
"Kenapa tak ada yang mengatakan kepadaku kalau bercinta rasanya semenyenangkan ini?" Ucap Fairel sembari menatap wajah Beth yang masih memerah dan sedikit basah oleh peluh. Tak berbeda jauh dari Fairel yang kondisinya juga serupa
"Kenapa menatapku begitu? Ini juga baru pertama bagiku, jadi bagaimana aku bisa memberitahumu sebelumnya," cerocos Beth sembari berusaha mendorong tubuh Fairel yang kini masih menindihnya. Namun sia-sia saja. Toh milik mereka berdua juga masih menyatu sekarang.
"Yang aku maksud bukan kau!" Decak Fairel kemudian.
"Lalu siapa? Masa iya Keano atau Abang Angga--"
"Angga saja, Beth! Dia bukan lagi abangmu! Dia adik ipar, dan kau jangan dekat-dekat padanya saat dia berkunjung kesini!" Ujar Fairel mengoreksi panggilan eth pada Angga sekaligus memperingatkan Beth.
"Memang kenapa tak boleh dekat-dekat?" Tanya Beth penasaran.
"Karena Reina cemburuan. Nanti kau bisa dituduh macam-macam oleh Reina!"
"Bukannya kau itu yang cemburuan? Masa iya, gara-gara aku tidur bersama Yvone pekan lalu, kau jadi tak mau mematikan video call semalaman," cibir Beth kemudian.
"Aku kan hanya menjaga dan mengawasimu! Barangkali Yvone sedikit menyimpang--"
"Sembarangan! Aku dan Yvone sama-sama normal!" Sergah Beth yang langsung menampik wajah Fairel yang kini malah terkekeh. Dasar aneh!
"Lepas!" Gumam Beth kemudian merujuk pada milik mereka berdua yang masih saling menyatu.
"Kenapa tak dibiarkan saja sampai pagi?"
"Rasanya enak dan menyenangkan," bisik Fairel kemudian seraya menggigit telinga Beth, lalu meninggalkan tanda kepemilikan lagi di bawah telinga istrinya tersebut. Entah sudah berapa banyak tanda yang Fairel sematkan, Beth juga tak menghitungnya.
"Lanjut ronde kedua, ya!" Rayu Fairel kemudian sembari mendekatkan bibirnya ke bibir Beth.
"Kenapa tidak--" Kalimat Beth langsungdibungkam oleh ciuman Fairel yang menghanyutkan.
"Tidak istirahat--" Dibungkam lagi oleh bibir Fairel.
"Istirahat dulu--" Wajah Beth sudah kembali memerah dan Fairel masih saja melancarkan kecupannya pada bibir Beth.
"Iel, sudah!" Beth akhirnya sedikit protes sembari meronta.
"Mau istirahat? Baiklah!" Fairel akhirnya melepaskan miliknya dari milik Beth. Meskipun saat Beth memperhatikannya tadi, milik Fairel masih on. Tapi setidaknya pria itu sedikit pengertian.
"Sudah yang istirahat, kan?" Ucap Fairel tiba-tiba seraya melesakkan lagi miliknya ke dalam milik Beth.
"Aduuuhhh!" Beth refleks meringis sembari mencengkeram punggung Fairel.
"Kenapa? Apa masih sakit?" Tanya Fairel yang kini malah terkekeh.
"Sakit! Kau menghujamkannya tiba-tiba!" jawab Beth sembari merengut.
"Baiklah aku minta maaf!" Fairel mengecup sebentar bibir Beth.
"Lagipula, sakitnya tak akan lama. Nanti sebentar kau juga sudah ah...ah...ah--"
"Ck! Apa sih!" Beth langsung memukul dada Fairel.
"Tadi kan juga begitu," kekeh Fairel lagi.
"Kau juga sama!" Beth membalikkan ledekan Fairel.
"Tapi kau lebih keras. Sampai merem melek malahan," timpal Fairel tak mau kalah yang tentu saja langsung membuat Beth merengut kesal.
"Itu kan refleks dan diluar kendaliku," gumam Beth akhirnya beralasan.
"Tapi aku suka," bisik Fairel kemudian yang langsung membuat Beth tersipu.
"Lakukan lagi, Sayang!" Fairel berbisik lagi, lalu pria itu mengecup kening, hidung, dan bibir Beth. Kecupan Fairel semakin intens, bersamaan dengan miliknya yang kini juga sudah mulai menyentak keluar dan masuk.
"Mmmmpphhh!" Beth langsung melenguh seraya menggigit bibir bawahnya, saat Fairel sudah melahap salah satu gundukan kenyal miliknya. Tangan Beth langsung merem*s rambut Fairel, saat lidah suaminya tersebut ganti menari-nari di ujung gundukan milik Beth. Rasanya begitu melenakan dan menbuat Beth ingin melenguh serta mendes*h berulang-ulang.
"Iel---" Beth shdah ganti menangkup wajah Fairel yang kini menatapnya dengan begitu dalam.
"Menyenangkan, bukan?" Fairel mengerling nakal ke arah Beth yang nafasnya sudah memburu.
"Cepat selesaikan," ucap Beth kemudian.
"Lalu lanjut ronde ketiga, ya!" Timpal Fairel yang sydah kembali bergerak.
"Ronde ketiga? Tapi aku pikir--" Suara Beth langsung tercdkat, saat milik Fairel tiba-tiba menghujam dengan sangat dalam dan menyemburkan cairan hangat lagi.
Ya ampun!
"Huh!" Fairel langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping Beth.
"Aku mau makan rollcake," gumam Fairel kemudian yang kini posisinya tengkurap tepat di samping Beth.
"Aku ambilkan," gumam Beth yang hendak beranjak.
"Rollcake yang ini!" tangan Fairel tiba-tiba sudah menangkup dada Beth. Fairel lalu mdngangkat wajahnya dan langsung melahap gundukan kenyal tersebut, kemudian menghisapnya seperti bayi besar.
"Iel--"
"Diam!" Tangan Fairel langsung membungkam mulut Beth.
"Aku hanya akan tidur lima menit, lalu nanti kita lanjutkan," gumam Fairel lagi sebelum lanjut menghisap dada Beth.
"Aku mau pakai baju--"
"Tidak usah!" Gumam Fairel lagi seraya kakinya menaikkan selimut yang sejak tadi menggulung di ujung ranjang.
"Pakai selimut kalau kedinginan." Ucap Fairel lagi sembari tangannya mendekap tubuh Beth.
"Tapi kau berkeringat begini," kekeh Fairel lagi yang kini sudah ganti menarik tubuh Beth agar berubah posisi menjadi miring. Fairel lalu menyusupkan wajahnya di dada Beth, dan memejamkan mata.
"Iel." Beth mengusap kepala Fairel yang sepertinya sudah terlelap. Namun kaki Fairel masih bergerak untuk membelit kaki Beth, seolah pria itu tak mengizinkan Beth beranjak kemanapun. Beth akhirnya hanya menhela nafas dan sedikit merapatkan selimut yang kini membalut tubuhnya dan juga tubuh Fairel yang masih sama-sama naked.
Beth akhirnya memejamkan mata dan masih saja tak menyangka kalau ia kini adalah....
****
"Iel!" Sapa Beth pada Fairel yang sedang berdiri di luar toko sembari memegang sebuah kotak.
"Hai! Aku bawa hadiah," ucap Fairel sembari menyodorkan kotak di tangannya tadi.
"Isinya apa?" Tanya Beth penasaran.
"Buka saja! Dan kau akan suka," jawab Fairel sembari tersenyum. Beth lalu membuka kotak tersebut dan sedikit terkejut dengan isinya.
"Kaktus?" Tanya Beth sembari memperhatikan benda yang tertancap di pot kecil tersebut. Tapi bentuknya memang mirip kaktus yang gemuk dan sddikit panjang. Hanya saja ujungnya sedikit unik karena ada lipatan mirip jamur.
Kaktus jenis apa ini? Warnanya juga bukan hijau seperti kaktus pada umumnya, dan teksturnya sedikit kenyal.
Aneh!
"Kau bisa memakannya," ujar Fairel kemudian yang langsung membuat Beth menatap ke arah suaminya tersebut.
Eh, iya! Suami, kan?
Kan Beth dan Fairel baru saja menikah dan mereka baru selesai malam pertama.
"Cobalah!" Titah Fairel lagi.
"Memakan seperti ini?" Beth membuka mulutnya meskipun sedikit ragu. Namun wanita itu tetap melahap perlahan kaktus kenyal yang tadi diberikan Fairel.
"Iya seperti itu, Beth!" Ucap Fairel yang suaranya terdengar samar-samar saja.
"Terus....."
"Aaarrrggghhh! Enak sekali!"
Beth bisa merasakan Fairel yang tiba-tiba sudah mendorong kaktus tadi hingga menyentuh kerongkongan Beth dan membuat wanita itu mendadak ingin muntah. Beth lalu batuk-batuk akibat tersedak ludahnya sendiri dan disaat itulah, kedua mata Beth akhirnya terbuka sekaligus membuat Beth menyadari kalau yang dialaminya tadi hanyalah mimpi.
Mimpi dipaksa makan kaktus kenyal oleh Fairel!
Kenapa mimpi Beth konyol sekali?
"Baru sebentar padahal," keluh Fairel yang langsung membuat nyawa Beth seolah terkumpul dengan cepat. Beth lalu menatap ke arah Fairel yang kini berlutut di hadapannya sembari mengurut milik pria itu sendiri.
Apa?
"Iel--"
"Sudah bangun? Mau hisap lagi?" Cecar Fairel sembari menyodorkan miliknya yang kini tegak menantang ke arah Beth yang langsung membelalak tak percaya.
Jangan bilang saat Beth tidur tadi, Fairel mencekoki Beth kaktus coklat kenyal berkepala jamur yang ada di tengah paha Fairel tersebut!
Beth langsung menelan ludah dengan susah payah.
"Ya ampun! Aku mau lagi, Beth!" Rengek Fairel kemudian yang langsung meraih tangan Beth yang masih linglung, lalu membimbing tangan kecil terebut untuk memegang miliknya.
Hah!
"Sekarang jam berapa?" Tanya Beth pada Fairel, sembari tangan wanita itu mengurut milik suaminya tersebut. Ini benar-benar diluar kendali Beth karena pergerakan tangannya ini seperti sudah disetting.
Saat memegang milik Fairel, Beth akan refleks mengurutnya. Entah siapa yang menyetting begitu.
"Jam empat pagi."
"Ayo lanjut ronde ketiga! Tadi aku ketiduran lumayan lama!" Fairel tiba-tiba sudah meindih Beth lagi dan mengecup bibir istrinya tersebut.
"Manis!" Puji Fairel kemudian sembari tersenyum .
"Buka kakimu, Beth!" Titah Fairel kemudian.
"Sebentar!" Beth menahan Fairel yang hendak membuka kedua pahanya.
"Ada apa?"
"Tadi saat aku tidur, kau memaksa aku untuk meng*lum milikmu?" Tanya Beth dengan nada interogasi
"Aku tidak memaksa!" Sanggah Fairel cepat.
"Tanganmu sudah memegang milikku saat aku bangun. Jadi aku iseng saja menyodorkannya di depan mulutmu dan kau malah langsung mangap," cerita Fairel kemudian seraya terkekeh
"Mangap bagaimana?" Beth pura-pura tak paham.
"Mangap, buka mulut! Jadi aku pikir kau memang mau menghisap milikku dulu, jadi ya aku berikan saja," tukas Fairel blak-blakan yang tentu saja langsung membuat Beth menganga tak percaya dan meraba mulutnya sendiri.
"Aku menghisap milikmu?" Beth masih bergumam tak percaya.
"Sudah tak perlu shock! Aku juga tak keberatan, kok!" Kekeh Fairel yang sudah mengarahkan lagi miliknya ke arah milik Beth.
"Belum bisa! Kau belum melakukan pemanasan!" Protes Beth cepat yang langsung membuat Fairel menatap pada istrinya tersebut.
"Benar juga! Milikku juga sudah mengkerut," tukas Fairel seraya menunjukkan miliknya yang akhirnya tak bangun lagi.
"Kita tidur lagi saja kalau begitu dan tak usah--"
"Enak saja! Aku masih menginginkannya dan aku tak mau tidur!" Sergah Fairel yang tiba-tiba sudah menerjang Beth lagi dan ******* bibir wanita itu sebelum sempat protes atau mengelak.
Ya ampun!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.