraya terkikik sendiri.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.