Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PUSING


"Iel!" Beth mengguncang tubuh Fairel yang entah mengapa bisa tidir begiti nyenyak, padahal perjalanan dari kelab malam tadi sampai ke rumah Fairel hanya sekitar lima belas menit.


"Iel!" Beth mengguncang sekali lagi tubuh Fairel agar pria itu bisa secepatnya bangun.


Saat ini mobil memang sudah terparkir di depan kediaman Halley yang tampak sepi. Gerbang besi tinggi juga tertutup rapat, dan mungkin penghuninya sudah istirahat semua.


"Bagaimana ini, Bang?" Tanya Beth pada Timmy yang hanya mengendikkan kedua bahunya.


"Lapor security saja!"


"Rumah mewah begitu pasti ada security di depannya," usul Timmy akhirnya setelah berpikir beberapa saat.


"Abang yang lapor!" Perintah Beth seraya bersedekap..


"Siapa yang mau dilaporkan?" Seru Fairel tiba-tiba yang rupanya sudah bangun.


Huh!


Berakhir juga tidur kebo-nya pria menyebalkan itu!


"Kau!" Jawab Beth ketus.


"Aku? Kenapa? Tadi yang meninju wajahku abangmu! Kenapa aku yang mau kau laporkan?" Cerocos Fairel nyaris tanpa jeda.


"Sudahlah!" Ucap Beth akhirnya merasa malas untuk menjelaskan. Beth sudah membuka sabuk pengaman, begitu juga dengan Timmy.


"Sekali lagi aku minta maaf, Iel!" Ucap Timmy sebelum pria itu membuka pintu mobil.


"Kalau aku tidak mau memaafkan bagaimana?"


"Berarti memang sudah sifat kamu itu yang menjadi orang dendaman! Kemarin juga pas aku minta karena tak sengaja membuatmu tercebur ke kolam, kau juga tak mau memaafkan!" Gantian Beth yang bercerocos.


"Kau tidak ikhlas minta maafnya!" Tukas Fairel beralasan.


"Tidak ikhlas bagaimana? Aku sudah bertanggung jawab dengan mengantarkan baju ganti untukmu, mencucikan bajumu yang basah, lalu juga mengembalikannya ke kantormu."


"Tapi kau malah merem*s pundakku sampai biru-biru," Beber Beth dengan wajah cemberut.


"Serius sampai biru? Mana?" Tanya Fairel yang sudah menarik kaus Beth.


"Hei! Hei! Kau mau apa?" Gertak Timmy galak karena tindakan spontan Fairel yang masuk kategori tidak sopan.


"Aku hanya ingin memastikan apa pundak Beth benar-benar biru setelah aku cengkeram kemarin."


"Padahal aku juga tidak terlampau keras melakukannya!" Ujar Fairel yang masih saja mencari pembenaran.


"Sudah hampir satu minggu, ya sudah hilang biru-birunya--"


"Berarti kau berbohong!" Tuduh Fairel to the point yang kembali membuat Beth merengut.


"Ayo turun saja dan pulang, Bang!" Ajak Beth kemudian pada Timmy seraya membuka pintu mobil.


"Mau pulang naik apa tengah malam begini?" Tanya Fairel yang ikut menyusul turun.


"Apa saja yang ada!" Jawab Beth malas.


"Bawa saja mobilku kalau begitu! Toh aku juga sudah sampai di rumah," ucap Fairel sembari menahan langkah Timmy.


"Tidak usah! Repot harus balikin kesini lagi besok," tolak Timmy cepat.


"Ck! Tidak usah dikembalikan kalau begitu!" Jawab Fairel enteng yang langsung membuat Beth dan Timmy menganga.


Apa Fairel sedang mabuk?


"Sinting!" Ucap Timmy kemudian seraya menyentak hadangan Fairel, lalu menggandeng Beth dan mengajaknya meninggalkan Fairel sinting.


"Tapi ini sudah tengah malam! Tidak ada taksi atau bus!" Seru Fairel yang langsung membuat security keluar dari kediaman Halley.


"Pak Fairel! Baru pulang?" Sapa security yang langsung membuat Fairel berdecak. Fairel mendadak mendapat ide cemerlang.


"Kau tidak ada pekerjaan, kan? Antarkan dua orang itu pulang ke rumah!" Perintah Fairel pada security yang tampak bingung.


"Tapi saya harus berjaga--"


Sebenarnya bisa saja Fairel menyuruh security membangunkan supir keluarga. Tapi pasto akan lama. Jadi Fairel memberdayakan tenaga yang ada saja.


"I-iya, Pak!" Jawab security akhirnya seraya masuk ke dalam mobil Fairel.


"Beth!" Panggil Fairel yang hanya diabaikan oleh Beth dan Timmy yang jalannya terpincang-pincang.


Sementara mobil yang dikemudikan security tadi sudah menghampiri Beth dan Timmy. Terlihat sedikit ada perdebatan sebelum akhirnya Beth dan Timmy mau masuk ke dalam mobil dan diantar pulang oleh security Fairel.


"Hoaaaam!" Fairel menguap lebar saat dirinya masuk ke dalam pagar. Suasana sudah sepi dan yang tersisa hanyalah dekorasi bekas pertunangan Angga dan Reina tadi.


Tak ada mobil Angga di garasi atau di halaman, berarti calon adik ipar Fairel itu memang tak menginap malam ini.


Baguslah! Setidaknya Reina tak akan membuat Dad Liam terkena hipertensi atau serangan jantung.


"Aku akan--"


"Auuwww!" Fairel tak sengaja menggosok matanya yang leban tadi dan sekarang pria itu merasa kesakitan.


"Ck! Awas saja kalau besok sampai berbekas!" Gumam Fairel sebelum kemudian ia lanjut masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


****


"Terima kasih, Pak!" Ucap Beth pada security rumah Fairel yang sudah mengantar ia dan Timmy ke rumah kedua orang tua mereka.


Ya, tadi saat perjalanan pulang, mendadak Timmy berubah pikiran dan mengaja Beth pulang ke rumah saja alih-alih kembali ke kost.


"Beth harus beralasan apa kalau nanti Mama tanya, Bang?" Tanya Beth sembari membuka pagar depan.


"Diam saja dan bilang tak tahu apa-apa!"


"Nanti aku yang akan menjelaskan pada Mama dan Papa," tukas Timmy seraya berlalu masuk mendahului Beth yang hanya merengut. Beth lalu mengunci kembali pintu pagar, sebelum masuk ke dalam rumah dan menyusul Timmy. Suasana di dalam rumah juga sydah sepi dan seperti Mama Terwujud serta Papa Will sudah sama-sama terlelap.


Beth segera masuk ke kamar dan men-charger ponselnya yang hampir mati karena mehabisan baterei.


Saat itulah, tiba-tiba ada pesan masuk dari Reandra.


Apa?


[Beth, sudah tidur?] -Reandra-


Beth yang biasanya akan langsung membalas pesan Reandra tanpa menunggu sedetikpun, mendadak kali ini tak melakukannya.


"Memangnya, kau sudah berapa kali bertemu Reandra sampai bisa mengecapnya sebagai pria brengsek?"


"Berkali-kali!"


"Di acara perusahaan dan wanita yang digandeng Reandra itu selalu berganti-ganti."


Kalimat yang diucapkan Fairel tadi kembali berkelebat di benak Beth.


Berkali-kali?


Bersama wanita yang berbeda-beda!


Apa benar Reandra sebrengsek itu?


"Aku hanya ingin bilang kalau Reandra itu bukan pria baik-baik. Dia mendekatimu hanya demi satu tujuan!"


Sekarang gantian kalimat peringatan Yvone yang berkelebat di benak Beth.


Kepala Beth mendadak jadi pusing memikirkan semua perkataan Fairel dan Yvone. Gadis itu lalu meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan Reandra. Beth langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut dan menutupkannya hingga ujung kepala.


Beth hanya ingin tidur sekarang!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.