Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
MENYEBALKAN!


Braak!


Bugh!


"Hah?" Beth seolah baru tersadar dari lamunannya, saat gadis itu mendapati dirinya yang sudah berkubang di dalam lubang galian tepat di samping pintu keluar pom bensin.


Tadi Beth memang mampir ke pom sebentar untuk mengisi bahan bakar motornya. Namun di antrian bahan bakar nonsubsidi, Beth seperti melihat Reandra yang berboncengan dengan seorang gadis yang baru selesai mengisi bahan bakar. Beth hendak mengejar motor sport tersebut untuk memastikan, namun Beth sepertinya kurang hati-hati dan tak menyadarai kehadiran mobil sedan hitam saat dirinya keluar dari pom.


Alhasil, kap depan mobil tersebut langsung menyenggol motor Beth, dan membuat Beth hilang keseimbangan. Beth yang mengira bisa berpijak di tanah atau aspal memakai kaki kirinya, ternyata salah perkiraan. Di sebelah kiri Beth tak ada pijakan dan hanya ada lubang galian. Jadilah Beth langsung tersungkur dan masuk ke lubang sedalam satu meter tersebut.


Apes sekali, karena di lubang galian juga pas ada genangan air sisa hujan pagi tadi.


"Kue saya, Pak!" Ucap Beth yang langsung ingat pada kue Mama Tere yang tadi harus ia antar.


"Sudah basah, Mbak!" Ujar seorang warga seraya menunjukkan kardus kue yang memang sudah penyok dan setengah basah.


Ya ampun!


Stupid Beth!


"Awas! Awas!" Samar-samar Beth bisa mendengar suara seorang pria yang tak asing. Tapi Beth yakin kalau itu bukanlah suara Reandra. Itu seperti suara....


"Kau lagi!!"


Beth refleks mengangkat wajahnya yang sedikit belepotan lumpur dan menatap pada pemilik suara yang kini tengah menudingnya.


Astaga!


Baru kemarin Beth berdoa agar tak dipertemukan dengan manusia galak satu ini. Kenapa doa Beth langsung ditolak begini?


"Kau---" Fairel terpihat geregetan pada Beth yang langsung merengut.


"Jadi Pak Iel yang tadi nabrak saya--"


"Hei! Jangan sembarangan! Jelas-jelas kau yang berleher beton karena keluar dari SPBU tak melihat kanan kiri asal nyelonong saja!" Sergah Fairel yang langsung memotong tuduhan Beth dengan omelan panjang kali lebar.


"Tapi kan seharusnya Pak Iel bisa mengerem!" Sergah Beth tak mau kalah.


"Aku sudah ngerem! Kau saja yang ceroboh!" Tuding Fairel lagi semakin galak.


"Sekarang kau belepotan lumpur, kan?" Fairel ganti tertawa terbahak-bahak, melihat penampilan Beth yang memang amburadul.


"Aduuh! Kakiku patah!" Teriak Beth tiba-tiba saat Fairel masih tertawa terbahak-bahak. Berh juga sudah meringis sembari memegangi kakinya sendiri.


"Hei, jangan mengarang!" Fairel langsung berhenti tertawa dan menghampiri Beth yang masih meringis seraya memegangi kakinya.


"Pasti hanya pura-pura!" Tuduh Fairel yang sudah ganti mendelik tak percaya pada Beth.


"Tapi sakit sekali!" Teriak Beth lebay.


"Aku tidak percaya!"


"Aku mau lanjut ke--"


"Pak, jangan kabur dan antar mbaknya ke rumah sakit dulu!" Sergah seorang warga yang sudah mencegat Fairel yang hendak kembali ke mobilnya.


"Ck! Dia baik-baik saja dan hanya belepotan lumpur!" Jawab Fairel sembari menoleh sejenak pada Beth yang sekarang sedang berusaha untuk bangkit berdiri, dibantu beberapa warga. Tapi kemudian gadis itu terlihat meringis.


Apa itu artinya, kaki Beth benar-benar terluka?


"Haish!!" Fairel akhirnya berdecak dan menghampiri Beth yang kini merengut.


"Merepotkan saja!" Gerutu Fairel yang akhirnya memapah Beth meskipun dengan setengah hati. Fairel lalu membawa Beth ke dalam mobilnya.


"Lihat! Kemejaku jadi ikut belepotan lumpur! Mana aku ada acara!" Gerutu Fairel yang sudah mendudukkan Beth di jok belakang mobilnya.


"Nanti aku bantu cuci kemeja--"


"Tidak usah!" Potong Fairel galak.


"Aku akan turun kalau begitu! Kakiku juga tidak patah, kok!" Gumam Beth kemudian yang hendak turun, namun Fairel sudah dengan cepat mencegah.


"Tadi kau sudah bilang kalau kakimu patah, jadi kita harus ke rumah sakit untuk memastikan!" Tuding Fairel seraya mendelik pada Beth.


"Tapi aku ada janji dengan seseorang--"


"Aku tidak peduli dan kita akan ke rumah sakit dulu!" Fairel menutup pintu belakang mobil dengan kasar, sebelum kemudian pria itu ganti masuk lewat pintu depan dan langsung duduk di belakang kemudi.


"Pak! Motornya bawa ke bengkel terdekat saja, ya!" Seru Fairel pada beberapa warga yang masoh berkerumun. Salah satu dari mereka langsung mengiyakan, dan Fairel segera menjalankan mobilnya.


"Pak Iel!" Beth sedikit meringis saat gadis itu berusaha pindah ke jok depan.


"Sedang apa kau, hah? Mau menyabotase mobilku?" Omel Fairel sambil sesekali melirik pada Beth.


"Antarkan saya pulang saja atau--"


"Atau apa?"


"Atau ke toko baju terdekat! Tidak usah ke rumah sakit! Saya tidak apa-apa!" Ujar Beth panjang lebar yang masih berusaha untuk duduk di jok depan atau lebih tepatnya di samping Fairel.


"Pakai sabuk pengaman kalau duduk disitu! Kau benar-benar membuat mobilku kotor dan bau lumpur!" Gerutu Fairel lagi dengan nada bersungut-sungut.


"Nanti saya cucikan, Pak--"


"Jangan memanggilku Pak!" Gertak Fairel galak.


"Nanti aku cucikan mobilmu! Tapi kita tidak usah ke rumah sakit!" Pinta Ber seraya memohon pada Fairel.


"Terserah! Aku akan pura-pura tak mendengar permintaanmu dan kita tetap akan ke rumah sakit. Aku akan melakukan rontgen lengkap untuk memastikan kondisi kakimu, agar ke depannya kau tak bisa menuntutku dengan tuduhan aneh-aneh!"


"Aku tak akan menuntutmu!" Sergah Ber cepat. Sementara mobil Fairel terus melaju ke arah rumah sakit.


"Iel!" Beth hendak membuka pintu mobil namun rupanya terkunci.


"Hahaha! Mau coba-coba kabur, ya?" Ledek Fairel yang langsung membuat Beth merengut dan berdecak.


"Buka pintunya dan biarkan aku turun di sini saja! Aku tak akan menuntutmu ke depannya!" Pinta Beth lagi kali ini dengan nada memaksa.


"Tidak!" Jawab Fairel tegas sambil pandangannya fokus ke depan.


"Iel!!" Beth mulai geram sekarang.


"Aku tidak dengar!" Sahut Fairel dengan ekspresi meledek.


"Kau benar-benar menyebalkan!"


"Acaraku akan berantakan gara-gara kau!" Omel Beth seraya berteriak pada Fairel.


"Acaraku juga berantakan! Memangnya kau saja yang punya acara!" Sahut Fairel tak mau kalah.


"Kalau begitu biarkan aku turun, lalu kota bisa pergi ke acara masing-masing!" Cetus Beth memberi sebuah ide.


"Ide bagus!" Sahut Fairel yang langsung membuat Beth bersorak.


"Tapi setelah aku pikir-pikir lagi aku sedikit malas datang ke acara anniversary Aunty Thalita. Jadi lebih baik aku mengantarmu ke rumah sakit saja!" Tukas Fairel lagi serata membelokkan mobil masuk ke pelataran salah satu rumah sakit ternama di kota ini.


"Nanti aku akan punya alasan juga pada Mom, kenapa aku tak datang ke acara Aunty Thalita," ujar Fairel lagi yang benar-benar membuat Beth ingin meninju pria di sampingnya itu saja.


"Kau hanya akan buang-buang uang! Aku baik-baik saja dan tidak perlu pemeriksaan lengkap, rontgen, apalah!" Sergah Berulai hilang kesabaran.


"Kau sendiri yang tadi mengatakan kalau kakimu patah, Bethe!" Fairel menatap tajam pada Beth yang langsung mengernyit.


"Bethe? Siapa Bethe?" Tanya Beth tak terima. Jangan bilang kalau pria di samping Beth itu yang sydah mengubah nama Beth seenak jidatnya.


"Kau!" Jawab Fairel tanpa dosa.


"Sembarangan! Namaku Bethany!" Sergah Beth tak terima.


"Aku tidak tanya!"


"Cepat turun!" Perintah Fairel galak seraya mematikan mesin mobil. Namun bukannya turun, Beth malah bersedekap sekarang.


"Perawat! Bawakan brankar! Ada pasien patah tulang!" Fairel akhirnya memanggil seorang perawat yang siap siapa di dekat ruang UGD. Beth suntak membelalak mendengar kalimat ngawur Fairel.


"Aku bisa jalan sendiri!" Beth buru-buru melepas sabuk pengamannya, saat brankar sudah didorong ke dekat mobil Fairel.


"Tidak!"


"Iya! Gadis ini patah tulang dan tolong segera dilakukan tindakan! Segera operasi kalau perlu!" Ucap Fairel lebay yang terang saja langsung membuat Beth meronta-ronta.


"Aku baik-baik saja dan masih bisa jalan!"


"Lepaskan aku!"


"Jangan keras kepala, Beth!" Fairel turut turun tangan untuk memaksa Beth agar naik ke brankar.


"Lepaskan aku!"


"Aku mau pulang! Aku tidak patah tulang!"


"Aku--"


Bugh! Jedug!


"Aduuh!" Beth menjerit kencang saat tubuh mungilnya tiba-tiba tertimpa brankar.


Para perawat buru-buru menyingkirkan brankar yang menimpa Beth, dan saat itulah, Beth benar-benar merasakan nyeri di betisnya.


"Kau benar-benar menyebalkan, Iel!!" Teriak Beth meluapkan emosi serta rasa sakit yang kini merambati kakinya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.