Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
KHAWATIR?


Waktu bergerak dengan cepat dan Beth masih fokus menyemprotkan krim membentuk bunga mawar di atas kue.


"Cepat, Beth!"


"Cepat!" Perintah Fairel seraya melompat-lompat tak sabar. Jam memang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam sekarang.


"Ayo cepat! Ayo cepat!" Cerocos Fairel lagi.


"Tidak bisa cepat, Ibel!" Omel Beth seraya menghentikan sejenak aktivitasnya.


"Salah sendiri kau merusak kuenya dan sekarang minta aku mengerjakan kue yang baru dalam waktu sekejap!" Sambung Beth lagi. Gadis itu lalu terlihat menguap.


"Sinting!" Gumam Beth sesikit kesal. Tangan Beth knali bergerak untuk menyemprot krim ke atas kue. Sekarang Beth sudah ganti menyemprotkan krim yang warna hijau untuk membuat hiasan daun.


"Kalau tadi kau tak banyak alasan, waktumu untuk mengerjakan pasti lebih panjang!"


"Salahmu yang malah mengomel saat aku minta kau membuka toko!" Fairel balik menyalahkan Beth sekarang.


"Tentu saja aku mengomel!"


"Aku baru pulang dari acara dan baru saja akan istirahat, tapi kau tiba-tiba malah meneleponku, memintaku memperbaiki kuemu yang hancur!"


"Lagipula, kalau hanya surprize kan bisa memakai kue yang sudah jadi di etalase itu!" Gerutu Beth lagi yang sekarang sudah ganti mengendikkan dagunya ke arah showcase yang penuh dengan kue-kue nganggur yang sama sekali tak dilirik oleh Fairel.


"Tak ada yang bernuansa mawar di etalase!" Tukas Fairel yang kembali mengungkapkan alasannya.


"Ini kan kejutan soesial untuk Rossie!" Imbuh Fairel yang sudah kembali melirik arlojinya.


"Ya ampun! Sudah belum, Beth?" Cecar Fairel kemudianbsemakin tak sabar.


"Sudah!" Jawab Beth akhirnya dengan nada kesal. Gadis itu mengambil kardus dari rak dengan sedikit emosi, lalu langsung memasukkan kue Fairel ke dalam box.


"Lilinnya sudah?" Tanya Fairel memastikan.


"Baru mau aku ambilkan!"


"Rossie umur berapa?" Tanya Beth sembari menarik laci berisi lilin.


"Dua puluh lima," jawab Fairel cepat.


Beth langsung tampak berpikir dan tak langsung mengambil angka dua dan lima dari dalam laci.


"Beth!" Tegur Fairel yang terlihat mulai emosi.


Ah, tapi sejak tadi pria itu memang terlihat emosi dan pemarah.


"Dua lima? Namanya Rossie? Kok mirip nama temanku yang besok berulangtahun juga, ya?" Gumam Beth yang akhirnya segera mengambil lilin angka dua dan lima. Berh lalu dengan cekatan menempelkan lilin tadi di penutup box


"Memang! Dia adiknya Angga!" Jawab Fairel pamer.


Beth langsung membulatkan bibirnya seolah paham.


Padahal Beth kira tidak akan ada gadis yang mau menjadi pacar Fairel galak ini. Namun ternyata Rossie malah mau jadi pacar Fairel galak.


Aneh!


Tapi mungkin Fairel sikapnya memang bucin saat bersama Rossie. Makanya putri mahkota Hadinata itu mau jadi pacar Fairel. Entahlah!


"Beth!!" Tegur Fairel lagi.


"Iya!" Jawab Beth sedikit sinis.


Apa Beth cemburu?


Tentu saja tidak! Beth kan juga sudah punya calon pacar bernama Reandra!


Duh, mendadak Beth jadi rindu pada Reandra lagi!


"Beeetthh!" Tegur Fairel lagi semakin geregetan karena Beth yang malah melamun.


"Iya! Aku dengar dan aku belum tuli!" Beth langsung balik menyalak pada Fairel.


"Ngomong-ngomong, kau pacarnya Rossie?" Tanya Beth kepo.


Antara kepo dan masih setengah percaya sebenarnya. Bukan cemburu tapi. Lagipula,kenapa juga Beth harus cemburu pada pria menyebalkan di depannya ini?


Konyol!!


"Bukan! Aku calon suami Rossie!" Jawab Fairel lagi penuh percaya diri. Beth hanya memutar bola mata dan langsung menyodorkan kotak kue tadi pada Fairel.


"Ya sudah! Pergi sana!"


"Aku mau tidur lagi!" Usir Rossie selanjutnya pada Fairel.


"Sebentar! Kau tidur disini?" Tanya Fairel dengan nada ragu. Raut wajah Fairel mendadak juga terlohat khawatir.


Fairel mengkhawatirkan Beth?


Hahaha! Konyol sekali!


"Ya! Ini sudah tengah malam juga dan Abang Timmy tak bisa menjemputku," jawab Beth yang kembali menguap. Gadus itu menutupi mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan.


"Memang Abangmu kemana?" Tanya Fairel kepo.


"Kerja!" Jawab Beth dengan nada malas.


"Kerja tengah malam begini? Kerja apa?" Tanya Fairel lagi semakin penasaran.


"Bartender!"


"Sudah sana pulang! Kenapa malah tanya-tanya!" Usir Beth sekali lagi.


"Aku antar pulang, ayo!" Tawar Fairel kemudian yang malah membuat Beth nyaris tersandung meja. Tumben!


"Tidak usah! Aku akan tidur di toko!" Tolak Beth tegas.


"Yakin aman?" Fairel masih terlihat khawatir. Tapi mungkin hanya merasa bersalah saja karena tadi pria ini memaksa Beth ke toko malam-malam hanya demi kue untuk Rossie.


"Iya, aman!"


"Sudah sana! Katanya mau memberikan kejutan untuk Rossie!"


"Ini sudah jam dua belas!" Beth menunjuk ke arloji Fairel yang langsung terlihat kaget. Kedua mata pria itu juga terlihat membelalak. Fairel buru-buru membawa kue untuk Rossie dan berjalan cepat ke pintu keluar toko.


"Baiklah!"


"Kunci rolling door-nya!" Pesan Fairel sebelum pria itu keluar dari toko kue Beth.


"Iya!" Jawab Beth kembali dengan nada malas. Tidak usah diingatkan juga Beth sudah tahu.


Fairel sudah keluar dari toko, dan Beth segera menutup rapat rolling door tokonya hingga menimbulkan suara berisik.


Braaak!!


"Uuupps!" Beth tertawa kecil, lalu gadis itu lanjut menutup pintu kaca yang ada di dalam rolling door. Setelah memastikan semuanya tertutup rapat, Beth lanjut membereskan sisa-sisa bahan yang tadi ia pakai untuk mendekor kue Rossie.


"Nanti kalau aku ulang tahun, semoga Reandra juga akan memberikanku kejutan tengah malam," gumam Beth melambungkan harapan tinggi sembari gadis itu mencuci tangannya di wastafel.


Setelah semuanya beres, Beth segera menggelar karpet di dekat etalase toko dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Akhirnya bisa tidur nyenyak!" Ucap Beth sebelum kemudian gadus itu memejamkan kedua matanya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.