
"Usap, Sayang!" Pinta Fairel yang kini sedang memejamkan matanya seraya berayun di sebuah hammock di tepi pantai nan indah.
"Iya, begitu!" Senyum Fairel langsung mengembang lebar tatkala tangan mungil itu mengusap wajahnya dengan lembut
"Usap wajahku lagi, lalu cium aku!" Fairel sudah mengusap tangan seorang wanita yang sejak tadi tak berhenti menyusuri wajahnya.
"Cium aku, Sayang!" Fairel sudah ganti memonyongkan bibirnya, saat sebuah suara yang lumayan menggelegar mengakhiri semua mimpi indah Fairel..
"Kau sedang apa, Gavin!" Omel Zeline pada Gavin seraya bersungut-sungut.
Fairel refleks membuka mata dan meraba wajah serta bibirnya yang tadi di dalam mimpi ia pakai untuk mencium seseorang....
Sial!
Jangan bilang kalau tadi....
"Hai, sudah bangun dari mimpi indahmu?" Kikik Gavin tanpa dosa, yang kini statusnya adalah suami dari Zeline galak.
Fairel yang melihat kikikan Gavin, refleks meraba wajahnya sendiri.
"Wajahmu lumayan mulus. Kau pakai skincare--"
"Ayo pergi!" Ajak Zeline sambil sedikit menyeret Gavin agar meninggalkan Fairel yang masih berada di atas hammock dan sedikit linglung.
Apa kata Gavin tadi? Wajah Fairel mulus?
Apa itu artinya yang membelai dan hampir Fairel cium tadi adalah....
Gavin?
Brengsek!
"Gavin! Sialan kau!" Seru Fairel yang kini sudah turun dari hammock, lalu meraup segenggam pasir untuk ia lemparkan ke udara.
"Hahahaha!" Langsung terdengar tawa Gavin yang menggelegar yang tentu saja membuat Fairel semakin kesal.
Benar-benar sepupu kurang ajar, yang sudah menghancurkan mimpi indah Fairel bersama....
Bersama seorang gadis manis, berperawakan mungil, bercelana kodok,dan rambutnya dicepol!
Tidak! Itu bukan Beth!
Fairel tak mungkin bermimpi tentang Beth saat ia sedang liburan dan menyegarkan pikiran.
Tidak mungkin!!
****
"Kath!"
Beth yang sudah hampir terlelap, samar-samar mendengar suara abang Timmy yang sepertinya sedang menggumamkan sebuah nama.
Beth segera menggosok kedua matanya, lalu menggenggam tangan Abang Timmy.
"Bang," panggil Beth lirih, saat kemudian bibir Abang Timmy kembali meracau.
"Kath aku mencintaimu!"
Beth tentu saja langsung terdiam karena bukan kali ini saja Abang Timmy menyebut nama Kath. Tapi beberapa hari lalu di kost-an saat abang Beth ini mabuk, nama Kath juga terus-terusan dipanggil oleh Abang Timmy.
Kath siapa sebenarnya?
Beth yang masih merasa bingung, langsung menoleh ke arah Yvone yang ternyata juga masih terjaga. Namun teman Beth itu sibuk dengan laptopnya, dan sepertinya tak menggubris racauan Abang Timmy barusan.
"Abang!" Beth mengusap lembut tangan Abang Timmy, saat kemudian abang Beth itu membuka matanya perlahan.
Akhirnya!
"Kath--" Suara abang Timmy secara tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Pria itu kemudian mengangkat tangannya yang tadi diusap oleh Beth, dan memperhatikan selang infus yang tersambung di sana.
"Kapan kau datang, Beth?" Tanya Abang Timmy kemudian pada Beth.
"Tadi siang," jawab Beth yang sudah ganti mengusap kepala sang Abang.
"Abang sebenarnya kenapa, sih?" Tanya Beth seraya menatap tak mengerti pada Abang Timmy.
Namun alih-alih menjawab, abang Timmy malah memalingkan wajahnya dan seolah enggan menatap atau mungkin bercerita pada Beth.
"Yvone tadi sudah pulang? Aku tidak tahu kenapa gadis itu ada dimana-mana dan seperti sedang membuntutiku--
"Aku tak membuntutimu!" Sergah Yvone yang tiba-tiba buka suara. Sepertinya Yvone bisa mendengar kalimat Abang Timmy barusan. Gadis itu juga sudah bangkit dari sofa, lalu menghampiri bed perawatan abang Timmy.
"Aku sedang ada urusan bisnis di kota ini, dan bahkan aku juga tak tahu menahu kalau kau pergi ke kota ini!" Tukas Yvone kemudian seraya menatap tajam pada Abng Timmy yang cenderung acuh. Abang Beth itu bahkan beberapa kali memalingkan wajahnya seolah enggan menatap pada Yvone.
"Toh kau juga sudah disini dan sepertinya Timmy juga sudah baikan," ucap Yvone kemudian yang sudah ganti menatap ke arah Beth.
"Tapi ini sudah malam, Yv!"
"Apa tidak sebaiknya--"
"Hotelku tak jauh dari sini," ujar Yvone cepat memotong kalimat Beth.
"Baiklah kalau begitu!" Beth akhirnya tak mencegah Yvone lagi yang sepertinya sudah tak nyaman berada di dalam kamar perawatan Abang Timmy.
Apa ini ada hubungannya dengan Abang Timmy yang tadi terus meracaukan nama Kath? Apa Yvone cemburu?
Aneh sekali!
"Terima kasih sekali lagi karena sudah menolong Abang Timmy, Yv!" Ucap Beth sekali lagi sebelum gadis itu keluar daei kamar perawatan Timmy.
"Oh, ya! Sebaiknya kau juga segera menghubungi Mama dan papamu karena aku tak bisa membantumu berbohong lagi," pesan Yvone sebelum gadis itu benar-benar pergi.
Beth tak menjawab sepatah katapun mengenai saran Yvone yang terakhir tadi, Karena Beth juga mendadak bingung.
"Ck! Kapan aku bisa keluar dari sini, Beth?" Pertanyaan Abang Timmy memecah keheningan dan abang Beth itu terlihat hendak melepaskan infus dari tangannya.
"Abang, jangan!" Cegah Beth cepat.
"Hasil tes abang sebagian belum keluar. Jadi abang belum bisa pulang!" Tukas Beth yang kini mencekal tangan abang Timmy agar tak berusaha melepaskan infusnya.
"Abang sebenarnya sedang apa di kota ini?" Tanya Beth kemudian merasa tak tahan lagi. Terlalu banyak pertanyaan yang bercokol di kepala Beth saat ini tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Abang Timmy.
"Abang ada urusan," jawab Timmy tanpa menatap pada Beth.
Kelihatan sekali kalau abang Beth itu sedang berbohong sekarang.
"Urusan menemui Kath?" Tanya Beth dengan nada sinis.
"Beth jadi penasaran, siapa sebenarnya Kath itu hingga dia bisa membuat abang Timmy mabuk-mabukan kemarin, lalu babak belur sekarang!" Cecar Beth panjang lebar mengeluarkan semua uneg-unegnya pada sang abang.
"Bukan siapa-siapa--"
"Apa Kath itu wanita yang waktu itu berada di kost-an Abang Timmy?" Tanya Beth lagi menatap tajam pada sang abang sekaligus meminta jawaban.
"Sudah sejauh mana sebenarnya hubungan Abang Timmy dan Kath?" Tanya Beth lagi yang sama sekali tak ditanggapi oleh Timmy. Kakak Beth uru hanya diam seribu bahasa seolah memang tak ada niat untuk me jawab semua pertanyaan Beth.
"Abang!" Beth yang sudah kesal ganti memukul pundak Abang Timmy.
"Kau kesini bersama siapa?" Tanya Abang Timmy yang akhirnya buka suara. Meskipun pria itu pada akhirnya bukan menjawab semua pertanyaan Beth, melainkan malah melontarkan pertanyaan yang tak nyambung.
"Beth kesini sendiri dan Mama serta Papa tak tahu tentang apa yang kini menimpa Abang Timmy."
"Jadi, bisakah abang Timmy menjelaskan sedetail-detailnya pada Beth tentang siapa Kath dan ada hubungan apa diantara Abang Timmy dan wanita itu?" Tanya Beth panjang lebar menuntut penjelasan dari Timmy.
"Dia temanku," jawab Abang Timmy singkat, padat dan membuat penasaran.
"Teman istimewa?" Tebak Beth kemudian sedikit mencibir.
"Anggap saja begitu!"
"Aku ingin pulang sekarang," tukas Abang Timmy kemudian yang tentu saja langsung membuat Beth menganga tak percaya.
"Ini tengah malam, Bang!" Sergah Beth mengingatkan sang Abang yang entah sudah sadar penuh atau memang masih linglung.
"Tapi aku bisa pulang besok pagi, kan?" Tanya Timmy memaksa.
"Kita lihat saja besok saat semua hasil tes Abang keluar," jawab Beth seraya bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan bed perawatan Timmy.
"Beth, aku lapar!" Ucap Timmy kemudian yang langsung membuat Beth tak jadi meninggalkan abangnya tersebut dan kembali duduk lagi di samping bed perawatan Timmy.
"Apa ada makanan?" tanya Timmy kemudian pada Beth.
"Ada," jawab Beth seraya mengambil beberapa makanan dari atas nakas. Beth lalu menyuapi Abang Timmy dengan telaten dan hati-hati.
"Abang berhutang banyak penjelasan pada Beth!" Ucap Beth seraya menatap tajam sekali lagi pada abang Timmy yang hanya mengangguk samar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.