Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
CINCIN SIAPA?


Beth mengerjapkan kedua matanya saat wajah Fairel langsung muncul tepat di hadapannya.


Astaga!


"Kau sudah bangun? Aku benar-benar cemas, Beth!" Cerocos Fairel yabg langsung menangkup wajah Beth dan hendak menciumnya. Namun kemudian seseorang tamoak mebarik Fairel agar menjauh dari Beth.


"Biarkan Beth bernafas dulu, Iel!" Itu suara Abang Timmy yang besok akan menikah.


Dan Beth belum menyelesaikan wedding cake Abang Timmy karena tadi mendadak ada truk ungu di depan toko yang membawa bunga banyak sekali serta foto wajah Beth. Lalu kardus kulkas raksasa yang diantar orang asing yang ternyata berisi....


"Maukah kau menikah denganku, Bethany Atmadja?"


Kalimat lamaran Fairel kembali terngiang di benak Beth dan membuat gadis itu buru-buru nengangkat tangannya untuk memastikan sesuatu....


"Hah!" Kedua mata Beth langsung berbinar saat gadis itu mendapati cincin bermata berlian yang kini sudah melingkar di jari manisnya.


"Kau suka cincinnya?" Tanya Fairel yang sudah kembali menghampiri Beth dan menangkup wajah gadis itu. Peringatan dari Abang Timmy juga hanya diabaikan oleh Fairel.


"Kau tadi melamarku?" Tanya Beth yang langsung berusaha untuk bangun, lalu memindai ke sekeliling. Rupanya Beth sudah berada di dalam toko dan tadi berbaring di bangku panjang yang ada di dalam toko.


"Ya! Dan kau malah langsung pingsan."


"Kenapa kau pingsan?" Cecar Fairel kemudian.


"Aku hanya kaget," ujar Beth beralasan. Beth lalu ganti menatap ke arah Abang Timmy dan Yvone yang rupanya juga ada di dalam toko. Tadi sepertinya saat Fairel melamar Beth, ada Reina dan Abang Angga juga. Tapi sekarang pasangan pengantin baru itu sudah tak ada. Apa sudah pergi?


"Dilamar malah pingsan," ledek Abang Timmy kemudian seraya mengacak rambut Beth.


"Kan kaget, Bang!" Sergah Beth kembali beralasan yang terang saja langsung membuat abang Timmy dan Yvone kompak terkekeh. Sepertinya ide Beth untuk menjodohkan sang Abang dengan Yvone benar-benar tepat! Calon pengantin itu sekarang sudah terlihat kompak.


"Aku harus pulang sekarang," ucap Yvone kemudian memecah kebisuan. Gadis itu lalu bergegas mengambil tasnya.


"Tidak mengantar calon istri, Bang?" Tanya Fairel pada Abang Timmy yang masih berdiri di tempat dan sama sekali tak melakukan pergerakan.


"Dia naik taksi," jawab Abang Timmy santai.


"Abang!!" Desis Beth yang langsung menatap geram pada Abang Timmy.


"Iya, iya!" Abang Timmy akhirnya bergerak juga dan menyusul Yvone yang sudah keluar dari toko.


"Yes!!" Fairel langsung bersorak sekaligus bergerak cepat untuk menutup rolling door, setelah motor Abang Timmy melaju pergi dan meninggalkan toko.


"Loh! Kok ditutup?" Tanya Beth bingung.


"Agar kita bisa berduaan, Calon istri!" Jawab Fairel seeaya menghampiri Beth, lalu mencium sskioas bibir Beth hingga membuat Beth membelalak kaget.


"Iel!"


"Manis!" Ucap Fairel seraya menjilat bibirnya yang baru saja mencium bibir Beth.


Sinting!


"Aku mau lembur mengerjakan wedding cake," tukas Beth akhirnya seraya berjalan ke pintu dapur. Fairel tentu saja langsung mengekori Beth dan ikut masuk ke dapur.


"Awas oven--"


"Ovennya mati!" Sergah Fairel seraya berdecak. Fairel juga sudah memegang oven yang memang tak terasa panas tersebut.


"Tidak apa-apa! Tanganku tak terbakar!" Cerocos Fairel dengan ekspresi wajah lebay nan menggelikan seperti biasa.


Masih sulit dipercaya kalau pria galak yang sedikit sinting inj akan menjadi suami Beth. Tapi cincin dari Fairel benar-benar cantik dan indah, dan Beth ingin selalu memandanginya.


Beth mengangkat tangannya lagi untuk memandangi cincin bertahta berlian di jari manisnya. Gadus itu lalu mengulas senyum bahagia.


"Cincinnya jatuh ke kolam saat aku tercebur dan ditemukan oleh pak tukang kebun!" Kalimat Fairel mendadak berkelebat di benak Beth. Saat itulah senyuman Beth sudah pudar dan gadis itu mulai berpikir macam-macam.


Jangan-jangan cincin ini adalah cincin yang waktu itu hendak diberikan Fairel pada Rossie!


Itu artinya....


"Beth! Kok melamun dan cemberut?" Tegur Fairel seraya menangkup kedua pipi Beth. Namun kemudian tangan Fairel sudah langsung disentak oleh Beth.


"Ada apa?" Tanya Fairel bingung.


"Ini cincin siapa?" Tanya Beth dengan sejuta rasa cemburu yang membuncah di hatinya. Jika benar ini adalah cincin yang sama dengan yang waktu itu hendak Fairel berikan pada Rossie, maka Beth tak akan memakainya dan ia akan mengembalikan cincin itu pada Fairel sekaligus merevisi jawabannya atas lamaran Fairel tadi.


"Maksudnya cincin siapa? Tentu saja itu adalah cincin dari aku untuk kamu, Beth!" Jawab Fairel sembari menahan tangan Beth yang hendak melepaskan cincin yang tadi susah payah Fairel sematkan.


"Jangan dilepas! Kau kenapa sebenarnya?" Tanya Fairel bingung.


"Aku tahu kalau cincin ini adalah cincin yang waktu itu mau kau berikan pada Rossie--" Beth masih berusaha melepaskan cincin tadi. Tapi entah kenapa cincinnya malah macet dan tersangkut.


"Mana ada, Beth! Cincin ini baru aku beli siang tadi dan ini bukan cincin yang waktu itu!" bantah Fairel cepat.


"Ish! Kenapa tersangkut?" Geram Beth penuh emosi, masih sambil berusaha melepaskan cincin tadi dari jarinya.


"Cincinnya tak mau dilepas! Jadi jangan diutak-atik lagi!" Sergah Fairel tegas seraya menggenggam tangan Beth dan menahannya agar tak lagi berusaha untuk melepaskan cincin tersebut.


"Tapi aku tidak mau memakai cincin-"


"Ini cincin baru, Beth!"


"Lihat!" Fairel lalu menunjukkan pada Beth sesuatu yang terukir di sepanjang permukaan cincin.


Seperti sebuah nama.....


Tapi itu memanglah sebuah atau lebih tepatnya dua buah nama yang diukir menjadi satu.


"Iel & Beth," gumam Beth setelah membaca nama yang terukir di permukaan cincin tersebut.


"Masih mengira ini cincin bekas?" Cecar Fairel kemudian yang hanya membuat Beth meringis. Beth tak menjawab apa-apa dan gadis itu langsung pura-pura sibuk dengan wedding cake di depannya.


"Tapi aku senang kau tadi cemburu--"


"Aku tak cemburu!" Sergah Beth yang langsung menyangkal dengan cepat.


"Bilang saja iya!" Desis Fairel geregetan.


"Enggak!"


"Siapa juga yang cemburu! Aku tadi kan hanya bertanya dan memastikan ini cincin siapa!" Beth masih tdrus menyangkal dan tak mau mengaku.


"Bertanya tapi sambil marah-marah dan merengut. Lalu apa namanya kalau bukan cemburu, hah?" Fairel tiba-tiba sudah melingkarkan lengannya di pinggang Beth.


"Iel!" Beth langsung berjenggit dan berusaha melepaskan dekapan Fairel.


"Bilang dulu kalau kau tadi cemburu!" Ucap Fairel kemudian dengan nada memaksa.


"Aku tak cemburu!" Beth masih tak mau mengaku.


"Ck! Benar-benar kamu, Beth!" Fairel tiba-tiba sudah mengangkat tubuh Beth yang sejak tadi ia dekap, hingga membuat gadis itu menjerit.


"Iel!!!!"


Fairel dengan cepat memutar posisi tubuh Beth menjadi menghadap ke arahnya, lalu kedua tangan Fairel segera merengkuh pundak Beth.


"Ish!!!!" Beth memukul-mukul dada Fairel yang malah tergelak.


"Kau tadi cemburu, kan?" Tanya Fairel lagi seraya menyatukan keningnya dengan kening Beth.


"Enggak! Aku nggak cemburu!" Sanggah Beth tegas.


"Iya, kau cemburu!"


"Kau cemburu! Kau cemburu! Kau cemburu!" Fairel tiba-tiba sudah menggelitiki Beth hingga hadis itu menjerit-jerit dan hilang kendali. Menggeliat kesana kemari, hingga tiba-tiba....


Bugh!


Beth yang tadi kegelian akibat gelitikan dari Fairel, tak sengaja menyikut wedding cake Abang Timmy yang sudah setengah jadi hingga akhirnya wedding cake tersebut jatuh ke atas lantai dan rusak.


"Aaarrrggghhh!! Wedding cake!!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir