Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
MENDADAK PUSING


Beth langsung berlalu dan meninggalkan Fairel begitu saja, setelah wanita itu melepaskan rangkulan Fairel. Entah mengapa hati Beth sedikit dongkol dengan sikap Fairel tadi saat bertemu Rossie dan Keano. Fairel seolah masih cemburu melihat kemesraan Keano dan Rossie. Apa priaitu memang belum sepenuhnya move on dari Rossie?


Sedikit wajar, mengingat dulu Fairel yang begitu tergila-gila pada Rossie.


Beberapa kegilaan Fairel pada Rossie bahkan masih menbekas di benak Beth hingga kini. Mulai dari buket mawar raksasa yang Fairel bawa ke rumah Rossie, dimana Beth sempat ingin mencomotnya satu, tapi Fairel malah langsung menyalak dengan galak.


Lalu saat tengah malam Fairel membangunkan Beth hanya agar Beth bisa memperbaiki kue untuk kejutan Rossie. Lalu Fairel yang marah-marah pada Beth saat cincin untuk Rossie hilang.


"Beth!" Fairel tiba-tiba sudah mendekap tubuh Beth dari belakang. Beth buru-buru menyeka airmatanya yang sudah menggenang.


"Kau kenapa? Menangis?" Tanya Fairel yang langsung memaksa untuk membalik tubuh Beth.


"Tidak!" Sanggah Beth cepat.


"Hanya kelilipan dan sedikit haus!" Beth berusaha mendongakkan wajahnya saat airmata sialan itu mendesak keluar lagi.


Entahlah! Kenapa Beth jadi cengeng begini di hari seharusnya ia tertawa sepanjang malam!


Oh ayolah, Beth! Ini adalah acara resepsi sekali seumur hidup dan besok adalah hari ulang tahunmu! Jadi berhentilah bersedih dan membesarkan hal sepele tadi!


Tapi jika Fairel benar-benar belum move on dari Rossie, tentu saja itu bukan hal sepele!


"Kau kenapa, Beth?" Fairel sudah menyeka air mata yang menggenang di sudut mata Beth.


Padahal Beth sudah mendongak agar airmata sialan itu masuk lagi ke dalam rongga matanya. Tapi kenapa masih saja keluar?


Beth menghela nafas sejenak.


"Ada apa? Kau mengira aku cemburu pada kemesraan Keano dan Rossie tadi?" Tebak Fairel yang ternyata peka juga.


"Bukan mengira lagi, tapi sikap ketusmu sudah menunjukkannya," jawab Beth lirih.


"Aku tak cemburu, oke! Sikap dan cara bicaraku pada Keano memang seperti tadi sejak dulu!" Tukas Fairel mencari pembenaran,


"Ya! Tapi Rossie tetap mantan terindahmu, kan?" Cibir Beth kemudian sembari meninggalkan Fairel lagi.


"Apa maksudnya mantan terindah?" Fairel buru-buru meraih tangan Beth agar tak pergi.


"Aku dan Rossie bahkan belum pernah jadian!" Ungkap Fairel lagi blak-blakan.


"Oh! Tapi kau pernah tergila-gila dan mengejarnya---"


"Itu hanya masalalu!" Tegas Fairel sembari merengkuh kedua pundak Beth dan sedikit mencengkeramnya. Namun kemudian cengkeraman Fairel langsung mengendur, saat Beth menatap kedua tangan Fairel yang masih berada di pundaknya. Fairel juga sudah melepaskan rengkuhannya dan ganti mengusap pundak Beth yang kini tampak kemerahan.


Ya, gaun pengantin Beth memang tanpa lengan malam ini.


"Aku akan menelepon Ethan untuk menanyakan resep salep--" Fairel sudah mengeluarkan ponsel dari sakunya, namun Beth langsung menggeleng dan wanita itu melepaskan tangan Fairel di pundaknya. Beth lalu menghampiri Alice yang kebetulan berdiri tak jauh dari mereka.


"Alice, apa acaranya masih lama? Aku mendadak sakit kepala," keluh Beth sembari memegangi kepalanya.


"Sakit kepala?"


"Ada apa?" Tanya Mama Tere yang sudah ikut menghampiri sang putri. Pun dengan Mom Yumi yang juga sudah ikut menghampiri.


"Beth mendadak sakit kepala, Aunty!" Jelas Alice pada Mama Tere dan Mom Yumi.


"Acaranya masih lama, Yum?" Tanya Mama Tere sembari meletakkan punggung tangannya di kening Beth untuk memeriksa suhu. Tapi Beth memang sedang tidak demam. Beth hanya sakit kepala karena berdebat dengan Fairel tadi.


"Beth bisa istirahat di atas dulu, Tere!" Ujar Mom Yumi menenangkan.


"Biar Iel yang antar--"


"Kau tetap disini untuk menemui tamu, Iel!" Ucapan tegas Mom Yumi mendadak malah langsung membuat Beth tertawa kecil.


"Jangan sampai kau cari-cari kesempatan!" Mom Yumi ganti menuding pada sang putra.


"Tapi Iel suami sahnya Beth, Mom! Memang apa masalahnya?" Sergah Fairel beralasan.


"Masalahnya, tamu masih banyak, Iel! Kan tidak lucu jika nantj tamu bertanya pengantinnya mana lalu kami menjawab sedang di kamar berdua," ujar Alice sembari terkekeh.


"Aduuuhh!!" Fairel pura-pura meringis sembari memegangi kepalanya.


"Jangan mengada-ada!" Decak Mom Yumi yang lagi-lagi kembali membuat Beth mengul*m senyum. Beth mendadak lupa pada rasa dongkolnya terhadap Fairel tadi.


"Mom--"


"Biar aku yang menemani Beth ke atas, Yum!" Usul Mama Tere akhirnya.


"Iya, Tere!" Mom Yumi langsung mengangguk dan mengiyakan.


"Mari saya ya antar, Aunty!" Ujar Alice yang langsung sigap mengangkat bagian ekor gaun Beth, lalu tiga wanita itu segera masuk ke dalam lift, meninggalkan Fairel yang kini merengut pada Mom Yumi.


"Tamu masih banyak!" Tegas Mom Yumi lagi pada sang putra yang hanya mampu berdecak.


****


"Makan dulu!" Mama Tere menyodorkan sendok berisi makanan ke deoan mukut Beth yang kini sudah mengganti gaun pengantinnya dengan dress selutut. Tadi karyawan hotel juga langsung mengantarkan makanan ke kamar, jadi Mama Tere bisa langsung menyuapi sang putri.


"Jadinya, kau pusing karena lapar atau karena kecapekan saja? Wajahmu juga tampak murung sejak tadi."


"Apa ada masalah?" Cecar Mama Tere kemudian yang hanya membuat Beth menggeleng.


"Cerita kalau memang ada masalah, Beth! Janagn dipebdam begini!" Nasehat Mama Tere sekali lagi.


Beth akhirnya menghela nafas dan mebelan habus semua makanan di mulutnya yang sebenarnya tera saya hambar, sebelum kemudian wanita itu buka suara.


"Mama pernah cemburu tidak pada mantannya Papa?" Tanya Beth yang langsung membuat Mama Tere sedikit kaget.


"Mantan papamu, ya?" Mama Tere balik bertanya, lalu tertawa kecil.


"Aunty Audrey mantan kekasih Papa, kan? Mama cemburu tidak saat Papa bertemu Aunty Audrey setelah sekian lama?" Tanya Beth lagi.


"Sedikit," jawab Mama Tere sembari tersenyum tipis.


"Tapi kemudian Mama ingat, kalau semua itu hanya masalalu, dan semua orang pasti punya masa lalu," ujar Mama Tere lagi.


"Lalu saat mama cemburu, mama uring-uringan juga ke papa?" Tanya Beth lagi.


"Inginnya begitu, Beth!" Mama Tere sudah mengusap lembut kepala Beth.


"Tapi kemudian Mama berpikir begini, kalau sekarang Papa kamu memilih untuk menikahi Mama dan menghabiskan susa usia bersama Mama, bukankah itu artinya Papa kamu memang benar-benar mencintai Mama dan sudah melupakan semua masa lalunya?"


"Jadi kemudian Mama memilih untuk berpikir positif dan membuang semua prasangka-prasangka yang sama sekali tak perlu tersebut," terang Mama Tere panjang lebar yang langsung membuat Beth terdiam.


"Kau merasa cemburu pada mantan pacar Fairel?" Tebak Mama Tere kemudian yang hanya membuat Beth menundukkan wajahnya.


"Mantan pacar Fairel datang juga tadi? Yang mana?" Cecar Mama Tere kemudian merasa penasaran.


"Rossie," jawab Beth lirih.


"Rossie?" Mama Tere langsung kaget.


"Tapi Rossie kan sudah menikah dengan Keano, Beth--"


"Tapi Iel masih terlihat cemburu dengan kemesraan Rossie dan Keano--" Beth baru menyelesaikan kalimatnya, saat pintu kamar tiba-tiba sudah menjeblak terbuka.


Astaga! Baru juga diomongkan, kenapa tiba-tiba sudah muncul di depan pintu?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.