Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
BODOH!


Fairel sudah tiba di depan rumah kedua orang tua Beth. Pria itu langsung turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke dalam pagar rumah Beth, yang tak terlalu tinggi. Suasana sepi dan pagar besi tersebut tampak terkunci.


Namun di garasi Fairel bisa melihat ada motor usang Beth yang terparkir.


Hmmmm.


Apa itu artinya Beth ada di rumah sekarang?


"Beth!" Panggil Fairel dari luar pagar, sembari menatap ke arah pintu rumah Beth yang tertutup.


"Bethany!" Fairel berseru lebih keras sekarang.


"Bethany, keluar kau!"


"Cepat ke toko karena aku ingin makan rollcake cake!" Seru Fairel sekali lagi seraya menggebrak pagar rumah Beth.


Sepertinya Fairel mulai frustasi sekarang!


"Beth--"


Beep! Beep!


Fairel nyaris terlonjak, saat terdengar suara klakson disertai sorot lampu yang menyilaukan di belakangnya.


Sialan!


Siapa yang....


"Fairel!" Sapa Mama Tere yang sudah turun dari mobil yang tadi menyalakan klakson dan membuat Fairel nyaris jantungan.


Ya ampun! Ternyata itu mobil kedua orang tua Beth!


"Selamat malam, Aunty!" Sapa Fairel seraya tersenyum pada Mama Tere.


"Sedang mencari siapa?" Tanya Mama Tere lagi.


"Mencari..."


"Ma!" Panggil Papa Will dari dalam mobil yang sepertinya sedang memberikan kode agar Mama Tere membuka pagar.


"Iya, Pa!" Jawab Mama Tere yang langsung membuka gembok pagar. Wanita paruh baya tersebut juga mempersilahkan Fairel untuk masuk. Namun tentu saja Fairel merasa sungkan, terlebih karena tak ada tanda-tanda keberadaan Beth.


Tadi Fairel kemari kan karena ingin menemui Beth lalu memarahi gadis itu karena tak membuka toko hari ini!


"Fairel, kok melamun?" Teguran Mama Tere langsung membuyarkan lamunan Fairel.


"Eh!"


"Sebenarnya Fairel sesang buru-buru, Aunty!"


"Dan tadi mampir karena ingin mencari Beth saja--"


"Beth sedang liburan ke luar kota." Bukan Mama Tere yang menjawab melainkan Papa Will yang sudah turun dari mobil.


"Liburan bersama siapa, Uncle?" Tanya Fairel penasaran. Meskipun Beth tadi sudah mengatakan kalau ia tak pergi bersama Reandra, tapi Fairel masih merasa belum percaya.


Bisa saja Beth berbohong, kan?


Berbohong pada Fairel dan juga pada kedua orang tuanya!


Lalu kenapa kedua orang tua Beth ini mudah daja memberikan izin pada sang putri untuk berlibur bersama orang asing keluar kota?


Kalau terjadi sesuatu pada Beth bagaimana?


Siapa yang akan menjaga dan menyelamatkan gadis bodoh itu?


Siapa? Bagaimana?


"Beth berlobur bersama Yvone," ujar Mama Tere menjawab pertanyaan Fairel yang langsung berseru.


"Yvone sepupu Reandra brengsek?" Fairel menatap tak percaya ke arah Mama Tere dan Papa Will yang langsung mengernyit bersamaan.


"Reandra brengsek?" Gumam Papa Will yang langsung serta merta mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Nomor Beth tidak aktif," gumam Papa Will memberitahu sang istri.


"Beth memangnya berlobur kemana, Uncle?" Tanya Fairel di sela kekhawatiran Papa Will dan Mama Tere.


"Kemarin Beth bilangnya di kota D karena Yvone sedang ada pekerjaan disana dan Beth sedang menemani Yvone!" Cerita Mama Tere dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Bagaimana kalau ternyata ada Reandra juga, Pa?" Mama Tere sudah ganti mengguncang lengan sang suami sekarang.


"Tapi Beth tak mungkin bohong, Ma!" tukas Papa Will yang sepertinya berusaha untuk tetap tenang.


"Lalu kenapa sekarang nomor Beth tak bisa dihubungi?" Tanya Mama Tere yang semakin panik.


"Mungkin kehabisan baterei," ujar Papa Will berpikir positif.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu--"


"Papa akan menghubungi Timmy dan minta dia menyusul Beth," ceris Papa Will yang kembali mengutak-atik ponselnya. Sementara Fairel juga ikut-ikutan menghubungi nomor Beth, dan nomornya masih tidak aktif.


Benar-benar kamu, Beth!


"Dasar keras kepala!" Gumam Fairel seraya pergi meninggalkan Mama Tere dan Papa Will yang masih berusaha menghubungi abangnya Beth.


Fairel bahkan tak pamit dan pria itu sudah masuk ke mobilnya dengan cepat.


"Penerbangan ke kota D!" Fairel men-scroll layar ponselnya dengan tergesa untuk mencari jadwal penerbangan paling cepat ke kota D.


"Satu jam lagi ada penerbangan!"


"Bagus! Aku akan mengomeli tukang kue keras kepala itu!" Ucap Fairel sebelum kemudian pria itu melajukan mobilnya ke arah bandara kota.


Fairel benar-benar kesal pada Beth sekarang!


****


Sebentar!


Pandangan Beth tak sengaja tertuju ke arah tangan kiri Abang Timmy, yang mang bersebelahan langsung dengan Yvone. Tangan itu tampak digenggam erat oleh Yvone yang kini memejamkan matanya.


"Aku pikir kau tadi tidur." Abang Timmy berbisik-bisik pada Beth yang masih melirik ke arah genggaman Yvone di tangan abangnya tersebut.


"Yvone kenapa?" Tanya Beth balik berbisik.


"Sepertinya takut karena tadi ada guncangan beberapa kali. Ciaca sedang kurang baik," ujar Abang Timmy yang tetap tak mengubah posisinya dan masih membiarkan tangannya digenggam oleh Yvone.


"Abang peluk Yvone kalau begitu dan tenangkan dia," usul Beth kemudian seraya terkikik. Mendadak terbersit sebuah ide cemerlang di kepala Beth untuk menjodohkan Abang Timmy dan Yvone saja.


Toh Yvone juga gadis yang baik dan sepertinya dia masih belum pacar. Sekalian saja agar Abang Timmy bisa secepatnya move on dari Kath!


"Kau bilang apa tadi?" Bisik Timmy yang sepertinya tak mendengar usulan Beth barusan.


Atau hanya pura-pura tak dengar.


"Abang peluk Yvone agar dia tak ketakutan!"


"Yvone masih jomblo, Bang!" Bisik Beth lagi yang langsung membuat Abang Timmy berdecak.


"Peluk!" Ujar Beth lagi yang kembali terkikik, saat akhirnya Yvone buka suara.


"Maaf, Tim!" Ucap Yvone yang kini sudah melepaskan cengkeramannya pada tangan Abang Timmy.


"Tidak apa!" Jawab Abang Timmy seraya mengusap tangannya.


"Ck! Abang payah!" Bisik Beth sebelum kemudian gadis itu menyandarkan kepalanya ke jendela pesawat dan mencoba untuk tidur lagi. Pesawat sudah berhenti berguncang sekarang!


****


Fairel naik eskalator dengan sedikit tergesa karena ia harus secepatnya masuk ke ruang tunggu bandara. Pesawat tujuan kota D akan lepas landas sekitar dua puluh menit lagi dan Fairel tak mau terlambat.


"Permisi!" Fairel mendahului beberapa orang dan terus naik, hingga akhirnya ia sampai juga di ruang tunggu.


"Harus dilepas juga, Nona? Kalau celana saya turun, Nona mau bertanggung jawab?"


Fairel sedang melewati bagian pemeriksaan sebelum masuk ke ruang tunggu, saat ia mendengar suara yang tak asing sedang menggida petugas di bagian pemeriksaan.


Gila!


Fairel langsung mengarahkan tatapannya pada pria menyebalkan yang ingin Fairel lemparkan ke kandang buaya saja agar ia membaur bersama teman-temannya.


Reandra!


"Sudah selesai?"


"Sepertinya belum, Nona! Aku belum mendapatkan nomor ponsel--" Reandra tak melanjutkan kalimatnya saat tatapan pria itu tertumbuk ke arah Fairel yang sedang mengambil ponsel dan dompetnya dari keranjang pemeriksaan. Reandra langsung melemparkan tatapan sengit ke arah Fairel.


Tentu saja Fairel balik menatap sengit pada pria kadal cap buaya itu! Memangnya dia pikir Fairel takut!


"Ck!"


Fairel masih bisa mendengar decakan Reandra, sebelum pria buaya itu berlalu ke ruang tunggu dan mendahului Fairel yang langsung mencibir-cibir dalam hati.


"Dasar playboy! Petugas bandara juga dia goda!" Gerutu Fairel kesal.


Fairel akhirnya ikut mengayunkan langkahnya ke ruang tunggu dan tepat saat Fairel hebdak duduk, ia malah kembali menyaksikan pemandangan yang sungguh diluar dugaan.


Reandra sedang menyapa seorang gadis lalu mencium bibirnya juga. Sepertinya dua sejoli itu hendak pergi naik pesawat berdua.


"Playboy, kadal, buaya!" Gumam Fairel seraya mendaratkan bokongnya ke kursi di ruang tunggu bandara. Saat itulah ponsel Fairel mendadak berdering.


"Halo!" Sambut Fairel cepat setelah mengangkat telepon dari Reina.


"Abang katanya sudah pulang dari berlibur? Mana oleh-oleh untuk Reina?"


"Di rumah Mom! Ambil.saja sendiri dan tak usah manja!" Jawab Fairel sedikit bersungut.


"Reina sudah di rumah Mom, tapi Abang malah tak ada. Abang kemana?"


"Aku ada urusan dan kau tak usah kepo!" Jawab Fairel ketus.


Fairel lalu menatap ke arah pesawat yang baru saja mendarat dan hendak parkir. Pemandangan dari jendela di ruang tunggu bandara memang mengarah langsung ke landasan pacu, serta tempat parkir pesawat yang akan tersambung ke ruang tunggu melalui garbarata.


"Semoga urusan penting itu adalah urusan mencari calon istri."


"Ck! Dasar sok tahu!" Tandas Fairel sebelum kemudian pria itu menutup begitu saja telepon dari Reina. Fairel lalu memasang telinga baik-baik saat terdengar panggilan keberangkatan untuk penumpang pesawat. Fairel mencocokkan nomor yang disebutkan oleh petugas, namun ternyata itu bukan nomor penerbangan Fairel.


"Ck! Lama sekali!" Gumam Fairel mulai tak sabar. Fairel lalu menatap ke arah segerombolan calon penumpang yang sudah masuk ke dalam gerbang keberangkatan. Diantara mereka ada Reandra juga yang tampak merangkul mesra wanita yang tadi bersamanya.


Sebentar...


Kalau sekarang Reandra ada disini, bukankah itu artinya pria itu tidak sedang bersama Beth di kota D?


Lalu untuk apa Fairel terbang ke kota D?


Berarti Beth memang hanya berlibur bersama Yvone dan tidak bersama Reandra! Kenapa Fairel berlebihan sekali mengkhawatirkan tukang kue itu, sampai ia ingin menyusul Beth dan memastikan keamanan gadis bodoh itu!


"Bodoh!" Rutuk Fairel kemudian seraya bangkit dari duduknya. Fairel lalu merem*s tiketnya dan akhirnya pria itu keluar dari ruang tunggu bandara.


"Kenapa aku ingin ke kota D? Kenapa aku harus khawatir pada tukang kue menyebalkan itu?" Fairel tak berhenti merutuki dirinya sendiri sampai ia keluar dari ruang tunggu dan dari bandara kota.


Malam sudah menjelang dan Fairel memutuskan untuk pulang lagi ke rumah Mom dan Dad.


Ada apa dengan Fairel sore ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.