
"Berhenti disini saja!" Perintah Beth tiba-tiba yang membuay Fairel kaget dan menginjak rem secara tiba-tiba juga.
"Disini dimana maksudmu? Tidak ada rumah disini," cecar Fairel seraya menyapukan pandangannya ke kiri lalu ke kanan.
"Iya rumahku memang tak disini," ujar Beth seraya melepaskan sabuk pengaman.
"Lalu kenapa minta turun disini kalau memang rumahmu bukan disini? Kau mau membuat drama playing victim lagi?" Tuduh Fairel berprasangka.
"Playing victim apa maksudmu?" Sergah Beth yang tadinya sudah mau turun tapi mengurungkan niatnya.
"Playing victim, kau minta turun di tempat gelap, lalu kau akan pura-pura terperosok ke got lagi, lalu berteriak kakiku patah! Kakiku patah!" Fairel berucap seraya berekspresi dengan lebay.
"Lalu setelahnya kau akan menuntutku, minta ganti rugi bla bla bla!" Lanjut Fairel lagi membeberkan segala tuduhannya pada Beth.
Beth sontak langsung menatap tak percaya pada pria di hadapannya tersebut.
"Iya, kan? Kau akan melakukan hal itu lagi, kan?" Cecar Fairel lagi seraya mendelik-delik pada Beth.
"Sinting!" Jawab Beth sembari membuat garis miring di dahinya.
"Apa maksudmu sinting?" Tanya Fairel tak terima bersamaan dengan Beth yang sudah membuka pintu mobil Fairel, lalu keluat dan menutup pintu lagi dengan kasar.
"Hai! Beth!"
"Kau belum menjawab pertanyaanku dan jangan asal kabur seenaknya!" Teriak Fairel seraya membuka pintu mobil dan hendak keluar. Namun ternyata Fairel lupa membuka sabuk pengaman, jadilah tubuhnya tertahan dan Fairel langsung berdecak kesal.
"Beth! Jelaskan dulu maksudmu tadi!" Teriak Fairel yang akhirnya berhasil melepaskan sabuk pengaman, lalu buru-buru turun dari mobil. Fairel hendak menyusul Beth, namun gadis itu malah sudah menghilang dan entah berbelok kemana tadi.
"Cepat sekali hilangnya! Perasaan tadi kakinya masih pincang." Fairel bergumam heran sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal.
"Ah, tapi kenapa juga aku harus peduli!"
"Dia siapa memangnya?" Gerutu Fairel selanjutnya seraya kembali ke mobil. Fairel lalu duduk lagi di belakang kemudi dan menatap ke jok di sebelahnya yang tadi diduduki oleh Beth. Masih ada sisa lumpur yang mulai mengering di jok.
"Ck!" Fairel mengusap kasar bekas lumpur yang mengering tersebut.
"Membuat mobilku kotor saja! Aku jadi harus mencucinya sekarang!" Gerutu Fairel sekali lagi sembari memasang sabuk pengaman. Saat itulah Fairel sadar kalau kenejanya juga terkena lumpur karena memapah Beth tadi.
"Ish! Apalagi ini?" Gerutu Fairel merasa geram. Fairel akhirnya melepaskan kemejanya dan kini pria itu hanya tinggal mengenakan kaus tanpa lengan saja.
Fairel baru saja akan lergi dari tempat itu saat tiba-tiba ponselnya berdering.
"Mom?" Cicit Fairel saat membaca nama Mom Yumi di layar ponselnya. Fairel akhirnya menghela nafas panjang sebelum mengangkat telepon dari sang Mom.
"Ha--"
"Kau dimana, Iel?"
Belum juga Fairel menjawab halo, cerocosan dari Mom Yumi sudah langsung menggema dari ujung telepon.
"Iel masih di jalan, Mom! Iel datang kok ke acara Aunty Thalita," ujar Fairel cepat sembari mulai melajukan mobilnya.
"Tadi darimana memangnya? Kau lembur?"
"Iya!" Jawab Fairel cepat yang tadinya masih berpikir mau beralasan apa. Tapi syukurlah Mom Yumi malah sudah memberikan alasan.
"Ck! Apa Dad yang menyuruhmu lembur?"
"Tidak, Mom! Ini berdasarkan kesadaran Iel saja," jawab Fairel dengan nada lebay.
"Ngomong-ngomong, apa Rossie ada di sana juga, Mom?" Tanya Fairel lagi penuh harap.
Ya, meskipun rasanya mustahil Rossie datang ke acara keluarga Halley, tapi apa salahnya Fairel berharap. Barangkali Reina mengajak Rossie untuk datang.
Asal bukan Keano saja yang mengajak Rossie datang. Fairel akan langsung mengibarkan bendera perang, kalau sepupunya itu bermain curang!
Masa bodoh dengan pesan Oma Belle waktu itu yang meminta Fairel dan Keano bersaing secara sehat!
"Apa kau sedang ngelindur? Memangnya yang merayakan anniversary Uncle Robert?"
"Hahahaha! Barangkali Rossie diajak oleh Reina!" Seloroh Fairel yang masih saja berharap.
"Rossie tidak ada dan cepatlah kesini! Aunty Thalita sudah menanyakanmu tadi!"
"Oke siap, Mom! Fairel OTW ke sana!" Pungkas Fairel seraya menutup teleponnya pada Mom Yumi. Fairel lalu segera menginjak gas dan melaju ke kediaman Abraham.
****
Beth mengintip dari luar pagar, saat gadis itu tiba di rumah. Toko yang berada di samling rumah memang sudah tutup. Biasanya Mama Tere memang menutup toko saat langit sudah gelap.
"Sepi," gumam Beth yang kemudian membuka pintu pagar perlahan. Beth lalu menyelinap masuk sambil masih memantau kondisi sekitar.
Sejauh ini masih aman!
Beth akan bersikap santai dan nanti misalnya--
"Itu Beth!" Ucapan Papa Will yang baru saja keluar langsung membuat Beth terkejut. Mama Tere juga sudah menyusul keluar dan kedua orangtua Beth itu tampak mengenakan jaket seolah akan pergi.
"Dari....."
"Rumah Yvone, Ma!" Jawab Beth berdusta.
"Mama dan Papa mau kemana?" Beth ganti bertanya seraya menatap bergantian pada Mama Tere dan Papa Will.
"Kami mau mencarimu, Beth!" Jawab Mama Tere yang raut wajahnya terlihat khawatir.
"Kata Mama, ponselmu tidak bisa dihubungi sejak tadi dan kau sudah pergi dari sore," ujar Papa Will ikut-ikutan menjelaskan.
"Ponsel Beth mati, Pa!" Ringis Beth kemudian seraya menunjukkan ponselnya.
"Ini baju kamu kok seperti ada bekas lumpur, Beth?" Tanya Mama Tere kemudian yang baeu menyadari tentang baju Beth yang masih belepotan lumour, meskipun sudah mengering.
"Iya, tadi--"
"Oh, ya! Motor kamu juga tidak ada, Beth! Kamu tadi pulang naik apa?" Papa Will sudah ikut-ikutan melontarkan pertanyaan sebelum Beth menjawab pertanyaan Mama Tere.
"Motor Beth ada di rumah Yvone, Pa!" Jawab Beth cepat dan berdusta.
"Besok Beth akan mengambilnya dan tadi Beth pulang diantar Yvone," ujar Beth lagi debgan raut wajah yakin. Mama Tere dan Papa Will lalu saking bertukar pandang.
"Yasudah kamu masuk dan ganti baju sana!" Titah Mama Tere akhirnya sambil mengusap pundak Beth sekali lagi. Sepertinya Mama Tere sudah lupa dengan lumpur di baju Beth.
"Iya, Ma!" Jawab Beth patuh sembari berlalu masuk ke dalam rumah. Beth langsung bernafas lega dan gadis itu langsung masuk ke kamarnya.
****
Fairel yang baru tiba di kediaman Abraham, sudah melepaskan sabuk pengaman dan hendak turun dari mobil, saat kemudian pria itu ingat dengan kemeja yang tadi ia lepas dan menyisakan sebuah kaos oblong tanpa lengan.
"Sial! Kenapa tadi tidak mampir ke toko baju dulu???" Gerutu Fairel sembari memukul-mukul stir mobilnya.
"Sekarang bagaimana aku harus masuk?" Fairel kembali merutuki dirinya sendiri.
"Ini semua gara-gara Beth menyebalkan!"
"Semoga aku tak bertemu lagi dengan tukang kue menyebalkan itu!" Cerocos Fairel panjang lebar yang sekarang ganti menyalahkan Beth. Disaat itulah, kaca jendela mobil Fairel mendadak diketuk dari luar oleh seseorang.
Tuk tuk!
Fairel sudah berhenti menggerutu dan pria itu buru-buru menoleh ke arah jendela mobil.
"Iel! Kau baru datang?" Sapa Ryan yang rupanya mengetuk kaca jendela mobil Fairel tadi.
"Ya!" Jawab Fairel galak sembari menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Aku baru datang dan sekarang aku salah kostum!" Ujar Fairel lagi seraya bersungut dan menunjukkan kaos oblongnya pada Ryan yang langsung terjawab terbahak-bahak.
Dasar sepupu menyebalkan!
"Acaranya sudah selesai padahal! Kau kemana saja tadi? Berkencan dengan Rossie?" Ledek Ryan kemudian. Disaat itulah Keano yang juga baru keluar turut menghampiri Fairel. Mendadak Fairel jadi punya ide cemerlang untuk membalas ledakan Ryan barusan. Mumpung ada Keano juga!
"Iya! Aku baru saja berkencan dengan Rossie!" Jawab Fairel pamer. Tak lupa pria itu juga melirik ke arah Keano yang hanya berekspresi datar.
"Pweet!" Ryan langsung bersiul.
"Kau kalah cdpat dari Iel, Kean!" Tukas Ryan kemudian seraya menyenggol pundak Keano.
"Besok aku akan mengajak Rossie kencan juga kalau begitu!" Jawab Keano enteng.
"Cih! Rossie tak akan mau kencan denganmu!" Cibir Fairel dengan nada sinis.
"Hmmm, kan belum dicoba, Bang!" Jawab Keano penuh percaya diri dan Fairel tetap mencibir sepupunya tersebut.
"Rossie tak akan mau berkencan denganmu! Tidak usah kepedean!" Ujar Fairel sembari memasang lagi sabuk pengamannya.
"Kau tidak masuk dulu untuk menemui Aunty Thalita?" Tanya Ryan seraya mengernyit heran pada Fairel karena sepupunya itu yang tak jadi turun.
"Bukankah katamu acara sudah selesai? Aku juga kebetulan salah kostum, jadi aku akan pulang saja!"
"Besok aku akan mengirim hadiah untuk Aunty Thalita dan agar Mom tak mengomel..." Fairel menyalakan ponselnya dengan cepat, lalu mengambil foto selfie-nya bersama Ryan dan Keano yang tak sempat berpose.
"Baiklah, sudah cukup!"
"Aku mau pulang sekarang! Bye!" Ucap Fairel seraya menaikkan lagi kaca jendela mobilnya. Tak berselang lama, mobil Fairel sudah melaju lagi dan meninggalkan kediaman Abraham.
"Dasar aneh!" Gumam Ryan terheran-heran.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.