
"Hai, Sepupu! Akhirnya kita bertemu lagi!" Sapa Gavin ada Fairel yang kini bersedekap dan berekspresi tak senang.
"Selamat karena akhirnya kau akan--"
"Aku sudah menikah dan besok itu acara resepsinya!" Sergah Fairel yang langsung menyalak pada Gavin.
"Oh, iya! Aku lupa!" Gavin menepuk keningnya sendiri.
"Aku terlalu sibuk bolak-balik dari kota ini ke kota pesisir. Sampai aku lupa kalau kau sudah menikah," tukas Gavin lagi.
"Siapa?" Tanya Fairel kemudian.
"Aku! Zeline kan sedang hamil muda dan maunya tinggal di rumah Bunda--"
"Yang tanya. Siapa yang tanya?" tukas Fairel sinis yang langsung membuat Gavin garuk-garuk kepala. Ponsel sepupu jauh Fairel itu kemudian berdering dan Gavin pun langsung pamit pergi meninggalkan Fairel yang masih bersedekap.
"Kau bicara dengan siapa tadi?" Tanya Beth yang sudah menghampiri sang suami.
"Bukan siapa-siapa! Tak usah bertanya dan tak usah kepo!" Jawab Fairel sembari menutup kedua mata Beth yang sepertinya kepo sekali dengan Gavin tadi.
"Ish! Cuma tanya juga dicemburui," decak Beth yang langsung dengan cepat menyingkirkan tangan Fairel yang menutupi matanya.
"Iyalah! Takutnya kau tertarik juga nanti pada bocah itu!" Decak Fairel yang benar-benar membuat Beth tak habis pikir.
"Bocah? Perasaan tadi yang bicara denganmu bukan bocah--"
"Ssshhhh!! Tak usah lagi dibahas, Beth!" Sergah Fairel galak.
"Iya! Aku kan hanya mau tahu-'"
"Sudah kubilang tak usah kepo pada siapapun! Kau itu istriku dan yang boleh kau cari tahu serta kau pikirkan hanyalah semua tentang aku!" Tegas Fairel lagi yang langsung membuat Beth memutar bola matanya.
"Semua tentang kau? Aku bahkan sudah khatam mengenalmu luaf dan dalam! Jadi apalagi yang harus aku cari tahu?" Cibir Beth sebelum kemudian wanita itu berbalij dan hendak meninggalkan Fairel.
"Mau kemana?" Tanya Fairel sembari menahan tangan Beth.
"Ke kamar. Istirahat!"
"Nanti kalau sepupu atau saudaramu yang lain datang lalu aku bertanya itu siapa kau mencak-mencak lagi!" Tukas Beth sambil menyentak tangan Fairel.
"Jangan tidur, ya! Nanti aku menyusul sebentar lagi!" Pesan Fairel saat Beth shdah menaiki tangga dan menuju ke kamar Fairel di lantai atas
Fairel sendiri langsung pergi ke daput untuk mengambil makanan. Hari ini di kediaman Halley memang lumayan ramai karena semua sepupu Fairel mebdadak berdatangan, padahal acara resepsi pernikahan Fairel dan Beth digelarnya besok. Itupun acaranya di ballroom hotel dan bukan di kediaman Halley.
Memangnya Fairel adalah Keano yang saat membuat pesta pernikahan bersama Rossie sama sekali tak mewah dan hanya digekar di rumah. Cih! Fairel tak semiskin itu!
"Semuanya sudah aku transfer, ya! Jadi hutangku sudah lunas semua!"
Fairel baru selesai minum, saat ia mendengar suara Lea yang sepertinya sedang bicara pada seseorang mengenai hutang.
"Iya! Uangnya sudah masuk, Le!"
"Terima kasih banyak!" Yang itu adalah suara Keano. Ternyata Lea tadi sedang bicara pada Keano perihal hutang.
Apa Lea baru saja berhutang uang oada Keano?
Tapi bukankah saudara kembar Ryan itu punya suami tajir yang mewarisi berhektar-hektar kebun teh? Lalu kenapa Lea malah berhutang pada Keano? Warisan suami Lea gagal turun?
"Aku yang berterima kasih, Kean!--"
"Sedang membahas apa?" Tanya Fairel menyela kalimat Lea.
"Aku hanya sedang membayar lunas hutangku pada Keano tahun lalu," jelas Lea.
"Kau berhutang pada Keano? Apa suamimu sudah melarat sekarang?" Cecar Fairel yang langsung membuat Lea yang perutnya sedikit buncit itu berdecak.
Kabarnya Lea memang sedang kejar setoran karena sepupu Fairel itu yang sudah hamil lagi, padahal anaknya belum genap enam bulan usianya.
Luar biasa!
"Sembarangan! Ini hutang pribadi jadi aku memang menolak dibayari oleh Randu! Aku membayarnya dari penghasilanku sendiri!" Pamer Lea kemudian.
"Memangnya kau punya penghasilan? Bukannya kau sudah pensiun jadi koki di B&D Resto?" Cibir Fairel meremehkan.
"Dia sekarang owner dari beberapa outlet donat." Bukan Lea, melainkan Keano yang menjawab dan menjelaskan pada Fairel.
"Oh! Pantas saja perutmu mengembang juga bak donat," ledek Fairel kemudian yang langsung berhadiah tinjuan dari Lea.
"Kau memang menyebalkan, Iel! Aku akan pergi saja!" Dengkus Lea yang akhirnya berlalu pergi dan meninggalkan Fairel serta Keano.
"Ngomong-ngomong, Kak Beth mana, Bang?" Tanya Keano berbasa-basi pada Fairel.
"Kenapa tanya-tanya istriku dimana. Kau kan sudah punya istri sendiri!" Jawab Fairel yang langsung menyalak pada Keano.
"Kan hanya tanya, Bang! Memang tidak boleh?"
"Tidak!" Jawab Fairel galak.
"Aku saja tak pernah menanyakan istrimu dimana. Lalu kenapa kau malah tanya-tanya Beth dimana."
"Aku tidak tanya!!" Fairel menyalak lagi pada Keano.
"Baiklah, baiklah! Kean tak tanya lagi."
"Ya sudah! Pulang sana!" Usir Fairel kemudian.
"Acara resepsi masih besok, tapi kalian semua sudah disini malam ini! Berisik!" Omel Fairel bersungut-sungut.
"Kami pikir mau ada pesta lajang sebelum resepsi, Bang!" Kekeh Keano beralasan.
"Aku sudah bukan lajang!" Fairel kembali bersungut.
"Dan aku tak mengadakan pesta lajang. Jadi pulang kalian semua!" Usir Fairel pada Keano.
"Iya, Bang! Nanti kami akan pulang kalau makanan sudah habis," tukas Keano sembari menghampiri kulkas, lalu membuka pintu dari benda kotak tinghi tersebut. Keano lalu mencomot satu potong rollcake yang selalu tersedia di dalam kulkas.
"Hei! Jangan mengambil kue itu!" Fairel langsung merebut dengan kasar rollcake tadi dari tangan Keano, lalu melahapnya dalam satu suapan besar.
"Kenapa memangnya, Bang? Kan stoknya masih banyak," tanya Keano bingung.
"Tapi itu semua milikku dan tak ada yang boleh mengambilnya! Beli sendiri sana kalau mau makan rollcake!" Ujar Fairel seraya membuka kukkas lagi dan mengambil satu potong rollcake lagi.
"Baiklah, Kean akan pesan di Kak Beth," gumam Keano kemudian.
"Kak Beth di kamar, kan?" Tanya Keano lagi yang langsung membuat Fairel gelagapan.
"Hei, hei, hei! Kau mau kemana?" Gertak Fairel yang langsung mdnahan langkah Keano yang hendak keluar dari dapur.
"Menemui Kak Beth untuk memesan rollcake--"
"Pesan saja di tempat lain, karena Beth sedang cuti jadi tukang kue! Beth dan aku akan pergi honeymoon setelah resepsi!" Ujar Fairel berapi-api.
"Tapi pesan dimana? Kata Mami rollcake terenak adalah buatan Kak Beth--"
"Terima kasih pujiannya, Kean!" Timpal Beth tiba-tiba yang entah srjak kapan sudah berada di dapur juga. Padahal Fairel tadi sudah menyurih istrinya ini untuk di kamar saja.
"Kau mau pesan rollcake dari Sweety Cake?" Tawar Beth kemudian pada Keano.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh menerima pesanan kue, Beth! Kita akan pergi honeymoon!!" Fairel langsung mendekap Beth dengan lebay, seolah sedang menyembunyikan istrinya itu dari jangkauan pan d ang Keano.
"Honeymoon kemana? Kau tak memberitahuku," cecar Beth yang langsung membuat Fairel berdecak.
"Ini aku sudah memberitahu!" Tukas Fairel cepat.
"Tapi honeymoon kemana?" Tanya Beth lagi sangat-sangat penasaran.
"Nanti aku beritahu! Sekarang kau ke kamar lagi dan jangan keluar-keluar!" Perintah Fairel kemudian pada Beth.
"Kenapa memangnya? Aku lapar dan mau makan," tukas Beth beralasan. Sementara Keano sudah berlalu pergi dan sepertinya tak mau terlibat lebih jauh di perdebatan Fairel dan Beth yang lumayan absurd ini.
"Nanti aku bawakan makanan ke kamar, Beth! Cepat masuk kamar lagi!" Perintah Fairel sekali lagi dengan nada memaksa.
"Ck! Tapi kapan? Aku sudah sangat-sangat lapar dan aku akan pingsan nanti kalau kau tak kunjung membawakanku makanan!" Decak Beth yang mulai kesal pada Fairel yang mendadak jadi super duper protektif sekaligus posesif.
"Setelah ini aku bawakan! Cepat ke kamar!" Perintah Fairel lagi.
"Eh, ada istrinya Abang Iel!" Celetuk Gavin yang tiba-tiba sudah berada di dapur. Padahal Fairel kira sepupunya itu tadi sudah pergi!
"Hai! Kau sepupunya Fairel juga?" Beth sedikit berbasa-basi pada Gavin dan hendak menjabat tangan pria itu. Namun tentu saja sentakan Fairel lebih cepat dari jurus seribu bayangan untuk mencegah Beth bersalaman dengan Gavin.
"Huh! Protektif sekali, Bang!" Cibir Gavin pada sang sepupu.
"Harus! Agar kau tahu diri!" Jawab Fairel berapi-api.
"Gavin tahu diri, Bang!
"Dan lagi Gavin kan juga sudah menikah! Jadi tak mungkin Gavin mengganggu istri Bang Iel!" Beber Gavin yang hanya membuat Fairel berdecak.
"Oh, jadi namamu Gavin, ya?" Beth kembali berbasa-basi pada Gavin.
"Sudah tak usah basa-basi lagi dan segera masuk kamar!" Perintah Fairel tegas sembari mendorong Beth ke arah tangga.
"Makananku, Iel! Aku lapar!" Cicit Beth mengeluh.
"Nanti aku antar! Sana masuk kamar!" Perintah Fairel sekali lagi yang hanya membuat Beth menghela nafas. Kenapa sikap protektif Fairel pada Beth, makin kesini makin menjadi saja?
Beth benar-benar tak habis fikir.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.