
"Kau yakin tidak mau aku antar ke salon untuk make up?" Tanya Fairel sekali lagi pada Beth yang hanya menggeleng. Sejak dari hotel, entah sudah berapa kali Fairel menanyakan hal tersebut. Padahal Beth sudah berulang kalk menjawab tidak, tapi Fairel masih saja bertanya terus.
"Tapi sebaiknya memang kau berdandan biasa saja dan tak usah berlebihan," tukas Fairel kemudian seraya membelokkan mobilnya ke gang rumah Beth.
"Memang kenapa aku tak boleh berdandan berlebihan?" Tanya Beth penasaran.
"Agar tak ada yang terpesona dengan kecantikanmu!" Jawab Fairel tegas.
"Aku cantik, ya?" Gumam Beth yang langsung mengusap wajahnya sendiri. Sepertinya baru sekali ini Fairel memuji Beth cantik. Biasanya kan Fairel menyebutnya Beth si tukang kue.
"Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri, Beth?" Tegur Fairel tiba-tiba yang langsung membuat Beth berhenti tersenyum.
"Tidak kenapa-kenapa!" Tukas Beth seraya menggeleng. Mobil Fairel sudah berhenti di depan rumah Beth sekarang.
"Oke, terima kasih sudah mengantar...." Beth langsung mengernyit saat melihat Fairel yang ikut-ikutan melepaskan sabuk pengaman.
"Kau mau kemana? Tidak pulang untuk bersiap-siap?" Tanya Beth bingung.
"Aku akan bersiap-siap di rumahmu, Calon istri!" Jawab Fairel penuh percaya diri sebelum kemudian pria itu membuka pintu mohil dan turun mendahului Beth.
Bersiap-siap di rumah Beth? Lalu Fairel mau pakai bajunya siapa? Abang Timmy?
"Ayo turun, Beth! Kenapa malah bengong?" Ajak Fairel yang rupanya sudah membukakan pintu mobil untuk Beth.
Tumben perhatian!
"Kau yakin tidak mau siap-siap di rumahmu sendiri?" Tanya Beth sekali lagi pada Fairel.
"Tidak!" Jawab Fairel tegas.
"Kau nanti akan berangkat duluan kalau aku pulang!" Sambung Fairel lagi membeberkan alasannya.
"Iya, trus masalahnya apa kalau aku berangkat duluan bersama Mama, Papa dan Abang Timmy? Kau kan juga tinggal berangkat bersama Mom dan Dad-mu. Kan aku juga sudah memberikan undangannya," cecar Beth panjang lebar yang malah membuat Fairel berdecak.
"Tidak boleh! Pokoknya kau harus pergi bersamaku dan aku tetap akan bersiap-siap dari sini!" Tegas Fairel sekali lagi yang benar-benar tak mau dibantah.
Selalu saja begitu?
Dasar keras kepala!
Beth akhirnya berhenti berkomentar dan gadis itu segera masuk ke rumah. Namun baru samlai di teras, Beth sudah bertemu dengan Mama Tere, Papa Will, serta Abang Timmy yang sudah bersiap pergi.
Hah?
"Baru selesai yang pacaran?" Ledek Abang Timmy yang langsung membuat Beth merengut.
"Beth dari hotel, Bang! Mengantar kue," gumam Beth masih merengut.
"Tadi baju kamu sudah diantar kesini, Iel!" Gantian Mama Tere yang bicara serta memberitahu Fairel.
"Baju apa, Ma?'" Tanya Beth penasaran.
"Baju untuk acara. Iel katanya mau siap-siap dari sini dan berangkat bareng kamu. Makanya ini Mama dan Papa mau pergi duluan," terang mama Tere yang tentu saja langsung membuat Beth ternganga.
Jadi sudah direncanakan?
"Nanti Iel yang akan mengantar serta menjaga Beth, Ma! Jadi--"
"Kenapa memanggilnya Mama?" Protes Beth menyela.
"Kan Iel calon suami kamu, Beth! Masa lupa?" Sahut Papa Will seraya terkekeh.
"Kemarin sudah dilamar romantis, sekarang mendadak lupa," timpal Mama Tere ikut-ikutan menggoda Beth.
"Mungkin mau dilamar lagi. Biar nanti pingsan lagi," Seloroh Abang Timmy yang langsung membuat Fairel mengacungkan jari jempolnya. Sedangkan yang lain langsung terkekeh dengan selorohan abang Timmy.
"Apa, sih!" Beth yang wajahnya sudah memerah langsung berlari masuk ke rumah dan mengabaikan semua orang.
"Beth, kenapa Iel ditinggal?" Seru Mama Tere pada sang putri.
"Kan bisa masuk dan siap-siap sendiri!" Jawab Beth tanpa menunjukkan lagi wajahnya. Mama Tere akhirnya hanya geleng-geleng kepala.
"Jadi, Mama, Papa, dan Abang Timmy sudah mau berangkat?" Tanya Fairel kemudian berbasa-basi.
"Iya, Iel! Nanti titip Beth, ya!" Jawab mama tere seraya berpesan pada Fairel.
"Siap, Ma!" Ujar Fairel yang langsung mengangguk.
Keluarga itupun akhirnya segrra masuk ke mobil dan berangkat duluan, meninggalkan Fairel dan Beth yang akan bersiap-siap terlebih dahulu.
"Yess!" Fairel langsung bersorak dan buru-buru masuk ke rumah setelah menutup pagar depan.
"Beth! Kau dimana?" Seru Fairel seraya celingukan mencari keberadaan Beth dan juga kamar Beth.
Ada tiga kamar di rumah ini dan warna pintunya sama semua. Kamar Beth yang mana? Kenapa tak ada yang memberitahu Fairel.
"Beth!" Fairel membuka pintu kamar yang pertama, dan langsung mendapati sebuah kamar yang sudah didekor ala-ala kamar pengantin.
Eh!
Sepertinya itu kamar abang Timmy!
"Beth!" Panggil Fairel lagi seraya mencoba untuk membuka pintu kamar kedua.
Sepi!
Tapi sepertinya itu adalah kamar kedua orang tua Beth.
Baiklah, berarti kamar Beth yang paling belakang dan dekat dapur.
"Beth!" Panggil Fairel yang sekali lagi mencoba untuk membuka pintu kamar. Namun kali ini dikunci!
Bagus sekali!
"Beth!" Panggil Fairel sekali lagi sembari mengetuk pintu kamar Beth.
"Beth, aku harus mandi dimana?" Tanya Fairel tetap sambil mengetuk pintu.
"Beth!"
Ceklek!
Pintu akhirnya dibuka dari dalam.
"Apa?" Tanya Beth yang hanya membuka sedikit pintu kamarnya serta melongokkan kepalanya saja.
"Aku harus mandi dimana? Kau sedang apa?" Cecar Fairel seraya berusaha mendorong pintu kamar Beth.
"Aku mau mandi! Kau pakai saja kamar Abang Timmy!" Jawab Beth sambil tetap menahan pintu kamarnya agar tak terbuka lebar.
"Lalu bajuku dimana?" Tanya Fairel lagi.
"Mana aku tahu? Kenapa tadi tidak tanya ke Mama? Yang menyimpan kan Mama," jawab Beth dengan nada meninggi.
"Carikan dulu!" Perintah Fairel lagi sembari mendorong pintu kamar Beth.
"Ck! Jangan didorong!"
"Kenapa? Kau tidak pakai baju?" Kekeh Fairel usil.
"Pakailah! Masih lengkap malahan!" Jawab Beth menyangkal tebakan Fairel.
"Lalu kenapa hanya menampakkan kepalamu begitu? Kau menyembunyikan sesuatu?" Cecar Fairel lagi.
"Tidak ada! Hanya mencegah saja."
"Mencegah apa?" Tanya Fairel lagi mengernyit.
"Mencegah kau masuk ke kamarku," jawab Beth jujur.
"Hmmmm, sama calon suami begitu!" Cibir Fairel kemudian.
"Carikan dulu bajuku, Beth!" Fairel tiba-tiba sudah menangkup wajah Beth hingga membuat Beth sedikit hilang keseimbangan.
"Eh!!" Beth nyaris jatuh. Tapi untunglah Fairel bergerak sigap untuk menahannya.
"Kau menyembunyikan apa sebenarnya?" Fairel yang suda sangat penasaran akhirnya mendorong pintu kamar yang tak lagi ditahan oleh Beth. Langsung terlihat buket bunga raksasa yang waktu itu pernah Fairel berikan pada Beth sebelum kesalahpahaman mengenai cincin yang membuat hubungan Beth dan Fairel kacau balau. Rupanya Beth masih menyimpannya.
"Pweeet!" Fairel langsung bersiul dan Beth hanya merengut.
"Buket bunga raksasa dari siapa itu?" Tanya Fairel yang sudah masuk ke kamar Beth dan memindai setiap sudut kamar gadis itu.
"Dari seorang pria menyebalkan!" Jawab Beth yang kinj bersedekap di depan pintu kamar.
"Pria menyebalkan?" Fairel langsung melemlar tatapan tajam pada Beth.
"Memang menyebalkan sejak dulu!" Beth masih bersedekap dan berada di posisinya semula.
"Meskipun menyebalkan tapi kau tergila-gila juga," cibir Fairel kemudian.
"Mana ada!" Sanggah Beth cepat.
"Masih tak mau mengaku! Tadi malam saja sampai cemburu buta hanya karena cincin," ledek Fairel lagi kali ini sambil terkekeh.
"Aku tidak cemburu! Aku kan hanya memastikan kalau aku tak dapat barang bekas!" Kilah Beth lagi beralasan.
"Memastikan tapi sambil marah-marah, cemberut, sampai banting kue juga," Fairel terus-terusan menggoda Beth.
"Ck! Siapa juga yang membanting kue? Kan kuenya jatuh tak sengaja."
"Hoaaaaam!!" Beth tiba-tiba menguap lebar.
Ya, Beth memang belum tidur lagi sejak bangun subuh tadi untuk mengebut pengerjaan wedding cake abang Timmy. Dan sekarang Beth malah mengantuk.
"Kau ngantuk? Kita di rumah saja dan tak usah ke pernikahan abang Timmy!" Cetus Fairel tiba-tiba yang langsung membuat Beth ternganga.
"Maksudnya tidak usah datang? Itu pernikahan abang kesayanganku dan kau malah mengajakku tak datang!"
"Dasar!" Gerutu Beth sembari membuka almari bajunya, lalu mengeluarkan gaun berwarna baby pink yang serupa dengan yang tadi dikenakan Mama Tere. Hanya saja modelnya berbeda karena milik Beth lebih mengembang.
"Aku mau mandi!" Ucap Beth yang kembali menguap.
"Carikan dulu bajuku, Beth!" Perintan Fairel yang langsung membuat Beth sedikit menggeram.
Beth akhirnya berjalan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan baju Fairel. Apa perlu Beth telepon saja baju tersebut agar Beth tahu keberadaannya?
"Itu apa?" Seru Beth kemudian seraya menuding ke arah papaerbag di atas sofa ruang tamu.
"Aku juga tidak tahu. Coba kau buka dan pastikan dulu!" Fairel kembali memberikan perintah pada Beth.
"Kenapa tidak kau lakukan sendiri?" Gerutu Beth yang akhirnya tetap membuka isi dari paperbag tadi. Dan benar saja, isi paperbag besar tersebut adalah baju Fairel.
"Memang bajumu!" Tukas Beth yang akhirnya memberikan secara kasar paperbag tadi pada Fairel.
"Sana mandi!" Beth ganti memerintah Fairel.
"Mandi di kamarmu saja boleh, kan?" Ujar Fairel cengengesan seraya menuju ke kamar Beth.
"Ieel!!" Beth berusaha mengejar Fairel, namun terlambat! Fairel sudah terlanjur masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.
Dasar!
"Yasudah! Aku akan mandi di kamar abang Timmy saja," gumam Beth yang akhirnya mengangkut semua bajunya ke kamar sang abang.
Dasar Fairel menyebalkan!
****
"Nanti di dalam jangan jauh-jauh dariku, jangan melepaskan pegangan tanganku, dan jangan sesekali melirik pada Reandra kalau pria buaya baj*ngan itu datang!" Fairel bercerocos panjang lebar sembari pria itu menggenggam tangan Beth.
"Kenapa tidak sekalian kau pasang borgol saja di tangan kita berdua?" Cetus Beth yang langsung membuat Fairel menjentikkan jarinya.
"Ide bagus yang terlambat! Aku tak bawa borgol!" Ucap Fairel sembari berdecak. Beth hanya memutar bola mata dan pasangan itupun segera masuk ke lokasi acara yang begitu mewah di ballroom hotel Ossa.
"Mom dan Dad kamu jadi datang?" Tanya Beth sembari mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ballroom.
"Jadilah! Ini kan acara calon besan," jawab Fairel sembari mengeluarkan ponselnya dari saku. Saat itulah, seseorang tiba-tiba memanggil Fairel dari kejauhan.
"Bang Iel!" Panggil Keano yang segera menghampiri Beth dan Fairel. Tentu saja sepupu Fairel itu datang bersama Rossie yang pernah menjadi gebetan Fairel di masa lalu.
"Lihat! Ada mantan kamu," bisik Beth pada Fairel seraya terkikik. Fairel hanya berdecak dan sekarang ganti melingkarkan lengannya di pinggang Beth.
"Beth? Kau datang bersama Abang Iel?" Rossie tampaknya sedikit terkejut.
"Kan aku sudah bilang kalau mereka berdua itu ada something!" Tukas Keano yang kini ikut-ikutan merangkul Rossie.
"Cih! Sok tahu!" Cibir Fairel pada sang sepupu.
"Jadi, kapan abang dan Beth--"
"Maksudku Kak Beth akan menyusul?" Tanya Keano selanjutnya merasa kepo.
"Kenapa tanya-tanya? Mau membiayai pernikahan kami memangnya?" Jawab Fairel dengan nada bersungut yang langsung berhadiah cubitan di pinggang dari Beth.
"Apa, sih? Aku memang selalu begini kalau bicara pada Keano menyebalkan ini!" Tukas Fairel sembari menoleh pada Beth yang langsung berekspresi bingung.
"Itu memang benar, Kak Beth!" Sahut Keano membenarkan.
"Kak Beth?" Rossie masih tampak bingung dan bertanya-tanya.
"Mereka mau menikah juga," bisik Keano pada sang istri namun cukup keras untuk bisa didengar oleh Beth dan Fairel.
"Benarkah? Kapan, Beth?" Tanya Rossie selanjutnya pada Beth dengan raut wajah antusias.
"Apanya yang kapan?" Beth balik bertanya bingung.
"Kau dan Abang Iel menikah."
"Hah--"
"Tunggu saja undangannya!" Sergah Fairel menjawab dengan cepat. Fairel lalu segera mengajak Beth pergi dan meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut.
"Congrats, Bang!" Seru Keano yang hanya diabaikan oleh Fairel.
Namun kemudian, tak berselang lama Fairel sudah kembali lagi dan mendekat ke arah Keano.
"Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku akan mencari istri yang lebih cantik dari istrimu! Dan Beth lebih cantik dari Rossie malam ini!" Bisik Fairel pada Keano yang hanya mengangguk sembari tertawa kecil.
"Jangan tertawa!" Fairel langsung meninju pundak sang sepupu.
"Iya, Bang! Kak Beth memang cantik malam ini!" Puji Keano akhirnya sembari merangkul pundak Rossie.
"Benar, kan, Ros?" Keano ganti meminta pendapat pada Rossie.
"Benar! Kak Beth cantik dan anggun sekali malam ini," puji Rossie sembari tersenyum pada Beth.
"Terima kasih! Kau juga cantik malam ini, Ros!" Beth langsung balik memuji Rossie.
"Ck! Tidak usah memujinya! Kau yang tercantik malam ini!" Decak Fairel yang langsung mengajak Beth berbalik dan pergi lagi dari hadapan Keano dan Rossie yang kini kompak tergelak.
Dasar bucin akut!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir